Selamat datang di gubug Inspirasi Coffee. Blog ini dikelola oleh penulis sejak September 2008. Sampai sekarang, api semangat untuk menulis masih tetap menyala, menarikan pena melukiskan prasasti-prasasti kehidupan. Hak cipta dilindungi oleh Allah Azza wa Jalla.
Selamat Membaca ^_^

Sunday, March 22, 2020

0 [Pengalaman] Cara Melepas Harddisk Laptop Notebook Acer Aspire One

Sudah beberapa bulan ini laptop / notebook istri saya tidak bisa boot-up.

"Notebook Acer Aspire One", begitulah nama merk lengkap dari laptop tersebut. Ketika dibawa ke tempat service laptop, saya berharap laptop tersebut bisa segera diperbaiki.

Namun, setelah berdiskusi singkat dengan sang tukang service, ternyata dia sendiri seperti tak yakin mampu memperbaiki laptop tersebut. Malah pernyataan yang keluar yakni adanya biaya untuk mengambil data-data penting dari harddisk-nya. Ya sebenarnya murah sih, tapi kalau dipikir-pikir jika hanya sekedar menyelamatkan data di harddisk, sepertinya itu bisa dilakukan sendiri. Tujuan saya membawa laptop itu ke tempat service adalah untuk diperbaiki, bukan untuk sekedar menyelamatkan data penting di harddisk.

Laptop Acer Aspire One
Notebook Acer Aspire One

Sebenarnya saya sendiri belum punya pengalaman sebelumnya dalam membongkar laptop. Pernah sih beberapa kali membongkar PC, namun tidak untuk laptop. Maka pada kesempatan kali ini, saya akan ceritakan pengalaman pertama kali bagaimana melepas harddisk laptop Acer Aspire One. Yang punya masalah dengan laptop merk tersebut, boleh dilanjut membaca tulisan ini sampai akhir.

Membongkar Laptop

Sebelum membongkar laptop, terlebih dahulu disiapkan peralatan-peralatan yang dibutuhkan antara lain obeng kecil dan pinset atau cutter.

Berikut ini adalah langkah-langkah untuk membongkar notebook Acer Aspire dan mengeluarkan harddisknya.
  • Langkah pertama : Lepas dahulu baterai laptop
  • Hal ini merupakan langkah awal standard prosedur keselamatan agar ketika kita sedang memperbaiki/membongkar laptop, tidak ada suplai daya yang sedang aktif yang berasal dari baterai. Jika kita membongkar laptop dalam kondisi battery masih tersambung, itu bisa menyebabkan kerusakan pada komponen-komponen yang ada di dalam laptop.

    melepas baterai laptop acer aspire one
    Tampilan belakang laptop Acer Aspire One

  • Langkah Kedua : Buka Keyboard Laptop
  • Untuk bisa melihat bagian dalam dari laptop Acer Aspire One, terlebih dahulu kita harus melepas keyboard laptop. Cara untuk melepas keyboard lumayan susah-susah gampang. Kita membatuhkan pinset atau cutter untuk mencukil keyboard pada bagian pinggirnya.

    melepas harddisk laptop acer aspire one

    Mohon untuk sedikit hati-hati dalam mencungkil keyboard dengan menggunakan cutter. Jangan sampai tangan kita terluka kalau kurang hati-hati.

    Keyboard berhasil dilepas

    Setelah keyboard berhasil dilepas, harap diperhatikan kabel konektor kayboard dengan motherboard. Lepas dengan hati-hati konektor tersebut, sehingga keyboard bisa dilepas dengan sempurna.

    Melepas Keyboard Laptop Acer Aspire One
    Keyboard berhasil dilepas, terlihat harddisk disisi belakangnya

    Setelah keyboard telah berhasil dilepas, maka akan terlihat harddisknya. Silahkan balik laptopnya untuk melepas harddisk tersebut.

  • Langkah Ketiga : Melepas Harddisk
  • Untuk bisa melepas harddisk, caranya cukup mudah. Silahkan buka baut yang mengunci frame harddisk seperti pada gambar berikut ini :

    Melepas koneksi harddisk

    Setelah baut frame dilepas, silahkan tarik ke arah menjauh dari koneksi harddisk. Dengan begini, harddisk Laptop Acer Aspire One sudah berhasil dilepas.

    Harddisk Laptop Acer Aspire One dilepas
    Harddisk berhasil dilepas
Demikian tips kali ini. Semoga bermanfaat dan selamat mencoba.



