Selamat datang di gubug Inspirasi Coffee. Blog ini dikelola oleh penulis sejak September 2008. Sampai sekarang, api semangat menulis masih menyala terang, menarikan pena melukiskan cerita kehidupan. Hak cipta dilindungi oleh Allah Azza wa Jalla.
Selamat Membaca ^_^
Tampilkan postingan dengan label cerita coffee. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita coffee. Tampilkan semua postingan

Rabu, 22 Mei 2013

1 Pemandangan Sawah yang Indah

Kemarin kita saya sedang pulang ke kampung halaman, tak lupa saya menyempatkan untuk mengambil gambar sebuah pemandangan yang sangat jarang ditemukan di perkotaan. Pemandangan berupa sawah-sawah luas nan hijau terhampar bak permadani yang mahal. Sungguh indah sekali. Saya suka sekali berhenti sejenak di area seperti ini untuk ikut menikmati indahnya desaku.

Mengamati para petani yang sedang membersihkan rumput-rumput liar atau hama yang menyerang tanaman padinya. Sambil serius mengerjakan, mereka membincang hal-hal apa saja. Sesekali tertawa terbahak untuk memeriahkan suasana. Jika mereka merasa lelah, mereka akan beristirahat sebentar di bawah pohon turi sambil menikmati secangkir teh dan gorengan. Setelah mengurai lelah, mereka akan kembali melanjutkan aktifitasnya.

Ada bayangan yang ambil gambar ndak? ^_^

Inilah yang saya suka dari suasana pedesaan. Sangat kental suasana keakraban. Jauh dari suasana kenaifan.

Sebuah jalan yang mengubungkan antara
rumah saya dengan jalan raya

Di kampung saya, untuk bisa mengakses ke jalan raya, harus melewati jalan kecil yang kanan kirinya dihiasi dengan sawah yang sangat luas. Dulu (ketika saya masih kecil) jalan ini tidak diaspal, sehingga kalau hujan jalan menjadi licin. Banyak terjadi orang terpeleset di jalan ini. Bahkan seringkali truk yang melewati jalan ini terpaksa berhenti lama karena ban besarnya terperosok ke dalam lubang jalan yang sangat licin. Sungguh kenangan itu indah terekam.

Di bawah pohon Turi inilah biasanya para petani
bersenda gurau di sela aktifitasnya.

Demikian suasana persawahan nan memukai di desa saya. Lain waktu akan saya ceritakan beberapa hal menarik lainnya.

Update 2018

Pada tanggal 24 November 2018, saya kembali memotret pemandangan sawah di desa saya. Sudah ada beberapa wajah yang tampak berubah. Kalau dahulu di sisi kanan dan kiri bisa ditemui berderet pohon turi, sekarang sudah tidak ada. Diganti dengan beberapa bunga daun yang berujung merah.

Namun, pemandangan sawah tidak pernah berubah. Selalu luar biasa.

Sawah pada 24 Nopember 2018

Terlihat pada foto tersebut, pemandangan awan yang tertembus oleh sinar matahari senja. Awesome


Salam Inspirasi Coffee

Kamis, 16 Mei 2013

1 Tampilan Baru dari Google Plus

Setelah kemarin dibuat terkesima dengan tampilan timeline facebook yang semakin menarik, hari ini lagi-lagi saya dibuat berdecak kagum dengan tampilan baru dari google plus. Meskipun terhitung terlambat, terlihat sekali pihak Google tidak mau mengalah begitu saja dengan dominasi facebook dalam dunia sosial media. Mereka terus bergerak mengejar kedigdayaan kerajaan bisnis Mark Zukenberg.

tampilan baru google plus timeline

Bagi saya pribadi, sebenarnya saya lebih memilih google plus karena beberapa aplikasi yang menawarkan jasa yang lebih menarik dibandingkan facebook. Tetapi, tetap saja dalam hal sosial media, kita membutuhkan komunitas. Kita tidak bisa berasyik ria sendiri dalam sebuah taman bermain yang tidak ada seorang temanpun di dalamnya. Kita membutuhkan teman berbagi cerita.

Kalau kamu lebih memilih yang mana kawan?

Jumat, 26 April 2013

12 Kisah Muda-mudi Sego Pecel

Aku menggerak-gerakkan tubuhku yang rasanya kaku dan kelu. Sungguh membiarkan tubuh tidur di kereta dengan posisi yang tidak proporsional, telah membuat ngilu beberapa persendian tulang di tubuhku. Tanpa memerdulikan rasa kelu-nya lagi, mataku mulai mengerjap-ngerjap. Satu mata berhasil terbuka sempurna, namun mata sepasangnya tak mampu membuka sempurna. Kalau kau melihat wajahku waktu itu, aku bisa menolelir kenapa tiba-tiba kau menyapaku sambil berteriak heboh... bang Jaja Miharja!!

Aku mengangkat tangan kiriku, memandangi jam tangan yang ada di pergelangannya, aah.. rupanya sudah jam 4 subuh. Akupun memaksakan beranjak dari tempat dudukku. Segera ke toilet kereta untuk mengambil air wudlu dan menunaikan sholat subuh. Biasanya untuk memastikan ketepatan waktu sholat, aku mengambil hape kemudian membaca waktu sholat melalui situs di internet khusus untuk waktu Madiun dan sekitarnya.

Sego Pecel


Ada sesuatu yang selalu saja menarik jika aku menyempatkan pulang ke kampung halaman. Yakni menikmati sarapan nasi pecel madiun. Nasi pecel atau sego pecel memang telah menjadi trendmark bagi kota Madiun. Setiap pulang ke kampung, aku selalu menyempatkan untuk berhenti di warung sego pecel kesukaanku.

Setelah istriku hamil sekitar setahun yang lalu, dia tidak bisa menjemputku di stasiun. Sekarang selalu orang tua yang menjemputku. Ada kisah yang sangat menarik terkait pembicaraan mengenai sarapan sego pecel ini. Jadi dulu sebelum istri hamil anak pertama, setiap subuh hari, istri sudah bersiap untuk menjemputku di stasiun. Berteman dengan udara dingin di subuh hari, dia menerobos kabut udara yang masih tebal di jalan. Ini semua dilakukan demi segera bertemu dengan suami tercintanya.

Selepas menjemputku di stasiun, biasanya saya mengajak istri untuk menikmati sarapan nasi pecel di sebuah warung sederhana yang berlokasi di tepian alun-alun kota Madiun. Meski hanya sebuah warung yang sederhana, namun kualitas sego pecelnya sungguh nomor wahid. Tampilan luar dari warung sego pecel itu tampak minimalis. Berupa sebuah gerobak dorong dengan ditambah beberapa kursi untuk tempat pembeli menyantap makanan. Sering juga disediakan sebuah tikar bagi pelanggan yang ingin menikmati sarapan pecel sambil lesehan.

Sambil menikmati hawa dingin subuh pusat kota brem ini, kami segera memesan sego pecel beserta lauk pauknya. Tak lupa segelas teh panas sudah siap terhidang. Ada kejadian unik yang kami cermati ketika menikmati sarapan nasi pecel disini. Tanpa ada kesepakatan, seringkali kami bertemu dengan pasangan muda-mudi yang ikut menyantap nasi pecel di waktu subuh seperti ini. Awalnya kami tidak curiga sedikitpun dengan pasangan yang seringkali terlihat asyik bercanda satu sama lain. Kesimpulan awal kami cuma satu, mereka adalah suami istri.

Sambil membincang tentang sesuatu hal, kami menikmati sego pecel yang dihidangkan dengan bungkus daun pincuk, membuat rasanya sungguh maknyus. Tak perlu menunggu waktu lama, nasi istimewa ini langsung saja raib. Kami tak langsung pulang, beberapa saat kami masih membincang tentang beberapa hal sambil menikmati segelas teh hangat. Semilir angin dingin membuat aku harus sering-sering bersedekap dan menghangatkan dengan jaket. 

Sesekali kusapu pandangan ke arah muda-mudi yang ikut sarapan bersama kami. Terlihat mereka sudah selesai menyantap makanan dan siap untuk pulang. Namun, setelah beberapa detik kemudian, kami tak mampu menahan tawa menggelitik di hati kami. Ternyata muda-mudi ini pulang sendiri-sendiri membawa motornya masing-masing.

Jaman sekarang, pacaran tak mengenal waktu. Subuh haripun digunakan untuk berpacaran. Lucunya, kami bertemu muda-mudi ini tak hanya sekali. Berulang kami seperti itu. Dan seperti biasa, selesai menyantap sego pecel, mereka pulang membawa motor masing-masing. ^_^

sego pecel pincuk


Senin, 31 Desember 2012

13 Saat Berharga Bersama Hanan

Ada saat-saat dimana emosi kita sedang membanjir dan meluap. Perasaan-perasaan tentang keindahan bersama dengan pengisi hati. Benar-benar menjadi saat-saat berharga. Ini mungkin yang disebut oleh ust Mohammad Fauzil Adhim sebagai saat-saat berharga untuk anak kita.

saat berharga bersama Hanan


Saat kita menyentuhnya, saat kita membelainya, disitu dia merasakan kenyamanan sentuhan orang tua. Seperti ketika 3 hari ini, saat bundanya sedang sakit. Hanan akhirnya dimandikan oleh abinya. Sungguh sebuah pengalaman baru bagiku. Lucu sekali saat-saat membersihkan kotoran yang melekat di badan Hanan. Dia melonjak-lonjak seperti ingin lepas dari cengkraman tanganku. Matanya kadang mengerjap-ngerjap, sesekali kakinya mancal-mancal.

