Selamat datang di gubug Inspirasi Coffee. Blog ini dikelola oleh penulis sejak September 2008. Sampai sekarang, semangat untuk menulis masih meletup-letup dan terasa kian meletup menarikan pena melukiskan prasasti demi prasasti kehidupan. Hak cipta dilindungi oleh Allah Azza wa Jalla.
Selamat Membaca ^_^

Sunday, January 7, 2018

0 Kisah Perjalanan Umroh : Episode Madinah - Bagian 6

Cerita sebelumnya bisa dibaca pada bagian ini : Madinah bagian 5

Sore, 6 Maret 2017

Sore itu aku berada di depan warung kebab di dekat Hotel Al-Safwa (tempat aku menginap). Sambil menunggu pesanan kebabku, aku memandangi sang koki yang cukup energik menyiapkan pesanan. Tangannya cekatan membuat racikan. Aku hanya bisa berdiri terpaku sambil melihatnya dengan seksama. Sekilas, penampilannya layaknya seorang chef hebat. Dengan peci putih di kepala, balutan baju putih yang senantiasa tampak bersih. Ia juga terlihat cukup higienis, tangan kirinya tampak terbungus plastik. Sedang tangan kanannya terlihat lihai memainkan pisau. Ah, aku jadi teringat dengan acara Chef Table di NET TV yang dibawakan oleh Chef Candra. Namun, tampilan celana jeans yang agak kumal, langsung membuyarkan hayalan bodohku.

Tak menunggu lama, pesananku ternyata sudah selesai. Kebab asli Arab berukuran jumbo siap disantap. Irisan dagingnya lumayan besar-besar. Ditambah campuran berbagai sayuran segar, taburan kentang goreng yang crispy, serta lembutnya tekstur mayonese dan saos tomat, menjadikan kebab ini semakin menggugah selera. Aku mengeluarkan uang 5 Reyal (setara dengan 17 ribu rupiah) sesuai dengan perjanjian awal. Harga kebab ini 5 reyal, cukup murah kurasa. Karena beberapa meter dari tempat kami menginap, ternyata ada es krim yang dijual seharga 10 reyal. Jadi sedikit banyak, kita bisa membandingkan harga. Sambil tersenyum, sang pemilik warung kebab menerima uang dariku dan sebagai gantinya, dia memberikan satu bungkus kebab yang menggoda itu. Ah, jadi tak sabar ingin mencicipi rasanya.

Aku mempercepat langkah, bergegas menuju lobi hotel, ingin segera mencoba bagaimana rasa kebab asli Arab ini. Apakah rasanya lebih lezat jika dibandingkan dengan kebab Babarafi (cita rasa lokal) yang terkenal di tanah air? Memasuki pintu utama hotel Al-Safwa, aku melihat ada kursi kosong di lobi hotel. Tanpa berpikir dua kali, aku langsung menuju kursi tersebut sebelum ditempati oleh orang lain. Aku membuka bungkus plastik kebab asli dari Arab ini. Irisan dagingnya memang besar dan empuk sekali. Campuran kentang gorengnya renyah di luar, lembut di dalam. Kalau versi detektif rasa, aku kasih skor 8.5 dari skala 10.

Kebab Madinah

Pasar Tradisional Madinah

Hari kedua di kota suci Madinah. Ah, rasanya waktu berjalan begitu cepat. Kita hanya diberikan waktu 3 hari saja disini. Harus benar-benar dimanfaatkan waktunya, agar perjalanan kali ini benar-benar memberikan kesan yang mendalam. Di hari kedua ini, selain menghabiskan banyak waktu di masjid Nawabi, kita akan mencoba jalan-jalan berkeliling ke tempat-tempat menarik di dekat hotel Al-Safwa. Seperti pasar tradisional yang berada tak jauh dari masjid Nabawi. Atau mencoba berjalan-jalan di depan pintu utama masjid Nabawi yang banyak berkeliaran burung merpati yang indah. Ah, sepertinya kali ini akan menjadi jalan-jalan yang menyenangkan.

Aku bergegas menuju lantai 2 tempat kami menikmati sarapan. Perutku sudah sangat lapar, sepertinya perlu segera diganjal dengan menu yang spesial. Bersama dengan Nugraha, kami membincang tentang rencana kami untuk jalan-jalan ke pasar tradisional di dekat masjid Nabawi. Siapa tahu ada barang-barang yang bisa dijadikan oleh-oleh ke tanah air. Nugraha juga berencana untuk membeli kurma Ajwa (kurna Nabi) yang terkenal itu.

