Selamat datang di gubug Inspirasi Coffee. Blog ini dikelola oleh penulis sejak September 2008. Sampai sekarang, api semangat untuk menulis masih tetap menyala, menarikan pena melukiskan prasasti-prasasti kehidupan. Hak cipta dilindungi oleh Allah Azza wa Jalla.
Selamat Membaca ^_^

Thursday, May 21, 2020

0 Mbolang ke Aarberg dan Biel / Bienne, Switzerland

Beberapa minggu sebelum keberangkatan ke Swiss, saya sering bercanda dengan kawan seperjalanan tentang kemungkinan untuk mengisi akhir pekan kami di Swiss dengan jalan-jalan. Biar lebih seru saya ganti istilahnya dengan mbolang. Rugi banget kan sudah pergi jauh-jauh melintas benua jika hanya sekedar melaksanakan training saja tanpa disertai jalan-jalan untuk melihat keindahan negerinya.

Banyak orang mengatakan Swiss itu seperti negeri dongeng. Mereka sering memakai klausa, 'Tuhan menciptakan negeri ini ketika sedang tersenyum'. Orang sih bebas berpendapat ya, meski saya sendiri tidak sepakat dengan itu.

Entah siapa yang memulai ide mbolang tersebut, waktu itu saya mengusulkan untuk pergi ke Interlaken, sebuah pedesaan yang indah, lokasinya tepat di antara dua buah danau besar yaitu Thun dan Brienz. Ide ini muncul karena terinspirasi dari sebuah tayangan di Youtube yang diliput oleh NetMediatama. Judulnya 'Keindahan Interlaken, Swiss yang Memanjakan Mata'.

Seorang kawan menyeruak dalam obrolan, ingin pula mengajukan idenya. Dengan menggebu-nggebu, ia menawarkan untuk pergi ke Grinderwald. Sebuah pedesaan yang berada di dekat gunung Eiger. Kalau baca-baca di blog, Grindelwald menyajikan pemadangan pedesaan yang istimewa. Pegunungan Eiger dengan puncaknya yang selalu berhias salju menjadikannya view yang eksotik. Selain itu, kita bisa melihat dan berinteraksi secara langsung dengan sapi-sapi khas Switzerland yang dibiarkan saja lepas di alam. Tentu ini semua akan menjadi sebuah pengalaman yang tak akan terlupakan.

Kawan saya yang lain pun juga tak ingin kalah, idenya malah lebih gila lagi. Dia mengusulkan untuk pergi jalan-jalan ke Paris, Perancis. Tujuannya ingin melihat Menara Eiffle. "Kapan lagi kita bisa ke Paris!", begitu selorohnya.

Saya pun menimpalinya dengan ide ke negeri asal Lukas Podolski, Der Panzer, Jerman. Sederhana saja, saya penggemar berat timnas Jerman di piala dunia 2018 yang lalu. Tim yang secara naas tak lolos fase group, meski empat tahun sebelumnya sempat menggondol trofi juara. 

Jika keinginan ini terwujud, sepertinya saya bersiap untuk menulis cerita yang agak panjang meniru mbak Hanum Rais dalam novelnya yang best seller, 99 Cahaya di Langit Eropa.

Tanpa kami menyadarinya, gurauan-guraun yang terdengar absurb itu pun lama-lama menjadi sebuah keseriusan. Bermula saat kami secara iseng membuat rencana perjalanan ( itinerary ) yang didalamnya juga termaktub RAB (rincian anggaran biaya). Jika dihitung-hitung sih, sepertinya sangu kami masih cukup, walaupun cenderung tak bersisa.

Akankah ide-ide itu terwujud?

Jalan-Jalan ke Aarberg dan Biel / Bienne


Keinginan Keliling Eropa yang Kandas


Sebenarnya ide pergi jalan-jalan keliling Eropa bukanlah ide khayalan. Kami berangkat ke Swiss dengan Visa Schengen yang mengizinkan kami untuk pergi ke 26 negara-negara lain di Eropa yang masuk dalam wilayah Schengen. Negara Jerman dan Perancis termasuk di dalamnya.

Namun setelah ditelaah lebih lanjut, sepertinya pergi ke Perancis atau Jerman menjadi hal yang agak berat bagi kami. Kami hanya memiliki waktu senggang di saat weekend, yaitu di hari sabtu dan minggu. Sedangkan perjalanan lintas negara dari Swiss ke Perancis dengan menggunakan moda kereta membutuhkan waktu sekitar delapan jam.

Bisa dibayangkan, semisal kami berangkat dari Swiss pukul delapan di pagi hari, maka jadwal tiba di Paris yaitu pukul empat sore. Dari Stasiun Paris kita membutuhkan armada lain -entah itu menggunakan Taksi, Bus atau Tram- menuju ke Menara Eiffle.

Okelah, kami punya ide membeli tiket Europass Rail yang mengizinkan kami menggunakan kereta lintas negara dengan harga miring. Namun, tetap saja kami harus keluar biaya lagi ketika menuju menara Eiffle-nya. Itu belum termasuk biaya hotel di Paris jika kami terpaksa harus menginap karena kecapekan. So, biaya secara keseluruhan pasti akan sangat membengkak. Akhirnya dengan berat hati, kami memutuskan untuk mengkandaskan ide ini. Jalan-jalan ke wilayah yang dekat di dalam negeri Swiss adalah pilihan tersisa.

Bagaimana dengan Interlaken dan Grinderwald?


Saya lupa-lupa ingat mengapa ide pergi ke Interlaken dan Grinderwald juga ikutan ambyar. Begini, seingat saya itu ada sedikit ceritanya.

Jumat, 13 Desember 2019

Waktu itu Jumat, satu hari menjelang akhir pekan, hari ke-5 dari agenda jadwal kami selama 8 hari training di Swiss. Jadwal training tersebut tidak termasuk hari libur di saat weekend.

