Selamat datang di gubug Inspirasi Coffee. Blog ini dikelola oleh penulis sejak September 2008. Sampai sekarang, semangat untuk menulis masih meletup-letup dan terasa kian meletup menarikan pena melukiskan prasasti demi prasasti kehidupan. Hak cipta dilindungi oleh Allah Azza wa Jalla.
Selamat Membaca ^_^

Monday, April 16, 2018

0 Keindahan Wisata Dam Jati Magetan

"One’s destination is never a place, but a new way of seeing things".
-- Henry Miller
Pagi itu, udara masih terasa dingin. Matahari belum sempurna menampakkan sinarnya. Saya duduk-duduk di kursi dengan santai. Secangkir kopi hitam terpampang manis di atas meja, setia menemani saya. Anak-anak lalu lalang berlarian. Mereka terlihat asyik dengan dunianya, sesekali tertawa lepas merasakan ada yang lucu dalam permainan mereka. Di lain sisi, saya rasakan tubuh ini masih capek. Sekitar pukul 5 pagi tadi, saya baru saja menjejakkan kaki di stasiun Madiun. Setelah sebelumnya saya berada di Jakarta dalam acara Pameran Kereta Api (Railway Exhibition) yang diselenggarakan di Jiexpo Kemayoran Jakarta. Mewakili PT. INKA (Persero), saya bertugas untuk menjaga booth INKA dalam pameran tersebut selama 3 hari lamanya.

Sesruput demi sesruput saya rasakan kopi ini seperti memberikan energi yang tiba-tiba mengalir dalam tubuh. Momen pagi yang benar-benar hangat. Mendengarkan celoteh anak-anak, benar-benar menjadi pagi yang indah.

Namun di tengah suasana yang hangat itu, istri tiba-tiba bertanya apakah bisa hari ini menyempatkan untuk bisa mengunjungi objek wisata Dam Jati yang sekarang ini sedang hits. Tambahnya, mumpung hari masih pagi, dan lokasinya juga tidak jauh-jauh amat dari rumah.

Sebentar-sebentar, Dam Jati? saya berpikir sejenak. Memang akhir-akhir ini saya sering mendengar tentang Dam Jati atau Bendungan Jati yang katanya sudah menjadi objek wisata baru yang patut untuk dikunjungi. Beberapa teman juga sudah mengunjunginya. Sebelumnya saya pernah kesana kira-kira dua tahun yang lalu dan rasanya tempatnya masih biasa-biasa saja, tidak ada yang istimewa. Tetapi kabar yang beredar, kita-kira awal tahun 2018 lokasi Dam Jati dirombak. Beberapa bagian didesain sedemikian rupa sehingga tampak lebih menarik. Hal yang paling mencolok adalah pemberian warna-warna dan balon-balon yang dipasang di beberapa sisi, menjadikan Dam Jati tampak lebih meriah dan hidup.

objek wisata Dam Jati Magetan
Kak Hanan dan Dek Agha mendaki bukit mini menuju hutan jati yang ada di lokasi wisata Dam Jati


Bendungan Jati atau Dam Jati

Dam Jati terletak di Gorang Gareng (Taji), Kecamatan Nguntoronadi, Kabupaten Magetan. Dari jalan besar yang menghubungkan gorang-gareng (kawedanan) dengan Kebonsari Madiun, untuk menuju lokasi Dam Jati masih harus masuk ke dalam sekitar 1 km jauhnya. Dam Jati sudah ada sejak saya masih kecil. Saya ingat ketika saya masih duduk di bangku Sekolah Dasar, bapak mengajak saya untuk memancing ikan di Dam Jati ini. Dahulu, Dam Jati cukup lumayan lho pengunjungnya. Kebanyakan dari pengunjung adalah para pemancing atau masyarakat sekitar yang ingin melihat wisata pedesaan yang alami. Untuk bisa menikmati wisata Dam Jati, dulu tidak ditarik biaya, karena memang tidak terlalu banyak pengunjungnya. Takutnya kalau ditarik biaya, nanti malah tidak ada yang datang.