Monday, February 24, 2020

2 Singgah Warkop #3 : Ueno Coffee

Tepat sehari sebelum jadwal keberangkatan ke negeri yang sunyi, saya menyempatkan waktu untuk sekedar menikmati kopi bersama dengan rekan sesama penggila kopi yakni Trio Kopiers. Hari itu kamis 5 Desember 2019, jadwal dipilih seperti biasa yakni ba'da maghrib selepas pulang kerja. Kami memilih tempat ngopi yang bisa dibilang masih baru yaitu Ueno Coffee.

Ueno Coffee Madiun
Tampilan Bar Ueno Coffee yang terlihat artistik

Sebuah warung kopi modern berkonsep negeri matahari terbit yang baru saja di-launching beberapa hari sebelumnya. Bisa dibilang inilah momen tepat bagi kami untuk mencicipi racikan sang barista.

Ueno Coffee

Kata 'Ueno'. Hal pertama yang terlintas di pikiran saya ketika mendengar ini adalah nama sebuah stasiun kereta yang terletak di pusat kota Tokyo bernama Ueno Station. Jika dilihat dari tema warung kopi ini, sepertinya memang sangat kentara sekali nuasa negeri Jepangnya. Sangat mungkin bila Ueno Coffee terinspirasi dari nama stasiun kereta tersebut. Terlebih, budaya Jepang memang sangat diminati oleh orang-orang Indonesia. Banyak anak-anak muda menyukai anime dan dorama Jepang. Maka menyasar segmen anak muda dengan tema Jepang sangatlah masuk akal.

Stasiun Ueno di Tokyo

Lokasi warung kopi ini berada di pusat keramaian kota Madiun. Tepat berada di seberang Lawu Plaza. Untuk bisa ke Ueno Coffee, dari Lawu Plaza kita bisa memanfaatkan jembatan penyebrangan yang membelah jalan Pahlawan. Dari atas jembatan penyebrangan, kita bisa sedikit refresing melihat keramaian (a.k.a kemacetan) jalan Pahlawan yang tampak istimewa terlihat dari atas.

Bila temen-temen pernah berkunjung ke cafe '2Fatguys', maka warung kopi Ueno ini tepat berada di halaman cafe tersebut. Sangat mungkin juga bila tempat makan dan warung kopi ini telah bekerjasama. Jadi bila temen-temen ingin ngopi namun sekaligus juga ingin makan malam, maka sangat tepat bila anda datang ke lokasi ini.

Ueno Coffee dengan konsep outdoor

Beruntung sekali saya malam itu, nuansa pembukaan Ueno Coffee masih kental terasa. Pertunjukkan live music dengan performance gitar akustik juga dihadirkan untuk memeriahkan suasana. Sesaat memasuki area cafe, seorang perempuan muda dengan mengenakan baju Yukata khas Jepang tiba-tiba menghampiri kami. Dia menyapa ramah dengan senyum merekah, bertanya kepada kami ingin memesan menu apa. Tanpa menunggu jawaban kami, dia menjelaskan berbagai macam varian kopi yang bisa dinikmati di Ueno Coffee. Kamipun bertanya,

'Apa kopi paling diminati disini?'

"Yang favorit disini Zuru-zuru latte"

"Oke mbak, saya pesan itu".



Ueno Coffee Madiun
Menu di Ueno Coffee

Warung Kopi Berkonsep Jepang

Secara view, menurut saya ini tempat ngopi paling bagus yang pernah saya kunjungi. Pemilihan meja dan kursi, sekaligus pernak-pernik diatasnya benar-benar Nippon banget. Belum dengan pohon besar yang tumbuh alami terletak di tengah-tengah lokasi, memberikan kesan seperti menyatu dengan alam. Desain pernak-perniknya mengaburkan kesan lokasi ini berada di pinggir jalan protokol kota.
warung kopi berkonsep Jepang


Sambil menunggu pesanan kopi datang, kami memesan menu makan besarnya di 2FatGuys. Yang menarik adalah kami diberi sebuah alat kecil dimana alat tersebut akan berdering jika pesanan kita sudah selesai dan siap diambil. Unik ya ^_^.

Ueno Coffee dan 2FatsGuys


Sambil menunggu makanan datang, kami ngobrol dan menikmati kopi yang sudah datang duluan. Tak lama berselang suara musik gitar akustik mulai dimainkan, menambah suasana kekinian malam itu.

sensasi ngopi di Jepang


Kalau menurut saya, dari segi tempat Ueno Coffee memang istimewa. Es kopinya juga enak. Cocoklah buat nongkrong untuk melepas segala kepenakan kantor. Very recommended. Buat kamu yang ingin serasa ngopi di Jepang, monggo, mampir di Ueno Coffee.