Suasana di luar gedung tempat kami training sudah mulai agak gelap. Senja di Lyss terlihat indah sekali. Mentari yang tak pernah terik itupun mulai menurunkan kadar sinarnya, menyapu dengan lembut, dan bersiap untuk sembunyi. Pemandangan bukit yang berada di belakang gedung juga sangat apik. Terlihat pohon-pohon yang berdiri kokoh meski harus merelakan daun-daunnya meranggas, rontok melawan musim dingin.

Ruang tempat diskusi rencana akhir pekan
(credit: foto by Nala)

Udara di luar semakin dingin, namun kami terlibat pembicaraan yang cukup hangat dengan Mr. Schwab, salah satu kolega kami disana. Dia sangat baik hati, bisa dibilang dia yang paling akrab dengan kami. Mungkin karena usia kami yang tak terlalu terpaut jauh dengannya. Selain itu, dia yang paling sering menawari saya kopi dan susu hangat sebagai penyegaran di sela-sela training.


Agenda training di hari itu sudah usai, kami meminta saran kepada Schwab tentang rencana akhir pekan kami. Dari sisi kami, inginnya sih bisa jalan-jalan ke beberapa tempat menarik di Swiss dengan bujet yang murah. Ha ha.. benar-benar tipikal orang Indonesia banget ya. Mintanya yang bagus tapi dengan harga semurah mungkin.

Pembicaraan itupun berujung dengan sebuah saran agar berkunjung ke kota Aarberg dan Biel/Bienne. Rasa penasaran menghinggap di kepala, seperti apa rupa kedua kota itu?  

Aarberg dan Kota Tua yang Magis


Pindah Hotel


Pulang dari lokasi training hari sudah gelap. Dengan memakai jaket tebal masing-masing, kami berjalan kaki menuju hotel, melawan dingin malam. Itulah behavior kami disana, lebih memilih berjalan kaki dari dan ke lokasi training. Baik saat berangkat maupun pulangnya. Jarak hotel dengan lokasi training sekitar 1,6 km.

Sebenarnya malam itu jadwal kami pindah hotel. Lha kenapa? Ya karena ketika kami pesan hotel yang pertama yaitu Weisses Kreuz (saya lupa via Traveloka atau Booking.com), jadwal di tanggal 14 Desember 2019-nya ternyata sudah penuh. Terpaksa kami harus mencari hotel yang lain. Kolega kami disana menyarankan pindah ke hotel Sepats. Sebuah hotel yang secara lokasi bisa dibilang cukup dekat, berada tak jauh dari stasiun Lyss. Hanya satu malam saja kami pindah dan menginap di Hotel Sepats. Sedangkan esoknya, kami bisa kembali lagi ke Weisses Kreuz.

Dengan alasan berat membawa koper dan barang-barang lainnya dari Weisses Kreuz, beberapa dari kami menitipkan koper-koper tersebut di hotel Weisses Kreuz saja. Hanya barang-barang seperlunya saja yang dibawa ke hotel Sepats. Toh cuma pindah satu hari saja kan? Namun, saya sendiri memilih menenteng koper besar itu. Berat sih, tapi rasanya kok nyaman dan aman dibawa saja.

Sabtu, 14 Desember 2019

Haripun berganti. Inilah saat-saat yang kami tunggu-tunggu. Weekend pertama dan satu-satunya selama kami berada di Swiss. Kami harus benar-benar memanfaatkannya dengan pergi jalan-jalan. Setelah berdiskusi dengan mbak dan mas-mas yang lain di malam sebelumnya, kami bersepakat tujuan pertama adalah ke kota Aarberg, selanjutnya baru Biel / Bienne. Berdasarkan informasi yang kami dapat dari Schwab, di Aarberg terdapat sebuah kota tua.

Sebelum berangkat, terlebih dulu kami menikmati sarapan di hotel Sepats. Saat itu saya hanya berharap, akan mendapatkan menu sarapan yang berbeda, setelah di hari-hari sebelumnya kita terbiasa memulai hari dengan makan roti. Syukur-syukur dikasih omelet atau omurice.

Ternyata, harapan tinggal lah harapan. Hidangan yang disajikan masih roti-rotian, Croissant dan sejenis 'Baguette'. Sedikit syok saat mengetahui menunya hanya yang sudah tersedia di meja saja. Tak bisa nambah. Alasan dari pihak hotel, sang koki sedang liburan. Tapi sebenarnya, menu di meja itu sudah masuk kategori banyak, buktinya kami tetap kenyang. Alhamdulillah.

Croissant and Coffee
Menu sarapan yaitu croissant dan
coffee dengan creamer

Setelah menyelesaikan agenda sarapan (baca juga makanan selama di Swiss), kami bersiap untuk pergi. Sebelum berangkat, saya kembali mengecek beberapa perlengkapan yang harus dibawa. Jaket, sarung tangan, payung, kupluk, botol air minum dan makanan kecil. Untuk makanan kecil, cocok sekali dengan membawa roti Croissant sisa sarapan tadi.  

Pintu masuk hotel Sepats


Naik Bus 


Jarak Lyss ke Aarberg sebenarnya cukup dekat, tak lebih dari 6 km. Ada dua pilihan untuk menuju ke Aarberg, yaitu naik kereta atau bus. Kami memilih naik bus saja. Alasannya sederhana, kami ingin menjajal jenis moda transportasi yang lain di sini. Agar lebih banyak mencicip pengalaman.

Lokasi Aarberg Switzerland
Jarak Lyss ke Aarberg

Setelah berjalan beberapa menit, kami sampai di terminal bus. Lokasinya tepat di samping Stasiun Lyss. Suasananya sepi, tak ada satupun calo yang berteriak-teriak mencari 'korban' menawarkan bus seperti di tanah air. Benar-benar terminal yang aman dan nyaman .

Papan informasi Terminal Lyss

Di bagian Halte nya terdapat papan informasi digital jadwal keberangkatan bus. Kita bisa tahu kapan bus akan datang dan pergi, juga arah mau kemana. Jadwalnya sudah pasti, tak harus menunggu penumpang penuh.

Lokasi terminal bus di Lyss

Sambil menunggu bus datang kami duduk-duduk di Halte, ada pula yang foto-foto. Sepi sekali pagi itu. Selain kami, ada seorang gadis muda berperawakan tinggi berdiri di dekat kami. Sekelebat ide tiba-tiba muncul. Ide minta tolong untuk memfoto kami ber-empat. Sopan nggak sih? ha ha.

