Selamat datang di gubug Inspirasi Coffee. Blog ini dikelola oleh penulis sejak September 2008. Sampai sekarang, api semangat menulis masih menyala terang, menarikan pena melukiskan cerita kehidupan. Hak cipta dilindungi oleh Allah Azza wa Jalla.
Selamat Membaca ^_^

Minggu, 30 September 2012

14 Terinspirasi Tulisan-tulisan di Tarbawi

Sudah sejak lama saya menyukai tulisan-tulisan yang ada di dalam majalah Tarbawi. Tulisannya kuat menyentuh sisi-sisi terdalam hati dan perasaan. Majalah Tarbawi tak hanya sekedar memberikan informasi, tetapi juga berkontribusi memberikan dampak perubahan ke arah kebaikan kepada pembacanya. Jika hanya sekedar memberikan informasi, maka sebuah majalah hanya akan seperti sebatang tebu yang akan segera dibuang selepas dihisap manisnya. Keyakinan ini yang membuat majalah Tarbawi masih tetap eksis dan terus bergeliat melebarkan sayapnya merambah pasar internasional. Kemarin saya sempat melihat status dalam akun resmi Tarbawi di FB, bahwa mereka sedang berusaha menjalin kerjasama dengan salah satu pihak di negeri jiran Malaysia untuk memasarkan majalah ini.

Sudah beberapa bulan ini istri saya di Magetan menjadi agen majalah inspiratif ini. Keuntungan menjadi agen adalah saya juga bisa menikmati dan melahap setiap edisi terbarunya tanpa harus pergi ke toko buku. Tinggal beli saja ke istri saya :). Ini juga yang membuat saya menyadari sesuatu. Sesuatu yang menjadi rahasia kenapa majalah Tarbawi menjadi majalah Islam yang tetap dicintai oleh segenap pembacanya. Manhaj tema yang diangkat dan cara penyampaiannya kepada pembaca. Sungguh berbeda.

terinspirasi majalah Tarbawi


Tarbawi meyakini, bahwa menulis haruslah menyampaikan perspektif yang kuat. Dan itu harus merujuk kepada nilai-nilai. Dengan begitu diharapkan ada manfaat yang terasa dari apa yang tertulis, tercetak, dan tersebar dari Majalah Tarbawi. Semangat ini yang sedikit banyak menginspirasi diri saya. Semangat untuk menghasilkan sebuah tulisan yang memiliki perspektif kuat. Tulisan yang mampu memberikan inspirasi kepada orang lain untuk bergerak ke arah kebaikan. Dan inilah sejatinya dakwah. Dakwah lewat pena.

Kalau kata penulis buku bestseller 'Zero to Hero', Solikhin Abu Izzuddin, bahwa menulis memiliki tanggung jawab ilmiah dan tanggung jawab ilahiah. Menulis harus berhati-hati apabila tulisan kita menjadi sumber inspirasi keburukan bagi orang lain sekaligus dosa jariyah yang tak pernah berhenti.

Yah, saat ini saya tengah menghimpun tenaga dan nafas yang panjang untuk berjuang dan berproses ke arah itu. Proses berjuang untuk menghasilkan sebuah tulisan yang memiliki unsur nilai-nilai yang tak hanya sekedar informatif. Berjuang untuk menghasilkan sebuah tulisan yang bermanfaat kepada perubahan diri pembaca blog ini, tentu sebelumnya terlebih dahulu efek ke diri sendiri. Meradiasikan semangat, semangat inspirasi yang tentu sejalan dan senada dengan tema dari blog ini.

Sabtu, 29 September 2012

19 Episode Baru Kehidupan Saya, Lahirnya Dek Hanan Part 4 (Tamat)

Cerita sebelumnya di Part 1, Part 2 dan Part 3.
----------------------------------------------------

"Kretaaakkk!!", seperti suara pintu yang dibuka.

"Selamat ya pak, bayinya perempuan, cantiiikk!. mari ikuti saya langsung ke ruang bayi!", teriak seorang perawat perempuan yang tiba-tiba muncul dari arah pintu ruang operasi menggendong sesuatu.

"Alhamdulillah.. wa Syukurillah. bayi saya selamat". Tanpa berpikir panjang, saya mengikuti perawat tadi yang berjalan cukup cepat menuju ruang bayi. Ruang bayi ini sangat steril, hanya petugas dan ibu bayi saja yang bisa masuk kedalam. Bahkan saya (yang asli bapaknya) saja, tidak diijinkan masuk ke dalam ruang bayi. Hanya ada satu kesempatan yang mengijinkan saya masuk ke dalam ruang bayi. Yah, satu-satunya kesempatan adalah ketika mengumandangkan adzan ke telinga bayi saya. Selepas itu, praktis saya hanya bisa memandang bayi saya dari balik kaca jendela.

Seorang ibu perawat yang cukup senior meminta saya untuk mengumandangkan adzan ke telinga bayi, namun terlebih dahulu dipersilahkan berwudlu di mushola di bagian depan rumah sakit. Selepas berwudlu, saya segera menuju ke ruang bayi. Terlihat disitu bayi saya sedang dirapikan oleh seorang perawat. Terlihat wajah bayi saya sangat pucat. Membayangkan bagaimana dinginnya ruang operasi. Bayi saya sudah tak menangis lagi. Terlihat dia bergerak-gerak mencoba mengenali dunia. Rumah barunya, setelah sebelumnya terlalu nyaman berada di rahim ibunda.

dek Hanan Naqiyya


Saya pandangi bayi itu lamat-lamat. Inikah bayi saya? darah daging saya? cantiknya anak abi! alhamdulillah. Dengan mengucapkan basmalah saya mulai mengumandangkan adzan ke telinga bagian kanan dan iqomah ke telinga bagian kiri. Setelah itu dalam hati berdoa semoga bayi ini menjadi anak yang terjaga dan dilindungi oleh Allah, menjadi anak yang sholehah, aamiin.

Setelah diadzani, bayi kemudian diletakkan kembali ke dalam kotak berukuran setengah meter dengan beberapa lampu terletak di dalamnya. Sebuah kota penghangat bayi. Seorang perawat menawarkan kepada saya untuk mengambil foto bayi dari jarak dekat. Karena setelah ini, praktis saya dilarang masuk kembali ke dalam ruangan steril ini. Beberapa kali bayi saya menggerak-gerakkan kepalanya. Seperti memandang ke sekeliling, mencoba mengenali suasana sekitar. "Dek Hanan, ini abimu sayang, kamu cantik sekali wahai anakku". Lamat-lamat saya baca informasi yang ada di bagian depan kotak bayi. 'Ny Dwi Yulianti, bayi lahir pukul 12.55 WIB, berat badan 2,7 kg, panjang 49 cm, lingkar kepala 33 cm'.

Yah, Hanan. Nama lengkapnya Hanan Naqiyya. Sebuah nama yang sudah kami persiapkan jauh-jauh hari untuk bayi perempuan pertama kami ini. Arti dari nama itu adalah perempuan yang penyayang dan berhati jernih. Nama adalah doa. Semoga kelak kamu menjadi seperti apa yang kami doakan ya sayang.

Setelah merasa bayi kami baik-baik saja. Saya kembali ke depan ruangan operasi. Lampu diatas pintu ruang operasi masih menyala terang. Mungkinkah operasi masih berjalan selama ini?. Saya kemudian berjalan ke arah ruang ICU. Seperti yang telah diberitahukan di papan informasi kebidanan, bahwa pasca operasi, maka pasien akan dibawah ke ruang ICU. Beberapa kali saya tengok isi dari ruang ICU melalui kaca jendela. Istri saya masih belum ada. Sepertinya saya harus menunggu beberapa menit lagi.

Selepas mengetahui bayi saya selamat, sebenarnya setengah dari kekhawatiran saya sudah menghilang. Kini tinggal kekhawatiran akan kondisi ibunya. Ingin sekali saya melihat kondisi istri saya. Iseng-iseng saya kembali melihat ke dalam ruang ICU dari jendela sebelah selatan. Dan alhamdulillah, di bagian kamar pojok, terlihat istri saya tengah berbaring di dampingi oleh seorang perawat. Melihat wajah saya di jendela, istri agak terkejut dan memberikan isyarat supaya saya masuk ke dalam saja.

Saya segera memasuki ruangan ICU. Menemui istri tercinta yang sedang diinfus. Melihat saya, dia langsung menangis. Saya memegang tangannya, mencoba menguatkan. Setelah agak tenang, dia mulai menceritakan segala apa yang barusan dia alami. Katanya seperti mimpi. Berada di dunia lain. Merasa berada di titik terdekat kematian. Alhamdulillah semua berjalan lancar. Dan kini dia baik-baik saja. Saat itu kita pahami, bahwa semua ini terasa dimudahkan oleh Allah.

Oke kawan, saya kira cerita ini saya tamatkan disini saja. Terima kasih bagi teman-teman yang sudah mau menyimak kisah ini dari awal. Kisah baru perjalanan hidup saya. Kisah baru dengan hadirkan dek Hanan. Malaikat kecil kami yang sudah lama dinanti.

*** Tamat ***



Sukaraja, Bandung. 29 September 2012
Saat kita berdoa dengan yakin, maka di saat itu pintu-pintu rahmat Allah terbuka lebar.

Jumat, 28 September 2012

10 Episode Baru Kehidupan Saya, Lahirnya Dek Hanan Part 3

Cerita sebelumnya di Part 1 dan Part 2.

Pemandangan itu benar-benar telah menguras emosi saya. Baru pertama kali ini dalam sejarah hidup saya, ada orang yang saya cintai harus mengalami kondisi yang cukup kritis. Begitu banyak lintasan pikiran negatif yang bergelayut dan berseliweran di kepala. Aduh.. bagaimana jika nanti begini, bagaimana jika nanti hasilnya begitu. Segenap tenaga saya fokuskan untuk berprasangka baik kepada Allah. Apa yang terjadi kepada hamba-Nya, adalah yang terbaik. Prasangka-prasangka baik seperti itulah, yang coba saya munculkan dalam pikiran saya. Pada kondisi seperti ini, tak banyak yang bisa saya lakukan. Tim dokter tidak mengijinkan saya mendampingi istri untuk menghadapi operasi. Satu-satunya hal yang bisa saya lakukan adalah menunggu dan berdoa untuk keselamatan istri dan dedek.

