Selamat datang di gubug Inspirasi Coffee. Blog ini dikelola oleh penulis sejak September 2008. Sampai sekarang, semangat untuk menulis masih meletup-letup dan terasa kian meletup menarikan pena melukiskan prasasti demi prasasti kehidupan. Hak cipta dilindungi oleh Allah Azza wa Jalla.
Selamat Membaca ^_^

Friday, November 16, 2018

0 Sepenggal Kisah Perjalanan Ke Kota Shenzhen China : Bagian 1

China, mendengar negara ini, pertama kali yang muncul di dalam pikiran saya adalah sebuah negara dengan mayoritas penduduknya adalah non muslim, jadi bisa dibayangkan betapa sulitnya mencari makanan halal disana. Tak hanya karena fakta bahwa jumlah muslim di negara tersebut adalah minoritas, namun juga berdasar kisah dari beberapa kawan yang pernah berkunjung kesana dan membeberkan fakta yang tak jauh berbeda. Untuk mencari restoran atau rumah makan yang menyediakan makanan halal, rasanya seperti mencari jarum dalam tumpukan jerami. Maka ketika ada tugas kantor yang mengharuskan saya untuk melakukan perjalanan dinas kesana, tidak bisa dipungkiri ini menjadi beban yang cukup berat bagi saya.

Kisah Perjalanan ke Kota Shenzhen China


Kota yang akan aku datangi kali ini adalah kota Shenzhen, sebuah kota di wilayah selatan China yang cukup maju, berbatasan langsung dengan Hongkong. Kota Shenzhen berada di provinsi Guangdong dan menjadi salah satu pusat industri di China. Perusahaan-perusahaan raksasa High Tech kebanggaan negeri Tirai Bambu seperti Huawei dan ZTE pun juga bermarkas di kota ini. Maka tak heran jika kota ini seringkali disebut sebagai salah satu Silicon Valley-nya China. Di dalam rangkaian tulisan di blog ini, saya juga akan membahas mengenai majunya sektor transportasi di kota ini. Diantaranya adalah Subway atau Metro. Ketika anda tiba di kota Shenzhen melalui Shenzhen Bao'an Internasional Airport, maka anda akan langsung bisa memanfaatkan transportasi subway/metro untuk berkeliling di kota ini. Kereta metro sudah terintegrasi dengan bandara sehingga para penumpang pesawat yang baru saja tiba langsung bisa memanfaatkan metro/subway untuk menjelajah kota metropolis di bagian selatan China ini.

Menjelang hari keberangkatan, saya terus menggali segala informasi mengenai seluk beluk kota yang akan saya kunjungi ini. Mulai dari informasi mengenai restoran halal maupun lokasi masjid yang akan saya gunakan untuk menunaikan ibadah sholat Jum'at. Alhamdulillah setelah googling, rupanya ada beberapa blog yang bersedia membangikan ceritanya tentang pengalaman berkunjung ke kota Shenzhen. Selain itu, ada pula beberapa Youtuber Muslim yang berbaik hati menceritakan pengalaman bagaimana caranya naik Subway/Metro menuju masjid Shenzhen (masjid terbesar di kota Shenzhen). Dengan begini, maka setidaknya ada beberapa gambaran-gambaran kasar mengenai kondisi kota yang akan kami kunjungi. Saya berkunjung tidak sendiri, bersama dengan rekan kerja saya bernama Anang, kami akan melakukan rihlah mendatangi negeri yang terkenal dengan seni bela diri Kungfu ini.

Menyiapkan Passport dan Visa

Untuk bisa mendatangi sebuah negara, setidaknya kita harus memiliki dua dokumen penting yaitu Passport dan Visa. Passport adalah identitas diri seseorang yang diterbitkan oleh sebuah negara (tempat kita diakui sebagai warga negaranya) dan diakui secara internasional.