Kami membujuk Nala, satu-satunya perempuan dalam rombongan kami agar sedikit berbasa-basi ke mbak-nya sebelum minta tolong. Dari obrolan, rupanya gadis itu pernah berkunjung dan tinggal di Indonesia. Meski tak lama, dia pernah ke Sulawesi dan beberapa lamanya tinggal disana. Selesai berbasa-basi, jurus terakhirpun dikeluarkan, minta difoto. 

Dan inilah hasil jepretan si gadis Swiss tadi.

Mengabadikan momen saat di terminal Lyss

Tak lama berselang, bus yang kita nanti-nantikan akhirnya datang juga. Sebuah articulated bus berwarna merah berhenti tepat di samping Halte. Kami dibuat excited dengan kondisi bus yang sangat bersih. Sebelum mencari tempat duduk, kami terlebih dahulu mondar-mandir melihat-lihat interior bus. Maklum, baru pertama kali naik bus, jadi agak cengengesan disana-sini. Tidak sadar, gerak-gerik kami dipantau oleh orang tak dikenal.

Bus di Terminal Lyss
Suasana Terminal Lyss

Normalnya kami harus membeli tiket terlebih dahulu sebelum naik ke dalam bus. Namun, karena baru pertama kali naik bus di negara ini, kami pun kebingungan, tak tahu bagaimana caranya naik bus. Sayangnya, kami juga tidak mencari referensi sebelumnya tentang bagaimana cara naik bus. Pikir kami, tiketnya bisa dibeli langsung di dalam bus atau bisa pakai uang cash.

Usaha kami adalah melobi pak supir, agar dapat menggunakan uang cash. Dan alhamdulillah, lobipun berhasil setelah sebelumnya kena omelan karena dianggap kami bertingkah kurang sopan. Padahal ya biasa ae lho pak..pak! Gerutu kami dengan nada kesal.

Articulated Bus sedang parkir di terminal Lyss

Beberapa menit duduk terdiam dan introspeksi diri didalam bus, jadwal keberangkatan pun tiba. Bus mulai bergerak dengan akselerasi sedang. Menyusuri jalan-jalan yang biasa kita lalui dengan jalan kaki. Beberapa menit bergerak, kamipun melintasi area persawahan yang menandakan kami sudah keluar dari desa Lyss.

Menuju Aarberg, Artistik Sang Kota Tua


Jarak antara Lyss dan Aarberg memang dekat. Tak lebih dari perjalanan 10 menit, kamipun sudah tiba di kota Aarberg. Mirip dengan Lyss, lokasi terminal di kota Aarberg juga bersebelahan dengan Stasiun Aarberg.

Ah, saya jadi paham mengapa di halte ataupun di dalam bus tidak kami temukan mesin tiket? Itu karena lokasi pembelian tiketnya sudah disediakan di area stasiun. Sedangkan halte bus dan stasiun kereta berada di lokasi yang berdekatan. Saat kita membeli tiket harian (single ticket), itu bisa dipakai untuk naik bus dan kereta selama masih berada dalam satu zona. Cukup memudahkan, satu tiket untuk semua.

Keluar dari bus, kami seperti orang hilang, clingak-clinguk bingung mencari lokasi sang Kota Tua.

Bersambung ...



Sunday, May 10, 2020

0 Takjil Buka Puasa

Bulan Ramadhan di tahun ini terasa sangat berbeda. Masjid dan Mushola yang biasanya penuh dengan para jamaah, kini sepi dan bahkan dilarang untuk digunakan. Untuk alasan kesehatan, sholat tarawih dan tadarus kali ini harus dilakukan di rumah masing-masing. Bersama dengan keluarga. #DiRumahAja, begitulah slogan yang kini marak digaungkan.

Meskipun begitu, rupanya masih sering terdengar ada suara orang mengaji di Mushola dan Masjid. Seperti pak Mahfud, tetangga saya. Meski tidak sholat tarawih di Mushola, beliau ternyata aktif setiap hari mengaji sendirian dengan pengeras suara di Mushola. Di tengah pandemi, Mushola di perumahan kami memang sudah lama tidak digunakan untuk sholat berjamaah. Tentu aman bagi pak Mahfudz ber-tadarus sendirian. Mendengar suara ngaji beliau, rasanya hati jadi adem dan ayem. Ramadhan kareem.


Ilustasi Ramadhan
(foto: Pixabay)


Di sisi lain, ada banyak dari kita yang ingin sekali mengadakan acara iftar atau buka puasa bareng (bukber) bersama dengan teman, sahabat atau kolega di kantor. Namun, Ramadhan tahun ini kembali berbeda, kita disarankan untuk berbuka puasa di rumah masing-masing. Selain karena banyak rumah makan dan restoran ditutup sementara atau hanya melayani pembelian yang dibawa pulang (take away order). Semua berusaha menjaga kesehatan diri masing-masing.


Kalau dipikir-pikir, terasa sedih memang. Tapi insyaAllah kondisi ini akan berjalan sementara. Badai apapun pasti akan berlalu. Bukankah Allah sudah berfirman, "Sesungguhnya, sesudah kesulitan itu ada kemudahan." (QS.
Al-Insyirah: 6).


Bila Ramadhan kali ini banyak hal yang tampak berbeda, namun rupanya ada satu hal yang rasanya akan tetep sama, yaitu Takjil saat buka puasa ^_^.
Saat bedug maghrib sudah ditabuh dan suara adzan berkumandang saling bersahut, perut tak langsung dihajar dengan makanan besar. Ada hidangan ringan yang disantap terlebih dulu. Namanya Takjil. Meskipun istilah ini tidak sepenuhnya benar.

Takjil biasanya dibuat dari bahan-bahan makanan yang manis dan lembut. Dengan tekstur yang demikian, diharapkan perut akan terasa lebih nyaman setelah selama lebih dari dua belas jam dalam keadaan kosong.