Selesai menikmati sarapan, saya dan Nugraha beranjak menuju lokasi pasar tradisional. Jaraknya tidak terlalu jauh dari hotel dan masjid Nabawi. Hanya dengan berjalan beberpa menit saja, kita sudah sampai di lokasi. Pasar tradisional di Madinah ini mirip sekali dengan pasar dadakan di Gasibu kota Bandung. Para penjual sangat aktif menjajakan dagangannya.

Kalau di Gasibu, Bandung kita biasa mendengar,
"Boleh..boleh belanja..boleh".

Kalau di Madinah sini, logatnya berbeda,
"Halal..halal.. silahkan! ^_^".

Banyak sekali orang dari Indonesia atau Malaysia yang belanja di pasar ini. Maka mereka yang berjualanpun sudah terbiasa dengan kosakata bahasa sederhana untuk menjajakan barang dagangan mereka ke orang-orang melayu.

Beraneka ragam barang dagangan dijual disini. Mulai dari baju, perhiasan, tasbih, gantungan kunci, kurma dan makanan. Sebenarnya aku ingin sekali belanja disini, namun mengingat kita belum melaksanakan ibadah umroh, jadi niat untuk berbelanja kita tunda dulu. Kita bisa membayangkan betapa repotnya nanti ketika membawa barang-barang belanjaan dalam perjalanan bus dari kota Madinah ke Mekkah dengan pakaian Ihrom.

Alhasil, di pasar tradisional ini, kita hanya melihat-melihat saja. Banyak barang-barang unik, aneka gantungan kunci yang menarik.

Es Krim 10 Reyal

Puas berjalan-jalan ke pasar tradisional kita menyempatkan berjalan-jalan mengitari lokasi masjid Nabawi. Awalnya, kita sungguh meremehkan, ternyata masjid Nabaw0i itu luas sekali. Akhirnya kami hanya berjalan di beberapa bagiannya saja. Kaki sudah tak kuat diajak berjalan lagi, kita sejenak istirahat dibawah payung besar di pelataran masjid Nabawi sebelah utara. Setelah puas melihat-lihat dan menikmati suasana, kita kembali ke hotel, menunggu waktu dhuhur tiba.

Besok adalah hari ke-3 kami berada di kota Madinah. Hari terakhir kita berada di kota suci ini. Agenda besok adalah berkunjung ke masjid Quba (masjid pertama yang dibangun oleh Nabi), ke bukit Rumat dan berkunjung ke jabal magnet. Dan selepas dhuhur kita akan berangkat menuju Mekkah. Maka malam ini aku, mas Roy dan Advin berencana jalan-jalan menikmati malam terakhir di kota Madinah sebelum besoknya kita menuju ke kota Mekkah. Dan di malam ini, akan ada tragedi es krim 10 reyal!.

To be Continued...




Saturday, December 16, 2017

0 Madinah - Bagian 5

Kisah sebelumnya ada di : Madinah - Bagian 4

Siang, 6 Maret 2017

Pagi itu suasana kota Madinah begitu tenang. Aku baru saja selesai menyantap sarapan di lantai 2. Pagi itu aku memilih untuk menghabiskan waktu berada di kamar beristirahat sambil menunggu waktu dhuhur tiba. Lantunan ayat-ayat suci Al-Qur'an dari layar TV LCD 32 inch yang megah terpajang di dinding kamar membuat suasana khusyuk senantiasa terjaga. Suara murotalnya benar-benar memberikan rasa damai di hati. Kamar hotel ini dilengkapi dengan lemari besar untuk menyimpan pakaian. Di bagian sisi lemari terdapat rak yang cukup besar untuk menaruh beberapa barang. Kulihat di bagian rak lemari tersebut sudah tersedia teko pemanas air dan beberapa sachet kopi dan teh instan. Sayangnya aku tak tergoda untuk menyeduhnya. Kurasakan tubuhku penat sekali. Tak lagi tertarik untuk minum kopi. Lagian aku sudah minum kopi sambil sarapan tadi. Aku ingin istirahat. Sambil merebahkan tubuhku ke kasur, aku termenung. Sungguh semua ini seperti mimpi. Kemarin pagi aku masih berada di tanah Jawa, dan pagi ini jasadku sudah berada di kota tempat baginda Nabi memulai membangun peradaban Islam. Sambil termenung, kulihat Nugraha rekan satu kamarku, sesekali mengajak berbincang santai. Kami kadang tertawa mencandai sesuatu. Candaan khas anak muda.