Yup segitu saja cerita pagi ini. Lain kali dilanjut dengan cerita yang lain ^_^.

Jumat, 30 November 2012

10 Tongkat Dilempar Jadi Tanaman

Dulu ketika masih duduk di bangku sekolah dasar, mungkin kita sering mendengar para guru kita yang menjelaskan bagaimana suburnya tanah air kita. Bahkan ada ungkapan : tongkat dilempar jadi tanaman. Ini menunjukkan betapa suburnya negeri ini. Tapi kalau dipikir-pikir, tidak semua tongkat yang dilempar bisa menjadi tanaman. Karena bisa jadi tongkat yang dilempar malah bisa menjadi bumerang. Iya, kalau tongkatnya dilempar ke ibu-ibu yang lagi arisan, bisa malah digampar nanti ^_^.

Beberapa waktu yang lalu, aku sempat mengambil gambar sebuah tumpukan batang ketela di samping rumah. Batang-batang ketela itu dikumpulkan, kemudian diikat menjadi satu. Diletakkan begitu saja diatas tanah. Aku kurang tahu maksud bapak mengumpulkan batang ketela itu, apakah untuk kayu bakar atau ditanam kembali. Setelah didiamkan beberapa hari diatas tanah (bukan ditanam lho), ternyata tunas ketela itu mulai tumbuh, menyembul keluar kemudian membentuk beberapa tangkai dan daun. Istri yang ketika itu melihat, sempat berkomentar : "hemm, ini dia bukti tongkat dilempar bisa jadi tanaman".

tongkat dilempar jadi tanaman


Banyak orang berpendapat bahwa mungkin bangsa ini terlalu terlelap dengan segala kemudahan yang diberikan Allah. Kekayaan alam melimpah dan juga tanah yang sedemikian suburnya.

Selasa, 13 November 2012

28 Saat Kenikmatan Diambil Sesaat, Kembali ke Jaman Batu

Malam itu angin menyelusup di sela-sela ventilasi udara rumah kontrakan. Udara dinginnya kejam langsung menggigilkan tubuhku. Aku menarik selimut berwarna biru tua itu, berusaha sebisa mungkin menghangatkan badan. Hari itu aku masih menikmati lembar demi lembar sebuah novel lama yang lupa aku baca. Negeri 5 Menara. Bahkan uniknya, novel trilogi lanjutannya Ranah 3 warna sudah aku beli dan masih bertengger manis di rak buku diruang tengah. Sambil menikmati keindahan sastra dari A Fuadi, sesekali aku menengok ke arah hape yang tergeletak di samping. Seperti biasa, jam-jam sebelum tidur seperti ini adalah waktu untuk berbincang dengan istri tercinta. Mengobrol tentang tema apa saja yang terjadi sepanjang hari. Ah, saat-saat ini pasti dia masih sibuk menyusui Hanan hingga lupa telfon, atau bahkan bisa saja dia tak sadar langsung tertidur pulas bersama bayi mungilnya.

Malam itu aku menyadari bahwa sesuatu yang biasa kita miliki, akan sangat berharga ketika sesuatu itu tiba-tiba lenyap dari diri kita. Sesuatu yang tidak penting pada menit kesekian, tiba-tiba menjadi sangat penting pada menit berikutnya. Secara tiba-tiba, kita tidak punya akses untuk menggunakannya. Kita tak berkuasa lagi dengannya. Sebagai contoh kecil saja yakni bagaimana sensasi nikmatnya makan, setelah sembuh dari sariawan. Bagaimana pula dengan sensasi nikmatnya berjalan menggunakan kaki dengan riang, setelah sembuh dari keseleo. Dan malam itu, aku mengalaminya. Sesuatu yang sering tak dianggap, tetapi kita tak menyadari itu sejatinya ada. Kita bahkan seringkali sombong bahwa sesuatu itu memang seharusnya dan normalnya tersedia buat kita. Saat yang 'normal tersedia' itu diambil, kitapun langsung kelimpungan.

Malam itu, hujan deras masih menyisakan bekasnya di jalanan-jalanan rumah. Beberapa genangan air di jalan-jalan yang berlubang menjadi pemandangan normal. Hujan deras sering kali memberikan kesibukan bagi sebagian orang, termasuk aku. Karena sebelumnya, 15 menit sebelum aku berbaring manis dengan berselimut tebal dan buku novel diatas dadaku, aku harus mengepel lantai rumah yang beberapa bagian terdapat genangan akibat ada atap yang bocor. Yah, atap bocor semenjak rumah sebelah yang direnovasi dan sedikit banyak merusak beberapa bagian dari talang air diatas rumah ini.

Saat imajinasiku terbang melayang di dunia antah berantah tentang si Alif yang tengah sibuk mempersiapkan pertunjukkan kelas 6 kepada seluruh penduduk PM, tiba-tiba hape di sisi pun bergetar membuyarkan imajinasiku. Istri menelefon. Aku meletakkan buku disamping dan kuangkat telfon serta menjawab salam. Saat kami berbincang sedikit tentang kabar hari ini, tiba-tiba pett!!. Listrik mati!. Semua menjadi gelap. Hanya sinar layar hape sedikit membuat mataku merespon pantulan cahaya benda-benda sekitar. Aku jadi tidak konsentrasi menjawab pertanyaan istri. Aku mengatakan pada istri bahwa lampu mati, dan ingin segera memperbaikinya. Perbincanganpun selesai.

gelap, jaman batu


Awalnya aku kira ada pemadaman bergilir dari PLN akibat hujan deras yang mungkin saja merusakkan sebagian gardu listrik. Aku beranjak dari tempat tidur, meraih senter yang ada dibalik televisi dan membuka pintu kamar. Aku heran sejenak, karena ada sinar yang menerobos ke ruangan tengah dari arah luar. Sinar lampu dari rumah tetangga. Aku segera menyadari bahwa yang mati hanya listrik di rumahku saja. Aku segera beranjak keluar rumah, mengecek apakah meteran listriknya njeglek. Dan benar saja. Rupanya meterannya memang njeglek. Aku menghidupkannya kembali, lampupun kembali menyala. Beberapa langkah meninggalkan lokasi meteran, tiba-tiba saja listrik kembali mati. Dan ketika kunyalakan kembali, sudah tidak bisa. Hanya ada satu kesimpulan. Listrik korslet!!.

Meskipun aku dari jurusan elektro, sungguh aku tidak mengerti bagaimana cara memperbaiki korslet yang aku tidak tahu bagaimana hubungan antara kabel-kabel yang terbenam di dalam tembok kontrakan itu. Bagian mana yang menyebabkan korslet juga tidak bisa diperkirakan. Dan akhirnya malam itu, aku tidur bersama kegelapan. Ditemani lampu lilin, aku meneruskan membaca beberapa lembar novel yang tadi sempat membuatku penasaran. Sebelum akhirnya aku tertidur di jaman batu.


Selasa, 06 November 2012

55 Percakapan Para Penjual Bersahaja

Matahari mulai tenggelam di ufuk barat. Aku mendekat ke jendela kantor dengan tirai yang masih terbuka separuh. Ah, sudah gelap rupanya. Kulihat dibalik jendela di lantai dua kantorku ini, beberapa motor terlihat lalu lalang mulai menyalakan lampu. Akupun berbalik, terpampang diatas meja kerjaku, segelas kopi rasa mocca yang sudah habis, juga laptop kesayangan yang masih menyala. Segera aku membereskannya. Mematikan laptop dan memasukkan ke dalam tas. Juga membawa gelas kopi mocca ke dapur. Kurasakan badanku sudah sangat capek hari ini. Aku ingin segera pulang. Subhanallah, hari ini aku sangat lelah, meski tanpa satu peluhpun menetes.

Setelah menunaikan sholat maghrib di masjid tak jauh dari kantor, kugelak motorku menyusuri jalan yang sudah penuh dijejali dengan para pengguna jalan lain. Ah, mereka sama sepertiku, pulang membawa kelelahan. Kota ini macet sekali. Aku memilih melewati jalan tikus di belakang kantor. Inilah dilema ketika pulang dari kerja, susahnya mencari makanan yang sehat. Kebanyakan dari mereka menjajakan ayam goreng, sate, nasi padang, mie ayam dan bakso. Kalau sudah petang begini, susah sekali mencari nasi dengan sayur di kota ini.

suara hati sampai ke hati


Merasa tak ada pilihan lain, akhirnya aku menghentikan motorku di depan sebuah gerobak dorong penjual sate padang. Abang penjual menengok dari balik gerobaknya menanyakan padaku sambil mengacungkan jari telunjuk, "Dibungkus ya bang? satu?". Aku mengangguk mengiyakan. Kulihat disamping gerobak penjual sate ini ada dua lagi penjual lain namun membawa box dagangannya diatas motor. Mereka berdua pedagang bakso keliling memakai motor. Satu dari mereka kemudian mendekati penjual sate padang, mengajak ngobrol sambil bercanda. Sedikit banyak aku mendengarkan apa yang mereka bicarakan.