Sunday, February 9, 2020

0 Perjalanan ke Negeri Switzerland : Part 2

Cerita sebelumnya ada di : Perjalanan ke Negeri Switzerland Part 1

Setelah 8 jam perjalanan di udara, pesawat jenis Boeing 777-300ER itu berhasil mendarat mulus di Bandara Internasional Dubai. Alhamdulillah, ini artinya sudah setengah perjalanan kami lalui sebelum tiba di Switzerland. Waktu menunjukkan sekitar pukul 5.30 waktu Dubai. Saat itu saya belum sholat subuh. Masih ada waktu untuk mencari mushola/tempat sholat di dalam bandara Dubai.

Dan benar saja, tak membutuhkan waktu yang lama untuk menemukan mushola di dalam bandara Dubai. Bandara ini adalah salah satu bandara terbesar dan tersibuk di kawasan Timur Tengah yang juga merupakan jantung dunia Islam. Maka tak mengherankan jika kita mudah sekali menemukan tempat sholat atau mushola disini. Petunjuk-petunjuknya juga terpampang dengan jelas.

Setelah melaksanakan sholat subuh, kami segera menuju ke lokasi Gate pesawat yang akan membawa kami ke Zurich. Bandara Dubai memang luas sekali, perlu sekitar 30 menit-an untuk berjalan kaki menuju lokasi keberangkatan ke Zurich. Sebagai catatan saja, jika anda menjadikan Dubai sebagai lokasi transit, maka harap diperhatikan untuk durasi waktu transit yang cukup dalam penerbangan teman-teman. Berdasarkan pengalaman, minimal 3 jam adalah waktu yang ideal untuk keperluan transit. Kita juga punya waktu yang cukup untuk sekedar istirahat merebahkan badan yang tentu sudah pegal-pegal.

transit di Dubai
Menuju ke Gate Pesawat Emirates Dubai-Zurich

Setelah berhasil menemukan gate pesawat menuju Zurich, kami segera mencari tempat duduk yang kosong. Sejenak merebahkan badan, sesekali berbincang sambil menunggu jadwal pesawat take off.

Penerbangan Dubai - Zurich

Setelah transit sekitar 3.5 jam, kami kembali melanjutkan perjalanan menuju tujuan akhir yaitu Zurich, Switzerland. Penerbangan ke Zurich ini masih menggunakan pesawat Emirates dengan jenis pesawat Airbus A380-800. Sebuah pesawat jumbo yang memiliki ruang kabin dua tingkat.

Penerbangan Dubai Zurich dengan Emirates
Screen entertainment on-board Emirates Dubai-Zurich

Sayang sekali dalam perjalanan kali ini saya tidak mengabadikan foto menu makanan yang ada di pesawat. Entahlah, mungkin kelupaan.

Tidak seperti perjalanan sebelumnya yang mayoritas berada pada waktu malam hari, penerbangan Dubai-Zurich ini berada pada rentang waktu pagi hari hingga siang hari nanti tiba di Zurich.

6 jam perjalanan di pesawat saya habiskan dengan menonton beberapa film yang ada di screen entertainment. Film-filmnya yang disediakan pun juga cukup update. Salah satu film menarik yang saya tonton adalah The Avengers 'Endgame'.

Pegunungan Alpen
Peta Pegunungan Alpen

Setelah beberapa jam perjalanan, pesawat akhirnya melewati daerah pegunungan Alpen. Pegunungan Alpen terkenal dengan puncak-puncaknya yang penuh dengan salju, membentang dari Austria bagian timur hingga ke Perancis bagian selatan. Dari layar entertainment saya bisa melihat pegunungan putih itu. Subhanallah, indah sekali. Itu sekaligus juga menjadi tanda bahwa tidak akan lama lagi pesawat ini akan membawa kami ke tujuan akhir yaitu Zurich.

Emirates Dubai Zurich
Tiba di Zurich

Tiba di Zurich

Setelah hampir 20 jam perjalanan akhirnya kami sampai juga di Zurich. Rasanya lega sekali. Alhamdulillah. Sesaat setelah keluar dari badan pesawat dan berjalan di garbarata, kami langsung disuguhi dengan pemandangan alam negeri Swiss yang istimewa. Udara dingin khas winter juga langsung terasa. Welcome to Switzerland!