Sedangkan Visa adalah dokumen yang diterbitkan oleh negara yang akan kita kunjungi (melalui kantor perwakilan atau Konjen negara tersebut di negara kita) sebagai bukti dan petunjuk bahwa kita 'berpeluang' diizinkan masuk ke wilayah negara tersebut. Kenapa saya sebut berpeluang? karena meski kita sudah mengantongi Visa, tidak serta merta 100% kita pasti bisa masuk ke wilayah negara tersebut. Bisa jadi kita tidak diizinkan masuk karena terkendala sesuatu hal seperti sedang terkena sakit menular (terkena wabah), karena kepentingan politik, atau sebab-sebab yang lain. Atas alasan-alasan tersebut, bisa jadi kita dideportasi kembali ke negara kita. Tapi tenang saja, selama kita punya Visa, kemudian tidak sedang sakit keras (yang bisa terindikasi membawa wabah penyakit) dan tidak berniat/beritikad buruk, insyaAllah kita bisa masuk ke negara tersebut.

Karena sebelumnya saya pernah ke luar negeri dan sudah memiliki passport, maka kali ini saya hanya fokus untuk menyiapkan dokumen-dokumen yang dibutuhkan untuk keperluan penerbitan Visa China. Proses penerbitan Visa China ini seluruhnya dikerjakan oleh pihak SDM tempat saya bekerja, jadinya saya tak bisa bercerita banyak mengenai hal ini.

Adapun dokumen-dokumen yang perlu disiapkan untuk mendapatkan Visa China adalah Passport, scan KTP, scan KK, mengisi form penerbitan Visa.

Memilih Jadwal Penerbangan

Pada awalnya kami diberitahu untuk turun di bandara Internasional Bao'an di Shenzhen. Namun rupanya tiket langsung ataupun transit dari Indonesia (baik dari bandara Soeta Cengkareng maupun bandara Juanda Surabaya) ke Shenzhen ini bagi saya tidaklah nyaman. Tidak ada flight Garuda yang mengarah langsung ke bandara Bao'an Shenzhen, selain itu harga tiket Singapore Airlines juga ampun deh, diatas 10 juta gaes! Maskapai yang tersedia seperti Shenzhen Airline, Air China, China Southern, Xiamen Airline dan lain-lain, bagi saya kurang comfortable. Setelah baca-baca di blog tentang pengalaman terbang bersama maskapai-maskapai diatas, entah mengapa kok lebih banyak review negatifnya ya atau kalaupun ada review-nya, jumlahnya masih sedikit. Bagi saya, penerbangan internasional haruslah penerbangan yang nyaman, karena kita akan melewatkan waktu berjam-jam di dalam pesawat tersebut. Bayangkan ketika kita perlu sesuatu di dalam pesawat, dan ingin meminta bantuan kepada pramugari, ternyata pramugarinya semisal saja tidak bisa berbahasa Inggris, tentu tidak nyaman kan? belum masalah lain seperti ketersediaan makanan halal di dalam pesawat tersebut.

Pesawat Garuda menuju Hongkong

Terus terang di H-1 sebelum keberangkatan, saya masih merasakan kegalauan karena masih belum menemukan maskapai yang cocok untuk keberangkatan ke Shenzhen. Namun, di dalam hati saya selalu yakin bahwa Allah akan bersama dengan hamba-Nya yang pantai menyerah dan terus berjuang. Dan perjuangan itu tidak akan pernah mengkhianati hasil. Secercah sinar harapan tiba-tiba masuk menerangi hati saya. Saya diberitahu oleh pihak SDM perusahaan tempat saya bekerja bahwa ternyata ada seorang rekan kerja yang pernah berkunjung ke kota Shenzhen. Rasanya seperti menemukan telaga di tengah gurun pasir. Tanpa banyak pikir panjang lagi, kami langsung menggali informasi sebanyak-banyaknya kepada rekan kerja kita itu, bagaimana sih caranya beliau pergi ke Shenzhen.

Setelah menggali informasi, fakta mulai terkuak saat beliau mengatakan bahwa ternyata beliau tidak turun di Bandara Bao'an Shenzhen, melainkan turun di Bandara Hongkong. Dari bandara Hongkong, beliau kemudian naik bus menuju kota Shenzhen, China.

Ya Allah, saya langsung bersyukur di dalam hati. Alhamdulillah, kami bisa naik Garuda menuju Hongkong. Permasalahan berikutnya, bagaimana caranya berpindah dari bandara Hongkong menuju kota Shenzhen?, selain itu kami juga tidak memiliki visa Hongkong. Apakah kami akan mengikuti jejak rekan kerja kita itu yang naik bus ke Shenzhen? Jujur kami tidak memiliki keberanian untuk mencoba-coba cara yang berpotensi mengandung banyak resiko. Resiko bahwa ternyata ketika masuk ke negara Hongkong dibutuhkan visa Hongkong, atau resiko bermasalah saat memasuki imigrasi China ketika berpindah dari negara Hongkong. Sepertinya kita harus mencari cara yang lain! Cara yang terjamin benar-benar aman.