Penjual sate bertanya kepada penjual bakso, "Gimana jualan hari ini bang?". "Yaa lumayan lah bang". "Masalah rejeki mah udah ada yang ngatur, kita tugasnya hanyalah berusaha", lanjut abang itu. Subhanallah, ini yang ngomong bukan ustadz, bukan pula ulama. Ini yang berbicara adalah praktisi di lapangan, sang penjual bakso yang bersahaja. Rasanya jleb banget di hatiku. Ditambah lagi, nasihat itu tidak ditujukan langsung kepadaku, aku hanya mendengarnya tak sengaja.

Maka benarlah apa yang menjadi kalimat terkenal seorang ulama : Imam Ahmad bin Hambal RA, bahwa "Hanya suara hati yang sampai pada hati seseorang". Yah, karena perkataan penjual bakso yang bersahaja tadi, pastilah berasal dari hati. Suara hati, yah, dia laksana pancaran mentari yang menghangatkan rumput dalam dinginnya pagi.



powered by : Toko Buku Hanan

Kamis, 01 November 2012

16 Di Suruh Belanja, Tulis Dulu!

Sudah menjadi jadwal yang pasti ketika ada hari libur, maka saya pasti akan menggunakannya untuk berlibur pulang ke Magetan. Bertemu dengan orang-orang yang saya cintai. Bagi saya, pulang ke rumah di Magetan adalah rekreasi. Karena sehari-hari, saya memang tidak berkumpul dengan mereka. Seperti halnya libur Iedul 'Adha kali ini, saya melewatkannya dengan berkumpul dengan keluarga, nyate-nyate bersama dan tentunya bisa memandangi wajah Hanan (putri saya) setiap saat. Subhanallah. Kita bisa menikmati sebuah kesenangan biasa menjadi luar biasa ketika kondisi mempersulit kita untuk mendapatkannya.

pegangan tangan hanan


Suasana Magetan beberapa minggu terakhir ini sangat pengap dan panas. Hanya sesekali turun hujan namun tidak lama. Mudah sekali peluh keringat keluar membasahi badan. Pepohonan besar yang rindang di depan rumah dan belakang rumah, sedikit mampu memberikan angin kesegaran. Suara kicau burung di sangkar peliharaan bapak di depan rumah sedikit memerdukan hati. Pun juga dengan suara embek-an kambing (yang selamat dari jagal Iedul Qurban) di belakang rumah, sedikit banyak bisa menjadi 'lagu' kedamaian. Maka menjadi sebuah pemandangan yang wajar, ketika Hanan seringkali ngrengik (sering nangis) dengan kondisi udara seperti ini. Dia susah tidur kalau siang hari. Digendong adalah satu dari 2 cara jitu untuk menidurkan Hanan kembali.

dek Hanan kalau tidur


Dengan kondisi Hanan yang tidak bisa ditinggal lama, maka saya adalah satu-satunya orang yang bisa untuk keluar rumah. Semisal berbelanja. Uniknya, saya selalu lupa dengan barang yang hendak dibeli. Maka biasanya, ketika istri menyuruh saya untuk berbelanja, saya selalu meminta dia untuk menulis list belanja.

daftar belanja


Yah, melewatkan waktu bersama keluarga dan orang-orang yang kita cintai adalah sebuah kedamaian.

powered by :
Toko Buku Hanan

Sabtu, 20 Oktober 2012

8 Fin, Kok Kamu Mirip Charly ST 12?

Entah kapan dimulainya, tapi rumor itu berhembus hinggap di banyak telinga rekan-rekan kantor. Dan siapa pula yang memulainya, aku hanya bisa menduga-duganya saja. Rumor yang tak penting sebenarnya, tapi lumayan menjadikan pernak-pernik kehidupan sosial bersama teman-teman kantor. Lucu sekaligus menjengkelkan.

Ketika itu ada beberapa sahabat yang tengah berbincang-bincang usai rapat mingguan. Satu sahabat tiba-tiba mengambil sebuah gitar yang tergeletak di sudut ruangan, untuk coba memainkannya, menyemarakkan suasana. Satu kawan yang cukup vokal tiba-tiba menyeruak ke depan menyampaikan pendapatnya.

"Eh, ini ada vokalis ST 12, Charly! ayo Feb mainkan lagunya ST 12 'cari pacar lagi', celetuk seorang kawan sambil merangkul bahuku, berbicara dengan Febi yang tengah memegang gitar siap mendendangkan sebuah lagu.

"Eh, bentar.. bentar.. helloooo!!. gw??... Charly??!!", jawabku membela seenaknya.

Tiba-tiba tanpa ada yang berusaha membalas penyanggahanku, si Febi yang jago gitar sudah memainkan gitarnya meng-intro-kan lagu ST 12 berjudul 'Cari Pacar Lagi'. Dan parahnya lagi, ini si Febi ternyata jago banget memainkan gitar. Permainan gitarnya mirip banget dengan lagu aslinya.

"Cintaku... cintaku padamu... tak indah seperti dulu..., Ayo Fin!! ", si Febi sudah mulai mengintrokan lagu cari pacar lagi (yang sekali lagi mirip banget dengan lagu aslinya). Teman-teman yang lain malah heboh ikut menyoraki menyuruh diriku tampil menyanyi di depan.

"Gila... emang ini taman kanak-kanak, suruh nyanyi ke depan!".

***

Di kesempatan yang lain, aku iseng menyuruh kawan-kawan yang tadinya ngomporin bahwa aku mirip dengan Charly, supaya bertanya kepada salah seorang sahabat yang cukup pendiam dan alim. Jikalau kata sahabat alim nan pendiam itu setuju dengan guyonanmu itu, maka sedikit banyak aku setuju memang ada sedikit kemiripan. Meskipun secara pribadi, aku hanya bisa bergumam, menyangkal dalam hati, apanya yang mirip!!

Sebut saja nama salah seorang teman yang pendiam nan alim ini bernama Safi. Dan ketika salah seorang bertanya kepada Safi perihal kemiripanku dengan Charly, diapun menjawab :

Sejenak dia mengamati wajahku. "Eh iyo ya... kok mirip he he", jawabnya datar sambil tersenyum.

#gubrak!!.

Dan sejak saat itu, setiap ada rapat mingguan, kemudian diakhiri dengan berbincang santai sambil ada permainan gitar, teman-teman selalu menyoraki diriku untuk tampil ke depan menyanyikan sebuah lagu dari ST 12, cari pacar lagi.

charly ST 12


Tapi alhamdulillah, semenjak pindah kantor, dan teman-teman yang 'iseng' itu sudah tidak berada di kantor lagi, isu itupun tenggelam seiring berjalannya waktu.


* Nama-nama teman kantor di atas sengaja di samarkan. ^_^

Sabtu, 29 September 2012

19 Episode Baru Kehidupan Saya, Lahirnya Dek Hanan Part 4 (Tamat)

Cerita sebelumnya di Part 1, Part 2 dan Part 3.
----------------------------------------------------

"Kretaaakkk!!", seperti suara pintu yang dibuka.

"Selamat ya pak, bayinya perempuan, cantiiikk!. mari ikuti saya langsung ke ruang bayi!", teriak seorang perawat perempuan yang tiba-tiba muncul dari arah pintu ruang operasi menggendong sesuatu.

"Alhamdulillah.. wa Syukurillah. bayi saya selamat". Tanpa berpikir panjang, saya mengikuti perawat tadi yang berjalan cukup cepat menuju ruang bayi. Ruang bayi ini sangat steril, hanya petugas dan ibu bayi saja yang bisa masuk kedalam. Bahkan saya (yang asli bapaknya) saja, tidak diijinkan masuk ke dalam ruang bayi. Hanya ada satu kesempatan yang mengijinkan saya masuk ke dalam ruang bayi. Yah, satu-satunya kesempatan adalah ketika mengumandangkan adzan ke telinga bayi saya. Selepas itu, praktis saya hanya bisa memandang bayi saya dari balik kaca jendela.

Seorang ibu perawat yang cukup senior meminta saya untuk mengumandangkan adzan ke telinga bayi, namun terlebih dahulu dipersilahkan berwudlu di mushola di bagian depan rumah sakit. Selepas berwudlu, saya segera menuju ke ruang bayi. Terlihat disitu bayi saya sedang dirapikan oleh seorang perawat. Terlihat wajah bayi saya sangat pucat. Membayangkan bagaimana dinginnya ruang operasi. Bayi saya sudah tak menangis lagi. Terlihat dia bergerak-gerak mencoba mengenali dunia. Rumah barunya, setelah sebelumnya terlalu nyaman berada di rahim ibunda.

dek Hanan Naqiyya


Saya pandangi bayi itu lamat-lamat. Inikah bayi saya? darah daging saya? cantiknya anak abi! alhamdulillah. Dengan mengucapkan basmalah saya mulai mengumandangkan adzan ke telinga bagian kanan dan iqomah ke telinga bagian kiri. Setelah itu dalam hati berdoa semoga bayi ini menjadi anak yang terjaga dan dilindungi oleh Allah, menjadi anak yang sholehah, aamiin.