Bandara Internasional Swiss Flughafen

Suasana pesawat stabling di bandara internasional Swiss Flughafen

Keluar dari garbarata, kami berjalan santuy mengikuti papan petunjuk ke arah bagian imigrasi dan pengambilan bagasi. Rupanya kami masih harus naik kereta dalam bandara (APMS) untuk bisa ke bagian imigrasi. Setibanya di bagian imigrasi, rupanya ada hal yang cukup menarik bagi kami. Petugas imigrasi negara Switzerland ternyata sangat ramah lho ^_^. Ketika menanyai kami, mereka juga sambil memperlihatkan wajah penuh senyuman. Hal ini jauh berbeda dengan kesan petugas imigrasi yang selama ini kami temui, terkesan judes (kalau tidak mau dibilang galak) he he.

Jalan-jalan ke Biel / Bienne

Dan inilah Switzerland, negeri yang selama 12 hari kedepan akan kami tempati. Banyak cerita dan kisah akan saya bagi di dalam blog ini. Tetap nantikan ya.



Sunday, January 12, 2020

0 Perjalanan ke Negeri Switzerland

Saya ingat sekali, awal tahun lalu (akhir bulan Januari) saya ditugaskan untuk melakukan perjalanan dinas luar negeri yaitu ke Negeri Sakura. Cerita perjalanan itu sudah saya abadikan dalam tulisan Jalan-jalan ke Jepang di musim dingin. Judulnya aja yang 'jalan-jalan', padahal sebenarnya isinya adalah tugas dinas kantor namun juga sembari jalan-jalan.

Salju di Pegunungan Swiss
Pegunungan di Switzerland

Tahun belum berganti, masih di tahun 2019 saya kembali ditugaskan melakukan perjalanan dinas ke luar negeri pada awal Desember kemarin. Kali ini saya harus pergi ke Switzerland (Swiss), sebuah negara maju yang terletak di Eropa barat berbatasan dengan Jerman (di sebelah utara) dan Perancis (pada bagian selatan). Perjalanan tersebut untuk keperluan training penguasaan sebuah software. Jujur pada dasarnya saya tidak terlalu suka melakukan perjalanan jauh, apalagi harus ke Eropa yang berbeda benua. Namun disisi lain hati saya, ada juga rasa penasaran ingin sekali melihat dan merasakan bagaimana megahnya peradaban Eropa. Ditambah lagi jika kita melihat di berbagai referensi, negara Switzerland terkenal dengan keindahan panorama alamnya. Maka di dalam hati, saya berusaha bersikap dan mengkondisikan diri supaya perjalanan tersebut terasa menyenangkan dan diniatkan untuk jalan-jalan.

Saya tidak sendiri, ada 3 kawan yang akan membersamai dalam perjalanan jauh ini. Mereka adalah Rizqi, Agri dan Nala. Ketiga-tiganya juga belum berpengalaman pergi ke Eropa. Maka inilah cerita perjalanan kami. Cerita perjalanan perdana ke sebuah negeri indah bernama Switzerland.

Keberangkatan

Meskipun bukan pertama kali berangkat ke luar negeri, persiapan selalu saja menguras tenaga dan pikiran. Terlebih jika terpikir bagaimana dengan anak dan istri yang akan saya tinggal selama 2 minggu. Dulu ketika masih tinggal bersama dengan orang tua, anak-anak bisa dikondisikan dengan mudah karena ada banyak yang membantu. Kini ketika berada di rumah sendiri, maka beban itu akhirnya menumpuk ke satu orang saja, yaitu istri saya. Bismillah, saya hanya berdoa semoga dimudahkan dan dilancarkan semuanya.

Pernak-pernik kebutuhan di Swiss juga harus disiapkan. Hal-hal kecil tapi penting dan perlu dipikirkan. Berapa baju yang dibawa, bagaimana dengan jaket tebal & baju penghangat (long john) untuk menghadapi musim dingin, tidak lupa bagaimana dengan makanan dan obat-obatan pribadi. Itu juga belum termasuk dengan Visa, pemesanan hotel dan tiket pesawat. Saya tidak akan menceritakan detil hal-hal tersebut. Anggap semua persiapan tadi sudah selesai dan kini waktunya untuk keberangkatan. Yeayy.

Hari itu Jum'at, 6 Desember 2019 sore hari (selepas ashar), hujan deras sedang mengguyur kota Madiun dan sekitarnya. Posisi saya masih berada di kantor, sedang bersiap untuk pulang ke rumah karena nanti malamnya sudah harus berangkat ke Jakarta. Jadwal pesawat kami ke Swiss yaitu pada hari Minggu 8 Desember 2019 pukul 00.15 WIB (dini hari). Saya mulai gelisah, jam di tangan sudah menunjukkan pukul 16.30 WIB. Jadwal kereta ke Jakarta pukul 19.40. "Ya Allah, semoga hujan ini segera reda", doa saya ketika itu.