Setelah searching dan googling di internet, akhirnya saya menemukan cara bagaimana bisa pergi ke Shenzhen dari Bandara Hongkong tanpa harus melewati imigrasi Hongkong. Nah, seru kan? jangan kemana-mana, tetap terus simak kisahnya di tulisan ini ya Gaes!.

Hari Keberangkatan

Hari itu Selasa 16 Oktober 2018, sekitar pukul 20.00 WIB kami berangkat menuju Bandara Internasional Soekarno Hatta di terminal 3. Kondisi jalanan di Jakarta malam itu cukup lancar. Di beberapa titik ada kemacetan, namun bisa dibilang masih lancar-lancar saja. Jakarta memang kota yang tak pernah tidur, meskipun saya yang akhirnya malah tertidur di mobil. Rasanya badan capek sekali. Kami tiba di Bandara Soetta sekitar pukul 21.00 WIB. Masih ada sekitar 2 jam lebih untuk melakukan serangkaian proses imigrasi, check-in dan lain-lain sebelum pesawat kami take off menuju Hongkong yang dijadwalkan pada pukul 23.40 WIB.

Ingat ya Gaes, tiba di bandara 2 jam sebelum keberangkatan adalah waktu ideal buat kita ketika akan melakukan penerbangan internasional. Jangan sampai waktu kedatangan kita di bandara itu terlalu mepet dengan jadwal take-off. Perlu dipahami bahwa naik pesawat berbeda dengan naik kereta. Ada serangkaian hal yang harus dilakukan sebelum pesawat benar-benar diizinkan terbang. Kita tidak tahu masalah apa yang akan kita hadapi ketika melakukan proses imigrasi. Maka pastikan 2 jam sebelum jadwal take-off pesawat, kita sudah tiba di bandara dan segera melakukan serangkaian proses imigrasi dan check-in. Itu semua agar hati menjadi lebih tenang. Saya selalu berpikir, lebih baik menunggu lama di ruang tunggu daripada datang dengan terburu-buru.

Serangkaian proses imigrasi dan check-in berjalan dengan lancar. Saya dan mas Anang kemudian mencari lokasi tempat duduk yang nyaman di ruang tunggu untuk sekedar duduk santai sambil menunggu jadwal take-off. Waktu itu, rupanya mas Anang sedang kehausan dan mencoba membeli sebotol air mineral, namun begitu terkejutnya dia mengetahui fakta bahwa harga sebotol air mineral adalah 40 ribu rupiah. Wow, amazing. Setelah saya pikir-pikir, ya iyalah! ini kan di bandara! Jangankan di bandara, di stasiun saja harga bisa naik 2 kali lipat atau bahkan lebih. Maka sedikit tips buat teman-teman sekalian yang akan bepergian keluar negeri, silahkan membawa air mineral sendiri dari rumah ya. Lumayan kan bisa menghemat 30 ribu rupiah.


Tiba di Bandara Internasional Hongkong

Alhamdulillah, sekitar waktu subuh kami berhasil mendarat dengan selamat di Bandara Internasional Hongkong. Terdapat perbedaan waktu sekitar 1 jam dengan waktu di Indonesia (WIB). Jadi jika di Hongkong saat ini pukul 5 pagi, maka di Indonesia bagian barat masih pukul 4 pagi. Waktu perjalanan dari Jakarta ke Hongkong sekitar 4,5 jam. Sesaat setelah mendarat, saya segera mengaktifkan ponsel dan segera memberitahu keluarga di rumah bahwa saya sudah mendarat dengan selamat di Hongkong.

Bandara Internasional Hongkong

Hongkong adalah negara yang termasuk bagian dari negara China yang cukup unik. Negara ini memiliki sistem pemerintahan sendiri dan berhak mengatur warga negaranya tanpa adanya campur tangan negara China. Namun, di sisi lain Hongkong ternyata tidak punya tentara, sehingga sistem pertahanan negara masih bergantung penuh kepada China. Hongkong adalah bekas jajahan negara Inggris, sehingga sebagian besar warga negara Hongkong pun bisa berbahasa Inggris. Berbeda dengan China daratan (Main Land), Hongkong juga mengizinkan adanya buruh migran. Maka tak heran jika kita akan banyak menjumpai orang-orang Indonesia yang bekerja sebagai TKI di negara ini.

