Selamat datang di gubug Inspirasi Coffee. Blog ini dikelola oleh penulis sejak September 2008. Sampai sekarang, semangat untuk menulis masih meletup-letup dan terasa kian meletup menarikan pena melukiskan prasasti demi prasasti kehidupan. Hak cipta dilindungi oleh Allah Azza wa Jalla.
Selamat Membaca ^_^

Sunday, January 30, 2011

4 Himura Kenshin dan Arya Kamandanu

Ceritanya sekitar 2 minggu yang lalu salah satu teman kantor meminjamkan segepok keping DVD yang dimasukkan kedalam kotak kepada saya. Kotak itu berbahan plastik yang memang dibuat khusus untuk menyimpan CD/DVD. Ternyata di dalam kotak itu terdapat 4 keping DVD berisi koleksi anime Samurai X alias Rurouni Kenshin dari episode 1 sampai episode final (96 episode). Memang sebelumnya saya sudah bilang ke teman saya itu untuk meminjamkan koleksi animenya, dan akhirnya kesampaian juga dia meminjamkannya kepadaku. Sebenarnya anime Samurai X ini sudah pernah tayang di salah satu televisi swasta negeri ini, cuma entah apa alasannya saya malah tidak mengikuti cerita ini dengan baik. Hanya mungkin dapat cerita dari teman bahwa kisah Kenshin ini keren.



Menonton anime Rurouni Kenshin ini, ceritanya seakan menggiring pikiranku melayang kembali mengenang ketika saat saya masih kecil dulu. Bukan kenangan menonton Kenshin-nya, tetapi kenangan dengan sosok dan cerita Arya Kamandanu dalam sandiwara radio Tutur Tinular. Lalu apa hubungannya antara anime Rurouni Kenshin dengan sosok Arya Kamandanu??

Meski judul dan ceritanya tidak sama, tetapi keduanya sebenarnya memiliki beberapa kemiripan. Keduanya sama-sama mencoba menggabungkan antara cerita fiksi dengan fakta sejarah. Tapi pertanyaannya kemudian adalah apakah kedua cerita itu mampu mempertahankan fakta sejarah dengan baik ataukah tidak? Cerita mana yang paling bisa mempertahankan fakta sejarah? cerita mana yang paling mampu meramu kedua faktor itu menjadi suguhan yang menarik?. Mungkin masing-masing dari kita akan memiliki pendapat yang berbeda-beda. Tapi berbekal ingatan saya yang seadanya ini, saya akan mencoba mengulasnya. Tujuan mulia ulasan ini adalah bahwa setidaknya cerita fiksi berbingkai sejarah ini mencerminkan bahwa generasi yang lahir setelah sejarah itu terbentuk, masih mampu mendokumentasikan kejadian itu dengan baik dengan versinya masing-masing.

Masih ingat sekali waktu itu aku mungkin masih duduk di bangku SD. Setiap pulang sekolah biasanya setelah ganti baju dan makan siang langsung duduk berada disamping radio satu-satunya di rumah kami untuk mendengarkan salah satu sandiwara radio yang cukup populer kala itu. Kalau ingatan di kepalaku ini tidak keliru, saat itu adalah waktunya sandiwara radio bertema 'Nyi Pelet'. Kemudian agak sore-an sedikit sekitar sehabis ashar akan ada lagi sandiwara radio berjudul 'Tutur Tinular' dengan lakon utama Arya Kamandanu dengan pedang sakti Nagapuspa. Meski hanya bermodal pendengaran dan daya berkhayal khas anak-anak, satu episode cerita itu bisa dengan sangat gamblang diceritakan keesokan harinya di sekolah. Meski pada akhirnya versi cerita anak yang satu dengan cerita anak yang lainnya bisa sangat mungkin berbeda (terutama bagaimana detail pertarungan terjadi). Tapi memang itulah sensasi unik yang didapat dari mendengar sandiwara radio yang mungkin di jaman sekarang sudah tidak populer lagi.

Cerita Arya Kamandanu atau lebih tepatnya Tutur Tinular adalah cerita fiksi berbingkai sejarah masa Kerajaan Majapahit. Majapahit adalah sebuah kerajaan di Indonesia yang pernah berdiri dari sekitar tahun 1293 hingga 1500 M. Kalau kita mencari sosok Arya Kamandanu di dalam referensi sejarah Majapahit maka hasil yang didapat akan nihil. Saya ingat banget di dalam sandiwara Tutur Tinular disebutkan bahwa Arya Kamandanu pernah menjadi pahlawan saat pasukan Tar-Tar menyerbu Majapahit. Dengan kemampuan pedang sakti Nagapuspa dia berhasil menghancurkan pintu gerbang benteng yang dikuasai oleh pasukan Tar-tar yang saat itu masih tertidur. Tokoh Arya Kamandanu adalah tokoh fiktif yang dimunculkan di dalam cerita itu. Dalam cerita Arya Kamandanu banyak juga diceritakan mengenai sejarah-sejarah besar Majapahit seperti pemberontakan Ronggo Lawe, cerita Gajah Mada dll. Cerita lengkapnya bisa dilihat disini



