Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipat gandakan (pahalanya).[QS 30:39]Setelah sebelumnya salah seorang sahabat saya menulis tentang cara goblok-goblokan melogika riba, maka pagi ini saya tergelitik untuk menuliskan sebuah topik tentang ekonomi Islam. Tentunya dengan cara yang sangat sederhana yang saya pahami sekarang. Seperti yang telah dijelaskan pada tulisan sahabat saya itu, bahwa konsep riba sudah menjadi udara pada kehidupan kita sehari-hari. Debu yang setiap saat sudah biasa hinggap di badan kita. Susah sekali untuk menghindarinya. Perlu sebuah gerakan massa yang luar biasa untuk bisa menghancurkan konsep kapitalis seperti ini. Riba adalah konsep yang pasti mendzolimi orang lain. Sudah sangat baik dijelaskan dan diberikan contoh sederhana oleh sahabat saya itu. Oke sebenarnya saya tak akan membahas riba pada tulisan kali ini. Saya ingin membahas dinar.
Nah, langsung deh matanya pada kuning keemasan semua. Bukan ijo dolar lho!!. Sorry ya, dollar sudah tidak jamannya lagi. Ya begitulah kawan, emas selalu menjadi primadona sepanjang jaman. Dari jaman Nabi sampai jaman game online, emas tak berkurang sedikitpun daya belinya. Kalau di jaman Nabi ratusan abad yang lalu, satu dinar bisa untuk membeli kambing kualitas super. Maka pun juga saat ini, emas bisa membeli satu ekor kambing kualitas super. Begitulah the power of gold. Saya sudah mulai menabung dinar sejak 2 tahun yang lalu. Memang ada kesulitan bagi ekonomi biasa seperti saya. Saya harus mengeluarkan uang 2,3 jt untuk membeli satu dinar fisik. Memang ada beberapa sahabat yang menabung dinar dan mengumpulkannya secara fisik. Namun, ada pula yang menabung dinar dengan konsep m-dinar yang ditawarkan oleh geraidinar pimpinan Ust Muhaimin Iqbal. Pada konsep m-dinar, kita tak harus memegang uang koin dinar secara fisik, tetapi dikelola oleh Yayasan Daarul Muttaqiin (Gerai Dinar) untuk menggerakkan sektor ekonomi riil. Seperti pemberdayaan pesantren wirausaha dengan membudidayakan kambing etawa. Sebenarnya konsep m-dinar ini sudah pernah saya bahas dalam tulisan mengenal m-dinar. Pada konsep ini, kita bisa menabung (semisal) 400 ribu untuk menitipkan 0,17 dinar.
Apapan caranya, sebaiknya kita mulai sadar untuk segera menarik emas yang dipegang oleh segelintir pemodal yang super kaya itu ke masyarakat. Semakin banyak emas yang beredar di masyarakat, maka akan semakin stabil ekonomi yang berjalan. Seperti yang pernah dikatakan oleh Ust Muhaimin Iqbal bahwa ada 2 cara bagaimana memperbaiki ekonomi bangsa, yakni memilih pemimpin untuk bisa mengelola rakyatnya menuju kesejahteraan, atau bisa juga dengan inisiatif dari rakyat sendiri untuk bahu membahu menggerakkan sektor ekonomi riil menuju mansyarakat mandiri dan sejahtera. Seperti yang diungkapkan oleh Muhamad Abduh, dosen ekonomi International Islamic University Of Malaysia, bahwa sistem ekonomi Islam lebih condong pada pemberdayaan sektor riil. Dan saking penasarannya dengan konsep dinar ini, hari minggu kemarin saya membeli bukunya Pak Endy Kurniawan Think Dinar. Nanti selesai membaca buku beliau, akan saya buat resensinya di blog ini juga. Ada yang sudah membaca buku beliau?




