Selamat datang di gubug Inspirasi Coffee. Blog ini dikelola oleh penulis sejak September 2008. Sampai sekarang, api semangat untuk menulis masih tetap menyala, menarikan pena melukiskan prasasti-prasasti kehidupan. Sampai kapanpun, saya berharap api itu tak akan pernah padam. Hak cipta dilindungi oleh Allah Azza wa Jalla.
Selamat Membaca ^_^

Saturday, December 15, 2018

0 Sepenggal Kisah Perjalanan ke Kota Shenzhen China : Bagian 3

Kisah Sebelumnya di : Bagian 2.

Kapal Ferry terus bergerak, perlahan namun pasti semakin menjauh dari pelabuhan Hongkong. Saya pun masih asyik menatap keluar. Dari balik jendela yang sedikit buram ini, sejenak menikmati pemandangan sejuknya air laut. Sederhana memang, tapi saya menikmatinya. Langit terlihat sedikit mendung, sepertinya sebentar lagi akan memuntahkan jutaan rintik hujan. Ini akan menjadi hujan pertama saya di luar negeri. Syahdu.

Beberapa saat lagi, kami akan tiba di pelabuhan Fuyong. Pelabuhan Fuyong adalah satu diantara beberapa pelabuhan yang berada di wilayah Shenzhen. Kami memilih tujuan pelabuhan Fuyong karena pelabuhan inilah yang paling dekat dengan bandara international Bao'an. Dari bandara, pada awalnya kami akan naik Metro menuju stasiun Tangwei, di wilayah Shajing. Karena di stasiun itulah, rencananya kami akan dijemput oleh rekan kami dari China. Namun lewat aplikasi WeChat, rekan kami dari China tersebut mengabarkan bahwa mereka akan menjemput kami di pelabuhan Fuyong. Alhamdulillah, tentu ini menjadi kabar baik. Setidaknya kami tidak perlu capek-capek harus naik Metro sambil membawa koper.

Pelabuhan sudah semakin dekat. Kapal mulai merapat perlahan ke sisi Dermaga Fuyong. Kami pun bersiap-siap turun dari kapal. Dermaga Fuyong terlihat cukup sepi. Hanya beberapa petugas dermaga yang sibuk mengikatkan tali ke beberapa sisi bagian kapal. Juga beberapa petugas lainnya yang terlihat sibuk menurunkan koper-koper penumpang kapal yang sebelumnya diambil langsung dari pesawat.

Tiba di Pelabuhan Fuyong, Shenzhen

Setelah kapal berhenti, saya bergegas turun dari kapal. Sambil berjalan, saya membaca petunjuk di papan informasi yang terpasang di beberapa sisi dermaga yang mudah terlihat. Saya langsung paham bahwa saya harus menuju ke bagian pengambilan koper. Dengan menunjukkan tiket kapal Ferry, kami diizinkan mengambil koper. Karena petugasnya juga tidak bisa berbahasa Inggris, kamipun juga nyaris tidak menggunakan komunikasi dengan kata-kata. Selama kita memiliki dan menyimpan tiket kapal Ferry, maka prosedur pengambilan koper ini bisa dilakukan dengan mudah dan sederhana.

Setelah mengambil koper, kami langsung menuju ke bagian imigrasi China. Bagian imigrasi memang sering menjadi momok bagi sebagian orang. Karena bagian ini menjadi bagian paling vital menentukan apakah kita diizinkan masuk ke negara tersebut atau tidak. Dengan kata lain, bagian imigrasi ini juga yang menentukan apakah kita bakal dideportasi atau tidak. Wah, serem ya?

Proses imigrasi berlangsung dengan lancar. Dalam proses imigrasi, seperti biasa kami disuruh memberikan sidik jari dan dilakukan pengambilan foto untuk dicocokkan dengan dokumen Passport dan Visa. Alhamdulillah, akhirnya kami secara resmi memasuki wilayah kedaulatan Republik Rakyat Tiongkok tanpa hambatan apapun. Sesaat langkah kami keluar dari pintu keluar imigrasi, dua orang dengan perawakan khas China menghampiri kami.

"Hello, are you Mr. Anang and Mr. Fifin?" tanya mereka dengan ramah.

"Yes, we are". Sambut kami bahagia.

Dari perawakannya, kami langsung mengenali salah satu dari mereka. Karena sebelumnya kami juga sudah melihat fotonya dari aplikasi Wechat. Mereka adalah orang-orang yang memang ingin kami temui. Ada keperluan bisnis dan teknis antara perusahaan kami dengan perusahaan mereka. Dari pelabuhan Fuyong, kami kemudian naik mobil menuju hotel. Setelah perjalanan yang sangat panjang, kami butuh segera beristirahat.