Takjil Buka Puasa
Gorengan, menu favorit untuk takjil
(foto: Pixabay)


Takjil Buka Puasa

Istilah takjil di masyarakat sebenarnya sudah bergeser dari makna yang benar. Takjil berasal dari kata 'ajila yang berarti menyegerakan (berbuka). Tetapi kita sudah terlanjur mengartikannya sebagai makanan atau hidangan untuk berbuka puasa. Di masyarakat umum makna ini juga sudah diterima sebagai sebuah kewajaran. Ah, hanya istilah saja, siapa peduli.


Kali ini saya akan merangkum hidangan-hidangan takjil favorit saya, dan bisa jadi favorit kamu juga. 

Makanan

Kurma

Kurma menjadi hidangan takjil paling umum, termasuk di Indonesia. Hal ini sesuai tuntunan baginda Nabi shalallahu alaihi wassalam dimana dianjurkan untuk berbuka dengan kurma sebelum makanan lainnya. Makan satu biji atau tiga biji (ganjil) buah kurma cukup sebagai awalan untuk menyantap hidangan lainnya. Kurma mampu mengembalikan energi yang hilang saat kita berpuasa.

Kurma memiliki kandungan serat yang dibutuhkan oleh tubuh. Ada beberapa jenis kurma yang pernah saya makan. Yang paling enak menurut saya adalah Kurma Ajwa (biasa disebut kurma Nabi). Harganya mahal.

Kurma Ajwa
Kurma Ajwa
(foto: google)


Kurma Kering
Kurma kering
(foto: Pixabay)

Aneka Gorengan

Meski dikatakan tidak sehat, gorengan tetap menjadi makanan favorit saya untuk takjil. Setidaknya itu adalah menu juara bagi saya selama Ramadhan. Foto dibawah ini adalah bukti bahwa gorengan menjadi menu utama takjil di rumah. Tahun lalu biasanya saya selalu beli di luar, namun di Ramadhan kali ini istri memasaknya sendiri.

Saat adzan maghrib sudah berkumandang, berdoa sebentar, kemudian minum teh, makan kurma, lanjut dengan makan gorengan ditambah dengan sambal petis. Maknyus ^_^.

Gorengan buka Puasa
Tempe Goreng dan Bakwan atau Bala-bala

Getuk Ketela
Tempe gorengan + Getuk ketela dengan isi cokelat

Sambal Petis

Tidak lengkap rasanya jika menikmati gorengan tanpa adanya sambal petis. Sambal ini juga home made. Beli petis di tukang sayur, kemudian diracik istri saya menjadi sambal petis yang wee..nak.

Sambal Petis
Sambal petis sebagai pelengkap gorengan

Minuman

Sedangkan untuk minuman, sepertinya hegemoni sirup makin tak terbendung. Biasanya dulu bersaing sengit dengan kolak, namun membuat kolak itu tak mudah dan butuh waktu. Hal tersebut yang menjadikan minuman sirup paling diminati sebagai pendamping hidangan takjil.

Saya beberapa kali berselisih pendapat dengan istri mengenai istilah sirup ini. Saya menyebutnya Orson. Dia bilang, "Abi kayak orang dulu. Sirup dibilang Orson!". Iya memang, saya adalah generasi Jiban dan winspector. Hanya yang paham yang ketawa ^_^

Sirup / Orson

Sirup + Kurma + gorengan

Es Sirup
(sumber: google)

Kolak

Nah, ini dia pesaingnya sirup. Jenis minuman yang ramai dibuat saat Ramadhan. Ah, jadi ingat kolak Nangka buat bapak. Rasanya ingin sekali menikmati kolak lagi buatan beliau. Semoga selesai pandemi ini, saya berkesempatan untuk menikmati lagi kolak Nangka terlezat itu.

Ilustrasi kolak nangka
(sumber : google)

Es Dawet

Saya suka sekali dengan es Dawet ini. Rasanya sangat enak dan gurih. Setiap kali pergi ke warung atau tempat makan yang ada es Dawetnya, saya seringkali memesannya. Es ini aslinya dari Banjarnegara. Orang Bandung mengatakan ini es Cendol. Entahlah, sama atau tidak. Tapi yang jelas keduanya sama-sama enak. 

Es Dawet pak Tho

Es Dawet untuk Buka Puasa
Es Dawet Buka Puasa
Es Dawet
(sumber : google)


Kalau menu Takjil buka puasa favoritmu apa?



Monday, May 4, 2020

0 Makanan Selama di Swiss

Tulisan kali ini masih merupakan kelanjutan dari tulisan-tulisan saya sebelumnya yaitu Perjalanan ke Negeri Switzerland, dan Perjalanan ke Negeri Switzerland part 2, serta yang terakhir adalah Hari Pertama di Switzerland.

Tema kali ini akan saya geser ke sudut padang yang agak sedikit berbeda. Saya akan mengupas tentang makanan. Yup, makanan apa saja yang sudah menyuplai energi selama mengembara di Swiss kemarin.

One should eat to live, but not live to eat
--someone

Makanan Selama di Swiss


Ada banyak sekali kesan dan cerita seru tentang pengalaman saya pergi ke Swiss yang ingin saya bagi di dalam blog ini. Salah satu pengalaman yang cukup berkesan adalah saat mencicipi berbagai makanan disana. Wah, kira-kira apa saja ya jenis makanannya? Apakah mungkin ada Rawon, nasi pecel, atau mungkin nasi padang? Yuk! langsung dibahas saja.

Menu Sarapan

Selama 12 hari mbolang di Swiss bersama 3 rekan yang lain yaitu Nala, Agri dan Rizqi, momen sarapan adalah waktu yang benar-benar saya tunggu dan nikmati. Kenapa? Ya, karena di waktu itulah saya bisa mencicipi hidangan sarapan khas eropa yang benar-benar berbeda dari biasanya. Tak hanya dari makanannya, tapi juga dari suasananya.

Kala itu kami menginap di hotel Weisses Kreuz. Sebuah hotel yang berada di jalan Marktplatz, kota Lyss (orang disana menyebutnya sebagai Lyss village atau desa Lyss). Padahal lebih masuk akal jika disebut sebuah kota. Kalau diamati sekilas, hotel tersebut tampak seperti bangunan Eropa kuno. Kesan seram langsung terasa. Terbayang film horor Conjuring.

