Selamat datang di gubug Inspirasi Coffee. Blog ini dikelola oleh penulis sejak September 2008. Sampai sekarang, api semangat untuk menulis masih tetap menyala, menarikan pena melukiskan prasasti-prasasti kehidupan. Hak cipta dilindungi oleh Allah Azza wa Jalla.
Selamat Membaca ^_^

Sunday, November 3, 2019

4 Singgah Warkop #2 : Kolam.Co


"Kopi tak butuh dimengerti, namun ia selalu menemani"

Petualangan kopi kembali berlanjut. Setelah kemarin saya mereview kedai Kopi Kakak (cerita selengkapnya bisa dibaca disini), kami Trio Kopiers kembali berpetualang mengunjungi tempat-tempat ngopi yang lain seantero Madiun. Kali ini kami ajak teman-teman untuk mengenal dan berkunjung ke kedai kopi Kolam.Co. Waah, dimanakah itu? Yuk kita kupas!

Lokasi dan Tempat

Berlokasi di Jalan Diponegoro no 40, Kota Madiun, kedai kopi Kolam.Co menyajikan tempat ngopi kekinian yang sayang jika kamu lewatkan. Nih, langsung aja lihat preview foto-fotonya.

Kedai Kolam.co Madiun
Kedai Kopi Kolam.co

Kolam.Co Madiun
Bagus ya tempatnya

Pelataran Kolam Co
View dari pelataran Kolam.Co

Halaman Kolam.Co cukup luas, disediakan beberapa kursi rotan dan karet yang berada pada sisi luar, sedangkan pada sisi dalam terdapat meja dan kursi yang terbuat dari cor atau semen. Dan seperti kebanyakan di tempat-tempat ngopi yang lain, kursi yang terletak pada bagian luar biasanya menjadi pilihan favorit bagi para pengunjung yang rata-rata anak-anak muda millenial.

"I do not need an inspirational quote, I need a coffee"

Kolam.Co juga dilengkapi dengan toilet yang cukup bersih. Menurut saya ini fasilitas yang wajib tersedia bagi semua kedai kopi dimanapun itu. Orang itu cenderung ingin menikmati kopi bersama teman-teman dengan durasi yang cukup. Karena kamu sendiri tahu, jika kita sudah bersama kopi maka pembicaraan itu seperti tak akan terhenti.

Kolam Kopi Madiun
Ruang tempat Barista meracik kopi

Suasana di Kolam.Co

Menu

Seperti di kedai kopi - kedai kopi yang lain, Kolam.Co juga menyediakan berbagai macam varian kopi yang bisa kita nikmati. Mulai dari yang kopi murni, hingga campuran berbagai rasa yang lain. Ada yang panas, ada pula yang disajikan dingin.

Tidak seperti di Kopi Kakak, kedai Kolam.Co menyediakan menu berat, salah satunya adalah Rice Bowl. Jadi buat kamu yang ingin ngopi sekaligus mengisi perut yang kosong, kedai kopi ini cocok untuk dijadikan tempat nongkrong bersama teman dan sahabat.

Cerita

Rencana ngopi bareng kali ini sudah diagendakan beberapa hari sebelumnya. Menunggu waktu yang tepat agar semua anggota bisa hadir. Seperti biasa, anggota tetapnya (yang punya hak veto) adalah mas Roy, Elkaha dan saya sendiri. Sebenarnya kemarin ada satu kandidat anggota baru, namun karena ada keperluan lain tidak jadi ikut. Ya sudahlah, akhirnya kita bertiga saja yang berangkat.

Waktu itu ada beberapa pilihan warung kopi yang menjadi kandidat untuk dipilih. Ada Ikio Coffee, Cafe Wow, Kopi Soe dan Kolam.Co. Setelah beberapa pertimbangan, akhirnya kami memilih Kolam.Co untuk disinggahi kali ini. Menurut informasi yang saya dengar, Kolam.Co ini memiliki hubungan dengan kedai Kolam Kopi yang ada di daerah Klegen. Sepertinya Kolam.Co ini merupakan cabang dari Kolam Kopi.