Masuk ke dalam mobil, kesan mewah langsung terasa. Kami menebak bahwa orang yang menjemput kami ini mungkin adalah orang top di perusahaannya. Dan benar saja. mereka ternyata adalah jajaran petinggi di perusahaan mereka. Beberapa kali kami terlibat percakapan kecil dengan mereka. Sayangnya hanya satu orang saja yang bisa berbahasa Inggris, sehingga hanya dengan dia satu-satunya kami bisa berkomunikasi. Bahkan hingga beberapa hari kedepan, dia menjadi translator berjalan kami. Namanya Rainbow. Sedangkan yang menyetir mobil namanya Mr. Liu. Beberapa saat kemudian kami menyadari bahwa Mr. Liu adalah sang pimpinan perusahaan, bos-nya Rainbow.

Hari Pertama di Shenzhen

Langit agak mendung, suasana teduh seakan menjadi keramahan kota ini menyambut kami. Mobil bergerak dengan kecepatan sedang menyusuri jalanan China. Di sepanjang perjalanan kami sering terpukau dengan kondisi jalanan di Shenzhen. Cukup rapi dan kesannya agak berbeda saja dengan kondisi di tanah air. Gedung-gedung besar yang berjajar rapi menjadi pemandangan menarik di sepanjang perjalanan. Rintik hujan makin membesar, saya semakin menikmati perjalanan. Alhamdulillah, semua berjalan dengan lancar.

Sekitar 30 menit perjalanan akhirnya kami sampai di hotel yang berlokasi di daerah Shajing. Kami masuk ke area parkir, muter-muter sejenak mencari tempat parkir. Setelah menemukan tempat parkir yang kira-kira cocok, mobil pun berhenti, Rainbow dengan cekatan menawarkan payung kepada kami. Di luar rupanya masih hujan.

Hotel tempat kami menginap berada tepat menghadap jalur Subway. Mereka memilih hotel ini juga karena alasan tersebut, agar mudah bagi kami untuk pergi kemana saja. Hotel ini juga dekat dengan stasiun Subway (stasiun Tangwei). Tinggal berjalan sekitar 200 meter.

Berlatar rintik hujan, kami bergegas menuju Hotel. Saya sendiri agak sedikit kesulitan berjalan cepat, karena harus membawa koper yang lumayan besar. Setelah berjalan beberapa meter, kami sampai di Hotel. Seorang resepsionis dengan ramah menyapa kami. Rainbow mendekat ke meja resepsionis, langsung berbincang menggunakan bahasa China. Saya yang sebelumnya masih berdiri, memilih segera duduk di lobi. Tidak mengerti perbincangan mereka. Sambil menunggu, saya mengamati interior hotel ini. Lumayan bagus, pikir saya.

Hotel I Love City

Setelah agak lama berbincang, Rainbow terlihat memanggil kami. Meminta kami untuk memberikan dokumen Passport sebagai bukti identitas untuk didaftarkan sebagai syarat boleh menginap di hotel. Resepsionis dengan cekatan menerima Passport kami dan mencatatnya di komputer. Kamipun juga disuruh berdiri di depan kamera yang sudah disedikan, untuk diambil fotonya.

Setelah memenuhi persyaratan dari resepsionis, kamipun mendapatkan kartu akses kamar hotel. Rainbow mengatakan bahwa kamar kami berada di lantai 11. Kami bergegas menuju lift, bersimpangan dengan beberapa petugas kebersihan hotel yang dengan ramah menyapa kami menggunakan bahasa China. Dan lagi-lagi kami tidak mengerti bahasa mereka. Hanya bisa membalasnya dengan senyuman. Sejenak kemudian mereka pun sadar, kami orang asing.

Sesaat memasuki ruangan kamar hotel, Alhamdulillah ruangannya besar, bersih, rapi dan terkesan nyaman. Ada satu hal yang biasa saya cek ketika akan menginap di hotel, yaitu kondisi toiletnya. Setelah saya buka pintu toilet, alhamdulillah, toiletnya ternyata juga sangat bersih. Tidak kalah dengan hotel-hotel bagus lainnya.

Setelah meletakkan jaket, tas kecil dan koper, saya mendekati jendela. Di seberang hotel, terlihat jalur subway membentang lurus searah dengan jalan. Perbedaannya dengan jalur kereta api yang biasa, jalur subway ini dibangun elevated. Subway ini memiliki jalurnya sendiri, tidak digunakan bersama-sama dengan kereta pada umumnya. Relnya dibangun agak ke atas dengan ditopang oleh beberapa tiang beton penyangga.

Tepat jika kita memandang keluar jendela, ada jalur Subway

Waktu sudah semakin siang, Rainbow menawarkan untuk makan siang dulu sebelum membiarkan kami istirahat di hotel setelah melewati perjalanan panjang. Kami setuju. Perut sudah keroncongan. Namun sebelum berangkat, saya menjelaskan kepada Rainbow tentang persyaratan makanan halal yang bisa kami makan. Kami seorang muslim, maka hanya makanan yang halal yang bisa kami konsumsi.