Dengan terus menahan isak tangis, saya coba kuatkan diri. Mencoba menenangkan diri dengan berdzikir kepada Allah supaya operasi ini dimudahkan. Ibu mencoba menenangkan saya dengan mengatakan bahwa istri dan dedek akan baik-baik saja. Semua itu sedikit banyak cukup membantu. Saya mulai menguasai diri. Berpikir positif, bahwa semuanya akan baik-baik saja. Bukankah Allah itu bersama dengan prasangka hamba-Nya?.

Istri saya masuk ke ruang operasi pukul 12.20 WIB. Dan ketika lampu tanda operasi yang terletak diatas pintu ruang operasi dinyalakan, saya merasa jantung mulai berdetak lebih cepat. Sayapun menunggu proses operasi berjalan dengan perasaan tak menentu. Pandangan saya sapu ke arah ke sekeliling, saya melihat ada sebuah sofa merah yang memanjang yang terletak di depan ruang operasi. Saya melihat ibu saya juga sudah duduk disitu. Saya menghampirinya, dan duduk di sebelah beliau. Terpekur, hening.

Jarum jam bergerak sangat lambat. Mungkin sama lambatnya dengan siput yang melata di atas sebuah batu koral di sungai. Beberapa kali saya melihat ke arah jam di tangan kiri saya. 20 menit berlalu dengan lambatnya. Dan tepat pukul 12 lebih 40 menit, dari arah luar saya melihat dokter Ardian baru masuk ke ruang operasi. Lho!!! berarti selama 20 menit (yang lamanya sama dengan 20 tahun ini), operasi yang sebenarnya belum juga dilakukan?!. Yah, apa daya, memang kenyataannya seperti itu. Selama 20 menit pertama ini hanya dilakukan proses pembiusan. Proses pembiusan yang dilakukan oleh dokter anaestesi. Ketika proses pembiusan ini berjalan dengan sempurna, maka operasi baru layak untuk dilakukan.

Disaat suasana hening dan mencekam. Saat dzikir dan doa semakin banyak terucap oleh bibir ini. Tiba-tiba saja .. Kretaaakkk!!!.


Bersambung ...

foto dek Hanan

Belum genap 1x24 jam meninggalkan dek Hanan di Magetan, istri sudah mengirimkan foto dek Hanan yang baru saja mandi. ^_^

Rabu, 26 September 2012

19 Episode Baru Kehidupan Saya, Lahirnya Dek Hanan #Part 2

Cerita sebelumnya di : Episode Baru Kehidupan Saya, Lahirnya Dek Hanan #Part 1

#Hari H dek Hanan Lahir
Mentari pagi masih belum juga menampakkan sinarnya. Embun pagi menetes dari ujung daun jatuh berdebam ke tanah. Ah jadi ingat ada sebuah judul buku novel dari Tere Liye berjudul ‘Daun yang jatuh tak pernah membenci angin”. Tapi kisah saya dan istri kali ini, tak ada hubungannya dengan novel Tere Liye tersebut. Semilir angin pagi juga sukses mengigilkan tubuh. Melenakan orang-orang tetap tak beranjak dari tempat tidur untuk memulai aktifitas harian. Kicauan burung-burung khas pedesaan semakin menyemarakkan pagi ini. Ah, sungguh pagi yang sangat indah. Sayangnya keindahan itu semua tak bisa kami nikmati. Keindahan pagi ini menjadi tidak penting bagi kami. Bayang-bayang kondisi bayi kami dengan posisi tak normal, membuat perasaan kami menjadi tak menentu. Pagi-pagi sekali, kami memutuskan pergi ke bidan desa untuk berkonsultasi langkah apa yang seharuskan kami ambil menghadapi masalah ini. Jarak antara rumah kami dengan bidan desa tak terlalu jauh. Belum jua sebutir nasi masuk ke kerongkongan kami, motor sudah kami gelak melewati dinginnya pagi buta menuju ke rumah bidan desa. Kami hanya sedikit berharap, ada kabar yang baik dengan kondisi bayi kami.

Sampai di rumah bidan desa, antrian pasien masih sedikit. Hanya terlihat 1-2 orang saja. Hanya dengan menunggu beberapa menit saja, kami sudah bisa langsung bertemu dengan ibu bidan. Istri mulai menceritakan kondisi kehamilannnya yang tak juga mengalami kontraksi rutin. Juga tentang semua kondisi yang dipaparkan oleh dokter Ardian di malam sebelumnya. Percakapan berlangsung hangat. Bisa dibilang, ibu bidan ini memiliki hubungan yang cukup baik dengan keluarga kami. Sehingga pembicaraan berlangsung cukup santai dan terseling canda. Tapi sayangnya semua canda yang dimunculkan, tak juga bisa menghilangkan rasa khawatir di hati kami.

Oh, itu namanya posisi titik puncak mbak!”, bu bidan menjelaskan istilah posisi bayi yang menghadap kedepan seperti disampaikan oleh dokter Ardian.

Jika mendengar penuturan ibu bidan, bisa dibilang posisi bayi seperti ini cukup berbahaya jika tetap nekat melakukan kelahiran secara normal. Secara pengalaman, bu bidan pernah membantu kelahiran 4 orang yang bayinya mengalami posisi titik puncak. Dan keempat-empatnya berhasil dilahirkan, namun terlebih dahulu melalui perjuangan yang super hebat. Sekali lagi perlu ditekankan, dengan perjuangan yang super hebat!. Pada kasus pertama, bayi berhasil dikeluarkan dalam kondisi tak bergerak. Awalnya dikira sudah meninggal. Bu bidan sangat kaget dan sport jantung. Dilakukan segala upaya, akhirnya bayi berhasil menangis. Belum lagi dengan penderitaan yang musti dialami ibunya. Subhanallah. Sangat-sangat hebat. Maka untuk bayi yang mahal seperti bayi kami (karena penantian kami akan datangnya bayi ini selama 3 tahun), bu bidan tidak mau mengambil resiko. Ini harus dioperasi cesar!. Begitulah kesimpulan dari konsultasi kami dengan bu bidan di pagi itu.

Sungguh semua ini jadi tak siap bagi mental istri. Selama ini dia selalu berharap dan berdoa, supaya bisa melakukan kelahiran secara normal. Namun ternyata Allah berkehendak lain. Rupanya bayi kami memilih melalui jalan operasi cesar.

Udah jangan lama-lama mbak, segera bersiap ke rumah sakit untuk operasi. Ini saya buat surat rujukan”, bu bidan semangat mengarahkan.

Maka pagi itu. Di keindahan pagi yang sayang tak bisa kami nikmati itu, tidak ada pilihan lain bagi kami. Kami harus bersiap untuk pergi ke rumah sakit tempat yang direkomendasikan oleh bu bidan. Pada hari yang sama, kami akan segera melihat bayi kami. Tentu dengan resiko besar yang siap tidak siap harus kami hadapi apapun itu.


#Selasa, 18 September 2012. Pukul 08.00 WIB
Dengan persiapan mental seadanya, kami bersiap pergi ke rumah sakit Griya Husada di Madiun dengan operasi yang insyaAllah nanti akan dilakukan oleh dokter Ardian. Sebenarnya persiapan termasuk baju buat dedek, bundanya sama bapaknya sudah dipersiapkan jauh-jauh hari sebelumnya. Sehingga praktis hanya persiapan mental saja yang kami lakukan. Setelah menghubungi orang tua dan menyiapkan mobil, akhirnya sekitar jam 8 kami berangkat menuju rumah sakit Griya Husada Madiun. Di sepanjang perjalanan saya melihat istri sudah mulai merasakan kontraksi yang cukup membuat dia terlihat kesakitan. Saya hanya bisa memegangi tangannya, mencoba meradiasikan semangat untuk tetap sabar dan berdzikir kepada Allah supaya semua dimudahkan.

Sekitar setengah jam kami sudah tiba di rumah sakit. Setelah melakukan registrasi dan beberapa administasi yang harus dilakukan, kami diberitahukan bahwa operasi dokter Ardian akan dilakukan mulai pukul 12.00 WIB. Sungguh sebuah penantian yang sangat lama bagi saya dan istri. Bagaimana tidak, dari pukul 09.00 sampai pukul 12.00, sehingga praktis kita harus menunggu sampai 3 jam lamanya dengan kondisi mental yang sedang naik turun. Tik…tik..tik.. detik jarum jam bergerak sangat-sangat lambat. Ingin rasanya waktu berjalan dengan cepatnya, sehingga segera tiba waktunya untuk operasi.

Beberapa kali istri curhat dengan kondisi yang dialaminya. Sungguh sedih rasanya. Berkali-kali saya menguatkan hati istri. Ya Allah berilah kekuatan dan kesabaran bagi istri saya. Beberapa kali saya harus mengusap air mata yang menetes di pipi istri. Memberikan kalimat-kalimat penguat, dimana pada saat yang sama hati saya sendiri sedang rapuh dan retak. Hingga akhirnya saat-saat yang ditunggu tiba juga. Saat-saat penentuan.

Mbak, sudah saatnya operasi dilakukan. Sudah ditunggu di ruang operasi”, ujar seorang perawat yang mulai membuka lebar-lebar pintu ruang persiapan tempat istri dan saya menunggu.

Entah kenapa dada saya menjadi sesak. Istri terlihat menangis. Ibu saya datang dari luar ruangan langsung mencium pipi dan kening istri saya. Melihat pemandangan itu, akhirnya tangis sayapun pecah. Saya tak kuasa menahannya lagi. Sayapun mencium kening dan pipi istri mencoba memberikan kekuatan, yang sekali lagi pada saat yang sama saya sendiripun sedang lemah dan menangis. Dengan deru air mata yang terus mengalir di pipi, saya mengantar istri yang berbaring di atas ranjang dorong menuju ruang operasi. “Adek harus kuat, adek harus kuat!!” semangat saya kepada istri.


Bersambung ke Part 3

fifin bersama dek hanan


Kepohrejo, Magetan 26 September 2012
Ditemani oleh dek Hanan yang sedang tertidur pulas dengan wajah lucunya ^_^.