Setelah diadzani, bayi kemudian diletakkan kembali ke dalam kotak berukuran setengah meter dengan beberapa lampu terletak di dalamnya. Sebuah kota penghangat bayi. Seorang perawat menawarkan kepada saya untuk mengambil foto bayi dari jarak dekat. Karena setelah ini, praktis saya dilarang masuk kembali ke dalam ruangan steril ini. Beberapa kali bayi saya menggerak-gerakkan kepalanya. Seperti memandang ke sekeliling, mencoba mengenali suasana sekitar. "Dek Hanan, ini abimu sayang, kamu cantik sekali wahai anakku". Lamat-lamat saya baca informasi yang ada di bagian depan kotak bayi. 'Ny Dwi Yulianti, bayi lahir pukul 12.55 WIB, berat badan 2,7 kg, panjang 49 cm, lingkar kepala 33 cm'.

Yah, Hanan. Nama lengkapnya Hanan Naqiyya. Sebuah nama yang sudah kami persiapkan jauh-jauh hari untuk bayi perempuan pertama kami ini. Arti dari nama itu adalah perempuan yang penyayang dan berhati jernih. Nama adalah doa. Semoga kelak kamu menjadi seperti apa yang kami doakan ya sayang.

Setelah merasa bayi kami baik-baik saja. Saya kembali ke depan ruangan operasi. Lampu diatas pintu ruang operasi masih menyala terang. Mungkinkah operasi masih berjalan selama ini?. Saya kemudian berjalan ke arah ruang ICU. Seperti yang telah diberitahukan di papan informasi kebidanan, bahwa pasca operasi, maka pasien akan dibawah ke ruang ICU. Beberapa kali saya tengok isi dari ruang ICU melalui kaca jendela. Istri saya masih belum ada. Sepertinya saya harus menunggu beberapa menit lagi.

Selepas mengetahui bayi saya selamat, sebenarnya setengah dari kekhawatiran saya sudah menghilang. Kini tinggal kekhawatiran akan kondisi ibunya. Ingin sekali saya melihat kondisi istri saya. Iseng-iseng saya kembali melihat ke dalam ruang ICU dari jendela sebelah selatan. Dan alhamdulillah, di bagian kamar pojok, terlihat istri saya tengah berbaring di dampingi oleh seorang perawat. Melihat wajah saya di jendela, istri agak terkejut dan memberikan isyarat supaya saya masuk ke dalam saja.

Saya segera memasuki ruangan ICU. Menemui istri tercinta yang sedang diinfus. Melihat saya, dia langsung menangis. Saya memegang tangannya, mencoba menguatkan. Setelah agak tenang, dia mulai menceritakan segala apa yang barusan dia alami. Katanya seperti mimpi. Berada di dunia lain. Merasa berada di titik terdekat kematian. Alhamdulillah semua berjalan lancar. Dan kini dia baik-baik saja. Saat itu kita pahami, bahwa semua ini terasa dimudahkan oleh Allah.

Oke kawan, saya kira cerita ini saya tamatkan disini saja. Terima kasih bagi teman-teman yang sudah mau menyimak kisah ini dari awal. Kisah baru perjalanan hidup saya. Kisah baru dengan hadirkan dek Hanan. Malaikat kecil kami yang sudah lama dinanti.

*** Tamat ***



Sukaraja, Bandung. 29 September 2012
Saat kita berdoa dengan yakin, maka di saat itu pintu-pintu rahmat Allah terbuka lebar.

Jumat, 28 September 2012

10 Episode Baru Kehidupan Saya, Lahirnya Dek Hanan Part 3

Cerita sebelumnya di Part 1 dan Part 2.

Pemandangan itu benar-benar telah menguras emosi saya. Baru pertama kali ini dalam sejarah hidup saya, ada orang yang saya cintai harus mengalami kondisi yang cukup kritis. Begitu banyak lintasan pikiran negatif yang bergelayut dan berseliweran di kepala. Aduh.. bagaimana jika nanti begini, bagaimana jika nanti hasilnya begitu. Segenap tenaga saya fokuskan untuk berprasangka baik kepada Allah. Apa yang terjadi kepada hamba-Nya, adalah yang terbaik. Prasangka-prasangka baik seperti itulah, yang coba saya munculkan dalam pikiran saya. Pada kondisi seperti ini, tak banyak yang bisa saya lakukan. Tim dokter tidak mengijinkan saya mendampingi istri untuk menghadapi operasi. Satu-satunya hal yang bisa saya lakukan adalah menunggu dan berdoa untuk keselamatan istri dan dedek.

Dengan terus menahan isak tangis, saya coba kuatkan diri. Mencoba menenangkan diri dengan berdzikir kepada Allah supaya operasi ini dimudahkan. Ibu mencoba menenangkan saya dengan mengatakan bahwa istri dan dedek akan baik-baik saja. Semua itu sedikit banyak cukup membantu. Saya mulai menguasai diri. Berpikir positif, bahwa semuanya akan baik-baik saja. Bukankah Allah itu bersama dengan prasangka hamba-Nya?.

Istri saya masuk ke ruang operasi pukul 12.20 WIB. Dan ketika lampu tanda operasi yang terletak diatas pintu ruang operasi dinyalakan, saya merasa jantung mulai berdetak lebih cepat. Sayapun menunggu proses operasi berjalan dengan perasaan tak menentu. Pandangan saya sapu ke arah ke sekeliling, saya melihat ada sebuah sofa merah yang memanjang yang terletak di depan ruang operasi. Saya melihat ibu saya juga sudah duduk disitu. Saya menghampirinya, dan duduk di sebelah beliau. Terpekur, hening.

Jarum jam bergerak sangat lambat. Mungkin sama lambatnya dengan siput yang melata di atas sebuah batu koral di sungai. Beberapa kali saya melihat ke arah jam di tangan kiri saya. 20 menit berlalu dengan lambatnya. Dan tepat pukul 12 lebih 40 menit, dari arah luar saya melihat dokter Ardian baru masuk ke ruang operasi. Lho!!! berarti selama 20 menit (yang lamanya sama dengan 20 tahun ini), operasi yang sebenarnya belum juga dilakukan?!. Yah, apa daya, memang kenyataannya seperti itu. Selama 20 menit pertama ini hanya dilakukan proses pembiusan. Proses pembiusan yang dilakukan oleh dokter anaestesi. Ketika proses pembiusan ini berjalan dengan sempurna, maka operasi baru layak untuk dilakukan.

Disaat suasana hening dan mencekam. Saat dzikir dan doa semakin banyak terucap oleh bibir ini. Tiba-tiba saja .. Kretaaakkk!!!.


Bersambung ...

foto dek Hanan

Belum genap 1x24 jam meninggalkan dek Hanan di Magetan, istri sudah mengirimkan foto dek Hanan yang baru saja mandi. ^_^

Rabu, 26 September 2012

19 Episode Baru Kehidupan Saya, Lahirnya Dek Hanan #Part 2

Cerita sebelumnya di : Episode Baru Kehidupan Saya, Lahirnya Dek Hanan #Part 1

#Hari H dek Hanan Lahir
Mentari pagi masih belum juga menampakkan sinarnya. Embun pagi menetes dari ujung daun jatuh berdebam ke tanah. Ah jadi ingat ada sebuah judul buku novel dari Tere Liye berjudul ‘Daun yang jatuh tak pernah membenci angin”. Tapi kisah saya dan istri kali ini, tak ada hubungannya dengan novel Tere Liye tersebut. Semilir angin pagi juga sukses mengigilkan tubuh. Melenakan orang-orang tetap tak beranjak dari tempat tidur untuk memulai aktifitas harian. Kicauan burung-burung khas pedesaan semakin menyemarakkan pagi ini. Ah, sungguh pagi yang sangat indah. Sayangnya keindahan itu semua tak bisa kami nikmati. Keindahan pagi ini menjadi tidak penting bagi kami. Bayang-bayang kondisi bayi kami dengan posisi tak normal, membuat perasaan kami menjadi tak menentu. Pagi-pagi sekali, kami memutuskan pergi ke bidan desa untuk berkonsultasi langkah apa yang seharuskan kami ambil menghadapi masalah ini. Jarak antara rumah kami dengan bidan desa tak terlalu jauh. Belum jua sebutir nasi masuk ke kerongkongan kami, motor sudah kami gelak melewati dinginnya pagi buta menuju ke rumah bidan desa. Kami hanya sedikit berharap, ada kabar yang baik dengan kondisi bayi kami.