To Be Continued...



Tuesday, December 11, 2018

0 Quote Terbaik Tere Liye

Berikut ini adalah kumpulan quote-quote terbaik dari Tere Liye yang diambil dari karya-karya beliau baik dalam bentuk novel, maupun yang ia share di Facebook.

Quote Terbaik Tere Liye

  • Novel Pukat - Serial Anak-Anak Mamak
  • "Filosofi padi, Semakin berisi maka padi semakin menunduk. Artinya semakin merasa bisa harusnya semakin bisa merasa".
    Novel Pukat - Serial Anak-anak Mamak

  • Novel Tentang Kamu
"Mengenalmu adalah salah satu anugerah terbesar dalam hidupku. Cinta memang tidak perlu ditemukan. Cintalah yang menemukan kita".
Novel Tentang Kamu - Tere Liye


  • Novel Hujan
    • "Kenangan itu sama seperti hujan. Ketika ia datang, kita tak bisa menghentikannya."

    Quote Novel Hujan - Tere Liye

  • Novel Pulang
  • "Kesetiaan terbaik adalah kesetiaan pada prinsip hidup.  Hanya kesetiaan pada prinsiplah yang akan memanggil kesetiaan-kesetiaan terbaik lainnya.

    Novel Pulang

  • Novel Rindu
  • "Apalah arti kehilangan, ketika kami sebenarnya menemukan pada saat kehilangan, dan sebaliknya, kehilangan pada saat menemukan".
    Novel : Rindu

  • Novel Sepotong Hati yang Baru
  • "Ada seseorang di hidupmu, yang ketika ia pergi, maka ia juga membawa sepotong hatimu".
    Novel : Sepotong Hati yang Baru

  • Novel Berjuta Rasanya
  • "Kau mungkin bisa selalu memberi tanpa sedikitpun memiliki cinta. Tapi kau tak akan bisa mencintai tanpa selalu memberi".
    Novel : Berjuta Rasanya





Friday, November 30, 2018

2 Sepenggal Kisah Perjalanan ke Kota Shenzhen China bagian 2

Agar cerita menyambung, jangan lupa untuk membaca kisah sebelumnya di Sepenggal Kisah Perjalanan ke Shenzhen bagian 1.

Hidup ini adalah sebuah perjalanan, yaitu dari Allah kemudian kembali ke Allah. Do your best, and Allah do the rest.

"There is no prayer room in this arrival area Sir".

Kalimat yang barusan terucap dari bibir petugas informasi di Bandara Internasional Hongkong itu benar-benar membuat saya terkejut. Serasa tak percaya dan akhirnya terpaku. Saya tak menyangka bahwa kami akan merasakan kesulitan beribadah sholat subuh sesaat setelah saya tiba di Hongkong.

Ruang tunggu di Arrival Area Bandara Internasional Hongkong
Ruang tunggu di Arrival Area Bandara Internasional Hongkong

Tidak ada pilihan lain. Sepertinya kami harus sholat subuh di salah satu tempat di lokasi kedatangan ini. Saya mulai mencari-cari area atau spot yang kira-kira bisa kami gunakan untuk sholat subuh. Setelah mengamati area sekitar, akhirnya kami memilih ruang tunggu. Yah, Ruang tunggu mungkin adalah tempat yang tepat untuk itu.

Ada beberapa spot yang agak lapang untuk kami gunakan. Terlihat beberapa orang dengan perawakan China, Jepang dan India dengan santai terlihat duduk-duduk dan berkerumun di ruang tunggu ini. Kami pun bergegas menuju area yang agak sepi. Menaruh tas, bergantian ke toilet untuk ber-wudhu dan kemudian melaksanakan sholat subuh secara bergantian.

Jadi, ini sekedar tips buat teman-teman yang akan berangkat ke Shenzhen melalui Bandara Hongkong dengan kapal Ferry seperti yang akan kami lakukan, sebaiknya kalian sholat dulu di pesawat sesaat sebelum mendarat di Hongkong. Jangan sampai kita malah kesulitan untuk sholat di bandara karena tidak adanya prayer room di area kedatangan Bandara Hongkong.

Cara Pergi ke Shenzhen dari Bandara Hongkong

Hongkong dan Shenzhen bisa dibilang merupakan contoh kota-kota besar di dunia yang berhasil menerapkan sistem transportasi yang cukup baik. Memang, kita tidak akan menemukan adanya penerbangan langsung (direct flight) diantara dua kota itu, tetapi kita bisa memanfaatkan beberapa moda transportasi lainnya seperti transportasi darat dan laut yang menghubungkan kedua kota tersebut.