Ketika Hujan Bercerita
Saat menuju lokasi parkiran, masih hujan deras

Singkat cerita akhirnya hujan mulai agak reda dan saya nekat pulang ke rumah dalam kondisi masih hujan meski tidak terlalu deras. Istri sudah menunggu di rumah dengan was-was. Dengan agak terburu-buru saya bergegas mandi dan setelah itu bersiap menyantap makanan yang sudah disiapkan. Istri pasti sudah menyiapkan makanan ini dengan sepenuh hati. Makanan terakhir sebelum kita berpisah puluhan ribu kilometer. Saya tidak boleh menyia-nyiakannya.

Beberapa saat kemudian Bapak sama Ibu datang. Memang sebelumnya saya meminta tolong kepada mereka untuk ikut mengantar ke stasiun. Alasannya sederhana, saya akan melakukan perjalanan yang sangat jauh dan saya ingin dilepas oleh mereka hingga saat terakhir meninggalkan Madiun.

Sesampainya di Stasiun Madiun saya segera menurunkan koper dan mencari tempat duduk. Sambil ngobrol, saya tolah-toleh (clingak-clinguk) mencari rekan seperjalanan. Sepertinya saya yang datang paling duluan. Saya mengecek HP, ada beberapa WA masuk, rupanya mas Agri juga sudah datang. Dalam pesan WA-nya, dia izin mencetak tiket dan boarding duluan. Saya mencetak tiket sisanya sambil duduk kembali menanti rekan-rekan yang lain. Masih ada sekitar 15 menit sebelum keberangkatan kereta.

Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya semua sudah berkumpul. Dengan membesarkan hati, saya mulai berpamitan dengan keluarga tercinta. Kini saatnya meninggalkan mereka, menuju ke sebuah negeri yang jauh. Dalam hati, 'Doakan saya'.

Perjalanan Jakarta-Swiss

Setelah perjalanan selama 10 jam di kereta kami akhirnya sampai di Jakarta. Hari itu Sabtu 7 Desember 2019. Masih ada waktu seharian sebelum jadwal keberangkatan pesawat kami. Kami memilih menghabiskan waktu seharian di Mess. Melihat-lihat kembali isi koper, apabila masih ada yang belum ada, maka masih ada kesempatan untuk menyiapkannya.

Pesawat yang akan kami naiki adalah Emirates. Itupun setelah melihat beberapa opsi yang ada. Adapun 3 kriteria yang kami gunakan adalah yang track record-nya bagus, paling murah, dan jadwalnya sesuai. Ada pilihan lain yaitu Qatar Airways, namun jadwalnya tidak enak. Ada juga Turkish Airline, namun harganya sudah mahal. Pilihan lainnya ada juga Thai Airways, namun lokasi transitnya adalah Thailand, maka bisa dibayangkan perjalanan panjang dari Thailand langsung ke Switzerland yang memakan waktu 12 jam. Saya tidak terlalu nyaman berada di pesawat selama itu. Akhirnya dengan berbagai pertimbangan, kami mantab memilih Emirates dengan lokasi transit di Dubai, Uni Emirat Arab.

Emirates

Waktu yang dinantipun datang juga. Sekitar pukul 19.00 WIB selepas Isya', kami berangkat dari Mess menuju Bandara Internasional Soekarno Hatta dengan menggunakan Grab. Untuk penerbangan internasional, usahakan datang di bandara 3 jam sebelum take-off. Mottonya adalah 'lebih baik menunggu agak lama di bandara daripada ketinggalan pesawat'.

Penerbangan pertama Jakarta-Dubai
Ini sedikit kepingan memori saat naik Emirates Jakarta Dubai.

Screen entertainment on-board Emirates

Jakarta-Dubai berjarak 4182 miles yang akan ditempuh dalam waktu sekitar 8 jam. Untung waktunya di malam hari, jadi saya akan menghabiskan waktu di pesawat dengan tidur. he he.

Menu makanan di Emirates, lezaat dan halal

Sesaat setelah take-off dan mencapai ketinggilan 35.000 feet, kru kabin mulai bersiap untuk membagikan makanan. Saya baca di brosur makanan yang dibagikan, menunya sangat menggugah selera. Meski sudah ngantuk, saya usahakan untuk tetap terjaga hingga makanan dibagikan.

Salah satu kenyamanan di pesawat Airline Timur Tengah adalah menu makanannya yang halal. Jadi kita tidak perlu ragu-ragu untuk menyantap makanan apapun di pesawat ini.

To be continued ...




Total Pengunjung

 

Inspirasi Coffee Copyright © 2011 - |- Template created by O Pregador - |- Powered by Blogger Templates