Namun, kesan tersebut langsung hilang saat kami masuk ke dalamnya. Astaga, hotel ini ternyata berkonsep modern lho.

Hotel Weisses Kreuz

Jadwal makan pagi di hotel ini dimulai pukul 06.00 - 09.00 (perlu dikonfirmasi lagi, lupa). Itu adalah jadwal saat di hari aktif. Nah kalau di saat weekend, jadwalnya sedikit berbeda, dimulai pada pukul 07.00-10.00 waktu setempat.

Kalau di hari aktif, biasanya kami sarapan mulai pukul 06.30. Itu suasananya masih gelap banget lho. Ya kalau di Indonesia mungkin seperti suasana jam 4 pagi-an. Tapi disini, orang Swiss sudah memulai hari mereka dengan semangat. Mereka sudah terbiasa dengan suasana di musim dingin.

Di musim dingin waktu malamnya akan lebih panjang daripada waktu siangnya. Sinar matahari baru akan kelihatan sekitar pukul 8 pagi. Itupun tidak terik. Suhu udara sekitar 5 derajat Celcius, bahkan bisa kurang dari itu. Matahari akan terlihat condong ke selatan.

Ketika waktu sarapan telah tiba, biasanya kami akan saling menunggu satu sama lain. Jika semua sudah siap, satu per satu langsung menuju lokasi ruang makan. Berharap ada menu istimewa berganti setiap hari.  

Sarapan di Hotel Weisses Kreuz
Meja pertama, aneka minuman jus dan buah

Sesaat memasuki ruang makan, kami langsung diperlihatkan dengan meja yang berisi penuh dengan minuman ber-alkohol berbagai merek. Entah ini hanya sekedar pajangan atau memang untuk dijual.

Minuman alkohol
(Credit: Nala)

Bagi orang Swiss, sepertinya hal itu sudah biasa. Minuman alkohol selalu memiliki daya tarik tersendiri bagi mereka. Apalagi ini sedang musim dingin. Katanya sih, itu bisa menghangatkan badan. Itu katanya lho ya! Saya sendiri belum pernah mencobanya dan tidak punya niat untuk mencoba. 

Menu sarapan sereal dan susu di Swiss
Meja berikutnya disediakan Sereal, Selai, Roti, Susu, 
Keju dan Salad

Disamping meja pertama terdapat meja kedua yang menyajikan menu sereal. Ada juga varian selai dengan berbagai macam rasa seperti coklat, madu dan strowbery (merk Schenk).

Oh iya, untuk selai, kami harus sedikit berhati-hati dalam memilih. Kemarin sempat sekali ketahuan ada 1 jenis selai yang ternyata terbuat dari bahan hewani. Tentu ini membuat kami agak ragu. Kami memilih untuk tak memakannya. Kami disini benar-benar dituntut harus lebih teliti lagi. Kalau merasa ragu halal atau tidak, lebih baik segera ditanyakan terlebih dahulu kepada pelayan.

Momen langka mengiris roti baguette
Bisa dibilang nyaris tidak ada varian makanan yang kami coba di menu sarapan di hotel ini. Ada sih varian baru di hari kedua, itupun telur rebus (hard boiled eggs). Eh, itu dianggap menu baru ndak sih? he he.

Hotel ini benar-benar tidak menyediakan menu yang lain selama kami menginap. Ceritanya kami pernah memberanikan diri untuk memesan menu lain yaitu omelet, namun entahlah, pada akhirnya permintaan kami tidak dipenuhi juga. Sedih. ha ha.

Sebenarnya menu sarapan di hotel ini sudah mewah sekali, hanya saja perut kami tak terbiasa sarapan pakai roti terus. Orang jawa bilang, "dianggap belum makan, kalau belum makan nasi".  

Dan inilah menu sarapan kami selama berada di hotel Weisses Kreuz.

Sarapan di Swiss
Menu Breakfast di Hotel Weisses Kreuz

Kesan di hari pertama benar-benar istimewa, namun lama kelamaan kok jadi agak bosan juga ya dengan menu yang itu-itu saja. Oh iya, sebenarnya ada menu lain yang disajikan yaitu burger / sandwich. Tapi kami tidak berani mencoba karena dagingnya terindikasi tidak halal.

Kopi di Pagi Hari 

Jadi kalau disimpulkan, menu tetap sarapan di pagi hari adalah sebagai berikut :
  • Sereal ditambah dengan susu sapi
  • Roti + selai (coklat, madu, strawberry)
  • Salad sayur dan buah
  • Aneka minuman jus dan kopi. Bisa pilih kopi hitam (black coffee) atau ditambah susu / cream.
  • Telur rebus (hard boiled eggs)
Kebersamaan di negeri orang
Kopi hitam adalah pelengkap yang membuat menu sarapan yang tak berganti ini tetap menjadi momen istimewa yang berkesan hingga kini.

Menu Makan Siang

Untuk menu makan siang, selama 10 hari (exclude weekend ya) telah disediakan oleh kolega kami di Swiss. Jadi kami menerima saja menu yang diberikan oleh mereka. Kami hanya memberikan batas-batas mana makanan yang tidak boleh kami makan (haram) dan mana makanan yang bisa kami makan (halal). Memilih makanan-makanan yang selain daging adalah menu yang paling aman bagi kami. Kolega kami disana baik sekali. Memenuhi segala kebutuhan kami.

Dan berikut ini adalah beberapa menu makan siang yang diberikan kepada kami :

Menu Felfel, nasi +ikan Salmon mentah + 
potongan buah + mayonese
Ini menu pertama saya saat makan siang. Rasanya awalnya enak sih, tapi setelah masuk ke perut agak banyak, rasanya agak gimana gitu. Mungkin karena disajikan dalam kondisi dingin. Rasanya kurang bersahabat dengan perut saya. Rasa ikan salmon yang masih mentah terasa kurang enak. Jujur waktu itu saya tidak berhasil menghabiskan makanan ini. hi hi. 