Selain Nugraha, sebenarnya masih ada 2 orang lagi yang sekamar denganku. Yang paling senior adalah pak Kasmiko. Namun dia lebih suka keluar hangout bersama dengan rekan-rekan se-divisinya. Yang satu lagi adalah mas Fajar, dia juga seniorku di kantor. Mas Fajar lebih suka menghabiskan waktu di kamar hotel seharian. Sama sepertiku. Bertiga, kami sering berdiskusi ringan sampai hal berat di kamar. Membahas isu-isu teraktual di tanah air juga tentang Madinah, kota yang sama-sama saat ini kita tinggali.

Tak terasa waktu dhuhur sudah mendekat. Kami segera bersiap-siap ke masjid. Sholat wajib di masjid 5 waktu dalam sehari adalah misi utama kami selama disini. Kami tak boleh melewatkan kesempatan langka ini. Masjid Nabawi tidak pernah sepi, apalagi di waktu sholat. Agar kami bisa masuk ke dalam masjid dan menempati shaf yang diinginkan, kami harus datang minimal 30 menit sebelum adzan.


Ada yang menarik di masjid Nabawi setiap kali sebelum dan sesudah sholat wajib. Kami melihat pemandangan yang sungguh menyejukkan. Pengajian menjamur di beberapa titik ruangan masjid. Semakin berilmu sang Syeikh, biasanya yang ikut mendengarkan pengajian tersebut juga akan banyak. Kita juga akan melihat pemandangan menarik yang lainnya, seperti anak-anak yang dengan semangatnya menyetor hafalan Al-Qur'an mereka kepada sang syaikh. Di sisi lain, Mushaf Al-Quran juga tertata rapi disetiap titik di ruangan, memudahkan jamaah untuk bertilawah setiap saat. Subhanllah, ingin rasanya setiap hariku seperti ini.

Untuk pengajian, adapula yang diisi oleh Ustadz yang berasal dari Indonesia. Hal ini mengingat banyaknya pengunjung masjid ini yang berasal dari Indonesia.

Karpet Hijau Raudhoh

Ada satu bagian di masjid Nabawi yang menjadi favorit jamaah. Tempat itu bernama Raudhoh. Raudhoh merupakan area antara rumah dengan mimbar Nabi shalallahu alaihi wassalam.

Sebuah hadist shahih yang diriwayatkan oleh Bukhari “maa baina baitii wa minbarii raudhoh min riyaadhil jannah, wa minbari ‘alaa haudhii” (antara rumahku dan mimbarku adalah raudhoh (yaitu) taman dari surga).

Para jamaah yang berkunjung di masjid Nabawi berlomba-lomba untuk bisa sholat dan berdoa di Raudhoh. Saking banyaknya, kita harus antri untuk bisa memasuki Raudhoh. Diyakini bahwa berdoa di Raudhoh sangat mustajab. Area Raudhoh dibedakan dengan warna karpet yang berwarna hijau. Sedangkan lokasi yang lain berwarna merah. Di samping Raudhoh merupakan rumah baginda Nabi. Ditempat itu Rasulullah dimakamkan. Di tempat itu juga terdapat makam dua sahabat penting Rasulullah yaitu Abu Bakar As-Shidiq (Khalifah pertama) dan Umar bin Khattab (Khalifah kedua).

Selesai sholat dhuhur, kami berkumpul dan diberikan wawasan dan nasihat oleh ustadz dari biro tentang keutamaan masjid Nabawi secara umum dan Raudhoh pada khususnya. Ustadz juga memberikan tips dan trik bagaimana bisa memasuki Raudhoh tanpa antrian yang panjang. Tips dari beliau yaitu hendaknya sholat di Raudhoh dilakukan pada malam hari.

Berbekal tips dari sang ustadz, kami merencanakan memasuki Raudhoh pada malam hari. Yakni sekitar pukul 10 malam waktu setempat. Jelas sekali ketika siang hari, antrian di area Raudhoh sungguh luar biasa. Jika kita nekat mengantri, bisa-bisa kita akan lelah berdiri, belum lagi dengan desak-desakannya.

Namun, rencana tinggalah rencana. Dan apa yang terjadi di waktu malam ternyata jauh dari harapan. Suasana ternyata tak jauh berbeda dengan antrian ketika di siang hari. Antrian memasuki Raudhoh benar-benar tidak pernah sepi. Subhanallah.