Selasa, 25 September 2012

12 Episode Baru Kehidupan Saya, Lahirnya Dek Hanan #Part 1

#Jumat 14 September 2012 (H-4)
Sungguh tidak mudah menjalani hubungan suami istri secara jarak jauh. Lebih-lebih jika menyangkut hal yang sangat penting seperti masa-masa kehamilan istri. Masa-masa dimana kehadiran sosok suami di sisi begitu dibutuhkan. Masih terbayang jelas bagaimana sehari sebelumnya, istri menelepon saya mengabarkan bahwa perutnya sudah mulai sering kontraksi meskipun frekuensinya masih belum teratur. Mendengar keluhan istri seperti itu, akhirnya saya memutuskan untuk pulang saja ke magetan. Tentu saya tidak ingin juga melewatkan momen spesial kelahiran anak yang begitu saya nantikan kehadirannya selama ini. Ditambah lagi, sebelumnya ada sahabat yang mengatakan bahwa pentingnya mendampingi istri yang melahirkan untuk memberikan sebuah dorongan semangat.

Bekerja itu bisa kapan saja, tetapi hadir dalam momen kelahiran anak pertama, hanya terjadi sekali dalam hidup”. Begitulah nasihat seorang kawan di FB beberapa waktu yang lalu. Sebuah nasihat yang cukup telak menyadarkan akan pentingnya momen bersejarah ini. Dan sayapun akhirnya bertekat dalam hati, bahwa saya musti berada di sisi istri bagaimanapun kondisinya nanti. Sangat berharap tak melewatkannya barang sedetikpun.

Berdasarkan prediksi dari dokter yang selama ini menangani kandungan istri, HPL seharusnya jatuh pada tanggal 16 September 2012. Maka berarti hari ini masih 2 hari sebelum HPL. Kalaupun saya pulang saat ini, maka insyaAllah bakal tepat waktu dengan saat kelahiran anak pertama. Semoga.


#Minggu, 16 September 2012 (H-2), tepat pada HPL prediksi dokter
Dengan menaiki kereta malam, akhirnya sehari sebelumnya (sabtu malam) saya melakukan perjalanan dari Bandung menuju Madiun dengan satu misi utama, yaitu menemani jihad istri melahirkan. Berbagai perasaan bercampur aduk menjadi satu, antara senang, takut, dan khawatir. Ada juga rasa tidak percaya. Tak percaya bahwa sebentar lagi saya akan menjadi seorang ayah. Beberapa kali saya memeriksa hape, takut-takut kalau ada sms dari istri terkait kondisi janinnya.

Bisa dibilang kondisi kehamilan istri saya termasuk lancar. Tidak ada masalah yang serius terkait kesehatan janin dan ibunya. Masalah hanya terjadi pada saat awal-awal masa kehamilan istri yang sudah pernah saya ceritakan pada tulisan kaki gatal dan melepuh saat hamil. Selepas itu, praktis kondisi janin dan ibunya selama ini terbilang jauh dari masalah.

Dengan bekal rekam kondisi janin yang selama ini baik-baik saja, maka saya punya harapan cukup besar bahwa kondisi janin pada tahap akhir kehamilan ini, juga akan baik-baik saja. Namun sampai hari perkiraan lahir, frekuensi kontraksi istri masih juga tidak teratur. Padahal seharusnya jika memasuki tahap persalinan, kontraksi akan sering terjadi dengan frekuensi yang teratur (semisal 5 menit sekali). Bahkan jika dilihat secara fisik, janin di perut seperti belum masuk ke panggul. Ketika ditanyakan kepada bidan, dijelaskan bahwa memang tidak semua ibu yang akan melahirkan, kondisi perut musti terlihat mlorot agak ke bawah.


#H-1 hari (17 September 2012)
Bertambah satu hari terlewat dari HPL, membuat perasaan kami semakin takut dan was-was. Terbayang jelas dengan beberapa kasus dari referensi yang pernah kami baca, bahwa jika bayi tidak segera lahir maka ketuban akan mengeruh dan menyebabkan bayi bisa karacunan. Kamipun berinisiatif pergi memeriksakan kandungan ke dokter Ardian untuk mencari opini lain terkait kondisi janin istri.

Senin sore kami berangkat ke klinik tempat dokter Ardian praktek. Selain mencari opini lain, sebenarnya tujuan kami yang lain adalah ingin melihat wajah bayi kami ^_^. Perlu diketahui bahwa dokter Ardian ini memiliki USG 4 dimensi yang memungkinkan kita bisa melihat kondisi bayi yang ada di dalam perut dengan lebih jelas. Sebuah usaha dari sebuah rasa penasaran ingin melihat wajah bayi kami.

Sekitar jam 5 sore kami sampai di klinik dokter Ardian. Tampak sudah cukup banyak antrian yang memenuhi ruang tunggu berukuran 6 meter persegi. Setelah registrasi dan melihat antrian yang cukup mengular, akhirnya kamipun bersepakat untuk beranjak pergi ke masjid Agung Magetan untuk menunaikan sholat maghrib terlebih dahulu. Semoga setelah sholat magrib, antrian sudah mendekat ke giliran kami.

Selepas sholat maghrib, kami kembali ke klinik dokter Ardian. Dan betul saja, beberapa menit menunggu, akhirnya nama ‘Dwi Yulianti’ pun terpanggil juga. Kami bergegas menuju ruang tempat pemeriksaan. Kami memasuki ruang pemeriksaan dengan rasa bercampur-campur. Ah, semoga hasil pemeriksaan kali ini baik-baik saja. Bayi kami semoga ada dalam kondisi terbaik.

Selamat sore, bisa saya lihat dulu buku KIAnya?“. dokter Ardian mengawali pembicaraan (note : buku KIA adalah buku Kesehatan Ibu dan Anak).

Terlihat dokter Ardian membaca sekilas rekam data pemeriksaan dari kondisi janin dan ibunya di buku tersebut. Sambil menyerahkan buku KIA, beberapa kali istri saya melontarkan pertanyaan terkait kondisi kandungan yang sudah lewat HPL satu hari.

Baiklah, mari kita lihat kondisi janinnya”. Dokter mempersilahkan istri saya naik ke tempat pemeriksaan USG. Dibantu dengan satu orang perawat, istri saya naik ke ranjang pemeriksaan. Saya yang masih duduk di kursi, cukup bisa memantau hasil USG dari monitor yang cukup besar yang terpampang di dinding.

Sambil menggerak-gerakkan alat ke perut istri saya, dokter menjelaskan kondisi janin. Terkait lingkar kepala, tulang belakang, detak jantung, semuanya berada dalam kondisi baik. Hingga akhirnya tampilan monitor mengarah ke gambar 4 dimensi. Meskipun agak goyang-goyang, disitu terlihat dengan cukup jelas wajah dari bayi kami. Raut muka dari bayi yang begitu kami rindukan. Terlihat tangannya beberapa kali bergerak-gerak menutupi sebagian wajah. Aduh dek.. kami merindukanmu!.

Ini tampilan bagian atas dari bayi. Ini terlihat wajahnya bayi”. Dokter Ardian menunjukkan cursor USG ke bagian kepala bayi yang terlihat wajahnya. Dalam hati kami berseru gembira, tak sadar bahwa senyum kamipun telah tersungging.

Namun, seharusnya kondisi bayinya tidak begini!”. Penjelasan dokter Ardian sekian detik kemudian membuyarkan rasa buncah bahagia di hati kami.

Maksudnya bagaimana dokter?” kami melontarkan pertanyaan hampir serempak.

Dokter Ardian kemudian menjelaskan kondisi dari posisi bayi kami yang secara medis tidak normal. Kata dokter, seharusnya ketika masa kehamilan sudah memasuki pekan-pekan akhir, kepala bayi sudah berada di bawah dengan posisi wajah menghadap ke belakang, alias membelakangi alat USG. Sehingga pada pekan-pekan mendekati HPL, wajah bayi seharusnya sudah tidak tampak, yang tampak adalah bagian punggungnya. Dalam bahasa yang mudah dipahami, kondisi posisi bayi kami yang mengarah tidak normal (dalam bahasa jawa : bayi mlumah). Dalam dunia medis, posisi bayi seperti ini disebut dengan titik puncak. Ini juga yang menyebabkan bayi tak juga turun-turun sehingga kontraksi rutin yang diharapkan tak kunjung datang.

Belum genap penjelasan dokter mengatakan posisi bayi kami yang tidak normal, kembali dokter Ardian menjelaskan bagian lain yang membuat jantung kami semakin berdetak kencang. Dijelaskan bahwa kondisi ari-ari bayi pada beberapa bagian sudah mulai berwarna abu-abu (artinya ari-ari mulai mengalami pengapuran). Pada kondisi seperti ini, bayi harus segera dikeluarkan dengan jalan apapun, karena ditakutkan asupan nutrisi yang melewati ari-ari yang mengalami pengapuran akan membahayakan si janin. Sebenarnya proses pengapuran seperti ini terbilang normal pada pekan-pekan akhir kehamilan. Artinya memang bayi itu memiliki rentang masa tertentu di dalam perut ibunya, sebelum akhirnya ari-ari akan mengalami pengapuran sepenuhnya dan memberikan racun, bukan lagi nutrisi seperti pada kondisi sebelum pengapuran. Di banyak referensi, bagaimanapun bayi sebenarnya masih bisa bertahan di dalam rahim ibunya sampai umur kehamilan memasuki pekan ke 42.

Ada dua cara terkait dengan apa yang dialami oleh calon bayi kami. Pertama adalah dengan melakukan induksi (memaksa bayi keluar), atau dengan jalan operasi cesar. Pada saat itu, kami belum terbayang opsi mana yang akan kami pilih. Semua penjelasan dari dokter terasa begitu mengguncang perasaan kami. Di perjalanan pulang dari klinik, tak terasa beberapa butir air mata menetes di pipi saya membayangkan kondisi bayi yang sudah lama begitu kami rindukan. Ya Allah semoga dedek baik-baik saja.

Semua menjadi terasa diluar dugaan. Semula kami menganggap belum adanya kontraksi yang rutin disebabkan oleh hal-hal yang wajar. Banyak teman saya yang bayinya mengalami kelahiran pada H+2 dari HPL. Kondisi-kondisi seperti itulah yang selama ini kami bayangkan. Tak pernah terbayangkan bahwa akhirnya, posisi bayi kami tidak berada pada kondisi yang seharusnya.


Bersambung ... ke Part 2




Kepohrejo, Magetan 25 September 2012
Ditemani semilir angin desa memainkan ujung daun yang bergoyang-goyang di depan rumah.