Seperti biasa, kami datang ke tempat ngopi selepas pulang kerja. Ketika kami datang, ternyata sudah banyak pengunjungnya. Dan kursi-kursi favorit sudah terisi semua, tinggal kursi batu yang berada di tengah-tengah. Ah tidak apalah, yang penting kami masih bisa menikmati sesruput kopi disini.

Kolam Kopi Jalan Diponegoro Madiun
Suasana Ngopi di Kolam.co

Setelah mencari tempat duduk yang paling nyaman, kami mendatangi bar untuk memesan kopi dan makanan. Untuk kopi, saya dan mas Roy memesan 'Vietnam Drip', sedangkan Elkaha memesan 'V60'.

Selain kopi, untuk yang seger-segernya saya memesan Lemonade. Sebenarnya untuk teman kopi, saya biasa memilih air mineral, tetapi karena Lemonade di Kolam.Co ini sangat enak, yaah akhirnya saya terarik untuk pilih Lemonade aja.

Nah ini yang saya sedikit kecewa, ternyata menu makan berat (rice bowl) nya belum ready. Padahal kondisi perut sudah keroncongan nih.

Lemonade Kolam.Co
Lemonade

Sambil menunggu pesanan kopi datang, saya dan Elkaha pergi sebentar keluar untuk mencari makanan berat. Dan sama seperti cerita di Kopi Kakak, kami membawa makanan berat dari luar ke lokasi ngopi. Pilihan jatuh ke Ayam Pecak mbah Sarni.

Kopi Vietnam Drip
Kopi Vietnam Drip

Terus terang ini pertama kalinya saya minum kopi Vietnam Drip. Cara penyajiannya cukup unik. Di atas gelas terdapat sebuah mug kecil yang berisi serbuk kopi dan air panas. Air panas tersebut dibiarkan secara alami menetes kebawah melewati serbuk kopi. Sedangkan pada bagian bawah, sudah menanti susu kental yang siap diaduk bersama dengan tetesan kopi tersebut jika volumenya sudah mencukupi.

Kopi Vietnam Drip saat sudah penuh
Kopi Vietnam Drip saat sudah penuh
Kopi Vietnam Drip sesudah diaduk
Kopi Vietnam Drip sesudah diaduk

Serius, kopi Vietnam Drip ini rasanya enak banget lho. Bagi yang belum pernah ngrasain kopi ini, kamu harus coba deh. 


Demikian sedikit cerita ngopi saya di Kolam.Co. Kesimpulannya sih lokasinya lumayan nyaman, kopinya enak banget, lemonade-nya juara, tapi sayang sekali saya belum nyoba Rice Bowl-nya. Mungkin di lain kesempatan bisa dicoba. Oke sekian dulu ya untuk cerita seri singgah warkop kali ini. Tetap nantikan cerita-cerita petualangan kopi berikutnya di blog ini. Byee....!


Sunday, October 27, 2019

0 Jalan-jalan ke Jepang Musim Dingin Bulan Januari : Part 2

Cerita sebelumnya di Jalan-jalan ke Jepang Musim Dingin : Part 1

***

Selepas keluar dari Ueno Station, udara dingin langsung menyergap masuk ke dalam pori-pori tubuh. Meski sudah memakai jaket ganda, tetap saja kulitku menggigil merasai dingin. Kalau dilihat dari informasi di internet, suhu udara saat ini sekitar 5 derajat celcius. Tidak seperti diriku yang baru pertama kali datang ke Jepang, mas Febry sudah ke sekian kalinya datang ke negeri ini. Jadi baginya, perjalanan kali ini tidaklah terlalu istimewa. Ia sudah pernah tinggal 5 tahun lamanya disini untuk menempuh studi S2 dan S3-nya, jadi kelihatannya hal ini sudah biasa baginya.