Semacam 'Siomay', tekstur nya kenyal, ditaburi keju
Menu yang satu ini rasanya cukup enak. Rasanya baru pertama kali seumur hidup saya makan jenis makanan yang satu ini. Ya lumayanlah, bisa menambah porto folio lidah dalam petualangan rasa.

Pasta dengan saus tomat dan taburan keju
Saya beberapa kali menyantap makanan jenis pasta. Rasanya ya begitu, tidak ada yang berbeda. Dengan porsi yang cukup besar, saya tetap bisa menghabiskannya. Enak!

Nasi putih, sayur seperti sop, semacam nugget 
dan sambal tomat
Menu yang satu ini cukup familiar dengan lidah saya. Jadi rasanya ya pas saja. Cukup enak dan saya bisa menghabiskannya meskipun dengan porsi nasi yang lumayan banyak. Menu yang satu ini membuat saya merasa seperti di rumah. Maknyus.

1 Kentang ukuran jumbo, Ikan laut, dan tumis terong
Menu dengan kentang ukuran besar ini saya benar-benar suka. Kalau dilihat diatas piring, tampilannya terlihat praktis. Dari rasanya juga enak sekali. Saya suka dengan potongan ikan goreng-nya. Ketika saya berbincang-bincang dengan kolega kami, ternyata ikannya itu berasal di salah satu danau yang ada di Swiss. Ini bukan ikan laut, karena negara Swiss tidak memiliki laut.

Kentang goreng yang diiris kotak-kotak, 
ikan goreng, dan salad sayur
Nah menu pada foto terakhir ini adalah yang paling istimewa menurut saya. Ini menjadi menu terfavorit saya. Bahkan seingat saya, waktu itu saya minta kepada Amanda (sang chef di dapur) untuk nambah kentang gorengnya. Ini satu-satunya menu makanan yang saya minta nambah. Jujur sebenarnya agak malu-maluin juga waktu itu. Tapi ya gimana lagi, lezat sih ^_^

 

Menu Makan Malam

Saat malam tiba, sebenarnya kami jarang sekali mencari makanan di luar. Selain karena sudah kecapekan sehabis training, tetapi juga karena mencari makanan halal di Swiss itu tidak mudah. Seingat saya hanya dua kali saja kami pergi ke luar hotel untuk mencari makan malam.

Default makan malam saya, kalau tidak makan mie instan,
ya bubur instan ditambah dengan telur rebus.
Kok kayak anak kost ya? ^_^

Makan Malam di Luar, pada Kesempatan Pertama

Momen pertama kali makan di luar adalah saat ingin mencoba makanan Kebab. Oh iya, ada sedikit cerita menarik soal Kebab ini.

Jadi ceritanya waktu itu kami baru saja pulang dari training dan ingin mencoba sesuatu (makanan) yang beda. Mengapa ingin beda? ya karena defaultnya kami hanya bisa makan di dalam kamar hotel. Itupun dengan masak mie atau bubur instan ditambah dengan telur rebus. Bahkan, ada seseorang dari kami yang hanya makan sosis saja. Menyedihkan ya.

Oke kita kembali lagi membahas soal Kebab tadi. Saat pertama datang ke Lyss, kami ingat di depan stasiun terdapat sebuah warung Kebab. Pikir kami waktu itu, Kebabnya pasti halal. Ya kan namanya saja 'Kebab', itu kan identik dengan Kebab Timur Tengah yang mayoritas negeri muslim. Siapa tahu penjualnya berasal dari negeri muslim. Di Jerman saja (tetangganya Swiss), banyak sekali warung Kebab yang halal.

Nah, sesampainya di warung Kebab tersebut, sang pelayan terlihat masih sibuk melayani pesanan 2 orang tamu pembeli. Tentu saja kami harus menunggu sebentar sambil melihat-lihat poster atau iklan yang ditempel pada pintu warung tersebut. Dalam hati, sebenarnya saya juga sedang mencari-cari, adakah logo halal di warung ini. Beberapa menit mencari kok tidak ketemu ya. Ah, makin ragu saja.

Setelah sang pelayan selesai memenuhi pesanan 2 tamu sebelumnya, kami langsung mendekati sang pelayan dan bertanya,

"Pak, Kebabnya Halal kan?" tanya kami.

Sesaat dia mengamati kami. Sepertinya dia sadar kami pendatang dari negeri muslim.

"Maaf, Kebab disini (Swiss) kebanyakan tidak halal", jawab sang pelayan sambil menggeleng-gelengkan kepala.

Setelah ngobrol lebih lanjut dapat disimpulkan bahwa di negara Swiss terdapat aturan dilarang untuk membunuh binatang apapun dengan cara disembelih.

Padahal kita (umat Islam) diajarkan tentang mekanisme penyembelihan hewan dengan cara disembelih. Itu sudah menjadi tuntunan wajib dan syarat rukun yang harus dipenuhi agar daging hewan yang akan kita konsumsi, statusnya menjadi halal. Mengetahui fakta tersebut, kami mengurungkan niat. Berbalik arah, keluar dari warung itu dengan tangan kosong.

Kecewa karena tidak berhasil memakan Kebab, akhirnya kami pergi ke McDonald (McD) untuk sekedar pesan kentang goreng. Lokasi McD tidak jauh dari warung Kebab tadi. Tak apalah tidak makan Kebab, minimal saya bisa makan kentang goreng. Masak harus makan bubur lagi?

Kentang goreng McD di Lyss, Swiss

Di McD, saya, Risqi dan Agri hanya memesan kentang goreng saja, sedangkan Nala punya pesanan berbeda. Dia memesan burger. Wow, mendengar burger, pastinya yang terlintas di pikiran saya adalah adanya potongan daging di dalamnya. Namun, setelah menelisik lebih lanjut rupanya burger yang dipesan bukan sembarang burger. Namanya Vegan Burger. Katanya sih, semua bahan-bahannya berasal dari tumbuh-tumbuhan, tidak ada satupun yang berasal dari hewan. Ini burger yang dikhususkan untuk vegetarian. Bismillah, halal.