Lalu bagaimana dengan Rurouni Kenshin? cerita ini berasal dari manga jepang oleh Nobuhiro Watsuki. Setting waktu dan tempat yaitu selama periode peralihan rezim Tokugawa ke era Meiji di Jepang. Dikisahkan seorang pembunuh (assassin) bernama Himura Kenshin dari waktu periode revolusi Meiji (era bakumatsu) sampai 10 tahun setelah revolusi itu terjadi. Akhirnya dia menjadi seorang pengembara untuk menebus dosanya melindungi orang-orang yang lemah. Ketika saya menonton anime Kenshin ini, tidak bisa dipungkiri bahwa memang saya seperti melihat kembali sejarah Jepang di masa lalu. Bagaimana pergolakan negeri itu di Era Tokugawa (era Edo dimana pemerintahan masih dikuasai keluarga/klan Shogun Tokugawa) sampai akhirnya terjadi revolusi untuk mengembalikan pemerintahan ke Kaisar Meiji. Jika kita jeli dan mengecek kebenaran sejarah itu maka akan kita temui beberapa sosok atau kelompok yang sebenarnya memang ada di dalam fakta sejarah. Sebagai contoh salah satu musuh terbesar Kenshin dalam era revolusi/Bakumatsu adalah kelompok Sinsengumi. Kelompok Sinsengumi ini memang ada di di era itu dan bisa kita cek di sini.

Pada episode 40-an dari anime Rurouni Kenshin ini, Kenshin kembali bertemu dengan musuh lamanya yaiu Hajime Saito (leader squad 3 Sinsengumi). Di dalam cerita Kenshin, Hajime Saito adalah salah satu musuh terkuatnya dalam era revolusi yang masih hidup dan kembali bertemu di era Meiji. Di dalam fakta sejarahpun kita akan menemui fakta bahwa memang Hajime Saito adalah salah satu leader Sinsengumi yang masih hidup setelah revolusi Meiji dan memang tokoh ini adalah tokoh nyata (bisa dicek disini). Kemudian ada pula kelompok Sekihōtai, kelompoknya Sanosuke dan juga oniwaban, kelompok yang dipimpin oleh Aoshi Sinomori. Perlu kita ketahui bahwa Sekihotai dan Oniwaban memang ada di dalam fakta sejarah meski sosok Sanosuke dan Aoshi adalah tokoh rekaan saja ^_^.



Jadi kesimpulannya, saya sangat suka dengan cerita fiksi berbalut sejarah seperti kedua anime/sandiwara yang sudah saya bahas di atas. Karena dengan melihat sejarah maka kita seperti melihat pondasi-pondasi kehidupan kita saat ini, melihat kembali pohon-pohon kehidupan masa kini yang berjuang menguatkan akar-akarnya, melihat kembali guratan-guratan artefak kehidupan masa lalu yang berjuang untuk mempertahankan nilainya.

Related Post



4 comments:

  1. Iya, dulu seneng banget dengerin sandiwara di radio. Terkadang lebih seru dibanding nonton TV, soalnya kita bisa berimajinasi sesuka kita.
    Filmnya pun dulu seneng nonton. Paling sedih pas banyak pemberontakan di majapahit gara2 difitnah oleh seorang (*lupa namanya) yg pengen jadi patih. Padahal mereka dulu yang berjasa untuk majapahit, namun harus mati di tangan tentara majapahit sendiri.

    ReplyDelete
  2. ha ha iya nur,,
    sampai kadang-kadang bermainpun harus ditunda dulu karena harus ngikutin lanjutan cerita sandiwaranya. Lucunya klo pas tanding, itu imajinasi saya bisa berkembang liar..
    kadang klo dikenang, masa-masa itu sangat indah..

    ReplyDelete
  3. Ini yg tdk dirasakan generasi jaman sekarang, yg imajinasinya malah yg aneh aneh, sya paling ingat pas baru mulai, pembawa acaranya bilang:
    Fery fadli sebagai...
    Ivone rose sebagai...
    Dan Asdi Suhastra, pembawa cerita...
    Luarrr biasaaa

    ReplyDelete
  4. Ini yg tdk dirasakan generasi jaman sekarang, yg imajinasinya malah yg aneh aneh, sya paling ingat pas baru mulai, pembawa acaranya bilang:
    Fery fadli sebagai...
    Ivone rose sebagai...
    Dan Asdi Suhastra, pembawa cerita...
    Luarrr biasaaa

    ReplyDelete

Terima kasih atas komentarnya ya sobat blogger. Terima kasih juga sudah menggunakan kalimat yang sopan serta tidak mengandung unsur SARA dan pornografi. Komentar yang tidak sesuai, mohon maaf akan dihapus tanpa pemberitahuan sebelumnya.

Btw, tunggu kunjungan saya di blog anda yah.. salam blogger :)

Total Pengunjung

Statistik Alexa

 

Inspirasi Coffee Copyright © 2011 - |- Template created by O Pregador - |- Powered by Blogger Templates