Kebab Asli Arab

Selain menjelajah masjid, kami juga beberapa kali berjalan-jalan di sekitar hotel. Di dekat hotel tempat kami menginap, rupanya terdapat warung makanan Kebab. Setiap kami berjalan melewati warung itu, semakin lama semakin aku ingin mencoba rasanya. Seperti apa ya kira-kira rasanya. Aku menelan ludah, terbayang akan kelezatannya.

kebab asli arab
Mudah sekali memesan makanan di Madinah sini, khususnya di dekat Masjid Nabawi. Orang-orang Arab sudah terbiasa berinteraksi dengan orang-orang dari Asia khususnya Indonesia. Aku pun memesan, ...

To be Continued...



Monday, December 4, 2017

0 Madinah - Bagian 4

Kisah sebelumnya ada di Madinah - Bagian 3

Pagi - 6 Maret 2017

Suasana Madinah pagi itu begitu nyaman. Mentari bersinar hangat, seolah sedang memberikan senyuman kepada separuh penduduk bumi. Aku masih saja enggan untuk meninggalkan komplek masjid Nabawi. Bersama dengan Nugraha dan mas Roy lebih memilih berjalan-jalan menikmati suasana pelataran masjid yang tak pernah sepi ini. Beberapa orang terlihat hilir mudik keluar atau masuk ke dalam masjid. Ada juga beberapa diantaranya yang terlihat ber-selfie atau mengambil gambar kemegahan komplek masjid. Yah, sama seperti yang tengah kami lakukan saat itu. Di tengah kami menikmati keindahan masjid ini, tiba-tiba saja beberapa mobil pembersih lantai masjid terlihat bergerak mendekati kami. Baru kali ini aku melihat mobil pembersih seperti ini. Mobil pembersih lantai ini terbilang cukup canggih. Hanya dikendarai oleh seorang sopir, mobil ini bergerak gesit membersihkan lantai pelataran masjid. Tak heran jika lantai di pelataran masjid Nabawi tak pernah terlihat kotor. Selalu bersih dan wangi. Kamipun terpukau melihatnya. Bahkan terlintas dalam pikiran kami,
'enak ya jadi supir mobil ini, tiap hari membersihkan masjid suci ini, nyaman dan aman. Selesai membersihkan, mereka bisa bisa beribadah di masjid ini.'.

Cerita kisah di Madinah episode 4

Ini hari pertama kami di kota Madinah. Tidak banyak agenda kegiatan yang harus kami lakukan. Dari panitia hanya menyarankan untuk lebih banyak melakukan kegiatan ibadah di masjid Nabawi atau istirahat di hotel untuk memulihkan stamina karena sudah melakukan perjalanan yang sangat jauh.

Di tengah kami menikmati suasana pagi itu, kami mendapat informasi dari group whatsapp bahwa sarapan di hotel sudah siap. Segera kami merespon informasi itu dengan menghentikan kegiatan kami. Kamipun bergegas berjalan menuju hotel. Kami tak ingin ketinggalan menikmati sarapan pertama di kota ini. Perut kami juga sudah mulai keroncongan. Ini bakal menjadi sarapan pertamaku di luar negeri. Sesuatu yang sepertinya akan menjadi sarapan istimewa. Apalagi ini di kota Madinah.

Dari pintu keluar di pelataran masjid, kami disambut dengan pemandangan yang menarik. Di sebelah kanan dan kiri jalan menuju hotel, banyak sekali terdapat toko-toko yang menawarkan dagangan. Kebanyakan dari mereka adalah toko penjual souvenir dan pakaian. Sekilas aku melihat, banyak juga orang dengan perawakan Asia sedang menawar harga di toko-toko itu. Di lain sisi, beberapa pedagang itu juga supel menyapa kami. Rupanya mereka tahu kalau kami ini orang Indonesia.
"Assalamualaikum, hai indonesi, ayo belanja-belanja!", sapa mereka dengan logat Arab yang kental.

Kami tersenyum, menolak secara halus tawaran mereka. Fokus berjalan menuju hotel, sudah terbayang makanan lezat menanti kami.