Makan Malam di Luar, pada Kesempatan Kedua

Di kesempatan yang kedua, akhirnya saya tergoda juga dengan burger Vegan yang dimakan oleh Nala pada kesempatan pertama kemarin. Kapan lagi kan bisa nyobain Vegan Burger di Swiss. Dan ini adalah penampakannya.

Vegan Burger ukuran besar bikin langsung kenyang

Yup. Seperti itulah makanan kami selama 12 hari berada di Swiss. Sampai bertemu di cerita-cerita menarik berikutnya. See you in the next blog post. Bye..

Friday, April 10, 2020

2 Hari Pertama di Switzerland

Semenjak diumumkan penderita virus Corona pertama di Indonesia oleh Presiden awal maret lalu, semua headline media mainsream dan sosial media penuh dengan tema virus mematikan itu. Bahkan di group-group WA juga tak luput dari pembahasan update Covid-19. Tidak ada yang salah sebenarnya, karena semua orang memang sedang waspada memantau perkembangan virus yang belum ada vaksin-nya tersebut.

Tapi ingat kawan, bila kita terlalu banyak mengkonsumsi berita-berita terkait virus Corona, bisa jadi kita akan terkena gejala Psikosomatis. Apa itu? Gejala dimana tiba-tiba kita merasa seperti agak meriang, tenggorokan agak nyeri atau bahkan seolah-olah mengalami sesak nafas. Namun jangan khawatir, itu gejala wajar dan tidak berbahaya. Namun bila kondisi tersebut berlangsung lama akan membuat kita stres dan takut sendiri. Bila kita stres, panik dan takut, bisa menurunkan imunitas tubuh kita. Maka sejenak saya mengajak temen-temen semua untuk sedikit mengurangi konsumsi berita virus-virusan. Agar pikiran menjadi lebih santai, kali ini saya ajak teman-teman untuk berkunjung ke negeri Switzerland.




Hari Pertama

Hari itu tanggal 8 Desember 2019, sekitar 1,5 bulan sebelum virus Corona mulai mewabah dan menjadi pandemik dunia. Setelah keluar dari Bandara Internasional Zurich, saya bersama dengan 3 orang kawan segera mencari lokasi stasiun kereta api yang akan membawa kami ke sebuah kota kecil bernama Lyss. Di kota itulah kami akan menghabiskan waktu 12 hari untuk keperluan training.

Bagusnya di negara maju adalah sistem transportasi yang sudah terintegrasi. Bila kita tiba di bandara Zurich, maka untuk menuju berbagai lokasi di Swiss sangatlah mudah. Lokasi stasiun kereta juga berada tepat di sebelah bandara. Namanya stasiun Zurich Flughafen. Dari stasiun ini, kamu bisa pergi menjelajah seluruh penjuru negeri Switzerland.
Stasiun Zurich Flughafen
Suasana Stasiun Zurich Flughafen

Sebelum membeli tiket kereta, terlebih dahulu kami mencari lokasi 'money changer' untuk menukar uang. Mata uang yang berlaku di negara ini adalah Swiss Franc, sedangkan kami membawa mata uang Dollar USD. Agar bisa membeli tiket kereta api/ bus dan juga berbelanja, maka kita harus menukar uang tersebut. Kalau di-kurskan, 1 USD itu setara dengan 0.98 Swiss Franc. Wow, ternyata nilai tukar mata uang Swiss lebih tinggi dibandingkan dengan mata uang Dollar Amerika.

Mencari money changer di Swiss
Lokasi Money Changer

Jika diperhatikan dengan seksama, ternyata kualitas dari uang kertas Swiss Franc sangatlah bagus. Terlihat dari desain, ketebalan dan bahan kertasnya. Rasanya memegang uang Swiss Franc ada tambahan rasa percaya diri.

Uang Kertas Swiss Franc

Setelah menukar uang, kami segera menuju ke tempat reservasi tiket kereta. Kali ini kami akan naik kereta yang dioperasikan oleh operator SBB-CFF-FFS. Perlu diketahui bahwa di Swiss terdapat lebih dari satu operator kereta. Yang terbesar adalah SBB-CFF-FFS tersebut. Lokasi reservasi tiket kereta terlihat tidak seperti di Indonesia. Tidak ada antrian orang yang berjubel. Mungkin mayoritas orang Swiss sudah memiliki kartu 'Swiss Pass' atau sejenisnya. Singkatnya, kartu tersebut digunakan untuk naik kereta api di waktu kapanpun dan tujuan kemanapun selama itu masih berada di wilayah negara Swiss. Jika kamu berencana tinggal di Swiss dalam waktu yang lama, maka direkomendasikan untuk memiliki 'Swiss Pass' ini. Kamu bisa naik kereta, bus atau Tram hanya dengan satu kartu itu. Analogi sederhananya, ini adalah tiket 'all you can eat'. Jauh lebih hemat bila dibandingkan dengan membeli tiket sekali jalan seperti yang kami lakukan ini.

Membeli tiket kereta di Swiss
Membeli tiket kereta di Swiss

Harga tiket dari stasiun Zurich Flughafen ke kota Lyss sebesar 61 CHF (atau setara Rp. 1.020.000,-). Jarak antara Zurich ke Lyss sekitar 136 km, itu seperti perjalanan dari Jakarta ke Bandung. Bentuk tiketnya seperti ini.

tiket kereta di Swiss
Tiket Zurich-Lyss (kelas 2) seharga 61 CHF

Naik Kereta Zurich - Lyss

Salah satu momen yang saya tunggu-tunggu saat berada di Swiss adalah naik kereta api nya. Selain itu, tentunya kami bisa menikmati pemandangan pegunungan salju khas Switzerland yang indah dari balik jendela. Di Swiss terdapat deretan pegunungan yang puncaknya selalu tertutup salju sepanjang tahun, apapun musimnya. Keren kan?