Jika temen-temen sudah berada di Bandara Hongkong, maka ada beberapa cara yang bisa digunakan untuk bisa pergi ke kota Shenzhen. Seperti yang dikutip pada website resmi bandara Hongkong dengan alamat web www.hongkongairport.com, ada beberapa moda transportasi yang bisa kita gunakan seperti berikut ini :
  • SkyLimo
  • Melalui SkyLimo ini, teman-teman bisa berkunjung ke berbagai lokasi di daerah provinsi Guangdong, China. Dan tentu saja, salah satunya adalah Shenzhen.

    Kendaraan yang disediakan untuk fasilitas ini adalah Limousine dan Bus. Jika temen-temen memilih kendaraan Limousine, siap-siap saja untuk menyiapkan budget yang agak banyak ya, karena kendaraan ini mewah dan cukup mahal.  
    Jika ingin yang agak murah, maka solusinya adalah menggunakan transportasi Bus. Ada sekitar 550 Bus yang beroperasi dari Bandara Hongkong setiap harinya. Waktu tunggu Bus ini antara 10 sampai 20 menit.
    Kabar baiknya, di website resmi Bandara Hongkong sudah dijelaskan dengan sangat baik bagaimana cara menggunakan layanan SkyLimo ini. Nah temen-temen bisa melihat video di bawah ini. 

  • Ferry Transfer
  • Cara berikutnya adalah dengan menggunakan kapal Ferry. Dan menurut saya, cara ini adalah yang paling efisien. Mengapa efisien? karena kita tidak perlu keluar dari bandara Hongkong dan mengurus imigrasi. Jika kita membawa koper di pesawat, maka koper tersebut akan otomatis dipindahkan oleh petugas ke kapal Ferry yang akan kita gunakan. Mantab kan?
    Dengan menggunakan kapal Ferry, kita bisa memilih beberapa tujuan di wilayah MainLand China seperti Shenzhen, Macao, Guangzhou, Zhongshan dan Zhuhai. Untuk lebih jelasnya bisa dilihat tayangan video berikut ini. 

  • Kereta Api / Metro / Subway
  • Selain Skylimo dan Kapal Ferry, kita juga bisa pergi ke Shenzhen dengan menggunakan Metro / Subway atau Kereta Api. Kelemahan dari cara ini adalah kita harus masuk dulu ke Negara Hongkong (tentu saja akan melewati imigrasi Hongkong). 
    Bagi warga negara lain yang tidak memiliki visa Hongkong, tentu cara ini tidak bisa kita lakukan. Namun khusus bagi warga negara Indonesia (WNI), cara ini tidak jadi masalah. Perlu diketahui bahwa Passport Indonesia dapat digunakan untuk masuk ke wilayah Hongkong maksimal 30 hari tanpa perlu mengurus Visa.
Metro atau Subway di Hongkong
    Perlu diperhatikan jika kita menggunakan Metro/Subway untuk pergi ke Shenzhen, maka kita harus benar-benar paham bagaimana rute perjalanan Subway di Hongkong, bagaimana cara naik Metro-nya, dan memahami seperti apa proses melintas di perbatasan Hongkong-China. 

Pengalaman Naik Kapal Ferry ke Shenzhen

Selesai menunaikan sholat subuh di area ruang tunggu, kami sejenak beristirahat sambil mengamati hilir mudik orang-orang yang lalu lalang. Melirik jam tangan sebentar, rupanya masih pukul 06.00 waktu setempat. Kalau dilihat dari informasi di internet, jadwal paling pagi dari keberangkatan kapal Ferry ke Shenzhen adalah pukul 10.00. Masih agak lama sih. Kami memilih untuk melanjutkan istirahat  sebentar. Setidaknya kami masih punya waktu sampai pukul 07.00, sebelum loket penjualan tiket kapal Ferry dibuka.

Loket Kapal Ferry ke China Daratan (MainLand)

Sekitar pukul 07.00, loket untuk penjualan tiket kapal Ferry sudah mulai dibuka. Kami segera bergegas ke lokasi penjualan tiket. Meskipun jadwal keberangkatan kapal masih beberapa jam lagi, tidak ada salahnya kita membeli tiket lebih awal. Rupanya begitu pula pikiran mayoritas orang-orang disini. Loket belum dibuka, namun sudah banyak calon penumpang yang antri. Kami pun makin bergegas. Mendekat ke beberapa orang berpenampilan bule, iseng mengajak mereka ngobrol.

Syarat membeli tiket kapal Ferry ada 3, yaitu Passport, Visa China, dan bukti tiket pesawat yang baru saja dinaiki di hari yang sama. Sengaja saya tebalkan syarat yang terakhir ini, karena jika kita hanya punya Passport dan Visa, namun tidak memiliki tiket pesawat di hari yang sama, maka kita tidak bisa membeli tiket kapal Ferry.

Layanan Ferry Transfer ini memang khusus diberikan kepada para penumpang pesawat yang baru saja mendarat di Hongkong dan ingin pergi ke beberapa daerah di China Daratan tanpa melewati imigrasi Hongkong. Orang yang berasal dari Hongkong yang ingin pergi ke Shenzhen, tidak bisa menikmati layanan ini.