Namun seiring perkembangan zaman, pengunjung objek wisata Dam Jati juga tak mengalami kenaikan. Jumlahnya tetap itu-itu saja. Entah ide atau usulan dari siapa, akhirnya Dam Jati mengalami penataan ulang untuk dijadikan objek wisata unggulan daerah. Nah, bagi kamu-kamu yang belum berkunjung ke Dam Jati, rugi lho kalau belum kesana. Lha disana memangnya ada apa saja?

Ini dia beberapa hal yang bisa kamu nikmati di objek wisata Dam Jati :
  • Suasana Sungai dan Bendungan
  • Ini jelas merupakan fitur utama dari objek wisata ini.

  • Pesona Hutan Jati
  • Di dekat bendungan terdapat pohon jati yang dihias dengan balon-balon dan beberapa hiasan kupu-kupu yang memungkinkan kita untuk berfoto-foto disana.
    wisata bendungan dam jati magetan

  • Hiburan Musik dan Senam Sehat (hanya di hari minggu)
  • Nah bagi kamu penggemar dangdut, mungkin bisa datang kesana di hari minggu. Disana biasanya akan lebih ramai dari biasanya, karena akan ada panggung hiburan dan senam sehat.

    wisata Dam Jati di hari minggu
    Suasana di hari Minggu

  • Spot untuk Foto
  • Kamu bisa memilih berbagai macam spot dan lokasi menarik untuk mengambil selfie atau foto rame-rame bersama teman-teman.

Cara Menuju ke Wisata Bendungan Jati

Nah berikutnya kita bahas bagaimana cara menuju lokasi wisata ini.

Dari Madiun
Bagi kamu yang berasal dari kota Madiun, berikut ini adalah peta untuk menuju lokasi wisata Dam Jati. Dari Alun-alun Madiun, silahkan menuju ke arah gorang-gareng melalui desa Madigondo sampai bertemu dengan Polsek Takeran. Dari Polsek Takeran silahkan belok ke arah kiri sampai mentok. Lalu belok ke arah kiri sampai ketemu jembatan. Nah sebelum jembatan, silahkan belok ke kanan (ke arah selatan) lewat jalan kecil menyusuri sungai.
jalur menuju wisata Dam Jati dari arah Madiun

Dari Magetan Kota
Untuk anda yang berasal dari Kota Magetan, silahkan lewat jalur Magetan-Gorang-gareng sampai akhirnya ketemu perempatan Gorang-gareng. Dari perempatan Gorang-gareng kemudian belok kanan. Lurus saja ke selatan sampai ketemu Pabrik Gula Rejosari kemudian ambil arah kiri (ke arah Timur). Terus saja ke timur sampai ketemu dengan sungai. Nah tepat sebelum sungai, silahkan belok ke kanan (ke arah selatan). Susuri sungai hingga ketemu lokasi wisata Dam Jati.

Jalur menuju Dam Jati dari arah Magetan

"Seseorang tidak akan pernah menemukan lautan baru hingga dia memiliki keberanian untuk melupakan pantai".
--Andre Gide.



Tuesday, April 10, 2018

0 April, Titik Balik Era Blogging

Suatu ketika aku ditanya seorang kawan mengapa masih saja menggembor-nggemborkan aktifitas nge-blog atau blogging, padahal sekarang kan katanya sudah zamannya nge-vlog. Menanggapi komentar seperti itu, saya menjawab bahwa menulis itu sudah menjadi jiwa saya. Kata orang sih, cinta itu buta. Maka ketika sudah cinta, maka tak peduli apakah sedang booming atau tidak, saya tetap suka menulis dan akan terus menulis. Yup, se-simple itu.

April menjadi titik balik era blogging

Dan di bulan April ini saya ingin menjadikannya sebuah momentum untuk membangunkan macan tidur. Mengapa April? ya karena saya sedang menemukan semangat untuk menulis. Saya tidak tahu bagaimana momentum semangat ini terbentuk, tetapi entahlah sekarang ini semangat saya sedang tinggi-tingginya untuk menulis. Dan saya tidak mau menyia-nyiakannya.