Sambil terus berjalan mengikuti mas Febry, aku tak berhenti terpesona (kalau tidak mau disebut nggumun) dengan suasana sekitar stasiun Ueno. Sepanjang kaki melangkah, aku seperti orang kebingungan, tengok kanan tengok kiri, seolah tak ingin melewatkan segala penjuru pemandangan yang tak biasa ini. Dan memang benar adanya, ini pertama kalinya aku pergi ke salah satu negeri yang aku impikan.

Ueno Station Park
Sesaat keluar dari Ueno Station, Tokyo

kondisi jalanan di Jepang
Potret kondisi jalanan di Jepang dari atas jembatan

Sebelum pergi ke hotel tempat kami akan bermalam selama seminggu, kami terlebih dahulu pergi ke kantor pos. Ada paket yang harus dikirim oleh mas Febry untuk diberikan ke seorang temannya yang sedang menjalani studi di Jepang. Satu kardus besar berisi oleh-oleh dari Indonesia.

Kantor Pos Jepang
Kantor Pos di Jepang

Lima tahun menempuh studi di Jepang membuat mas Febry sudah cukup terbiasa berkomunikasi dengan orang lokal. Proses mengirim paket melalui kantor pos pun berjalan lancar. Sambil menunggu, aku duduk di kursi memandangi orang-orang yang sedang mengirim paket. Mereka terlihat bercakap-cakap menggunakan bahasa lokal, aku hanya memperhatikan, menikmati saja pemandangan yang tak biasa ini.

Setelah selesai dengan urusan di kantor pos, kamipun bergegas menuju hotel. Dengan bantuan aplikasi google maps, kami berhasil menemukan hotel yang kami cari. Hotel Marutani, begitulah namanya. Sebelumnya, kami sudah mem-bookingnya lewat aplikasi Traveloka.

Agenda Hari Pertama : ke Machida

Karena proses check-in dimulai pukul 12.00, maka kami tak bisa langsung masuk ke kamar hotel. Kami hanya bisa menaruh koper saja. Kondisi udara sangat dingin, jadi tak masalah tidak sempat mandi pagi ini, toh kami juga tidak keringetan. Cukup dengan sikat gigi dan cuci muka, kami bersiap dengan agenda hari ini.

Jadi kali ini kami akan berkunjung ke sebuah perusahaan yang berlokasi di daerah Machida. Untuk bisa kesana, kami menggunakan kereta KRL yang berangkat dari stasiun Okachimachi dan nanti turun di stasiun Tamasakai. Di dalam kereta ini kami bertemu dengan salah seorang rekan kami berkewarganegaraan Jepang yang bekerja di perusahaan kami di Indonesia. Namanya Emoto, kami biasa memanggilnya Emoto-san. Hampir 2 tahun ini, ia menjadi salah satu konsultan direksi kami. Iapun ikut dalam bisnis trip kali ini, meski kami berangkat dengan jadwal yang berbeda.

naik kereta di Jepang
Kami berada persis berada di belakang kabin masinis

Yang menarik dari perjalanan kereta kali ini adalah masinisnya yang seorang perempuan. Tentu saja hal ini jarang sekali kami temui di Indonesia. Perhatikan foto di bawah ini.

Masinis Perempuan di Jepang
Masinisnya seorang perempuan

Kami turun di stasiun Tamasakai. Berbeda dengan situasi di stasiun Okachimachi yang selalu sibuk dan ramai, di stasiun Tamasakai kondisinya sangat sepi. Ah, jadi ingat dengan stasiun Ngrombo di Grobogan Jawa Tengah.

Stasiun Tamasakai Japan
Stasiun Tamasakai

Setelah beberapa saat keluar dari stasiun, 2 orang dengan perawakan Jepang tampak keluar dari mobil. Mereka terlihat tersenyum dan menghampiri Emoto-san. Ternyata mereka adalah perwakilan dari perusahaan yang akan kami kunjungi. Mereka bertugas menjemput kami. Kami diminta masuk ke dalam mobil, dan dalam beberapa menit kami sudah sampai di lokasi yang dituju.