Sampai di rumah bidan desa, antrian pasien masih sedikit. Hanya terlihat 1-2 orang saja. Hanya dengan menunggu beberapa menit saja, kami sudah bisa langsung bertemu dengan ibu bidan. Istri mulai menceritakan kondisi kehamilannnya yang tak juga mengalami kontraksi rutin. Juga tentang semua kondisi yang dipaparkan oleh dokter Ardian di malam sebelumnya. Percakapan berlangsung hangat. Bisa dibilang, ibu bidan ini memiliki hubungan yang cukup baik dengan keluarga kami. Sehingga pembicaraan berlangsung cukup santai dan terseling canda. Tapi sayangnya semua canda yang dimunculkan, tak juga bisa menghilangkan rasa khawatir di hati kami.

Oh, itu namanya posisi titik puncak mbak!”, bu bidan menjelaskan istilah posisi bayi yang menghadap kedepan seperti disampaikan oleh dokter Ardian.

Jika mendengar penuturan ibu bidan, bisa dibilang posisi bayi seperti ini cukup berbahaya jika tetap nekat melakukan kelahiran secara normal. Secara pengalaman, bu bidan pernah membantu kelahiran 4 orang yang bayinya mengalami posisi titik puncak. Dan keempat-empatnya berhasil dilahirkan, namun terlebih dahulu melalui perjuangan yang super hebat. Sekali lagi perlu ditekankan, dengan perjuangan yang super hebat!. Pada kasus pertama, bayi berhasil dikeluarkan dalam kondisi tak bergerak. Awalnya dikira sudah meninggal. Bu bidan sangat kaget dan sport jantung. Dilakukan segala upaya, akhirnya bayi berhasil menangis. Belum lagi dengan penderitaan yang musti dialami ibunya. Subhanallah. Sangat-sangat hebat. Maka untuk bayi yang mahal seperti bayi kami (karena penantian kami akan datangnya bayi ini selama 3 tahun), bu bidan tidak mau mengambil resiko. Ini harus dioperasi cesar!. Begitulah kesimpulan dari konsultasi kami dengan bu bidan di pagi itu.

Sungguh semua ini jadi tak siap bagi mental istri. Selama ini dia selalu berharap dan berdoa, supaya bisa melakukan kelahiran secara normal. Namun ternyata Allah berkehendak lain. Rupanya bayi kami memilih melalui jalan operasi cesar.

Udah jangan lama-lama mbak, segera bersiap ke rumah sakit untuk operasi. Ini saya buat surat rujukan”, bu bidan semangat mengarahkan.

Maka pagi itu. Di keindahan pagi yang sayang tak bisa kami nikmati itu, tidak ada pilihan lain bagi kami. Kami harus bersiap untuk pergi ke rumah sakit tempat yang direkomendasikan oleh bu bidan. Pada hari yang sama, kami akan segera melihat bayi kami. Tentu dengan resiko besar yang siap tidak siap harus kami hadapi apapun itu.


#Selasa, 18 September 2012. Pukul 08.00 WIB
Dengan persiapan mental seadanya, kami bersiap pergi ke rumah sakit Griya Husada di Madiun dengan operasi yang insyaAllah nanti akan dilakukan oleh dokter Ardian. Sebenarnya persiapan termasuk baju buat dedek, bundanya sama bapaknya sudah dipersiapkan jauh-jauh hari sebelumnya. Sehingga praktis hanya persiapan mental saja yang kami lakukan. Setelah menghubungi orang tua dan menyiapkan mobil, akhirnya sekitar jam 8 kami berangkat menuju rumah sakit Griya Husada Madiun. Di sepanjang perjalanan saya melihat istri sudah mulai merasakan kontraksi yang cukup membuat dia terlihat kesakitan. Saya hanya bisa memegangi tangannya, mencoba meradiasikan semangat untuk tetap sabar dan berdzikir kepada Allah supaya semua dimudahkan.

Sekitar setengah jam kami sudah tiba di rumah sakit. Setelah melakukan registrasi dan beberapa administasi yang harus dilakukan, kami diberitahukan bahwa operasi dokter Ardian akan dilakukan mulai pukul 12.00 WIB. Sungguh sebuah penantian yang sangat lama bagi saya dan istri. Bagaimana tidak, dari pukul 09.00 sampai pukul 12.00, sehingga praktis kita harus menunggu sampai 3 jam lamanya dengan kondisi mental yang sedang naik turun. Tik…tik..tik.. detik jarum jam bergerak sangat-sangat lambat. Ingin rasanya waktu berjalan dengan cepatnya, sehingga segera tiba waktunya untuk operasi.

Beberapa kali istri curhat dengan kondisi yang dialaminya. Sungguh sedih rasanya. Berkali-kali saya menguatkan hati istri. Ya Allah berilah kekuatan dan kesabaran bagi istri saya. Beberapa kali saya harus mengusap air mata yang menetes di pipi istri. Memberikan kalimat-kalimat penguat, dimana pada saat yang sama hati saya sendiri sedang rapuh dan retak. Hingga akhirnya saat-saat yang ditunggu tiba juga. Saat-saat penentuan.

Mbak, sudah saatnya operasi dilakukan. Sudah ditunggu di ruang operasi”, ujar seorang perawat yang mulai membuka lebar-lebar pintu ruang persiapan tempat istri dan saya menunggu.

Entah kenapa dada saya menjadi sesak. Istri terlihat menangis. Ibu saya datang dari luar ruangan langsung mencium pipi dan kening istri saya. Melihat pemandangan itu, akhirnya tangis sayapun pecah. Saya tak kuasa menahannya lagi. Sayapun mencium kening dan pipi istri mencoba memberikan kekuatan, yang sekali lagi pada saat yang sama saya sendiripun sedang lemah dan menangis. Dengan deru air mata yang terus mengalir di pipi, saya mengantar istri yang berbaring di atas ranjang dorong menuju ruang operasi. “Adek harus kuat, adek harus kuat!!” semangat saya kepada istri.


Bersambung ke Part 3

fifin bersama dek hanan


Kepohrejo, Magetan 26 September 2012
Ditemani oleh dek Hanan yang sedang tertidur pulas dengan wajah lucunya ^_^.

Selasa, 25 September 2012

12 Episode Baru Kehidupan Saya, Lahirnya Dek Hanan #Part 1

#Jumat 14 September 2012 (H-4)
Sungguh tidak mudah menjalani hubungan suami istri secara jarak jauh. Lebih-lebih jika menyangkut hal yang sangat penting seperti masa-masa kehamilan istri. Masa-masa dimana kehadiran sosok suami di sisi begitu dibutuhkan. Masih terbayang jelas bagaimana sehari sebelumnya, istri menelepon saya mengabarkan bahwa perutnya sudah mulai sering kontraksi meskipun frekuensinya masih belum teratur. Mendengar keluhan istri seperti itu, akhirnya saya memutuskan untuk pulang saja ke magetan. Tentu saya tidak ingin juga melewatkan momen spesial kelahiran anak yang begitu saya nantikan kehadirannya selama ini. Ditambah lagi, sebelumnya ada sahabat yang mengatakan bahwa pentingnya mendampingi istri yang melahirkan untuk memberikan sebuah dorongan semangat.

Bekerja itu bisa kapan saja, tetapi hadir dalam momen kelahiran anak pertama, hanya terjadi sekali dalam hidup”. Begitulah nasihat seorang kawan di FB beberapa waktu yang lalu. Sebuah nasihat yang cukup telak menyadarkan akan pentingnya momen bersejarah ini. Dan sayapun akhirnya bertekat dalam hati, bahwa saya musti berada di sisi istri bagaimanapun kondisinya nanti. Sangat berharap tak melewatkannya barang sedetikpun.

Berdasarkan prediksi dari dokter yang selama ini menangani kandungan istri, HPL seharusnya jatuh pada tanggal 16 September 2012. Maka berarti hari ini masih 2 hari sebelum HPL. Kalaupun saya pulang saat ini, maka insyaAllah bakal tepat waktu dengan saat kelahiran anak pertama. Semoga.


#Minggu, 16 September 2012 (H-2), tepat pada HPL prediksi dokter
Dengan menaiki kereta malam, akhirnya sehari sebelumnya (sabtu malam) saya melakukan perjalanan dari Bandung menuju Madiun dengan satu misi utama, yaitu menemani jihad istri melahirkan. Berbagai perasaan bercampur aduk menjadi satu, antara senang, takut, dan khawatir. Ada juga rasa tidak percaya. Tak percaya bahwa sebentar lagi saya akan menjadi seorang ayah. Beberapa kali saya memeriksa hape, takut-takut kalau ada sms dari istri terkait kondisi janinnya.

Bisa dibilang kondisi kehamilan istri saya termasuk lancar. Tidak ada masalah yang serius terkait kesehatan janin dan ibunya. Masalah hanya terjadi pada saat awal-awal masa kehamilan istri yang sudah pernah saya ceritakan pada tulisan kaki gatal dan melepuh saat hamil. Selepas itu, praktis kondisi janin dan ibunya selama ini terbilang jauh dari masalah.

Dengan bekal rekam kondisi janin yang selama ini baik-baik saja, maka saya punya harapan cukup besar bahwa kondisi janin pada tahap akhir kehamilan ini, juga akan baik-baik saja. Namun sampai hari perkiraan lahir, frekuensi kontraksi istri masih juga tidak teratur. Padahal seharusnya jika memasuki tahap persalinan, kontraksi akan sering terjadi dengan frekuensi yang teratur (semisal 5 menit sekali). Bahkan jika dilihat secara fisik, janin di perut seperti belum masuk ke panggul. Ketika ditanyakan kepada bidan, dijelaskan bahwa memang tidak semua ibu yang akan melahirkan, kondisi perut musti terlihat mlorot agak ke bawah.