Kebingungan Mencari Tempat Sholat di Bandara Internasional Hongkong

Waktu subuh sudah hampir habis, namun kami masih terus muter-muter mencari lokasi mushola atau prayer room untuk menunaikan sholat subuh. Saya tak menyangka rupanya Bandara Internasional Hongkong ini besar sekali. Setelah beberapa saat tidak menemukan prayer room, kami pun bertanya ke bagian informasi. Alangkah terkejutnya kami ketika petugas bagian informasi mengatakan,

"Sorry sir, there is no prayer room on this arrival area!".

Ternyata tidak ada prayer room di lokasi area kedatangan Gaes!. Rupanya lokasi prayer room di Bandara Hongkong terletak setelah kita hendak keluar dan melewati bagian imigrasi Hongkong, atau lokasi lainnya yaitu ketika kita akan melakukan transit pesawat. Nah, pada bagian area kedatangan (arrival area), tidak disediakan tempat sholat!. Padahal perlu dicatat, kita tak mungkin meninggalkan lokasi arrival area ini karena kita berencana pada pukul 10 akan naik kapal Ferry menuju Shenzhen. Lah kalau begini, kita sholat subuh dimana? mulai panik deh!

To be Continued...




Tuesday, October 9, 2018

0 Passion

Beberapa waktu yang lalu saya tidak sengaja menonton salah satu program acara di televisi yang dipandu oleh host Alvin Adam. Kalau saya tidak keliru, nama acaranya adalah "Alvin and Friends". Ketika itu Alvin menghadirkan seorang bintang tamu yang sudah tidak asing lagi di telinga kita yaitu Daniel Mananta. Seperti yang kita tahu bahwa sang bintang tamu dikenal sebagai seorang host yang cukup berbakat di Indonesia. Selain menjadi VJ MTV, Daniel juga dikenal sebagai pembawa acara musik pop terbesar di tanah air yaitu Indonesian Idol di RCTI. Dari perbincangan santai antara Alvin dan Daniel, ada satu inspirasi yang bisa kita ambil dan akan saya share pada tulisan kali ini.

passion is energy

Alvin mencoba menggali lebih dalam seputar kisah perjalanan hidup dari seorang Daniel Mananta, bagaimana dia bisa menggapai puncak karirnya sebagai seorang host terkenal di Indonesia. Sambil menikmati makanan yang terhidang di meja, dengan santai Daniel menceritakan kisahnya yang menarik bagaimana ia bisa menjadi seorang VJ MTV dan pada akhirnya menjadi salah satu host termahal di Indonesia.


Anak Pemilik Kios Toko di Mangga Dua yang Suka Memberikan Presentasi

Daniel memulai kisahnya sebagai seorang anak dari pemilik kios di Mangga Dua. Ia memiliki seorang paman yang cukup dekat dan sangat dikaguminya. Saking kagumnya, Daniel terpengaruh dan mencoba mengikuti bisnis MLM yang digeluti oleh pamannya. Yang menarik adalah Daniel memiliki kegemaran memberikan presentasi. Melakukan presentasi dan menjelaskan sesuatu hal kepada orang lain adalah hobi dan sekaligus passion yang ia miliki. Dia melakukan itu hampir setiap hari dan dijalaninya selama bertahun-tahun. Meskipun seringkali hasilnya tidak sepadan dengan jumlah presentasi yang ia lakukan. Ternyata tak banyak orang yang tertarik dan mau bergabung dengan bisnis MLM yang ia geluti. Jauh sekali perbandingan antara jumlah presentasi yang ia lakukan dengan jumlah orang yang ikut bergabung. Namun, Daniel ternyata tidak terlalu mempermasalahkannya. Ia memberikan presentasi dengan senang hati, karena itu sudah menjadi hobi dan passion-nya. Masalah hasil, itu perkara lain dan tidak ia terlalu pikirkan. Ia lebih fokus pada hobinya, yakni berbicara dan presentasi.