Minggu, 16 September 2012

16 Saya Alumni Rohis dan Saya Bukan Teroris

Ketika melihat buah, jika seseorang itu hanya melihat dari kulit luarnya saja, maka dia selamanya tak akan pernah tahu bagaimana rasa dari isi buahnya. Mungkin kalimat ini cocok ditujukan kepada media televisi yang kemarin menjadi bulan-bulanan di beberapa sosial media oleh alumni Rohis se Indonesia karena memberitakan mengenai rekrutmen teroris muda di dalam program ekstrakurikuler di masjid-masjid sekolah. Sungguh sebuah keblunderan besar telah dilakukan oleh televisi tersebut ataukah malah memang ada unsur kesengajaan dalam upaya meliberalkan Indonesia.

Sungguh orang-orang liberal telah begitu ketakutan sehingga membuat statemen yang sangat konyol seperti ini. Pernyataan seperti ini telah melukai aktifis rohis, alumni rohis, orang tua siswa, dan juga umat islam. Bagaimana tidak, rohis di sekolah selama ini merupakan elemen terdepan di sekolah dalam menjaga akhlak siswa dari berbagai pengaruh negatif yang ada di sekolah.

Saya ikut dan menjadi aktifis rohis ketika masih duduk di bangku SMU. Meskipun masih sering begajulan, saya merasakan begitu banyak manfaat ketika menjadi bagian dari Rohis sekolah. Mulai dari agenda-agenda yang bersifat ritual keislaman, sampai dengan kegiatan-kegiatan untuk bisa menunjang kegitan belajar di sekolah. Sebut saja ketika itu ada program yang bernama LSI (lingkar studi Islam). Dimana pada program ini kita bisa belajar bersama untuk menyelesaikan masalah-masalah terkait materi pelajaran di sekolah. Tak pernah sekalipun saya mendapati sebuah materi tentang kondisi sosial yang buruk, keadilan yang tidak seimbang dan lain-lainnya.

Mungkin ada yang kemudian sentimen bahwa hal-hal seperti itu terjadi ketika di jaman saya, bisa jadi di jaman sekarang sudah berubah. Oke, saya katakan 'tidak ada yang berubah secara signifikan'. Istri saya saat ini ikut membina rohis di sebuah SMU yang terletak tidak jauh dari rumah. Istri saya ini seorang PNS, jadi tidak mungkin lah memiliki visi-visi layaknya teroris. Jadi rohis sekarang dan rohis dahulu tak berbeda jauh. Mereka adalah tulang punggung pemuda dalam menjaga akhlak islami dari pengaruh negatif di kalangan remaja. Jika masih saja ada anggapan rohis adalah sarang teroris, maka saya layak bertanya, data-data itu anda dapatkan dari mana? dari aktifis liberal?

Tulisan ini semoga bisa menjadi sedikit mencerahkan, terutama kepada para orang tua yang mengkhawatirkan kondisi anak-anaknya yang terlibat rohis. Saya katakan bahwa rohis adalah tempat yang nyaman dan aman dari pengaruh negatif di kalangan remaja. Mau bukti? saya buktinya. Saya alumni rohis dan saya bukan teroris! ^_^.

Sabtu, 15 September 2012

9 Menyambut Bidadari Mungil Kami

Mood saya pagi ini rada-rada berantakan. Setelah sebelumnya dunia Islam digegerkan dengan film yang melecehkan Nabi Muhammad, kini dunia Islam (khususnya di Indonesia) kembali direcoki dengan pemberitaan pendeskreditan program rohis (kerohanian Islam) yang ada di sekolah-sekolah umum yang dilakukan oleh salah satu media TV nasional. Ah sudahlah, saya tidak ingin membahasnya lagi di blog inspirasi ini. Segala uneg-uneg saya sudah tertumpah-ruahkan di media sosial facebook dan twitter. Tapi sebentar kawan, saya coba tarik nafas dulu, menghirupnya dalam-dalam kemudian mengeluarkannya secara perlahan. Lalu sedikit menyruput kopi hitam yang sudah saya buat tadi pagi dengan metode direbus.

Bisa dibilang, ini adalah saat-saat yang mendebarkan bagi kami berdua. Hari-hari mendekati HPL semakin dekat. Berdasarkan pemeriksaan yang dilakukan oleh dokter kandungan, HPL istri saya antara tanggal 16-24 September. Rasa gembira, deg-degan, khawatir dan haru menyelimuti diri kami. Bagi kami, saat-saat ini adalah saat-saat yang berharga setelah lebih dari 3 tahun, akhirnya Allah memberikan amanah janin yang tumbuh di rahim istri saya. Bagi pasangan yang susah memiliki momongan (apalagi yang LDR seperti kami), tentu tahu banget apa yang sedang kami rasakan selama ini. Bukan perkara yang mudah untuk terus berbaik sangka kepada Allah. Selalu ada bisikan-bisikan setan yang akan terus menggelayuti hati. Mencoba menggoyahkan pikiran yang lurus untuk menjadi bengkok tanpa arah.



Mohon doanya yang kawan. Semoga persalinan istri saya lancar dan dimudahkan. Dedeknya sehat, sempurna tak kurang suatu apa. Bundanya juga sehat. Semoga kelak dedek menjadi anak yang sholehah/mujahidah yang berjalan di atas agama ini. Berbakti kepada kedua orang tuanya. Dan tentunya menjadi #anak_rohis ^_^ (sesuai dengan tema hari ini).

Jumat, 14 September 2012

7 Cerita Makan Siang, Dari Gadget Canggih Sampai Rumah Berhantu

Aku terdiam, sedikit banyak tidak terlalu nyambung dengan topik pembicaraan tiga orang teman yang duduk mengitariku. Sesekali memandang ke sekeliling, kulihat beberapa orang juga tengah duduk berbincang dengan koleganya menunggu antrian makan siang yang telah mereka pesan sebelumnya. Mungkin sama dengan yang tengah kami lakukan, duduk sambil bercanda membincang tentang hal-hal yang menarik. Sesekali terbahak kemudian serius kembali memperhatikan salah seorang dari kami semangat tampil bercerita.

Di tengah suasana hawa udara kota Bandung yang cukup panas, salah seorang dari kami mulai tampil bercerita membincang tentang tren teknologi yang sedang berkembang di pasaran. Mulai dari gadget-gadget terbaru sampai dengan perbincangan mengenai gadget-gadget favorit mereka. Terkadang aku hanya terdiam mendengarkan. Aku tidak terlalu nyambung dengan topik seperti ini. Aku hanya antusias saja dengan apa yang mereka perbincangkan, yang tentu saja banyak menambah wawasanku tentang masalah gadget-gadget terbaru dan canggih. Kalau mereka membincang mengenai buku-buku bacaan terbaru dan menarik, mungkin aku akan lebih nyambung ^_^.

Bertiga dengan beberapa kawan, kami memang tengah menunggu antrian makan siang di sebuah warung ayam bakar yang terletak tidak terlalu jauh dari kantor. Saat itu aku telah memesan ayam bakar dengan jus jambu merah. Kawan-kawan yang lain juga memesan menu yang sama, bedanya hanya pada jenis minumannya saja. Sebuah kombinasi makan siang yang cukup menggugah selera. Membuat lidah tak sabar bergoyang merasai nikmatnya. Tak selang lama, kawan-kawan masih serius bercerita tentang produk-produk dari perusahaan teknologi internasional, katakanlah dari Samsung. Tak jarang juga mereka membahas mengenai gadget terkini semisal Tablet. Dan tanpa sadar, aku meraih polpen dan secarik tissu yang berada di depanku. Sret-sret.. dan jadilah seperti ini.

coretan aneh


Dan Alhamdulillah, dari arah dapur, pelayan terlihat membawakan makanan yang sudah kami pesan. Kamipun dengan lahap menikmati menu ayam bakar dengan beberapa lalapan, ditambah dengan sambal yang semakin membuat rasanya mantab.

Tak ada kilat, tak ada hujan, apalagi banjir, entah kenapa topik pembicaraan kami berubah seketika. Bermula membincang tentang teknologi terbaru, kini mulai berbincang mengenai hal-hal yang mistis. Rumah berhantu lah, ilmu hitam lah, serta hal-hal mistis lainnya. Adapun acara makan siang kamipun akhirnya ditutup dengan membincang tentang topik-topik hantu nan mistis yang mengundang gelak tawa.

Kamis, 13 September 2012

8 Menulis : Bakat Alami dan Kerja Keras, Belajar dari Rock Lee

Hari itu menjadi hari yang sangat menentukan bagi dirinya. Sebuah kesempatan emas yang sudah lama ditunggu itu, akan menjadi ladang pembuktian kepada orang-orang disekitarnya bahwa dia tidak selemah itu. Kerja kerasnya selama ini dalam bermesra dengan keringat bahkan tak jarang juga teriring simbah darah, akan dia pertunjukkan pada hari itu. Di tempat itu dan mulai saat itu, orang-orang akan mulai mengenal siapa dia. Hari itu di desa tempat tinggalnya memang sedang berlangsung sebuah hajatan yang cukup besar. Para petinggi desa beserta jajarannya tengah sibuk dengan persiapan momen besar ini. Semua warga desa begitu antusias menyambutnya. Sebuah agenda tahunan yang diadakan untuk melestarikan satu kebanggaan dari sebuah desa ninja. Yah, kebanggaan akan proses keberlangsungan/regenerasi dari ninja-ninja desa. Dan salah satu anak ingusan (usia 12 tahun) yang ikut dalam ujian seleksi regenerasi ninja level menengah itu bernama Rock Lee.