#H-1 hari (17 September 2012)
Bertambah satu hari terlewat dari HPL, membuat perasaan kami semakin takut dan was-was. Terbayang jelas dengan beberapa kasus dari referensi yang pernah kami baca, bahwa jika bayi tidak segera lahir maka ketuban akan mengeruh dan menyebabkan bayi bisa karacunan. Kamipun berinisiatif pergi memeriksakan kandungan ke dokter Ardian untuk mencari opini lain terkait kondisi janin istri.

Senin sore kami berangkat ke klinik tempat dokter Ardian praktek. Selain mencari opini lain, sebenarnya tujuan kami yang lain adalah ingin melihat wajah bayi kami ^_^. Perlu diketahui bahwa dokter Ardian ini memiliki USG 4 dimensi yang memungkinkan kita bisa melihat kondisi bayi yang ada di dalam perut dengan lebih jelas. Sebuah usaha dari sebuah rasa penasaran ingin melihat wajah bayi kami.

Sekitar jam 5 sore kami sampai di klinik dokter Ardian. Tampak sudah cukup banyak antrian yang memenuhi ruang tunggu berukuran 6 meter persegi. Setelah registrasi dan melihat antrian yang cukup mengular, akhirnya kamipun bersepakat untuk beranjak pergi ke masjid Agung Magetan untuk menunaikan sholat maghrib terlebih dahulu. Semoga setelah sholat magrib, antrian sudah mendekat ke giliran kami.

Selepas sholat maghrib, kami kembali ke klinik dokter Ardian. Dan betul saja, beberapa menit menunggu, akhirnya nama ‘Dwi Yulianti’ pun terpanggil juga. Kami bergegas menuju ruang tempat pemeriksaan. Kami memasuki ruang pemeriksaan dengan rasa bercampur-campur. Ah, semoga hasil pemeriksaan kali ini baik-baik saja. Bayi kami semoga ada dalam kondisi terbaik.

Selamat sore, bisa saya lihat dulu buku KIAnya?“. dokter Ardian mengawali pembicaraan (note : buku KIA adalah buku Kesehatan Ibu dan Anak).

Terlihat dokter Ardian membaca sekilas rekam data pemeriksaan dari kondisi janin dan ibunya di buku tersebut. Sambil menyerahkan buku KIA, beberapa kali istri saya melontarkan pertanyaan terkait kondisi kandungan yang sudah lewat HPL satu hari.

Baiklah, mari kita lihat kondisi janinnya”. Dokter mempersilahkan istri saya naik ke tempat pemeriksaan USG. Dibantu dengan satu orang perawat, istri saya naik ke ranjang pemeriksaan. Saya yang masih duduk di kursi, cukup bisa memantau hasil USG dari monitor yang cukup besar yang terpampang di dinding.

Sambil menggerak-gerakkan alat ke perut istri saya, dokter menjelaskan kondisi janin. Terkait lingkar kepala, tulang belakang, detak jantung, semuanya berada dalam kondisi baik. Hingga akhirnya tampilan monitor mengarah ke gambar 4 dimensi. Meskipun agak goyang-goyang, disitu terlihat dengan cukup jelas wajah dari bayi kami. Raut muka dari bayi yang begitu kami rindukan. Terlihat tangannya beberapa kali bergerak-gerak menutupi sebagian wajah. Aduh dek.. kami merindukanmu!.

Ini tampilan bagian atas dari bayi. Ini terlihat wajahnya bayi”. Dokter Ardian menunjukkan cursor USG ke bagian kepala bayi yang terlihat wajahnya. Dalam hati kami berseru gembira, tak sadar bahwa senyum kamipun telah tersungging.

Namun, seharusnya kondisi bayinya tidak begini!”. Penjelasan dokter Ardian sekian detik kemudian membuyarkan rasa buncah bahagia di hati kami.

Maksudnya bagaimana dokter?” kami melontarkan pertanyaan hampir serempak.

Dokter Ardian kemudian menjelaskan kondisi dari posisi bayi kami yang secara medis tidak normal. Kata dokter, seharusnya ketika masa kehamilan sudah memasuki pekan-pekan akhir, kepala bayi sudah berada di bawah dengan posisi wajah menghadap ke belakang, alias membelakangi alat USG. Sehingga pada pekan-pekan mendekati HPL, wajah bayi seharusnya sudah tidak tampak, yang tampak adalah bagian punggungnya. Dalam bahasa yang mudah dipahami, kondisi posisi bayi kami yang mengarah tidak normal (dalam bahasa jawa : bayi mlumah). Dalam dunia medis, posisi bayi seperti ini disebut dengan titik puncak. Ini juga yang menyebabkan bayi tak juga turun-turun sehingga kontraksi rutin yang diharapkan tak kunjung datang.

Belum genap penjelasan dokter mengatakan posisi bayi kami yang tidak normal, kembali dokter Ardian menjelaskan bagian lain yang membuat jantung kami semakin berdetak kencang. Dijelaskan bahwa kondisi ari-ari bayi pada beberapa bagian sudah mulai berwarna abu-abu (artinya ari-ari mulai mengalami pengapuran). Pada kondisi seperti ini, bayi harus segera dikeluarkan dengan jalan apapun, karena ditakutkan asupan nutrisi yang melewati ari-ari yang mengalami pengapuran akan membahayakan si janin. Sebenarnya proses pengapuran seperti ini terbilang normal pada pekan-pekan akhir kehamilan. Artinya memang bayi itu memiliki rentang masa tertentu di dalam perut ibunya, sebelum akhirnya ari-ari akan mengalami pengapuran sepenuhnya dan memberikan racun, bukan lagi nutrisi seperti pada kondisi sebelum pengapuran. Di banyak referensi, bagaimanapun bayi sebenarnya masih bisa bertahan di dalam rahim ibunya sampai umur kehamilan memasuki pekan ke 42.

Ada dua cara terkait dengan apa yang dialami oleh calon bayi kami. Pertama adalah dengan melakukan induksi (memaksa bayi keluar), atau dengan jalan operasi cesar. Pada saat itu, kami belum terbayang opsi mana yang akan kami pilih. Semua penjelasan dari dokter terasa begitu mengguncang perasaan kami. Di perjalanan pulang dari klinik, tak terasa beberapa butir air mata menetes di pipi saya membayangkan kondisi bayi yang sudah lama begitu kami rindukan. Ya Allah semoga dedek baik-baik saja.

Semua menjadi terasa diluar dugaan. Semula kami menganggap belum adanya kontraksi yang rutin disebabkan oleh hal-hal yang wajar. Banyak teman saya yang bayinya mengalami kelahiran pada H+2 dari HPL. Kondisi-kondisi seperti itulah yang selama ini kami bayangkan. Tak pernah terbayangkan bahwa akhirnya, posisi bayi kami tidak berada pada kondisi yang seharusnya.


Bersambung ... ke Part 2




Kepohrejo, Magetan 25 September 2012
Ditemani semilir angin desa memainkan ujung daun yang bergoyang-goyang di depan rumah.

Jumat, 14 September 2012

7 Cerita Makan Siang, Dari Gadget Canggih Sampai Rumah Berhantu

Aku terdiam, sedikit banyak tidak terlalu nyambung dengan topik pembicaraan tiga orang teman yang duduk mengitariku. Sesekali memandang ke sekeliling, kulihat beberapa orang juga tengah duduk berbincang dengan koleganya menunggu antrian makan siang yang telah mereka pesan sebelumnya. Mungkin sama dengan yang tengah kami lakukan, duduk sambil bercanda membincang tentang hal-hal yang menarik. Sesekali terbahak kemudian serius kembali memperhatikan salah seorang dari kami semangat tampil bercerita.

Di tengah suasana hawa udara kota Bandung yang cukup panas, salah seorang dari kami mulai tampil bercerita membincang tentang tren teknologi yang sedang berkembang di pasaran. Mulai dari gadget-gadget terbaru sampai dengan perbincangan mengenai gadget-gadget favorit mereka. Terkadang aku hanya terdiam mendengarkan. Aku tidak terlalu nyambung dengan topik seperti ini. Aku hanya antusias saja dengan apa yang mereka perbincangkan, yang tentu saja banyak menambah wawasanku tentang masalah gadget-gadget terbaru dan canggih. Kalau mereka membincang mengenai buku-buku bacaan terbaru dan menarik, mungkin aku akan lebih nyambung ^_^.