Tiba di Stasiun Zurich Flughafen
Saat di Stasiun Zurich Flughafen

Satu hal terpenting yang harus diperhatikan saat akan naik kereta di Swiss adalah kita harus tahu jadwal kereta yang akan kita naiki. Untuk melihat jadwal kereta di Swiss, silahkan install aplikasi 'SBB Mobile'.
Aplikasi SBB Mobile untuk melihat jadwal kereta di Swiss
Aplikasi SBB Mobile untuk melihat jadwal kereta

Tidak seperti di Indonesia dimana setiap tiket sudah tertulis nama kereta dan jadwal keberangkatannya, namun di Swiss aturan tiketnya berbeda. Kita bebas memilih jadwal keberangkatan selama masih dalam rentang waktu yang ada. Semisal saja seperti yang tertulis di tiket saya, bahwa tiket berlaku pada rentang waktu tanggal 8-12-2019 pukul 00.00 sampai dengan tanggal 9-12-2019 pukul 05.00. Nah saya bebas memilih kapan akan berangkat selama masih berada di rentang waktu tersebut.

Peron Keberangkatan Stasiun Zurich Flughafen
Di setiap lorong terdapat informasi kereta dan jadwalnya

Siang itu sekitar pukul 13.00 waktu Swiss, setelah mendapatkan tiket kami langsung menuju ke lokasi peron keberangkatan. Udara saya rasakan begitu dingin menusuk tulang. Sambil membawa koper kami duduk-duduk menunggu di titik keberangkatan kereta. Oh iya, harap diperhatikan bahwa kereta di Swiss terdapat 2 kelas untuk penumpang, kelas 1 dan kelas 2. Saya saat itu memilih kelas 2. Yah karena kelas 2 lebih murah dibandingkan dengan kelas 1 ^_^. Pastikan juga kita masuk ke pintu kereta yang sesuai dengan kelas yang tertera di tiket.

Kereta kelas 2 di Swiss
Pintu masuk kereta kelas 2

Yang unik dari kereta api di Swiss adalah tempat duduknya yang saling berhadap-hadapan. Dan di setiap tempat duduk terdapat meja kecil yang bisa digunakan untuk menaruh HP, buku atau tas kecil. Di sebelah atas jendela, kita juga bisa menemukan colokan untuk nge-charge HP. Jika kamu ingin membuang sampah, disediakan juga tempat sampah kecil yang berada di bawah meja. Ingat selalu untuk menjaga kebersihan dan sopan santun, apalagi kita sedang berada di negeri orang.

Naik kereta api di Swiss
Saat berada di dalam Kereta Zurich-Lyss

Suasana berbeda langsung terasa sesaat memasuki kereta. Interior khas eropa tampak apik disana sini. Wajah-wajah bule yang putih dengan hidung mancung memenuhi tempat duduk yang ada. Mereka mayoritas, dan kini wajah Asia-kami jadi tampak asing, he he.

Ah, saya menikmati sekali perjalanan kali ini. Lelah 20 jam perjalanan via pesawat berikut transitnya seperti terbayar sudah dengan perjalanan kereta kali ini. Sesekali saya juga bercanda dengan 3 kawan saya yang juga tampak excited dengan suasana baru ini.

Setelah mendapat tempat duduk yang nyaman, kita bergantian sholat Dhuhur dan Ashar. Di bandara Internasional Zurich kita tidak menemukan mushola atau prayer room, akhirnya kami memilih melaksanakan sholat di dalam kereta.

Dari balik jendela, deretan pegunungan salju seperti menyambut kami. Inikah negeri dongeng itu. Welcome to Switzerland!
Interior kereta Swiss
Terdapat tangga menuju lantai atas

Berada di dalam kereta Swiss
Dari Zurich transit dulu di Bern, sebelum menuju ke Lyss

Interior kereta Swiss
Jika kamu tidak mendapatkan tempat duduk, kamu bisa memanfaatkan semacam bantal yang dipasang di dinding ini untuk bersandar.

Tiba di Kota Lyss

Setelah 2 jam perjalanan akhirnya kami tiba di stasiun Bern. Stasiun ini berada di ibu kota negara Swiss yaitu Bern. Kita akan transit terlebih dahulu, ganti kereta sebelum menuju kota Lyss. Jarak antara kota Bern dengan Lyss tidak terlalu jauh. Dengan kereta, memakan waktu perjalanan sekitar 20 menit.
Kereta api di Swiss
Saat transit di Bern, nampang dulu di depan kereta

Dari stasiun Bern kita melanjutkan perjalanan ke kota Lyss. Kalau diibaratkan Lyss adalah sebuah desa / kecamatan di Swiss. Kotanya kecil, namun sangat rapi dan indah. Setelah 20 menit perjalanan, akhirnya kami sampai di stasiun Lyss. Tenang sekali rasanya kota ini. Keluar dari stasiun, kami langsung disuguhi jalan-jalan dan trotoar yang rapi.

Sambil berjalan menarik koper masing-masing, kami menikmati sekali pemandangan kota ini. Waktu sudah hampir maghrib, udara semakin dingin saja. Kami harus secepatnya menemukan hotel tempat kami tinggal sebelum kemalaman.

Nama hotelnya adalah Weisses Kreuz. Kalau dari peta, tidak terlalu jauh dari stasiun Lyss. Untung di Swiss kami masih leluasa memakai google Maps. Benar-benar menjadi aplikasi penolong disaat-saat seperti ini. Setelah jalan beberapa menit, kami menemukan jalan 'Marktplatz'. Artinya hotel sudah tidak jauh lagi.

Jalan Marktplatz Swiss
Jalan Marktplatz, Lyss, Swiss

Sebelum matahari benar-benar terbenam, akhirnya kami berhasil menemukan hotel Weisses Kreuz. Setelah perjalanan yang teramat panjang, kami seperti tak sabar untuk segera memasuki kamar hotel untuk merebahkan badan. Setelah masuk ke dalam kamar masing-masing, tak lama berselang rasa kantuk tiba-tiba hinggap tak tertahankan. Masih jam 6 sore, tapi di Indonesia sudah tengah malam. Jet lag?

Baca juga : Makanan Selama di Swiss

Total Pengunjung

 

Inspirasi Coffee Copyright © 2011 - |- Template created by O Pregador - |- Powered by Blogger Templates