Sempalan cerita diatas adalah bagian dari cerita yang dibuat oleh seorang Mangaka negeri Sakura bernama Masashi Kishimoto. Tentu teman-teman pasti akan langsung paham cerita apa sih sebenarnya yang saya maksud. Rock Lee adalah salah satu karakter yang ada dalam anime Naruto yang paling menginspirasi bagi saya. Dia bukanlah ninja yang dibekali sebuah bakat genius sejak lahir. Sangat berbeda dengan teman-teman seumurannya yang memiliki bakat turunan dari kedua orang tua mereka. Dari 3 jenis jutsu (jurus) yang musti dikuasai oleh seorang ninja pemula, hanya satu saja yang dia kuasai. Yah, jurus bertarung fisik jarak dekat (taijutsu), itulah satu-satunya jurus yang mampu dikuasainya. Janganlah membandingkannya dengan Naruto yang bisa memanggil kodok raksasa (kuchiyose no jutsu), membuat bola chakra (Rasengan) ataupun menggandakan diri (kage bunshin no jutsu). Rock Lee tidak memiliki kemampuan seperti itu. Meskipun begitu, dia tidak berputus asa dan pantang menyerah untuk meranjut mimpinya untuk menjadi ninja hebat yang akan melindungi desa dan orang-orang yang dicintainya.

rock lee kecil


Melihat beberapa kelemahan yang sangat fatal dari dirinya, banyak orang-orang di sekelilingnya yang menyarankan dia untuk berhenti saja berharap menjadi ninja. Tapi semua itu dijawab Lee dengan berlatih keras. "Takutlah kepada pendekar yang hanya memiliki satu jurus, karena segala potensi dan kerja kerasnya akan dia konsentrasikan pada satu jurus itu". Sebuah kalimat bijak ini cukup koheren dengan apa yang dilakukan oleh Lee. Jika teman-temannya berlatih 5 jam sehari, maka Lee akan berlatih 10 jam. Jika teman-temannya berlatih push-up sebanyak 100 kali, maka Lee akan melakukannya sebanyak 1000 kali. Begitulah Lee. Dia menggantungkan cita-citanya setinggi langit, meskipun harus menggapainya dengan merangkak dengan satu kaki.

Dan jika teman-teman setia mengikuti cerita Naruto dari awal sampai sekarang, maka saya akan bertanya : Siapa diantara teman-teman Naruto yang memiliki pergerakan tubuh paling cepat selain Rock Lee?
"I believe that with hard work and passion, I can surpass a natural genius" -Rock Lee-

Jika teman-teman mau membaca beberapa tulisan perdana saya di blog ini, maka teman-teman mungkin akan tertawa dengan kemampuan menulis saya pada waktu itu. Dalam hal menulis, saya sadar tidak memiliki bakat/talenta sejak lahir. Tapi saya ingin belajar dari Rock Lee. Belajar tentang kerja keras mewujudkan mimpi. Mimpi yang akan tergapai insyaAllah suatu saat nanti. Catat itu ya kawan! ^_^

Rabu, 12 September 2012

15 Sahabat Sejati Itu

Orang bilang sahabat itu bukan teman, dan teman juga bukan pula sahabat. Keduanya sejatinya berbeda. Sahabat memiliki tingkat kedekatan yang lebih tinggi dibandingkan dengan sekedar teman. Teman belum tentu mengenal hati kita, namun sahabat justru sudah mengisi sudut-sudut ruang di hati kita. Ketika terkadang teman justru menjauh ketika kita meminta pertolongan dengan mengatakan "sorry bro, hari aku agak sibuk, moga masalahnya cepat kelar yah". Namun di saat yang lain sahabat justru akan mendekat dengan mengatakan "Masalah loe apa sih bro, InsyaAllah gw bantu deh. Apa sih yang nggak buat loe! ^_^". Begitulah sahabat, ketika jalinan persaudaraan sudah mengakar kuat, maka apa yang menjadi kepentingan saudaranya akan menjadi kepentingannya pula.

Namanya pergaulan, tak jarang perselisihan dan perbedaan pendapat diantara dua sahabat kerap terjadi. Jadi ingat saya beberapa kali terlihat perselisihan dengan sahabat karib. Sungguh sangat menyakitkan ketika ada seorang sahabat yang mengatakan sesuatu yang mengecewakan kepada kita. Dan ketika pada saat yang sama, hati ini mengenang saat-saat kebersamaan dan keceriaan dengannya. Sedih, rasanya mata ini sudah panas menahan air mata untuk tidak tumpah. Rasanya pilu dan bertanya-tanya, kenapa terjadi hal seperti ini. Beginilah sahabat, tak hanya melibatkan akal dan pikiran, namun juga hati dan perasaan yang terdalam.

persaudaraan ukhuwah

Baginda Nabi Shallallaahu 'Alaihi wa Sallam tidak mendefinisikan orang-orang yang berada di sekelilingnya dengan panggilan guru dan murid, tetapi sahabat. Sungguh persahabatan yang paling mulia adalah persahabatan yang didasarkan pada cintanya kepada Allah Azza wa Jalla. Rosulullah bersabda dalam riwayat Al Bukhari, Abu Dawud, Ibnu Hibban dan Al Hakim bahwa, "Tidaklah dua orang saling mencintai karena Allah, kecuali yang paling besar cintanya diantara keduanya adalah yang lebih mulia.". Sahabat sejati itu adalah sahabat yang dipersatukan oleh Allah dalam bingkai iman dan ukhuwah.

Ah, benar-benar buku yang beberapa hari menjadi santapan baca selepas isya ini meracuni setiap tulisan-tulisan saya. Ketika buku ini membahas mengenai bagaimana persahabatan dan persaudaraan yang mulia pada generasi sahabat, maka tulisan di blog inipun membahas yang sedemikian rupa. Yah, karena hal-hal seperti itulah yang di pagi nan cerah ini muncul dan meronta-ronta ingin keluar untuk dituliskan.

Selasa, 11 September 2012

14 Tentang Hujan

Sudah lupa kapan terakhir hujan membasuh kota ini. Yang jelas kejadian itu sudah lama sekali. Hawa kering yang membuat kulit-kulit bersisik, menjadi sebuah keseharian. Bibir pecah-pecah dan tak jarang pula berdarah, menjadi masalah yang kian pelik bertambah. Di beberapa media televisi bahkan marak diberitakan terjadi kekeringan di beberapa wilayah di tanah air. Bahkan diantaranya, terpaksa memotong saluran pipa PDAM yang melintasi perumahan warga dikarenakan keringnya sumur-sumur mereka. Di beberapa wilayah yang lainpun, diberitakan juga dengan kemungkinan gagal panennya sawah-sawah warga karena kesulitan akses air untuk mengairi tanaman.

Berbicara mengenai hujan dan kemarau, saya jadi ingat dengan sebuah kisah menarik yang ada di dalam novel Serial Anak-anak Mamak : Burlian. Kita tahu, Burlian dan keluarga tinggal di sebuah kampung yang masih terpelosok namun sangat asri. Lokasinya yang berada di dekat hutan memungkinan untuk mendapatkan akses sumber mata air yang lumayan banyak. Sungai di pinggiran desa tidak pernah mengering barang sedetikpun. Memberikan air kehidupan ke desa sepanjang tahun. Seperti halnya dengan semua wilayah di kawasan tropis, musim kemarau tetap menjadi masalah bagi warga desa dimanapun. Begitu pula dengan desa tempat Burlian tinggal. Jika musim kemarau tiba, sumur-sumur di rumah-rumah warga mulai mengering. Mau tidak mau, aktifitas mandi dan mencuci dilakukan di sungai di pinggiran desa. Mandi bersama dengan lembu dan kerbau milik para warga yang setiap harinya dimandikan disitu. Membayangkannya, selintas langsung teringat dengan potongan memori masa kecil yang tak terlupakan. Mandi bersama sapi dan kerbau tetangga.

Hujan selalu membawa cerita kisah tersendiri yang menarik untuk dikupas. Kita tak bisa mengkalkulasi betapa banyak puisi dan syair yang bertemakan tentang hujan. Betapa banyak kisah cinta antar dua insan yang dideskripsikan dengan gemericik hujan sebagai backsound kisah sedih mereka. Dan yang paling lebay menurut saya adalah betapa banyak kisah sinetron di televisi yang mengetengahkan kisah pertengkaran antar dua kekasih dibawah derasnya guyur hujan. Seumur-umur saya hidup dan melihat di kenyataan, tak pernah (dalam ingatan saya) ada kejadian dua insan kekasih yang bertengkar di bawah guyuran hujan dan kilat membadai.

tentang hujan


Dan kemarin adalah hujan deras pertama semenjak musim kemarau tahun ini. Pernah hujan sekali beberapa hari yang lalu, tetapi hanya berlangsung lima menit dan masih terkesan malu-malu. Dari balik tirai jendela, saya memandangi bulir-bulir air hujan yang jatuh ke bumi. Ditambah dengan terpaan angin, terlihat posisi jatuh tiap bulirnya agak miring beberapa derajat. Suasana dingin langsung menyergap. Ah, saya suka suasana seperti ini. Rasanya nyaman dan tenang memandangi tiap bulir hujan yang jatuh membentuk sungai-sungai kecil mencari titik rendahnya. Fabiayyi 'ala irobbikuma tukadziban.

Sebenarnya kalau melihat hujan seperti ini, saya ingin menulis sebuah puisi. Seperti yang pernah saya tulis di puisi hati #1. Mungkin pada kesempatan yang lain saja, tentu dengan suasana yang juga mendukung.

Senin, 10 September 2012

4 Tentang Kepedulian dan Perhatian

Satu hari kemarin benar-benar telah menjadi hari yang istimewa bagi saya. Di beberapa sosial media saya terima beberapa ucapan selamat ulang tahun dan doa dari mereka yang peduli dan mengakui keberadaan saya. Namun bukan berarti yang tidak memberikan ucapan, menjadi berada di posisi sebaliknya. Saya tidak bermaksud seperti itu. Memangnya siapa saya! gila banget dengan ucapan seperti itu! he he. Saya hanya ingin sekedar mengucapkan terima kasih jazakumullah khairan katsira kepada mereka yang sudi meluangkan waktu beberapa detik untuk mengetikkan kata yang telah sedikit banyak membuat hati ini berbinar.

Masih pada tema tentang kepedulian, pagi tadi saya menyempatkan diri membaca majalah Tarbawi yang membahas tentang pergumulan batin seorang anak yang ditinggalkan oleh orang tua kandungnya. Sungguh tidak mudah berada pada posisi dimana kita diasuh oleh orang yang tidak mengalirkan darah di dalam badan kita. Dibesarkan oleh orang lain yang masih memiliki kepedulian kepada kita, sedikit banyak membuat batin kita akhirnya bertanya. Kemana orang tua saya? Dimana kepedulian mereka terhadap anaknya sendiri? Dan cerita-cerita haru tersebut dengan sangat baik dikemas oleh Tarbawi menjadi sebuah kisah-kisah menggugah hati yang kadang memaksa batin tergetir. Yah semua ini tentang kepedulian.

kepedulian


Ketika seorang anak dilahirkan oleh orang tuanya, kemudian karena alasan tertentu mereka tidak sanggup merawat dan kemudian dititipkan ke orang lain, sejatinya itu merupakan jalan yang sudah Allah pilih untuk anak tersebut jalani. Anak tersebut diberi kesempatan untuk diuji lebih daripada orang lain. Ada suatu waktu dimana seorang insan musti menjalani ujian lebih dibandingkan orang lain, itu sejatinya bertujuan supaya ada orang lainnya lagi yang peduli kepada anak tersebut. Jika semua orang hidup didunia ini selalu pasti hidup dengan orang tua kandungnya, maka sudah pasti orang hidup akan semakin egois. Semua diciptakan oleh Allah untuk saling peduli.