Ketika saya membuka arsip tulisan di blog ini, sungguh ternyata saya benar-benar tidak produktif. Bayangkan, tahun 2018 ini saya baru menulis 2 artikel saja. Sedangkan tahun lalu yakni pada tahun 2017 blog ini hanya terbit 4 artikel. Betul-betul tidak produktif. Padahal di tahun 2012, tercatat dalam sebulan saya pernah menulis 28 artikel. Wow, ini berarti hampir setiap hari saya menulis dan mempublish tulisan. Kala itu sungguh merupakan pencapaian yang luar biasa. Rasanya ingin sekali mengulangi sensasi itu. Tapi apakah mungkin? dengan kondisi saat ini sepertinya hal itu akan sulit.

jalan kehidupan seperti rel kereta api

Saya pernah menulis artikel asalan mengapa harus nge-blog. Seperti menyusuri sebuah jalan rel. Saya hanya perlu menapakinya selangkah demi selangkah, sehasta demi sehasta. Tujuan akhirnya memang belum terlihat, tetapi saya hanya perlu menikmati prosesnya, menjalaninya dengan senang hati.



Monday, April 2, 2018

2 Kisah Perjalanan Umroh : Episode Madinah Bagian 7

Simak kisah sebelumnya di : Madinah Bagian 6

Senja Sendu di Madinah

Matahari sudah tenggelam di ufuk barat, komplek masjid Nabawi masih saja ramai oleh aktifitas orang beribadah ataupun hanya sekedar berjalan-jalan menikmati suasana. Ini adalah hari terakhir kami berada di kota Madinah. Ah, rasanya baru saja kemarin kita tiba di kota ini, tetapi esok hari kita sudah harus meninggalkannya. Rasanya sungguh berat sekali. Bagaimana tidak berat coba? Kota yang nyaman dan aman, deretan pohon kurma yang melambai-lambai sepanjang jalan, ditambah dengan pesona masjid Nabawi yang tak pernah sepi betul-betul menentramkan hati. Sungguh hati ini berharap bisa selamanya disini. Dalam hati aku berdoa, semoga suatu saat aku bisa kembali menjejakkan kakiku kesini lagi, tentunya bersama dengan orang-orang yang aku sayangi. Uhuks.

Malam ini selepas sholat Isya', aku bersama mas Roy dan Advin berencana untuk berjalan-jalan di sekitar hotel, menikmati keindahan malam kota Madinah. Sekedar untuk menikmati suasana, atau setidaknya berusaha mengenal beberapa sudut kota Madinah. Sehingga jikalau nanti suatu saat Allah mentakdirkan kami kembali ke kota ini, kita sudah cukup mengenalnya, minimal lokasi tempat-tempat membeli oleh-oleh khas Madinah.

Malam yang Berkesan

Kegelapan malam mulai membungkus kota. Semilir angin sepoi-sepoi sedikit menggoyangkan ujung daun pohon Kurma. Kesibukan masjid Nabawi tidak pernah sepi, apalagi di waktu-waktu ibadah wajib berlangsung. Ketika adzan berkumandang, maka semua orang akan menyambutnya, berhamburan keluar hotel/toko untuk menunaikan ibadah sholat wajib. Wajah mereka seakan berseri-seri, menjemput jamuan Sang Raja pemilik bumi. Semua toko-toko tutup dan jalanan pun mulai sepi. Sungguh suasana yang jarang dijumpai di tempat lain di muka bumi ini.

Sholat isya' sudah selesai dilaksanakan. Sebagian orang mulai berhamburan keluar masjid, dan sebagiannya yang lain lagi memilih tetap berada di dalam masjid. Aku, mas Roy dan Advin bertemu di depan hotel tempat kita menginap. Kami mulai berjalan menyusuri gedung-gedung di dekat hotel. Toko-toko yang menjual berbagai aksesoris dan pakaian terlihat sibuk melayani pembeli. Sesekali kami disapa oleh penjual, dengan logat khas Arab mereka berusaha menawarkan dagangannya. Bila tertarik, kami berhenti sebentar melayani godaan mereka. Jika tidak tertarik, kami membalas dengan senyuman sambil tetap melanjutkan langkah.