Episode Madinah bagian 4


Fasilitas makan di hotel disediakan 3 kali setiap harinya. Tentunya jadwal ini sudah disesuaikan dengan kebiasaan makan orang Indonesia. Orang Indonesia makan 3 kali sehari. Hal ini berbeda dengan Jamaah dari Turki atau yang lainnya. Mereka hanya makan 2 kali sehari, pagi dan malam saja. Tetapi sekali makan, porsinya luar biasa. Istilah kita, itu porsi kuli. Tapi bagi mereka itu hal yang biasa.

Awalnya aku tak menyadarinya. Hal itu baru kusadari beberapa hari setelahnya. Setiap kali makan siang tiba, di lokasi tempat kami makan, hanya orang Indonesia saja yang aku temui. Seorang kawan memberitahuku, bahwa hanya orang Indonesia saja yang makannya 3 kali dalam sehari. Subhanallah. Orang Indonesia memang beda ya ^_^.

Memasuki hotel, kami bergegas ke lantai 2, lokasi tempat makan berada. Yang khas dari makanan Arab adalah bumbu rempah-rempahnya yang menusuk. Keluar dari lift, aku mendapati beberapa kawan sudah mulai menyantap makanan. Menu nan lezat sudah terhidang di meja prasmanan. Terlihat ada tiga group meja yang terpampang makanan. Yang satu cukup familiar, sepertinya ini makanan untuk kami orang Indonesia. Satu lagi menyediakan aneka macam roti dan olahannya, sepertiya ini makanan untuk orang-orang dari Turki. Sedangkan yang satunya lagi menunya agak aneh, banyak rempah-rempah dan roti pipih seperti di film India. Sepertinya itu makanan untuk orang-orang dari Bangladesh.

Tak perlu dipersilahkan apalagi disuruh, aku langsung mengambil menu terlezat bagi lidahku. Selesai menyantap makanan Indonesia, mata ini tertarik untuk mencoba roti dari jatah makanan orang Turki. Awalnya aku ragu untuk mengambilnya, tetapi ternyata banyak kawan-kawan Indonesia yang melakukannya. Para pelayan juga tidak melarangnya. Tanpa ragu lagi, akupun mengambilnya. Ternyata rasanya enak juga ya. Serasa jadi orang Eropa.

Karpet Hijau Raudhah

Sambil menyantap makanan, kami berbincang berbagai hal tentang Madinah. Tentang makanannya, tentang masjid suci Nabawi dan tentang agenda apa yang akan kami lakukan nanti seusai sarapan. Beberapa teman lebih memilih istirahat di hotel sampai menanti waktu Dhuhur tiba. Sedangkan yang lain memilih jalan-jalan di sekitar hotel. Aku memilih istirahat di kamar.

Kamar hotel Al Safwa memanjakan penghuninya setiap kali masuk ke dalamnya. Lantunan ayat-ayat suci Al-Quran langsung terdengar ketika pintu dibuka dan TV secara otomatis menyala. Hati langsung merasa nyaman dan tentram.

Kami hanya punya waktu 3 hari saja di Madinah. Dan ini sudah hari pertama. Dari pihak panitia/biro menawarkan untuk bisa sholat bareng di Raudhoh. Dan panitia akan memberikan penjelasan teknisnya, apa dan bagaimana keutamaan sholat di Raudhoh. Penjelasan ini akan mereka paparkan ketika selesai sholat Dhuhur nanti.

antara rumahku dan mimbarku adalah taman (raudhah) dari taman-taman surga

HR. At Tirmidzi.

To be continued...




Sunday, November 26, 2017

0 Kisah Perjalanan Umroh : Episode Madinah Bagian 3

Cerita kali ini merupakan kisah lanjutan dari cerita sebelumnya di : Kisah Perjalanan Umroh : Episode Madinah Bagian 2.

Subuh, Tanggal 6 Maret 2017

Waktu masih gelap, sang mentari masih bersembunyi di ufuk timur. Bus yang menjemput kami dari bandara Madinah baru saja tiba di hotel Al Safwa. Hotel yang akan menjadi tempat tinggal kami sementara selama 3 hari ke depan di kota suci Madinah al Munawaroh. Hotel ini bisa dibilang sangat dekat dengan lokasi Masjid Nabawi. Hanya beberapa meter saja. Masjid Nabawi memang dikelilingi oleh hotel-hotel yang menjamur di berbagai sisi. Lokasi gedung perhotelan di sekitar masjid Nabawi juga terlihat sangat rapi. Kondisi jalanan tidak banyak yang berkelok-kelok apalagi naik-turun. Begitu masuk di area kawasan ini, rasa nyaman langsung terasa. Entahlah, rasa yang belum pernah aku alami sebelumnya. Nyaman dan tenang.