Passion Daniel Mananta


Pemenang Audisi VJ MTV

Setelah dirasa gagal untuk mengembangkan bisnis MLM bersama pamannya, Daniel mencoba peruntungannya dengan mengikuti ajang audisi VJ MTV. Di era tahun 90-an, acara MTV memang sangat nge-top. Dan siapa yang menyangka bahwa akhirnya Daniel lolos dan akhirnya berhasil menjadi seorang VJ MTV. Menurutnya, apa yang membuatnya berhasil menyingkirkan para pesaingnya dalam audisi tersebut adalah karena passion yang ia miliki. Passion untuk bicara, memberikan presentasi dan meyakinkan orang lain membuatnya bisa meyakinkan juri untuk memilihnya menjadi seorang VJ MTV. Bisa saja hobi dan passion yang kita geluti saat ini serasa tidak berguna, namun di masa mendatang bisa jadi hobi kita itu bisa menjadi sebuah senjata pamungkas.

Inspirasi yang Bisa Diambil

Dari kisah Daniel Mananta di atas bisa diambil sebuah inspirasi bahwa apapun tugas kita hari ini, selama itu sudah menjadi passion kita, mungkin hari ini serasa tak berguna, namun suatu saat akan menjadi modal yang begitu berharga dalam hidup kita. Temukan passion-mu dan jalanilah dengan bahagia dan penuh semangat. Sekian, semoga bermanfaat.



Saturday, August 18, 2018

0 Cerita Benjolan Kecil di Belakang Telinga Kakak : Part 2

Cerita sebelumnya ada disini : Cerita Part 1
"Jangan terlalu mengkhawatirkan sesuatu yang belum terjadi. Fokuslah dengan apa yang akan kita kerjakan saat ini. Selalu berprasangka baik kepada Allah. Karena Allah yang paling tahu yang terbaik bagi hamba-Nya".
Subuh hari aku terbangun, dengan kesadaran yang masih setengah mencoba mengingat-ingat ini hari apa, sedetik kemudian segera sadar bahwa ada hal penting yang harus aku lakukan. Pagi ini kakak akan diperiksakan ke dokter spesialis anak. Aku juga sudah membuat izin untuk datang terlambat ke kantor hari ini. Jadi pagi ini, sekitar 3 jam-an aku bisa fokus untuk memeriksakan kakak ke dokter. Dalam hati selalu teriring doa semoga hasil hari ini lancar, tidak ada sesuatu hal buruk terjadi.

cerita benjolan kecil di belakang telinga kakak

Dengan sekuat tenaga aku mengumpulkan kesadaran, berusaha bangun dari tempat tidur yang nyaman itu, kemudian beranjak ke tempat tidur kakak. Sejenak aku memandanginya yang masih terlihat tertidur pulas. Aku mendekat, memperbaiki rambutnya yang sebagian menutupi wajahnya. Aku tak berani memeriksa benjolan kecil di belakang telinganya. Ah, pastinya masih ada, tidak mungkin itu hilang begitu saja. Biar nanti saja diperiksa oleh dokter. Aku bergegas ke kamar mandi, melewati dapur, sejenak melihat bunda, seperti biasa sudah terlihat sibuk dengan aktivitasnya di dapur.

Kesibukan pagi itu sama seperti kesibukan pagi di hari-hari sebelumnya. Kakak tetap ceria seperti biasa. Namun dibalik keceriaannya, kami menyimpan kecemasan yang tidak sedikit. Beberapa kali dengan riang, ia bercerita tentang hal-hal yang ia alami di sekolah kemarin. Aku selalu senang dengan cara kakak bercerita. Sekitar jam 6.30 kami sudah siap untuk berangkat ke Madiun. Kali ini kami memilih Dokter Medi, seorang dokter spesialis anak yang beralamat praktek di Jalan Tamrin Madiun. Kami sudah sering ke dokter Medi. Sebelum ini ketika si adek sakit, kami juga memeriksakannya ke Dokter Medi. Awalnya kami mendapat rekomendasi dari seorang sahabat, dan sepertinya kami sudah cocok dengannya. Resep yang dibuatnya selalu cocok dengan anak-anak kami.