Hal senada juga dengan masalah rejeki. Ada orang yang memang diberi rejeki lebih oleh Allah, ada pula orang yang diberi sedikit limpahan rejeki. Ini bukan berarti yang diberi sedikit rejeki tidak lebih dicintai oleh Allah dibandingkan mereka yang melimpah rejekinya. Tidaklah ini dibuat supaya orang-orang menjadi saling mencintai dan saling menghormati. Orang kaya mencintai dan merasa senang bisa membantu orang miskin. Sedangkan orang miskin mencintai orang kaya karena telah menolongnya. Sungguh tiada kesia-sian Allah menciptakan ini semua.

Ah, seringkali tulisan saya dipagi hari, terpengaruhi oleh peristiwa atau kejadian beberapa waktu sebelumnya. Seperti halnya pagi ini, tema ini saya angkat setelah membaca majalah Tarbawi yang membahas tentang anak yang ditinggal oleh orang tuanya. Jadi memang benar, sedikit banyak apa yang kita tulis itu bisa dilihat dari latar belakang kejadian yang menimpa kita atau kita alami sebelumnya.

Minggu, 09 September 2012

9 Ucapan Ulang Tahun

Hari masih sangat pagi, waktu subuh juga belum masuk. Namun ada sebuah sms yang meluncur ke hape saya. Saat itu saya masih belum sadar ada sms masuk ke hape. Baru selepas menunaikan sholat subuh di masjid yang memang terletak tepat di depan rumah kontrakan, saya membuka sms tersebut. Sebenarnya agak mengherankan karena biasanya pagi-pagi begitu jarang banget ada orang yang sms. Oh rupanya sms dari istri :

Aslmu'alaikm. Barakallahu milad mas, smg slalu melalui hari2 dgn usia yg berkah, diridhoi dan dirahmati olh Allah. Mjadi hamba, anak, suami dan abi yang baik. **** u
Hari ini saya ulang tahun. Hiks, jadi ingat kalau pas di rumah ada keponakan yang kalau ulang tahun pasti maunya dirayain. Mengundang tetangga kanan kiri kemudian meniup lilin yang ada diatas kue berbentuk angka yang menunjukkan umur yang berulang tahun. Dulu sewaktu kecil, pernah beberapa kali menghadiri hari perayaan ulang tahun teman. Tapi kebanyakan diantara mereka adalah dari kalangan orang yang berada. Memakai topi yang terbuat dari kertas berbentuk segitiga, kemudian terdapat balon dan hiasan dimana-mana. Dan diacara puncaknya nanti, si anak yang berulang tahun akan meniup lilin dan memotong kue untuk diberikan kepada ayah dan ibunya. Seiring dengan itu, semua hadirin dimohon untuk mendendangkan lagu 'happy birthday'.

Seumur-umur saya hidup, belum pernah sekalipun saya maupun orang tua mengadakan sebuah pesta ulang tahun untuk saya. Sebenarnya bukan masalah biaya pestanya, namun lebih ke esensi ulang tahun itu sendiri. Dalam tradisi di keluarga kami, ulang tahun bukanlah sesuatu yang wah dan perlu dibuat sebuah pesta tiup lilin. Pernah sih dulu dibuat acara makan-makan di keluarga besar, itupun sebenarnya hanya syukuran biasa saja yang kebetulan beberapa hari sebelumnya adalah hari ulang tahun saya. Jadi bisa dibilang, tidak ada pesta ulang tahun khusus untuk saya selama ini dan sayapun tak berharap untuk itu.

kue ulang tahun


Demi demi detik waktu berjalan mengantarkan kita sehasta demi sehasta menuju akhir kehidupan. Mengutip kata-kata orang bijak, ulang tahun bukanlah berarti umur kita yang bertambah, namun sejatinya umur kitalah berkurang. Jatah umur saya sudah ditetapkan oleh Allah di kitab Lauh Mahfudz. Tidak ada seorangpun yang bisa merubah jatah umur saya selain Allah sendiri. Saya hanya bisa berharap umur saya berkah dan memberi manfaat. Khairunnas anfa'uhum linnas.

Saya ingin mengucapkan terima kasih banyak kepada para sahabat di media sosial seperti facebook yang telah memberikan ucapan ulang tahun. Sebuah secuil kepedulian kecil yang mampu merekahkan senyum saya. Itu artinya masih ada orang-orang yang mengakui keberadaan saya ^_^. Semoga Allah memberikan kebaikan lebih kepada teman-teman semua.

Sabtu, 08 September 2012

9 Debat, Memenangkan Argumen atau Hati?

Sungguh amat terpatri di dalam hati ini, apa yang telah saya baca dari sebuah buku keren karya Salim A Fillah berjudul Dalam Dekapan Ukhuwah tadi malam dan juga selepas sholat subuh tadi pagi. Nasihat-nasihat sederhana yang dicuplik dari pengalaman-pengalaman para sahabat di jaman Rosulullah ataupun generasi mulia setelahnya telah menghujam tepat langsung ke hati saya. Pada tulisan kali ini, saya belum ingin mengupas secara mendalam dan komprehensif mengenai resensi buku bestseller yang satu ini. Hanya, kali ini saya ingin mengambil sekelumit kalimat-kalimat yang indah nan inspiratif, pun juga nasihat-nasihat kebaikan yang sayang jika tidak ikut saya prasastikan dalam blog inspirasi ini ^_^.

dalam dekapan ukhuwah


Dalam sebuah jaman dengan sosial media sebagai jantung interaksi dengan sesama, maka tidak bisa dipungkiri bahwa dunia terasa kian menyempit menjadi lebih rapat dan saling mendekat. Orang yang berada disebuah kamar sendirian-pun bisa merasa layaknya orator yang piawai di atas sebuah podium dengan puluhan hadirin menyimak didepannya. Maka tak jarang, dengan interaksi yang kian sering ini, bisa berujung kepada sebuah situasi dimana kita terpaksa menghadapi orang-orang yang akan tidak setuju dengan pendapat kita. Itu sebuah hal yang sangat lumrah, namun akan menjadi kian pelik jika berujung kepada sebuah debat yang tersisipi hawa nafsu membara. Namun sejatinya jika kita memahami dengan benar, ini merupakan kondisi yang baik, bahwa akan lebih baik orang yang keluar rumah (berinteraksi sosial) kemudian bersabar terhadap segala cobaan yang dihadapinya, daripada orang yang berdiam diri di rumah menghindar dari keburukan interaksi dengan sesama. Di jaman sosial media seperti ini, interaksi seperti ini sedikit banyak terwakili di dalam dunia maya.

Dulu saya pernah memiliki seorang sahabat yang lumayan dekat. Sering kali kita bertukar pikiran tentang suatu hal. Hingga pada suatu ketika, kita memilih jalan pemikiran yang sedikit berlainan (kalau tidak mau disebut bertolak belakang). Seringkali interaksi dan pembicaraan kita berujung kepada sebuah perdebatan yang tiada ujung. Semua ingin memenangkan hujjah masing-masing. Dalam kondisi seperti itu, nafsu sudah semakin susah untuk dikendalikan. Hingga akhirnya persahabatan kita sedikit banyak runyam juga akibat debat-debat karena perbedaan pemikiran seperti ini.
Dalam benturan kita dengan sesama akan selalu ada pilihan apakah ingin memenangkan kebenaran atau ingin memenangkan hati. Jiwa tak akan pernah takluk hanya dengan hujjah. Hawa nafsu sulit tunduk hanya dengan argumentasi. Tapi ketika hati sudah tersentuh dengan kemuliaan akhlak, tanpa ditunjuki sebuah kebenaran maka dia akan mencari hujjahnya sendiri untuk menginsyafi kebenaran.

Dalam dakwah dalam penyampaian kebenaran, debat memang menjadi salah satu jalan yang disebutkan oleh Allah. Tapi dia diletakkan di akhir, sebuah cara yang digunakan ketika tidak ada pilihan yang lain. Itupun dengan syarat yakni dengan cara yang ahsan.



Sejenak menekuri sabda baginda Nabi dalam sebuah riwayat Abu Dawud, “Aku menjaminkan sebuah rumah di tengah-tengah surga untuk orang yang menahan diri dari debat, meski dia benar.

Sejenak kita menilik sebuah contoh pertengkaran suami dan istri. Sedikit banyak salah satu dari mereka pasti akan mengalah meskipun sejatinya dia berada dalam kondisi kebenaran. Ini semata-mata dilakukan karena ia ingin menjaga hubungan yang harmonis dengan istri atau suaminya. Dia memilih harmonisnya hubungan daripada kebenaran yang berujung perceraian. Maka sekarang layak kita bertanya, apakah kita ingin memenangkan kebenaran berlabel debat bin ngotot, atau memenangkan hati dengan kemuliaan akhlak untuk lebih membuka peluang dia tertunjukkan kebenaran dengan sendirinya?.

Sungguh sekaranglah saatnya kita berpacu dalam bingkai kebaikan, dalam dekapan ukhuwah ^_^.

Jumat, 07 September 2012

8 Typing Maniac, Sebuah Game yang Berguna

Ketika hari sudah beranjak sore, biasanya banyak sahabat-sahabat kantor yang memilih membuka situs berita ataupun sosial media untuk merefreshkan diri. Tapi ada yang aneh dengan salah seorang teman di kantor. Bukannya agak sedikit lebih santai dan rileks, dia malah beberapa kali terlihat tengah serius mengetikkan sesuatu di keyboard. Dengan padangan yang lurus ke depan, dia menatap layar monitor sambil jari-jarinya semakin lincah mengetik-etikkan sesuatu. Saya mengira bahwa dia tengah asik bekerja (membuat sintac program). Tapi masalahnya ini sudah sore begini, biasanya banyak yang memanfaatkan dengan membuka facebook atau twitter. Atau memang dia itu tipe work holic?