Bertiga dengan beberapa kawan, kami memang tengah menunggu antrian makan siang di sebuah warung ayam bakar yang terletak tidak terlalu jauh dari kantor. Saat itu aku telah memesan ayam bakar dengan jus jambu merah. Kawan-kawan yang lain juga memesan menu yang sama, bedanya hanya pada jenis minumannya saja. Sebuah kombinasi makan siang yang cukup menggugah selera. Membuat lidah tak sabar bergoyang merasai nikmatnya. Tak selang lama, kawan-kawan masih serius bercerita tentang produk-produk dari perusahaan teknologi internasional, katakanlah dari Samsung. Tak jarang juga mereka membahas mengenai gadget terkini semisal Tablet. Dan tanpa sadar, aku meraih polpen dan secarik tissu yang berada di depanku. Sret-sret.. dan jadilah seperti ini.

coretan aneh


Dan Alhamdulillah, dari arah dapur, pelayan terlihat membawakan makanan yang sudah kami pesan. Kamipun dengan lahap menikmati menu ayam bakar dengan beberapa lalapan, ditambah dengan sambal yang semakin membuat rasanya mantab.

Tak ada kilat, tak ada hujan, apalagi banjir, entah kenapa topik pembicaraan kami berubah seketika. Bermula membincang tentang teknologi terbaru, kini mulai berbincang mengenai hal-hal yang mistis. Rumah berhantu lah, ilmu hitam lah, serta hal-hal mistis lainnya. Adapun acara makan siang kamipun akhirnya ditutup dengan membincang tentang topik-topik hantu nan mistis yang mengundang gelak tawa.

Jumat, 11 Mei 2012

8 Pilih Saya atau Naruto!

Satu, dua, tiga, .... tujuh. Yah, sudah 7 hari ini saya tak mengeluarkan ide yang tertuang dan terbingkai ke dalam kanvas blog. Dalam beberapa postingan terdahulu saya sempat memberikan salah satu penyebab mengapa blog coffee yang terbiasa update tiap hari ini, terbiarkan begitu saja terbengkalai. Salah satunya adalah karena kondisi saya yang sedang pulang ke kampung halaman di Magetan. Atau bisa juga penyebab lainnya adalah ketika istri sedang liburan di Bandung. Alasan yang kedua inilah yang menjadi alasan seminggu ini. Waktu luang karena anak didiknya di SD yang tengah menghadapi ujian nasional, dimanfaatkan untuk sejenak liburan ke Bandung. Interaksi dengan istri yang selama ini memang sudah jarang, membuat saya lebih memilih istri daripada menghabiskan waktu di depan laptop untuk blogging. Hiks, memang sudah antisipasi awal jika istri nekat mengeluarkan jurus mautnya dengan mimik serius: "pilih saya atau laptop?!!" atau ada jurus yang lain : "pilih saya atau nonton naruto!?"

Ah, jadi ingat juga sebuah curcor (curhat colongan) sahabat saya yang dulu pernah satu kost ketika masa-sama kuliah di kampus perjuangan. Sejak awal kuliah, sebuah anime dari negeri Sakura yang berjudul Naruto, memang langsung menarik perhatian pecinta anime tanah air. Tak terkecuali remaja tanggung nan imut seperti saya dan sahabat saya ini. Kita seringkali mendownload anime ini setiap satu minggu sekali. Kalau tidak salah update-nya dari Jepang setiap hari kamis malam. Saking sukanya, sampai sahabat saya ini menikah dan dikaruniai seorang putri kecil,masih saja hobinya menonton Naruto tak hilang sedikitpun. Hingga pada suatu hari, istrinya yang memang berteman dengan istri saya, seringkali mengeluh dengan hobi suaminya yang lebih suka nonton naruto daripada bercengkrama dengan dirinya :). Entahlah, apakah itu guyonan khas ibu-ibu atau memang begitu adanya.


Menghadapi perasaan wanita yang susah ditebak, memang menuntut kita harus lebih cerdik menggunakan rasio alamiah laki-laki. Karena bahkan alasan yang digunakannya pun tidak masuk akal. Bagaimana mungkin bisa dibandingkan antara 2 hal yang memang berbeda. Pilih istri atau Naruto... ha ha.. kalau dalam bahasa sunda, aya aya wae...

Senin, 30 April 2012

6 Senin Semangat

Wah, Jadi ingat dulu ketika saya masih menjalani masa-masa sekolah, hari senin menjadi hari yang sangat menjemukan. Entahlah, rasanya berat sekali memulai hari. Saat mata terbuka di subuh hari, kemudian otak sedikit demi sedikit kembali aktif dan menggerakkan seluruh syaraf memori-nya. Yang terlintas di awal-awal ingatan biasanya adalah 'ini hari apa?'. Dan ketika pikiran mulai sadar, bahwa ini adalah hari senin, rasanya tubuh ini berat sekali untuk dibangunkan. Seakan ada beribu jejaring setan yang kuat mencengkeram seluruh tubuh sehingga susah sekali untuk bangun. Membayangkan bagaimana kesibukan yang musti kita jalani hari ini, membuat langkah ke kamar mandi mengambil air wudhu menjadi berat. Tapi, memang begitulah agenda setan kawan, tapi eit..musti diingat! ada pahala besar dalam setiap pengorbanan berat untuk sebuah kebaikan.

sumber : tegalbahari.com

Tapi semenjak bekerja, rasanya lebih enjoy menikmati hari-hari kerja saya. Maklum memang, hari-hari libur saya (sabtu dan minggu) lebih banyak dihabiskan dengan kesendirian. Jadi hari kerja malah membuat saya merasa lebih senang. Ada rekan kerja dengan celoteh-celotehannya, membuat hidup saya terasa lebih ramai. Ada sejuta warna-warni yang membungkus sepi. Makanya biasanya hari sabtu (meski sebenarnya hari libur), saya gunakan untuk bekerja di kantor. Itung-itung mengganti hari libur saya yang sering 'offset' ketika pulang ke kampung halaman.

Ini bukan berarti saya termasuk tipe work holic. Maksudnya, hari senin untuk kondisi saya sekarang ini, menjadi terasa lebih ringan untuk dihadapi :). Meski bagaimanapun, orang akan tetap membutuhkan hari libur untuk merefreshkan pikirannya yang letih. Bagaimana pagimu hari senin ini kawan? Yuuk bersemangat memulai hari! Semoga ada keberkahan dalam setiap langkah dengan keimanan.

Jumat, 27 April 2012

7 Zona Nyaman Tak Nyaman

Benar sekali dengan nasihat-nasihat yang seringkali datang dan pergi berseliweran mampir di telinga saya ini. Entah dia mampu meresap ke dalam otak serta kuat meresonansi hati, atau malah sebaliknya, nasihat itu tergolong dalam istilah 'masuk kuping kiri, keluar kuping kanan'. Bahwa sejatinya hidup dan kehidupan itu layaknya sebuah roda, kadang berada di posisi atas dan kadang tak jarang musti rela terjerembab jatuh ke bawah. Begitulah hakikat kehidupan itu. Ada rasa senang, adapula rasa sedih. Ada saat datang rasa gembira membuncah, namun tak jarang pula saat-saat derita dan sedih datang melanda. Sebuah sifat yang sudah melekat erat dengan hakikat dunia. Nanti beda lagi dengan sifat kehidupan yang lain, apakah surga atau neraka. Kau pastilah tahu bedanya kawan! :)

Diri ini seringkali mendapat saran dari beberapa teman dan sahabat, untuk segera hidup serumah dengan keluarga, (istri dan calon anak). Tapi memang, berbicara akan selalu lebih mudah daripada prakteknya. Tentu dalam hal ini, saya sedang berada dalam kondisi tidak nyaman. Istilah kerennya masuk ke dalam zona tak nyaman. Tapi saya musti selalu berusaha bersyukur dan terus bersyukur. Karena di luar sana, banyak orang yang lebih tidak beruntung daripada saya. Kita seringkali melihat kepada nikmat yang sedikit, namun jarang sekali melihat dan mensyukuri dengan nikmat yang lebih banyak. Seringkali malah sombong menganggap nikmat yang banyak itu adalah 'hak' yang memang seharusnya kita dapatkan. Tidak pernah mencoba menyukurinya, tapi malah kufur mempersoalkan nikmat yang tidak jua kita dapatkan.


Gambar diambil dari sisilain.net

Zona nyaman dan tidak nyaman akan selalu muncul dan tenggelam dalam kehidupan kita. Belajar dari kesalahan masa lalu dan cerdik mengambil langkah-langkah penyelesaian masalah yang dihadapi adalah langkah terbaik. Karena berada ke dalam zona tidak nyaman akan mampu membuat kita lebih unggul daripada sebelumnya. Tidak mungkin seorang pilot disebut handal, jika dia tidak pernah berada pada kondisi mengemudikan pesawat di situasi badai. Tak mungkin disebut pelaut ulung, jika nahkoda sering kali hanya mencari kondisi laut yang tenang.