Pagi itu jalanan dari rumah ke Madiun cukup padat. Beberapa kendaraan melaju dengan sangat cepat, biasanya mereka adalah anak sekolah yang harus mengejar jam masuk sekolah pukul 7. Aku mengendarai sepeda motor dengan kecepatan sedang. Sampai di alun-alun Madiun, kami mengambil arah ke kanan menuju arah stadion Wilis. Sampai di ujung perempatan belok kiri ke jalan Tamrin. Lokasi praktek Dokter Medi berada di sebelah barat jalan.

Kami tiba di lokasi praktek Dokter Medi sekitar pukul 07.00 WIB. Sudah ada beberapa antrian, meski tidak banyak. Bunda langsung masuk ke dalam untuk mengambil antrian. Setelah mendapat nomor antrian, kami menunggu di teras. Beberapa anak dan orang tuanya juga terlihat menunggu giliran untuk dipanggil ke ruang dokter. Sekitar 30 menit menunggu, akhirnya nama anak Hanan dipanggil juga. Awalnya kakak merasa sedikit takut untuk masuk ke dalam, namun kami meyakinkan bawah dokter hanya akan melihat dan memeriksa saja, tidak akan disuntik. Dengan sedikit usaha, akhirnya kakak terbujuk juga dengan rayuan kami, kakak mau diajak ke ruangan dokter.

Suasana nyaman langsung terasa ketika kami mulai memasuki ruangan Dokter Medi. Ruangan benar-benar didesign dengan pernak-pernik yang disukai anak-anak. Di dinding banyak terdapat lukisan-lukisan kartun yang menarik perhatian. Tempat berbaring untuk pemeriksaan juga dibuat dengan balutan pernik-pernik khas anak-anak. Dalam kondisi normal, harusnya kakak akan sangat menyukai ruangan ini.

Mengetahui kami datang, Dokter Medi langsung menyambut dengan hangat. Kami menceritakan kondisi yang dialami kakak. Kami juga menyampaikan benjolan yang ada di belakang telinga kakak. Dokter Medi pun mulai memeriksa dan kesimpulan beliau benjolan seperti itu insyaAllah tidak apa-apa. Dokter Medi kemudian memberikan resep dan mengatakan bahwa benjolan itu sementara dibiarkan saja dahulu. Ditunggu sampai satu bulan lagi, jika tidak kempes juga maka harus diperiksa lagi dan kemungkinan besar bisa berujung dilakukan tindakan operasi. Hal yang harus dicatat dan diperhatikan adalah dalam rentang sebulan ini, kondisi kakak harus sehat dan fit, tidak boleh sakit. Maka sebagai orang tua, kami harus menjaga sepenuh daya upaya agar kakak tidak sakit.

Mendengar penjelasan dokter, hatiku sedikit banyak terasa lega. Kecemasan yang tadi sempat mengelayuti hati terasa lebih ringan. Terima kasih ya Allah.

*Dan alhamdulillah saat tulisan ini aku buat, benjolan di belakang telinga kakak sudah kempes.

~end~




Friday, August 3, 2018

0 Cerita Benjolan Kecil di Belakang Telinga Kakak

Sore itu langit begitu indah. Gumpalan awan terlihat cantik tersinari mentari jingga yang tengah bersiap tenggelam di ufuk barat. Aku sedang berjalan dari kantor di area depan menuju kantor baru di area workshop. Hari itu aku harus pindah di kantor baru. Dikarenakan tuntutan percepatan penyelesaian project prototype, aku harus berkantor di area workshop dalam beberapa bulan ke depan. Perlengkapan-perlengkapan seperti komputer, mouse dan monitor sudah dipindah beberapa jam sebelumnya. Sambil berjalan santai menuju workshop, sore itu aku terlibat perbincangan kecil membahas project yang sedang berjalan dengan seorang rekan (sebut saja mas Anang).

Di tengah obrolan hangat sore itu, tiba-tiba hapeku bergetar tanda ada pesan WA yang masuk. Tampak di layar hape tertulis 'bunda sayang', pikirku biasanya dia ingin titip dibelikan nasi goreng atau nasi jotos untuk makan malam yang di rumah. Beberapa detik kemudian, otakku seperti korslet. Aku tak bisa berpikir jernih untuk menimpali obrolan mas Anang saat itu. Dalam kondisi normal, biasanya aku masih bisa terlibat obrolan santai meskipun sambil membaca WA. Tapi kali ini aku benar-benar tak bisa melakukan multi task. Pikiranku terlalu fokus dengan apa yang aku baca di layar hape. Tak terlalu memperhatikan apa yang sedang mas Anang sampaikan, aku langsung meminta maaf dan berkata "Mas, sorry. Aku harus pulang sekarang. Anakku sedang sakit".