es krim di madinah
sumber : disini

Es Krim 10 Riyal

Kami terus menyusuri gedung-gedung yang berjajar rapi sepanjang jalan. Sekuat kaki melangkah, disitulah tempat yang kami kunjungi. Di sepanjang perjalanan, kami beberapa kali berjumpa dengan orang Indonesia. Baik itu satu biro dengan kami, maupun dari biro yang lain. Mereka seperti layaknya kami, menikmati malam di Madinah. Setelah dirasa cukup jauh, kami melihat ada keramaian di ujung jalan. Rupanya banyak terdapat penjual makanan. Salah satunya adalah toko es krim. Pemilik toko terlihat sibuk melayani beberapa pengunjung. Kamipun mendekati tokonya. Di dinding terpampang beberapa brosur atau pamflet dari berbagai jenis es krim. Aku membaca daftar harganya. Alangkah terkejutnya diri ini menemukan bahwa harga termurah dari es krim yang dijual di toko ini adalah 10 Reyal. Eit, 10 Reyal itu berapa ya? (ting..tung..ting..tung..) Padahal kemarin aku membeli kebab porsi yang lumayan besar seharga 5 riyal.

Setelah mengkonversi nilai tukar uang Reyal dengan Rupiah. Rupaya harga es krim ini 36 ribu rupiah!. Wow kok mehong ya? (*mehong = mahal). Ah, dengan uang segitu lumayan bisa beli kebab 2 porsi pikirku. Dan dari rombongan yang jalan-jalan ini, ternyata hanya aku yang tidak beli es krim itu. Yang lain mungkin berpikir, ah kapan bisa beli es krim seharga 36 ribu rupiah. Tapi bagiku, entah kenapa aku jadi tidak berselera makan es krim.

Pertanyaan

Eh aku kok jadi ingin bertanya pada pembaca sekalian, es krim 36 ribu itu mahal ndak sih? ^_^



Sunday, January 7, 2018

0 Kisah Perjalanan Umroh : Episode Madinah - Bagian 6

Cerita sebelumnya bisa dibaca pada bagian ini : Madinah bagian 5

Sore, 6 Maret 2017

Sore itu aku berada di depan warung kebab di dekat Hotel Al-Safwa (tempat aku menginap). Sambil menunggu pesanan kebabku, aku memandangi sang koki yang cukup energik menyiapkan pesanan. Tangannya cekatan membuat racikan. Aku hanya bisa berdiri terpaku sambil melihatnya dengan seksama. Sekilas, penampilannya layaknya seorang chef hebat. Dengan peci putih di kepala, balutan baju putih yang senantiasa tampak bersih. Ia juga terlihat cukup higienis, tangan kirinya tampak terbungus plastik. Sedang tangan kanannya terlihat lihai memainkan pisau. Ah, aku jadi teringat dengan acara Chef Table di NET TV yang dibawakan oleh Chef Candra. Namun, tampilan celana jeans yang agak kumal, langsung membuyarkan hayalan bodohku.

Tak menunggu lama, pesananku ternyata sudah selesai. Kebab asli Arab berukuran jumbo siap disantap. Irisan dagingnya lumayan besar-besar. Ditambah campuran berbagai sayuran segar, taburan kentang goreng yang crispy, serta lembutnya tekstur mayonese dan saos tomat, menjadikan kebab ini semakin menggugah selera. Aku mengeluarkan uang 5 Reyal (setara dengan 17 ribu rupiah) sesuai dengan perjanjian awal. Harga kebab ini 5 reyal, cukup murah kurasa. Karena beberapa meter dari tempat kami menginap, ternyata ada es krim yang dijual seharga 10 reyal. Jadi sedikit banyak, kita bisa membandingkan harga. Sambil tersenyum, sang pemilik warung kebab menerima uang dariku dan sebagai gantinya, dia memberikan satu bungkus kebab yang menggoda itu. Ah, jadi tak sabar ingin mencicipi rasanya.

Aku mempercepat langkah, bergegas menuju lobi hotel, ingin segera mencoba bagaimana rasa kebab asli Arab ini. Apakah rasanya lebih lezat jika dibandingkan dengan kebab Babarafi (cita rasa lokal) yang terkenal di tanah air? Memasuki pintu utama hotel Al-Safwa, aku melihat ada kursi kosong di lobi hotel. Tanpa berpikir dua kali, aku langsung menuju kursi tersebut sebelum ditempati oleh orang lain. Aku membuka bungkus plastik kebab asli dari Arab ini. Irisan dagingnya memang besar dan empuk sekali. Campuran kentang gorengnya renyah di luar, lembut di dalam. Kalau versi detektif rasa, aku kasih skor 8.5 dari skala 10.