Karena rasa penasaran yang cukup meletup, akhirnya iseng-iseng saya menuju ke arah dapur untuk melihat apa sih yang sedang dia kerjakan. Lokasi dapur memang berada tepat di belakang meja teman saya itu. Jadi ketika saya menuju dapur, maka dengan mudah saya akan bisa melihat apa yang tertampil di layar monitornya. Setelah mengambil sesuatu di dapur, saya iseng mendekatinya untuk melihat sebenarnya apa yang sedang dilakukannya.

"Lagi ngapain? kok kelihatannya serius begitu?", tanya iseng saya.

"Ini mas, sedang main game", sambil tersenyum simpul menjawab pertanyaan saya dengan penuh penghargaan.

"Ini game typing maniac mas, cara mainnya dengan mengetikkan kata-kata yang turun dari atas ini", dia menjelaskan.

Dalam hati saya, ealah.. ternyata main game tho! Kirain sedang coding, kelihatannya serius begitu. Kalau saya lihat, permainan ini mirip dengan game Tetris. Jadi ada kata-kata dalam bahasa Inggris yang turun dari arah atas, kemudian tugas kita adalah mengetikkan kata-kata tersebut. Jika kata-kata yang kita ketik itu benar, maka kita akan mendapatkan poin. Jika kita berhasil menyelesaikan satu babak/level, maka kita akan masuk ke level berikutnya. Tentu dengan tingkat kesulitan yang lebih tinggi.

typing maniac


Game ini merupakan salah satu aplikasi yang ada di dalam Facebook. Tinggal kita mengetikkan "typing maniac" pada kolom pencarian di facebook, maka kita bisa langsung bisa join dengan beberapa teman kita yang sudah bergabung di dalam facebook. Saat ini saya sudah berhasil mendapatkan 79654 poin. Berada di peringkat 10 dari semua teman facebook yang telah mencoba game ini.

Sebuah game yang unik dan berguna. Bagaimana tidak berguna, game ini bisa meningkatkan kemampuan kita dalam mengetik cepat. Hohoho.. tentu sangat berguna sekali bagi saya yang sehari-hari memang berkutat dengan komputer. Tertarik mencoba kawan?

Kamis, 06 September 2012

14 Aktifitas Membaca Buku

Diantara deretan buku-buku yang berderet rapi di sebuah rak buku kayu di rumah, kebanyakan diisi oleh buku-buku bergenre novel dan religi. Koleksi buku saya memang belumlah banyak, karena memang kecintaan saya terhadap aktifitas membaca baru dimulai beberapa tahun yang lalu. Saya lupa kapan mulainya, tapi yang jelas ada sesosok orang yang menginspirasi saya untuk mencintai buku. Mungkin terlihat agak lebay dan terkesan agak narsis, tapi jujur saja, dia adalah seseorang yang sekarang bersinar terang di dalam hati saya. Yah, istri sayalah yang berhasil menginspirasi saya untuk menyukai aktifitas membaca.

Di awal pernikahan, sedikit banyak saya terkesan juga dengan koleksi buku bacaan yang lumayan banyak di lemarinya. Sedangkan pada saat yang sama, saya hanya membayangkan buku-buku diktat kuliah yang beberapa diantaranya bahkan sudah termakan rayap dan membusuk di kardus rumah. Semenjak saat itu, sedikit demi sedikit disisipkannya topik perbincangan kami dengan cerita buku-buku atau novel yang disukainya. Dari situ, benih-benih kecintaaan saya terhadap aktifitas membaca buku kian terpupuk lalu tumbuh dengan suburnya. Bahkan sekarang di setiap awal bulan (tahu sendiri kan maksud saya :) ), sering menjadi jadwal rutin sebagai ajang perburuan buku-buku menarik.

rak buku


Kini saya semakin sadar, dengan membaca, ada begitu banyak informasi yang memenuhi kepala saya. Membuka banyak persepsi yang mungkin selama ini belum pernah terbayangkan sebelumnya. Menikmati berbagai macam pemikiran-pemikiran dari sang penulis yang mungkin saja sedikit banyak akan mengubah padangan saya tentang sesuatu hal. Memahami masalah dengan sudut pandang lebih global. Menelusuri kata demi kata yang menginspirasi, yang mampu menggugah pemahaman diri. Yah, inilah yang saya sebut sebagai kekuatan baca.

Di dalam buku Ippho Santosa berjudul 13 Wasiat Terlarang, disebutkan bahwa cerita memiliki kekuatan persuasi yang lebih baik dari sekedar pemaparan. Tambah dia, bahwa cerita itu lebih cenderung menggunakan otak kanan, sedangkan pemaparan lebih cenderung menggunakan ke otak kiri. Hemm, bolehlah sedikit banyak saya setuju dengan pendapat ini. Karena ternyata, memang buku-buku bergenre novel-lah yang banyak mengisi porsi rak buku di rumah ^_^.

rak buku saya


Suatu ketika saya sedang berada di sebuah toko buku yang memiliki branding yang cukup terkenal di seantero negeri. Ketika tengah asik memilah-milah buku yang ingin dibeli, dari belakang terdengar sebuah percakapan suami istri. Ketika itu sang suami tengah serius melihat sebuah buku motivasi. Terlihat sang suami memegang buku tersebut lumayan lama, rupanya dia cukup tertarik terhadap buku itu. Namun sang istri langsung saja menimpali, "Udah pah, yukk pulang saja. Buku itu tidak akan mengubah apapun!. Tidak usah dibeli!", kira-kira begitulah omelan sang istri kepada suaminya yang tengah asik menimang-nimang buku. Saya tentu tidak mau berspekulasi apa alasan sang istri berujar demikian. Yang jelas, bagi saya : buku motivasi itu sanggup mengubah persepsi seseorang. Bahkan bisa mengubah kepribadian from zero to hero (#bukan_iklan). Itu pendapat saya ^_^.



Tentu dibandingkan dengan kawan-kawan yang memang pecinta buku, koleksi buku saya memang masih sangat sedikit (meski belum termasuk beberapa buku yang berada di rumah Magetan). Tapi pada tulisan saya kali ini, saya hanya ingin sekedar sharing bahwa aktifitas membaca buku telah sedikit banyak menjadi bagian yang penting dalam hidup saya. Karena bagi saya, aktifitas membaca buku sudah menjadi hobi. Dan kalau sudah menjadi hobi, maka tidak akan ada lagi kata berat dalam melakukannya.

Rabu, 05 September 2012

10 Masa Depan Bisnis Anime Naruto

Saat itu senja tengah membungkus kota. Sinar mentari yang teduh, menemani wajah-wajah lelah pekerja dan pemburu ilmu yang pulang dari aktifitas harian mereka masing-masing. Saya hanya berpikir, pasti mereka sedang berebutan dengan para pengguna jalan yang lain. Saling berlomba memburu waktu, merasa diri yang paling penting untuk menggunakan jalan. Seakan-akan ada sesuatu hal yang sangat penting atau orang yang sangat penting sedang menunggu mereka di rumah, tak mau menunggu barang beberapa menitpun. Ah, saya tak peduli dengan itu. Saat itu, saya tengah duduk santai di kantor sambil menatap lamat-lamat kotak persegi yang bersinar lembut di depan saya. Sesekali jari-jari saya menekan-nekan tombol keyboard tut..tut.. tut.., dan tak jarang kemudian teriring dengan senyuman simpul. Setelah lelah memutar otak sepanjang hari, mencoba merefreshkan pikiran dengan melihat beberapa status teman dari beberapa sosial media adalah sebuah pilihan yang menggiurkan.

Ditemani dengan beberapa sorot mentari senja yang menerobot sela-sela tirai jendela, saya lihat ada beberapa rekan yang masih duduk di kursinya. Pikir saya, pasti mereka seperti saya. Menunggu sampai jalanan lebih sepi untuk bisa santai berkendara pulang menuju rumah. Di suasana senja seperti ini, biasanya ada hal yang sering dibicarakan untuk menghangatkan suasana. Membincang tentang kegemaran adalah salah satunya. Tiba-tiba saja celetukan datang dari teman sebelah,

"Saya jadi penasaran, bagaimana ya akhir kisah Naruto?. Ceritanya sudah semakin melebar nih!"

"Kalau tidak segera ditamatkan, nanti keburu meninggal orangnya", lanjut dia.

Saya hanya tersenyum mendengar celotehan jujur teman saya itu. Memang sih, semenjak gempa besar yang melanda negara Jepang beberapa waktu yang lalu, para penggemar Naruto dan anime yang lain tentu saja khawatir jika pengarangnya meninggal dunia. Ceritanya akan berhenti di tengah jalan tanpa adanya ending. Kalaupun ceritanya diteruskan oleh komikus/mangaka lain, maka saya jamin ceritanya akan hancur dan mungkin saja tidak sesuai dengan tema. Namun syukurlah, gempa besar yang terjadi di Jepang beberapa waktu yang lalu, tidak menewaskan pengarang komik Naruto, Masashi Kishimoto ^_^.

anime Naruto


Kita tentu sedikit banyak mengamati bagaimana anime telah menjadi sebuah bisnis dunia yang menjanjikan. Dari sebuah komik yang dikarang oleh seorang mangaka, bisnis bisa kemudian dilanjutkan menjadi sebuah karya anime. Di dalam sebuah anime, tentu akan semakin melibatkan lebih banyak pihak. Seperti pengisi suara, soundtrack lagu (semisal Toshiro Masuda), desain animasi dan masih banyak yang lain. Dan bahkan tak jarang juga sebuah anime yang bagus akan berlanjut menjadi sebuah film dorama (semisal Death Note, dan tahun 2012 ini menyusul Film Himura Kenshin). Bisnispun akan semakin berkembang lagi.

Kalau mengamati beberapa anime (tentu yang berangkat dari sebuah manga) yang saya tonton, memang ada pembagian khusus dari jenis anime-anime tersebut. Ada anime yang memang didesain akan berakhir pada puluhan episode, namun ada pula anime yang dibuat untuk durasi waktu yang panjang. Beberapa contoh anime dengan episode yang sedikit misalnya : Death Note, Kekkaishi, Shulato, Soul Eater, Rurouni Kenshin dan masih banyak yang lain. Sedangkan beberapa anime dengan durasi yang sangat panjang yang bahkan sekarangpun masih belum selesai misalnya : Naruto, Bleach, dan One Piece. Anime-anime ini telah menjadi bisnis yang cukup tangguh di jepang (tentu untuk skala tertentu) karena banyaknya penggemar yang menggurita di pesolok dunia.