Antrian Saat Membeli Tiket Kapal Ferry ke Shenzhen

Ada beberapa destinasi yang ditawarkan melalui Kapal Ferry ini. Saya memilih tujuan ke Bandara Bao'an Shenzhen melalui pelabuhan Fuyong. Dari Bandara Boo'an, rencananya kami akan naik Subway dan turun di stasiun Tangwei. Rekan kami dari China akan menjemput kami di stasiun Tangwei.

Untuk harga tiket kapal Ferry bisa dibilang lumayan murah. Untuk satu kali perjalanan dari Bandara Hongkong ke Bandara Bao'an Shenzhen dikenai harga 295 Dollar Hongkong. Jika kurs 1 HKD (Hongkong Dollar) setara dengan Rp. 1900,- . Maka harga tiket kelas ekonomi yang kita beli tersebut sekitar 600 ribu rupiah. Nah, murah kan?

Yang menarik dari naik kapal Ferry ini adalah kita tidak perlu mengurusi koper atau bagasi, karena koper/bagasi tersebut sudah otomatis diurus dan dipindah oleh petugas ke kapal Ferry untuk kemudian ditaruh di kapal. Kita bisa langsung saja naik ke kapal tanpa perlu repot-repot membawa koper. Ini yang saya sebut tadi sebagai efisien.

Jadwal dan Harga tiket Bandara Hongkong - Bandara Bao'an Shenzhen

Yang unik disini adalah perpindahan dari Bandara Hongkong ke lokasi pelabuhan, kita akan disuguhi dengan fasilitas Skypier. Skypier ini adalah sebuah armada kereta yang menghubungkan antara bandara dengan pelabuhan. Kita tak perlu membayar lagi, karena harga tiket sudah termasuk dengan layanan Skypier ini.

Papan Pengumuman di Ruang Tunggu Keberangkatan Kapal

Karena waktu keberangkatan kapal ke pelabuhan Fuyong (Shenzhen) masih lama, maka kami menghabiskan waktu di ruang tunggu sambil menikmati pemandangan laut, beberapa kapal terlihat datang dan pergi. Pemandangan yang indah dan tak biasa.

Kapal Ferry yang tengah bersandar di Dermaga

Sedikit eksis, siap-siap berlayar

Ada satu hal menarik disini. Kondisi dermaga di Hongkong ini bisa dibilang sangat bersih. Anak buah kapal (ABK) terlihat tidak ada yang berpakaian lusuh. Mereka semua berseragam resmi. Tidak ada preman ataupun pengamen yang berkeliaran di dalam kapal atau dermaga. Luar biasa, inilah potret transportasi di negara maju. Para calon penumpang pun bisa menikmati perjalanan dengan nyaman dan aman.

Waktu terus berjalan. Para calon penumpang mulai berdatangan di ruang tunggu. Dilihat dari perawakannya, beberapa diantaranya sepertinya berasal dari wilayah Eropa dan Asia Selatan. 15 menit mendekati jadwal keberangkatan, Gate menuju kapalpun mulai dibuka oleh petugas. Kamipun bergegas menuju kapal. Tak sabar ingin melihat bagaimana kondisi kapalnya.

pengalaman naik kapal ferry ke shenzhen China
Pemandangan dari dalam Kapal Ferry, saat menatap keluar jendela kapal

Sesaat menaiki kapal, kami langsung disambut dengan ramah oleh beberapa petugas kapal. Mereka memakai seragam putih-putih. Dengan murah senyum mereka juga membagikan selembar form arrival card, agar segera kami isi karena nanti akan dikumpulkan saat melewati bagian imigrasi China saat sampai di Pelabuhan Fuyong.

China Arrival Card

Pagi itu tidak banyak yang menaiki kapal Ferry menuju pelabuhan Fuyong. Mungkin hanya sekitar 20 orang. Padahal kapasitas maksimal kapal ini seharusnya bisa diisi oleh 100-an penumpang. Dengan kondisi kapal yang lumayan sepi, kami cukup leluasa untuk memilih tempat duduk yang paling nyaman.

Waktu yang diperlukan untuk menyeberang ke China (pelabuhan Fuyong) sekitar 50 menit. Kapal bergerak perlahan menyusuri pantai. Sesekali saya memandang keluar jendela kapal, menikmati pemandangan yang mungkin jarang sekali saya jumpai. Deburan ombak menjadi nyanyian alam mengiringi perjalanan ini. Sebentar lagi kami akan memasuki wilayah China daratan. Dan cerita baru saja dimulai.