Kebab Madinah

Pasar Tradisional Madinah

Hari kedua di kota suci Madinah. Ah, rasanya waktu berjalan begitu cepat. Kita hanya diberikan waktu 3 hari saja disini. Harus benar-benar dimanfaatkan waktunya, agar perjalanan kali ini benar-benar memberikan kesan yang mendalam. Di hari kedua ini, selain menghabiskan banyak waktu di masjid Nawabi, kita akan mencoba jalan-jalan berkeliling ke tempat-tempat menarik di dekat hotel Al-Safwa. Seperti pasar tradisional yang berada tak jauh dari masjid Nabawi. Atau mencoba berjalan-jalan di depan pintu utama masjid Nabawi yang banyak berkeliaran burung merpati yang indah. Ah, sepertinya kali ini akan menjadi jalan-jalan yang menyenangkan.

Aku bergegas menuju lantai 2 tempat kami menikmati sarapan. Perutku sudah sangat lapar, sepertinya perlu segera diganjal dengan menu yang spesial. Bersama dengan Nugraha, kami membincang tentang rencana kami untuk jalan-jalan ke pasar tradisional di dekat masjid Nabawi. Siapa tahu ada barang-barang yang bisa dijadikan oleh-oleh ke tanah air. Nugraha juga berencana untuk membeli kurma Ajwa (kurna Nabi) yang terkenal itu.

Selesai menikmati sarapan, saya dan Nugraha beranjak menuju lokasi pasar tradisional. Jaraknya tidak terlalu jauh dari hotel dan masjid Nabawi. Hanya dengan berjalan beberpa menit saja, kita sudah sampai di lokasi. Pasar tradisional di Madinah ini mirip sekali dengan pasar dadakan di Gasibu kota Bandung. Para penjual sangat aktif menjajakan dagangannya.

Kalau di Gasibu, Bandung kita biasa mendengar,
"Boleh..boleh belanja..boleh".

Kalau di Madinah sini, logatnya berbeda,
"Halal..halal.. silahkan! ^_^".

Banyak sekali orang dari Indonesia atau Malaysia yang belanja di pasar ini. Maka mereka yang berjualanpun sudah terbiasa dengan kosakata bahasa sederhana untuk menjajakan barang dagangan mereka ke orang-orang melayu.

Beraneka ragam barang dagangan dijual disini. Mulai dari baju, perhiasan, tasbih, gantungan kunci, kurma dan makanan. Sebenarnya aku ingin sekali belanja disini, namun mengingat kita belum melaksanakan ibadah umroh, jadi niat untuk berbelanja kita tunda dulu. Kita bisa membayangkan betapa repotnya nanti ketika membawa barang-barang belanjaan dalam perjalanan bus dari kota Madinah ke Mekkah dengan pakaian Ihrom.

Alhasil, di pasar tradisional ini, kita hanya melihat-melihat saja. Banyak barang-barang unik, aneka gantungan kunci yang menarik.

Es Krim 10 Reyal

Puas berjalan-jalan ke pasar tradisional kita menyempatkan berjalan-jalan mengitari lokasi masjid Nabawi. Awalnya, kita sungguh meremehkan, ternyata masjid Nabaw0i itu luas sekali. Akhirnya kami hanya berjalan di beberapa bagiannya saja. Kaki sudah tak kuat diajak berjalan lagi, kita sejenak istirahat dibawah payung besar di pelataran masjid Nabawi sebelah utara. Setelah puas melihat-lihat dan menikmati suasana, kita kembali ke hotel, menunggu waktu dhuhur tiba.

Besok adalah hari ke-3 kami berada di kota Madinah. Hari terakhir kita berada di kota suci ini. Agenda besok adalah berkunjung ke masjid Quba (masjid pertama yang dibangun oleh Nabi), ke bukit Rumat dan berkunjung ke jabal magnet. Dan selepas dhuhur kita akan berangkat menuju Mekkah. Maka malam ini aku, mas Roy dan Advin berencana jalan-jalan menikmati malam terakhir di kota Madinah sebelum besoknya kita menuju ke kota Mekkah. Dan di malam ini, akan ada tragedi es krim 10 reyal!.

To be Continued...




Total Pengunjung

Statistik Alexa

 

Inspirasi Coffee Copyright © 2011 - |- Template created by O Pregador - |- Powered by Blogger Templates