Saya pun menjadi agak kurang sependapat jika Naruto musti segera ditamatkan. Karena selain cerita Naruto ini unik dan selalu membikin penasaran, anime ini juga menanggung hajat hidup orang banyak. Semisal saja pengisi suara anime. Beberapa waktu yang lalu saya menonton sebuah video Youtube yang memperlihatkan bagaimana pengisi suara asli Naruto menjadi terkenal. Namanya Junko Takeuchi.

junko takeuchi


Dengan suara khas 'Naruto'nya, dia seringkali diundang di televisi-televisi Jepang bahkan juga sering diundang ke manca negara. Mengisi suara untuk anime telah menjadi pekerjaan yang cukup safe bagi Junko Takeuchi. Kalau ditilik perjalanan Naruto dari tahun 2002 sampai sekarang, maka sudah 10 tahun dia bekerja menjadi pengisi suara Naruto. Sebuah pekerjaan unik, namun berpenghasilan wuah.

Kalau saya pribadi lebih menyukai cerita Naruto yang panjang sampai dia bisa menjadi Hokage. Namun perlu diperhatikan juga bagaimana alur cerita sehingga tidak terkesan dipaksakan. Itu sih pendapat saya, kalau pendapatmu bagaimana kawan?


Selasa, 04 September 2012

18 Novel Bidadari-bidadari Surga Akan Difilmkan

Rasanya senang banget ketika novel Bidadari-bidadari Surga buah karya bang Tere Liye akan segera difilmkan. Saya mengetahui berita ini ketika secara tidak sengaja melihat status dari page FB Hafalan Sholat Delisa yang memberitahukan tentang hal ini. Terus terang diantara begitu banyaknya karya Tere Liye, novel Bidadari-bidadari Surga adalah satu dari yang terbaik. Bersama dengan novel Serial Anak-anak Mamak : Burlian, novel ini saya beri bintang penuh di akun goodreads saya. Apresiasi yang tidak berlebihan untuk sebuah karya yang memang bermutu dan fenomenal.

Setiap penikmat novel pasti memiliki sisi favorit dari sebuah perjalanan cerita di dalam novel. Dengan memiliki sisi favorit tersebut, maka dia akan mengejar seluruh novel yang menggambarkan sisi tersebut. Kadang tak peduli siapapun pengarangnya, asal memang terekomendasi dengan baik oleh khalayak pecinta buku. Sejak menjadi penikmat novel beberapa tahun yang lalu, saya menyukai cerita tentang petualangan anak-anak. Bagaimana mereka mengejar mimpi-mimpi mereka, meneguhkan hati untuk tidak berhenti merajut mimpi walaupun sejenak. Novel Bidadari-bidadari Surga dan Burlian mampu menyajikan itu semua. Meramunya dengan sentuhan hati sehingga mampu diterima dengan hati juga oleh pembaca. Bukankah ada kata-kata bijak bahwa semua apapun yang bersumber dari hati akan sampai pula ke hati.

film bidadari-bidadari surga


Dari sejak menjadi penikmat novel, karya-karya bang Tere Liye memang sebagian besar telah memenuhi rak kayu buku di rumah. Namun masih sedikit dari yang banyak itu, yang akhirnya berhasil untuk di filmkan. Sampai saat ini hanya satu novel yang berhasil difilmkan dan mendapat sambutan yang luar biasa oleh masyarakat. Adalah novel Hafalan Sholat Delisa yang sudah difilmkan tahun lalu serta sudah saya bahas dan kupas pada tulisan : Film Hafalan Sholat Delisa. Pada tulisan tersebut, saya sebutkan juga sebuah pendapat pribadi bahwa novel Bidadari-bidadari Surga dari segi cerita lebih baik dibandingkan dengan novel Hafalan Sholat Delisa. Yah, ini pendapat pribadi saya saja lho!.

Film Bidadari-bidadari Surga ini rencananya akan dilaunching filmnya pada bulan Desember 2012. Teman-teman bisa lihat di page FB resminya di BSSthemovie. Rasanya sungguh tak sabar saya menunggu bagaimana keteguhan hati, pengorbanan kakak-adik, dan juga cerita tentang ketulusan akan digambarkan pada film ini. "Kak Laisa selalu ada demi adik-adiknya. Selalu ada!", begitulah tagline movie tersebut. Bahkan ada seorang kawan di FB yang mengatakan :
wah, klo sutradara dan direktor yg bener2 bisa menggambarkan isi novelnya, di bioskop butuh stok tissue banyak tuh.

Seperti yang saya baca pada buku karya Ippho Santosa berjudul 13 Wasiat Terlarang, disitu dijelaskan bagaimana ilustrasi gambar (dalam hal ini misalnya film), akan selalu lebih mampu menarik perhatian dibandingkan teks (dalam hal ini misalnya novel). Maka tidak heran banyak sekali film yang berangkat dari novel akan tetap laris manis meskipun ceritanya sudah tahu. Tetapi, sedikit sekali cerita novel yang berangkat dari sebuah film yang laris di pasaran. Yah, sedikit sekali yang seperti itu. Tambah dari Ippho bahwa : mengapa visual akan selalu lebih bisa menarik perhatian daripada teks, karena visual lebih ke otak kanan dan teks lebih ke otak kiri. Kita boleh setuju atau tidak, yang jelas itu kan pendapatnya bang Ippho ^_^.

Berbekal sebuah novel yang fenomenal, memang sangat layak ditunggu bagaimana film ini akan dihasilkan. Penggambaran Dalimunte yang jenius, Ikanuri dan Wibisana yang supernakal, serta tentunya Kak Laisa yang berhati layaknya bidadari surga.

Senin, 03 September 2012

12 Menulis dan Tanggung jawab Sosial

Iseng-iseng membuka facebook kemarin petang, tiba-tiba saja saya menemukan sebuah status dari page Fimadani yang cukup membuat saya tertarik dan menghentikan cursor untuk membaca lebih teliti. Fimadani menjelaskan bahwa ada seorang blogger dan facebooker yang musti terpaksa diamankan oleh polisi karena menyebarluaskan video yang menurutnya berbau kesyirikan. Di dalam video tersebut seperti yang dijelaskan oleh Fimadani melibatkan seorang publik figur yang cukup terkenal. Saya tidak terlalu paham dengan masalah ini, namun yang saya pahami bahwa niat yang baik terkadang tidak dibarengi dengan respon yang baik. Karena bisa saja respon negatif tersebut mucul karena mendapatkan cara pendekatan yang kurang tepat dan mungkin pada waktu yang kurang tepat pula. Untuk bisa memahami masalahnya dengan lebih dalam, silahkan kunjungi page facebook Fimadani. Dari pantauan saya pagi ini, berita tersebut masih ada di status terakhir.

Kasus diatas sangat bisa terjadi pada kita (khususnya blogger dan facebooker) jika tidak hati-hati. Selama 4 tahun menekuni aktifitas blogging, saya sadari bahwa internet menjadi sebuah lahan dakwah yang sangat potensial. Dengan berdakwah lewat internet (katakanlah blog), kita bisa mendakwahkan kebaikan Islam dengan sangat mudah. Namun memang butuh waktu yang tidak sedikit untuk membuat blog kita bisa mendapatkan pengunjung yang banyak. Meskipun menjadi lahan dakwah yang sangat potensial, tidak serta merta cara dakwah seperti ini menjadi tanpa resiko. Seluruh materi penulisan yang kita tampilkan di dalam blog, mau tidak mau akan menjadi tanggung jawab si pemilik blog. Kalau boleh saya ilustrasikan, blog ini mirip dengan sebuah medan orasi dengan dikelilingi oleh para pendengar. Ketika blog kita sudah memiliki rating yang cukup tinggi, itu layaknya kita sedang melakukan orasi terbuka di depan ratusan ribu pendengar di Gelora Bung Karno.

menulis di publik


Blogging adalah aktifitas publik, maka isi materi yang kita bawakan dengan secara kilat akan diserap publik, tentu dengan respon yang bervariasi. Ada respon positif, namun tak jarang berujung kepada debat yang tiada ujung. Tentu ini tidak pula menjadikan kita takut untuk berpendapat. Sekarang adalah jaman dimana kebebasan berpendapat dijamin oleh Undang-undang. Namun, tentu kebebasan tersebut menjadi terbatas karena kebebasan orang lain. Mungkin kita bisa mengistilahkannya sebagai kebebasan yang bertanggung jawab. Yah, seorang blogger musti memiliki tanggung jawab penuh terhadap seluruh materi yang dituliskannya. Jika ada pihak yang merasa dirugikan atas apa yang kita sampaikan di dalam materi penulisan, maka siap-siap saja dengan segala resiko yang terjadi.

Saya jadi ingat akan sebuah nasihat yang disampaikan di dalam Majalah Tarbawi beberapa waktu yang lalu. Bahwa terkadang ketika kita menasehati (meskipun itu sebuah kebenaran yang mutlak sekalipun), tertanggapi dengan rasa duri bagi orang lain. Maka ulama menghimbau kita jika terdapat sebuah kesalahan atau kekhilafan dari saudara sesama muslim, maka nasihatilah dia di dalam sunyi. Artinya tidak didepan umum. Kalau menurut saya pribadi sih, tips aman menasihati di depan publik (misalkan melalui blog) adalah dengan melakukan sindiran. Tidak menyebutkan langsung siapa objek nasihat. Dengan cara seperti ini, insyaAllah nasihat akan sampai kepada objek yang disindir, dan juga objek yang disindir tidak merasa ditelanjangi didepan umum.

menulis dan tanggung jawab sosial


Kasus seperti ini sebenarnya bukan pertama kali terjadi. Ingat kasus Prita dengan forwarding emailnya kan?. Pada tulisan ini bukan berarti saya mengajak menjadi pengecut untuk memfaktakan kebenaran, tapi lebih kepada bahwa aktifitas menulis di publik itu memiliki tanggung jawab sosial yang musti kita pahami resikonya.

Salam inspirasi coffee.
 

Inspirasi Coffee Copyright © 2011 - |- Template created by O Pregador - |- Powered by Blogger Templates