To Be Continued

Friday, November 16, 2018

0 Sepenggal Kisah Perjalanan Ke Kota Shenzhen China : Bagian 1

China, mendengar negara ini, pertama kali yang muncul di dalam pikiran saya adalah sebuah negara dengan mayoritas penduduknya adalah non muslim, jadi bisa dibayangkan betapa sulitnya mencari makanan halal disana. Tak hanya karena fakta bahwa jumlah muslim di negara tersebut adalah minoritas, namun juga berdasar kisah dari beberapa kawan yang pernah berkunjung kesana dan membeberkan fakta yang tak jauh berbeda. Untuk mencari restoran atau rumah makan yang menyediakan makanan halal, rasanya seperti mencari jarum dalam tumpukan jerami. Maka ketika ada tugas kantor yang mengharuskan saya untuk melakukan perjalanan dinas kesana, tidak bisa dipungkiri ini menjadi beban yang cukup berat bagi saya.

Kisah Perjalanan ke Kota Shenzhen China


Kota yang akan saya datangi kali ini adalah kota Shenzhen, sebuah kota di wilayah selatan China yang cukup maju, berbatasan langsung dengan Hongkong. Kota Shenzhen berada di provinsi Guangdong dan menjadi salah satu pusat industri di China. Perusahaan-perusahaan raksasa High Tech kebanggaan negeri Tirai Bambu seperti Huawei dan ZTE pun juga bermarkas di kota ini. Maka tak heran jika kota ini seringkali disebut sebagai salah satu Silicon Valley-nya China. Di dalam rangkaian tulisan di blog ini, saya juga akan membahas mengenai majunya sektor transportasi di kota ini. Diantaranya adalah Subway atau Metro. Ketika anda tiba di kota Shenzhen melalui Shenzhen Bao'an Internasional Airport, maka anda akan langsung bisa memanfaatkan transportasi subway/metro untuk berkeliling di kota ini. Kereta metro sudah terintegrasi dengan bandara sehingga para penumpang pesawat yang baru saja tiba langsung bisa memanfaatkan metro/subway untuk menjelajah kota metropolis di bagian selatan China ini.

Menjelang hari keberangkatan, saya terus menggali segala informasi mengenai seluk beluk kota yang akan saya kunjungi ini. Mulai dari informasi mengenai restoran halal ataupun apakah terdapat masjid yang bisa saya gunakan untuk menunaikan ibadah sholat Jum'at. Alhamdulillah setelah googling, rupanya ada beberapa blog yang bersedia membangikan ceritanya tentang pengalaman berkunjung ke kota Shenzhen. Selain itu, ada pula beberapa Youtuber Muslim yang berbaik hati menceritakan pengalaman bagaimana caranya naik Subway/Metro menuju masjid Shenzhen (masjid terbesar di kota Shenzhen). Dengan begini, maka setidaknya ada beberapa gambaran-gambaran kasar mengenai kondisi kota yang akan kami kunjungi. Saya berkunjung tidak sendiri, bersama dengan rekan kerja saya bernama Anang, kami akan melakukan rihlah mendatangi negeri yang terkenal dengan seni bela diri Kungfu ini.

Menyiapkan Passport dan Visa

Untuk bisa mendatangi sebuah negara, setidaknya kita harus memiliki dua dokumen penting yaitu Passport dan Visa. Passport adalah identitas diri seseorang yang diterbitkan oleh sebuah negara (tempat kita diakui sebagai warga negaranya) dan diakui secara internasional. Ketika kita berada di luar negeri, maka Passport menjadi dokumen yang sangat penting. Bahkan bisa dibilang sebagai nyawa kedua kita. Jadi jangan sampai hilang ya gaes! kalau tidak mau panjang urusannya di negeri orang.


Sedangkan Visa adalah dokumen yang diterbitkan oleh negara yang akan kita kunjungi (melalui kantor perwakilan atau Konjen negara tersebut di negara kita) sebagai bukti dan petunjuk bahwa kita 'berpeluang' diizinkan masuk ke wilayah negara tersebut. Kenapa saya sebut berpeluang? karena meski kita sudah mengantongi Visa, tidak serta merta 100% kita pasti bisa masuk ke wilayah negara tersebut. Bisa jadi kita tidak diizinkan masuk karena terkendala sesuatu hal seperti sedang terkena sakit menular (terkena wabah), karena kepentingan politik, atau sebab-sebab yang lain. Atas alasan-alasan tersebut, bisa jadi kita dideportasi kembali ke negara kita. Tapi tenang saja, selama kita punya Visa, kemudian tidak sedang sakit keras (yang bisa terindikasi membawa wabah penyakit) dan tidak berniat/beritikad buruk, insyaAllah kita bisa masuk ke negara tersebut.

Karena sebelumnya saya pernah ke luar negeri dan sudah memiliki passport, maka kali ini saya hanya fokus untuk menyiapkan dokumen-dokumen yang dibutuhkan untuk keperluan penerbitan Visa China. Proses penerbitan Visa China ini seluruhnya dikerjakan oleh pihak SDM tempat saya bekerja, jadinya saya tak bisa bercerita banyak mengenai hal ini.