Zona tak nyaman,... akan selalu datang dan pergi dalam kehidupan kita. Setidaknya saat ini saya sedang mengalaminya. Kalau kata ustadz Farid Nu'man, syukur dan sabar adalah cara manis menghadapi ujian. Doakan saya ! :)
“Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia ..” (QS. Ali Imran (3): 140)

Rabu, 25 April 2012

6 Oleh-oleh Jalan-jalan ke ITB

'Enabling Technology With Electronics', itulah tema yang diangkat dalam sebuah acara open house KK (setingkat sub jurusan) elektronik di salah satu gedung di ITB selasa kemarin (24/04). Acara ini terbilang sangat menarik, karena menghadirkan pembicara-pembicara yang sangat berkompeten dalam bidang elektronik di Indonesia. Menghadirkan pula beberapa perwakilan industri elektronik yang saat ini tengah berjuang dan bergelut dalam dunia industri elektronik nasional menghadapi gempuran arus barang-barang elektronik dari luar negeri yang membanjir. Acara diawali dengan keynote speech yang disampaikan oleh bapak Richard Mengko yang sangat menarik. Eh, ada yang belum tahu siapa sih bapak Richard Mengko? hemm.. sepengetahuan saya, beliau adalah staf ahli Menristek jaman menteri Kusmayanto Kadiman. Dan pada saat ini, beliau menjabat sebagai komisaris PT Pindad (itu lho, yang membuat panser).

Bapak Richard Mengko sedang memberikan keynote speech

Dalam arahannya, bapak Richard Mengko memaparkan bagaimana seorang pegiat elektronik musti berjuang. Saya tidak mengikuti arahan beliau dari awal (karena terlambat datang :)), tapi dari apa yang saya tangkap, beliau mendorong generasi muda elektronik untuk bisa lebih cerdik, berjuang dan berkembang membangun bangsa. Ada kata-kata menarik yang saya tangkap dalam arahannya.
"Tipe orang di dunia itu hanya ada 3 kategori, orang yang benar, orang yang salah dan orang yang ngawur. Orang yang benar itu sedikit jumlahnya. Orang yang salah itu relatif juga sedikit jumlahnya. Nah orang yang ngawur ini yang banyak jumlahnya.

Wada sensei sedang memperkenalkan diri

Acara semakin menarik dengan general lecture oleh Prof Tomohisa Wada dari Universitas Ryukyu, Jepang. Kali ini Wada sensei memaparkan uraian singkat tentang prinsip OFDM (Orthogonal Frequency Division MUltiplexing) yang menjadi bagian penting dalam sistem telekomunikasi modern sekarang. Dari mulai WLAN, Wimax dan LTE, kesemuanya menggunakan prinsip OFDM. Okelah, saya tak akan berpanjang lebar tentang topik ini, karena mungkin hanya bagi mahasiswa telekomunikasi yang bakal paham tentang hal ini :). Pemaparan oleh Wada sensei ini dipandu oleh ketua KK eletronik ITB (yang juga direktur saya di kantor), bapak Trio Adiono, PHD.

Acara ke-3 menjadi puncak acara dengan diadakannya diskusi antar pelaku industri elektronik Indonesia saat ini. Ada Hariff, Len, Xirka, Versatile Silicon, Pindad, CMI, dan PT Elda Sarana Informatika. Alhamdulillah, pulang dapat ilmu banyak dalam acara ini. Semoga kedepan, industri elektronik menjadi raja di kampung sendiri, Indonesia tercinta. Bisa mandiri dalam segala bidang, baik transportasi, telekomunikasi maupun pertahanan dan keamanan. Mampu menumbuhkan semangat kemandirian nasional dalam bidang elektronik. Entah apa jadinya jika suatu saat, negara kita diembargo oleh negara lain?. Maka kemandirian teknologi menjadi harga mati, bukan lagi hanya sebuah wacana.

Selasa, 24 April 2012

7 Setengah Waras

Tadi malam komplek rumah tempatku mengontrak, digegerkan dengan ulah seseorang yang meminta-minta (sejenis pengamen tapi tanpa lagu). Kali ini sedikit agak unik, karena suaranya lumayan keras seperti tengah memakai pengeras suara. Setelah diselidiki, seseorang itu rupanya adalah orang gila. Setidaknya, begitulah topik ngerumpi ibu-ibu tadi pagi di toko sebelah yang tak sengaja aku dengar. Karena dari segi adab dan sopan santun, kelakukan orang tadi malam sungguh tidak mencerminkan itu. Untung saja, rumahku selalu aku kunci dari dalam. Maklum, hanya aku sendiri saja yang menempati rumah ini. Aktifitasku lebih banyak di dalam kamar. Dan hanya terkecuali jika ada istri dirumah, pintu di depan aku biarkan tetap terbuka.

Hiks.. kejadian ini mengingatkanku dengan peristiwa lucu beberapa bulan yang lalu. Tiba-tiba saja rumah bapak di kampung didatangi oleh orang gila. Dengan perawakan tinggi besar, rambut gondrong, dan dengan pakaian seadanya. Khas sekali penampakan orang setengah waras. Ketika itu, saya dan bapak tengah berbincang-bincang santai di dapur. Dan tiba-tiba saja dari ruang tengah kakak perempuan saya berteriak histeris,

"Paaakkk, ada orang gila..!!!"

Sayapun langsung berlari menuju ke arah ruang tengah bersama bapak. Terlihat jelas disitu orang gila sudah berdiri mematung, entahlah.. apa yang tengah dipikirkannya. Tanpa banyak ba bi bu... bapak langsung menghardik mengancam,

"Ayooo... keluaar!!!"

Tanpa memandang ke arah sumber bentakan, untunglah orang gila itupun berlahan namun pasti mulai menuju ke arah pintu keluar. Alhamdulillah.. tidak terpikirkan jika dia tak mau keluar dan malah menyerang bapak, hu hu.. tak ada pilihan lain, siap berkelahi untuk membela bapak. Tapi sebelum itu, berteriak dulu memanggil pertolongan tetangga sekitar :).

Pernah punya kejadian lucu atau unik dengan orang gila kawan?

Minggu, 22 April 2012

12 Cek Kesehatan Si Biru

Aku pikir sudah lama juga kamu tak aku ajak ke bengkel. Terakhir kamu cek kesehatan kapan yaa? hemm.. mungkin sekitar empat bulan yang lalu. Ah bebalnya diriku, setiap kali kamu aku ajak ke bengkel, selalu saja ada bagian dari tubuhmu yang musti diganti dengan yang baru. Sedih rasanya melihatmu seringkali menderita, 'ah ini sudah soak mas, harus diganti!', 'ini kampas belakang sudah habis mas, harus diganti!'. Ganti ini, ganti itu, bikin pusing saja!. Andai saja diri ini sedikit mau rajin saja, mungkin tak perlu sesering itu bagian tubuhmu musti berganti. Dan beberapa hari ini aku merasa badanmu sudah tak enak lagi untuk dikendarai. Ah mungkin memang sudah saatnya kamu cek kesehatan yah!.

Kemarin, ketika sinar mentari belum juga menyembul dari peraduannya dan hawa sejuk pagi masih kuat merasuk ke pori-pori, aku sudah bersiap diri untuk segera pergi memeriksakan kesehatan si Biru. Kali ini aku sengaja memberi nama dia, si Biru. Si Biru yang selalu siap sedia tuk menemani, kemanapun diri ini menjejak pergi. Selama ini kalau si Biru cek kesehatan, selalu saja aku ajak ke bengkel sederhana yang ada di pinggir-pinggir jalan. Intinya yang ada banyak pengunjungnya. Belum pernah sekalipun di kota ini, si Biru aku ajak ke bengkel resmi. Dan kemarin, menjadi sejarah tersendiri bagi si Biru, karena dia aku ajak ke bengkel resmi di daerah Sarijadi, Bandung.

Dan wow... berikut fasilitas yang aku dapatkan di bengkel resmi si Biru :

1. Pelayanan yang profesional.
Setiap pelanggan yang datang musti mendaftarkan diri terlebih dahulu. Bagi pelanggan baru sepertiku, maka akan dicatat dulu STNKnya. Kemudian kunci musti diserahkan kepada pegawai servicenya. Kendaraan yang akan ditangani berdasarkan nomor urut antrian. Jadi tidak akan terjadi penanganan pararel yang sering saya temui di bengkel-bengkel tidak resmi.

2. Layanan tunggu yang memuaskan.
Nah pada proses tunggu ini, kita dimanjakan dengan sajian kopi gratis. Disitu disediakan air panas dispenser. Wah..wah bikin saya ketagihan saja nih :)



3. Tempat tunggu yang nyaman dengan fasilitas WIFI.
Akupun bisa berinternetan ria disini. Sambil menikmati secangkir kopi dan layanan internet gratis, waktu tunggu yang lama-pun menjadi tak relevan.



4. Layanan cuci gratis.
Wuah.. kebetulan si Biru udah lama ndak mandi neh!.

Sekitar satu jam si Biru dibedah dan diperbaiki bagian-bagian tubuhnya yang tidak sehat. Dan ketika namaku di panggil oleh mbak customer service, itu pertanda si Biru sudah selesai di cek kesehatannya dan juga sudah di cuci. Kulihat juga gelas plastik kopi di depanku sudah habis kuminum. Saatnya sekarang beranjak pulang. Alhamdulillah, kali ini aku tak salah memeriksakan si Biru, dan lihatlah si Biru terlihat lebih gagah berkendara. Si Biru kembali muda :).


***
Sesuai janji saya kemarin di tweetland, hari ini tulisan saya tentang cek kesehatan si Biru.
 

Inspirasi Coffee Copyright © 2011 - |- Template created by O Pregador - |- Powered by Blogger Templates