“Di pintu-pintu masuk kota Madinah ada malaikat-malaikat (yang menjaganya) sehingga tidak bisa dimasuki tha’un dan Dajjal.”
(Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim)

Ketika kami memasuki kawasan hotel di sekitar masjid Nabawi, adzan subuh sudah berkumandang. Ternyata sudah masuk waktu sholat subuh. Setibanya di parkiran hotel, kami disuguhi dengan pemandangan luar biasa. Puluhan orang berbondong-bondong keluar dari hotel untuk bergerak menuju masjid Nabawi. Sebagian besar dari mereka adalah wajah dan perawakan orang-orang Arab dengan khas baju gamis, namun tak jarang kami juga menjumpai perawakan orang-orang dari Asia. Tentu saja kami tak mau melewatkan begitu saja kesempatan langka untuk sholat subuh berjamaah di masjid Nabawi. Tapi di sisi lain, kami juga harus menjalani check-in hotel dan proses pembagian kamar. Sebuah proses yang tak memakan waktu sebentar.

Selesai check-in dan pembagian kamar, kami segera menuju kamar masing-masing. Aku bersama ketiga rekan mendapat kamar di lantai 9. Setelah nomor kamar diumumkan, tak perlu berlama-lama kami segera bergerak menuju kamar. Setelah masuk ke dalam kamar dan meletakkan barang bawaan, aku langsung masuk ke kamar mandi dan mengambil air wudhu. Beberapa rekan juga terlihat semangat untuk menunaikan sholat subuh di masjid Nabawi, sedangkan sebagian yang lain memilih sholat di kamar hotel.

Kami langsung bergerak cepat menuju masjid Nabawi. Beberapa jamaah sudah terlihat keluar dari pelataran masjid Nabawi, menandakan sholat subuh berjamaah sudah selesai. Kami semakin menambah kecepatan. Komplek masjid Nabawi sangatlah besar berbentuk segi empat dengan 24 pintu. Pintu-pintu ini tersebar di beberapa sisi komplek masjid. 8 pintu berada di sisi timur dan barat. 4 pintu berada di sisi utara dan selatan. Di sekeliling masjid juga dilengkapi dengan bangunan toilet yang cukup besar. Toilet dibuat terpisah untuk jamaah laki-laki dan perempuan. Tentunya ini memberikan kenyamanan bagi para jamaah yang sedang berada di masjid suci ini.

Kisah Perjalanan Umroh Episode Madinah bagian 3
Penampakan pintu utama masjid Nabawi

Komplek Masjid Nabawi

Dari pintu masuk komplek masjid, aku harus berjalan puluhan meter untuk sampai ke pintu masjid. Pelataran masjid ini luas sekali. Payung-payung raksasa berjajar rapi melindungi pelataran dari panasnya matahari dan hujan. Karena tak jarang, banyak jamaah yang menunaikan sholat di pelataran masjid karena ruangan masjid sudah penuh.

Memasuki pintu bangunan utama masjid, kami segera mencari tempat untuk menunaikan sholat subuh secara berjamaah. Setelah menyapu pandangan ke seluruh sudut ruangan masjid, kami melihat masih ada jamaah yang tengah sholat berjamaah. Ternyata jamaah dari Indonesia juga dan kamipun segera bergabung dengan mereka. Seperti mimpi, kamipun pada akhirnya bisa menunaikan sholat di masjid tempat baginda Rasulullah shallallahu 'alaihi wassalam pernah sholat dan membina ummat.

Waktu terus bergerak. Kami menghabiskan waktu setelah sholat subuh dengan berjalan-jalan di pelataran masjid Nabawi. Mengeksplore setiap sudut bangunan komplek masjid ini dengan rasa kagum membuncah. Hotel al-Shafwa berada di sebelah timur masjid, maka kami lebih banyak menghabiskan waktu di pelataran masjid sebelah timur sampai mendekati waktu dhuha.

Bersama dengan Nugraha dan mas Roy, kita benar-benar menikmati suasana pagi itu. Beberapa kali kami mengabadikan momen langka ini dengan berfoto-foto bersama.

foto-foto di pelataran masjid Nabawi

Namun, di tengah-tengah kami menikmati suasana, tiba-tiba saja ...

to be continued...




Total Pengunjung

Statistik Alexa

 

Inspirasi Coffee Copyright © 2011 - |- Template created by O Pregador - |- Powered by Blogger Templates