Adapun dokumen-dokumen yang perlu disiapkan untuk mendapatkan Visa China adalah Passport, scan KTP, scan KK, mengisi form penerbitan Visa.

Memilih Jadwal Penerbangan

Pada awalnya kami diberitahu untuk turun di bandara Internasional Bao'an di Shenzhen. Namun rupanya tiket langsung ataupun transit dari Indonesia (baik dari bandara Soeta Cengkareng maupun bandara Juanda Surabaya) ke Shenzhen ini bagi saya tidaklah nyaman. Tidak ada flight Garuda yang mengarah langsung ke bandara Bao'an Shenzhen, selain itu harga tiket Singapore Airlines juga ampun deh, diatas 10 juta gaes! Maskapai yang tersedia seperti Shenzhen Airline, Air China, China Southern, Xiamen Airline dan lain-lain, bagi saya kurang comfortable. Setelah baca-baca di blog tentang pengalaman terbang bersama maskapai-maskapai diatas, entah mengapa kok lebih banyak review negatifnya ya atau kalaupun ada review-nya, jumlahnya masih sedikit. Bagi saya, penerbangan internasional haruslah penerbangan yang nyaman dan proven, karena kita akan melewatkan waktu berjam-jam di dalam pesawat tersebut. Bayangkan ketika kita perlu sesuatu di dalam pesawat, dan ingin meminta bantuan kepada pramugari, ternyata pramugarinya semisal saja tidak bisa berbahasa Inggris, tentu tidak nyaman kan? belum masalah lain seperti ketersediaan makanan halal di dalam pesawat tersebut.

Pesawat Garuda menuju Hongkong

Terus terang di H-1 sebelum keberangkatan, saya masih merasakan kegalauan karena masih belum menemukan maskapai yang cocok untuk keberangkatan ke Shenzhen. Namun, di dalam hati saya selalu yakin bahwa Allah itu bersama dengan hamba-Nya yang pantang menyerah dan terus berjuang. Dan perjuangan itu tidak akan pernah mengkhianati hasil.

Secercah sinar harapan tiba-tiba merangsek masuk menerangi hati saya. Saya diberitahu oleh pihak SDM perusahaan tempat saya bekerja bahwa ternyata ada seorang rekan kerja yang pernah berkunjung ke kota Shenzhen. Namanya pak Sangki. Ah, rasanya seperti menemukan telaga di tengah gurun pasir. Tanpa banyak pikir panjang lagi, kami langsung menggali informasi sebanyak-banyaknya kepada pak Sangki, bagaimana sih cara beliau pergi ke Shenzhen.

Setelah menggali informasi, fakta mulai terkuak saat beliau mengatakan bahwa ternyata beliau tidak turun di Bandara Bao'an Shenzhen, melainkan turun di Bandara Hongkong. Dari bandara Hongkong, beliau kemudian naik bus menuju ke kota Shenzhen, China.

Ya Allah, saya langsung bersyukur di dalam hati. Karena Hongkong merupakan salah satu lokasi transit paling banyak dituju oleh penerbangan Internasional, maka kami segera mengecek apakah terdapat flight Garuda dari Jakarta menuju Hongkong. Dan benar, ternyata terdapat direct flight dari Jakarta menuju Hongkong menggunakan pesawat Garuda. Alhamdulillah, satu permasalahan terpecahkan.

Permasalahan berikutnya, bagaimana caranya berpindah dari bandara Hongkong menuju kota Shenzhen?. Apakah kami akan mengikuti jejak rekan kerja kita itu yang naik bus ke Shenzhen? padahal kami juga tidak memiliki visa Hongkong. Jujur saja kami tidak memiliki keberanian untuk mencoba-coba cara yang berpotensi mengandung banyak resiko. Resiko bahwa ternyata ketika masuk ke negara Hongkong dibutuhkan visa Hongkong, atau resiko bermasalah saat memasuki imigrasi China ketika berpindah dari negara Hongkong. Sepertinya kita harus mencari cara yang lain! Cara yang terjamin benar-benar aman.

Setelah searching dan googling di internet, akhirnya saya menemukan cara bagaimana bisa pergi ke Shenzhen dari Bandara Hongkong tanpa harus melewati imigrasi Hongkong. Nah, seru kan? jangan kemana-mana, tetap terus simak kisahnya di tulisan ini ya Gaes!.

Hari Keberangkatan

Hari itu Selasa 16 Oktober 2018, sekitar pukul 20.00 WIB kami berangkat menuju Bandara Internasional Soekarno Hatta di terminal 3. Kondisi jalanan di Jakarta malam itu cukup lancar. Di beberapa titik ada kemacetan, namun bisa dibilang masih lancar-lancar saja. Jakarta memang kota yang tak pernah tidur, meskipun saya yang akhirnya malah tertidur di mobil. Rasanya badan capek sekali. Kami tiba di Bandara Soetta sekitar pukul 21.00 WIB. Masih ada sekitar 2 jam lebih untuk melakukan serangkaian proses imigrasi, check-in dan lain-lain sebelum pesawat kami take off menuju Hongkong yang dijadwalkan pada pukul 23.40 WIB.