"Di belakang telinga kakak sebelah kiri kok ada benjolan ya? Tak pegang keras. Katanya tidak sakit kalau dipegang".

Begitulah isi pesan WA dari bunda. Pikiranku langsung kemana-mana. Konsentrasiku mulai menghilang. Rasa panik mulai menyergap. Ya Allah, semoga kakak tidak kenapa-napa. Aku mempercepat langkah. Senja yang indah dengan awan yang menari-nari di kanvas langit menjadi tidak penting kala itu. Tujuanku hanya satu, segera sampai rumah.

Jarak antara kantor dengan rumah sebenarnya tidak terlalu jauh. Kira-kira 20 menit perjalanan menggunakan motor dengan kecepatan sedang. Perjalanan yang seharusnya sebentar itu menjadi benar-benar lama. Motor seperti berjalan lambat sekali.

Dua puluh menit berlalu dengan lama. Roda motorku memasuki halaman rumah. Tak sabar ingin ku bertemu dengan kakak. Dari sela-sela daun pintu, kulihat kakak sedang melihat televisi. Dalam kondisi normal, biasanya kakak langsung berlari menuju ke arahku untuk menyambut kehadiranku. Tapi kali ini hal itu tidak terjadi. Dia menghindar, sambil menuju bunda yang sedang berada di ruang dapur, memberitahu kalau abinya sudah pulang.

"Bun, abi bun...", suara kakak terdengar lirih dari tempat aku melepas sepatu di ruang tamu.

Dadaku berdesir halus. Rasa sedih kian meresap ke dalam hati. Perlahan namun pasti, rasa itu terus menerus bertambah, siap meledak kapan saja. Aku mencoba mendekati kakak, namun dia langsung menghindar dan menangis. Dia sepertinya tahu kalau abinya akan memeriksa benjolan di belakang telinganya. Aku langsung paham, kucoba membiarkannya sejenak. Mungkin ini bukan waktu yang tepat. Aku menuju ke kamar, menaruh tas dan jaket ke tampat biasanya. Kubaringkan badanku yang rasanya begitu lelah.

Waktu maghrib hampir tiba, pikiranku masih kemana-mana. Takut kalau terjadi apa-apa dengan kakak. Mataku tiba-tiba menjadi panas. Air mataku mulai menetes, memikirkan yang nggak-nggak dengan kakak. Dia masih kecil, umurnya baru 5 tahun, sedang asyik-asyiknya dengan dunianya bermain. Ah, sekali lagi aku harus berpikiran positif, berprasangka baik kepada Allah. Benjolan seperti itu sebenarnya aku sendiri pernah mengalaminya. Namanya gejala pembengkakan getah bening. Tanda bahwa tubuh sedang mengaktifkan sistem imun merespon adanya serangan bakteri atau virus di dalam tubuh. Penanganannya harus cepat, karena kalau terlambat bisa-bisa harus dioperasi. Dulu, aku butuh satu minggu untuk bisa sembuh. Solusi terbaik adalah segera membawanya ke dokter spesialis anak. Besok pagi kakak harus segera diperiksakan ke dokter, aku mengirim WA ke atasanku, besok izin datang terlambat.

Bunda masuk ke dalam kamar, mengamati sebentar dan segera sadar bahwa mataku mulai berkaca-kaca. Dia mendekatiku dan menghapus air mata yang mengalir di pipi, sambil mengatakan 'Kakak tidak apa-apa Bi, besok kita periksakan ke dokter'. "Iya", jawabku singkat. Aku berusaha kuat dan tenang.

Adanya benjolan di tubuh bukan sesuatu yang biasa, namun juga bukan perkara yang harus membuat kita panik dan tak bisa berpikir. Segera periksakan ke dokter spesialis anak. Karena dokter yang tahu dengan latar belakang kemampuan medisnya. Jangan pernah menunda untuk membawa ke dokter. Berdoa kepada Allah, semoga memberikan yang terbaik.

Bersambung ...




Total Pengunjung

 

Inspirasi Coffee Copyright © 2011 - |- Template created by O Pregador - |- Powered by Blogger Templates