Ingat ya Gaes, tiba di bandara 2 jam sebelum keberangkatan adalah waktu ideal buat kita ketika akan melakukan penerbangan internasional. Jangan sampai waktu kedatangan kita di bandara itu terlalu mepet dengan jadwal take-off. Perlu dipahami bahwa naik pesawat berbeda dengan naik kereta. Ada serangkaian hal yang harus dilakukan sebelum pesawat benar-benar diizinkan terbang. Kita tidak tahu masalah apa yang akan kita hadapi ketika melakukan proses imigrasi. Maka pastikan 2 jam sebelum jadwal take-off pesawat, kita sudah tiba di bandara dan segera melakukan serangkaian proses imigrasi dan check-in. Itu semua agar hati menjadi lebih tenang. Saya selalu berpikir, lebih baik menunggu lama di ruang tunggu daripada datang dengan terburu-buru.

Serangkaian proses imigrasi dan check-in berjalan dengan lancar. Saya dan mas Anang kemudian mencari lokasi tempat duduk yang nyaman di ruang tunggu untuk sekedar duduk santai sambil menunggu jadwal take-off. Waktu itu, rupanya mas Anang sedang kehausan dan mencoba membeli sebotol air mineral, namun begitu terkejutnya dia mengetahui fakta bahwa harga sebotol air mineral adalah 40 ribu rupiah. Wow, amazing. Setelah saya pikir-pikir, ya iyalah! ini kan di bandara! Jangankan di bandara, di stasiun saja harga bisa naik 2 kali lipat atau bahkan lebih. Maka sedikit tips buat teman-teman sekalian yang akan bepergian keluar negeri, silahkan membawa air mineral sendiri dari rumah ya. Lumayan kan bisa menghemat 30 ribu rupiah.


Tiba di Bandara Internasional Hongkong

Alhamdulillah, sekitar waktu subuh kami berhasil mendarat dengan selamat di Bandara Internasional Hongkong. Terdapat perbedaan waktu sekitar 1 jam dengan waktu di Indonesia (WIB). Jadi jika di Hongkong saat ini pukul 5 pagi, maka di Indonesia bagian barat masih pukul 4 pagi. Waktu perjalanan dari Jakarta ke Hongkong sekitar 4,5 jam. Sesaat setelah mendarat, saya segera mengaktifkan ponsel dan segera memberitahu keluarga di rumah bahwa saya sudah mendarat dengan selamat di Hongkong.

Bandara Internasional Hongkong

Hongkong adalah negara yang termasuk bagian dari negara China yang cukup unik. Negara ini memiliki sistem pemerintahan sendiri dan berhak mengatur warga negaranya tanpa adanya campur tangan negara China. Namun, di sisi lain Hongkong ternyata tidak punya tentara, sehingga sistem pertahanan negara masih bergantung penuh kepada China. Hongkong adalah bekas jajahan negara Inggris, sehingga sebagian besar warga negara Hongkong pun bisa berbahasa Inggris. Berbeda dengan China daratan (Main Land), Hongkong juga mengizinkan adanya buruh migran. Maka tak heran jika kita akan banyak menjumpai orang-orang Indonesia yang bekerja sebagai TKI di negara ini.

Kebingungan Mencari Tempat Sholat di Bandara Internasional Hongkong

Waktu subuh sudah hampir habis, namun kami masih terus muter-muter mencari lokasi mushola atau prayer room untuk menunaikan sholat subuh. Saya tak menyangka rupanya Bandara Internasional Hongkong ini besar sekali. Setelah beberapa saat tidak menemukan prayer room, kami pun bertanya ke bagian informasi. Alangkah terkejutnya kami ketika petugas bagian informasi mengatakan,

"Sorry sir, there is no prayer room on this arrival area!".

Ternyata tidak ada prayer room di lokasi area kedatangan Gaes!. Rupanya lokasi prayer room di Bandara Hongkong terletak setelah kita hendak keluar dan melewati bagian imigrasi Hongkong, atau lokasi lainnya yaitu ketika kita akan melakukan transit pesawat. Nah, pada bagian area kedatangan (arrival area), tidak disediakan tempat sholat!. Padahal perlu dicatat, kita tak mungkin meninggalkan lokasi arrival area ini karena kita berencana pada pukul 10 akan naik kapal Ferry menuju Shenzhen. Lah kalau begini, kita sholat subuh dimana? mulai panik deh!

To be Continued...




Total Pengunjung

 

Inspirasi Coffee Copyright © 2011 - |- Template created by O Pregador - |- Powered by Blogger Templates