Berkunjung ke Tamasakai Jepang
Karena malu, mukanya ditutup ya

Sekitar 2 jam kami melakukan kunjungan ke perusahaan di Machida ini, hingga tak terasa waktu sudah hampir sore. Kamipun menyudahi kunjungan. Saatnya kembali ke Tokyo. Kali ini kami memilih berjalan kaki dari lokasi menuju ke stasiun Tamasakai. Jaraknya tidak terlalu jauh sih, namun udara di sore hari itu benar-benar dingin. Apalagi pas kalau angin berhembus cukup kencang. Brrrrrr.....r. Dingin banget.

Setelah berjalan sekitar 15 menit, kami sampai di stasiun Tamasakai. Perjalanan dilanjut dengan menggunakan kereta KRL menuju stasiun Okachimachi, Tokyo.

Mencari Makan Malam

Salah satu tantangan bagi seorang muslim di negara mayoritas non muslim adalah soal makanan halal. Tak banyak warung atau restoran yang menyediakan makanan halal disini, meskipun Jepang adalah salah satu negara yang cukup ramah terhadap muslim. Sebenarnya bisa aja sih kami mencari-cari di internet lokasi restoran halal di Tokyo, namun biasanya harganya lebih mahal dan lokasinya yang mungkin jauh dari hotel kami.

Setibanya di Okachimachi station, kami mampir di daerah yang banyak menjual makanan. Banyak sekali jenis makanan yang dijual, namun kami harus berhati-hati karena susah mencari logo halal di warung-warung yang berjejer rapi di sepanjang jalan. Cara paling aman adalah mencari sea food atau sushi. Akhirnya kami masuk ke salah satu warung yang menjual sushi. Mas Febry memesan sushi, sedangkan aku memilih nasi sea food. Aku lupa harganya, mungkin sekitar 80 ribuan. Harga makanan di Tokyo bisa dibilang lumayan mahal. Sekali makan, rata-rata antara 60-150 ribu rupiah tergantung semewah apa menunya.

Nasi sea food ala Jepang
Nasi sea food pesananku

Cerita di hari pertama ini aku hentikan pada kisah nasi sea food yang lebih mirip nasi goreng.

To be continued ...


Sunday, October 20, 2019

0 Singgah Warkop #1 : Kopi Kakak

"Walau tak ada yang sempurna, hidup ini indah begini adanya"
-Filosofi Kopi, Dee Lestari

Aku lupa kapan dimulainya. Mungkin sekitar beberapa bulan yang lalu, aku dan dua orang sahabatku yakni mas Roy dan Elkaha berkunjung ke tempat ngopi. Kami memang sama-sama penggemar kopi dan ingin mencoba tempat ngopi yang asyik dan enak di seluruh Madiun. Sebenarnya hingga saat ini sudah beberapa tempat ngopi yang kami kunjungi, namun belum sempat kubahas di blog ini. Nah, mulai sekarang aku akan mencoba me-review tempat-tempat ngopi yang asyik tersebut.

Kali ini aku akan ngobrolin salah satu tempat ngopi yang beberapa waktu yang lalu aku kunjungi yaitu Kopi Kakak. Yuk kita bahas.

Dari Segi Lokasi

Berlokasi di sebelah selatan Alun-alun Madiun, cafe Kopi Kakak menyajikan tempat ngopi kekinian yang keren dengan taman yang cukup luas. Tempatnya benar-benar instagramable banget. Cocok banget buat kamu yang ingin pergi ke tempat ngopi, namun juga ingin share aktivitas ngopi kamu di instagram.

Lokasi Kopi Kakak Madiun
Luas banget ya . .

Kalau dilihat seksama, sebenarnya lokasi ini persis berada di depan rumah tua peninggalan zaman pemerintah Hindia Belanda. Kalau dibaca sejarahnya, rumah bersejarah ini merupakan rumah dinas Kapitan Cina yang dulunya bertugas menarik retribusi kepada orang-orang Cina yang berdagang di Madiun.

Entah bagaimana ceritanya, rumah tersebut terlihat masih eksis hingga sekarang. Tak ada yang meruntuhkannya, dan merubuhkannya. Dan saat ini, dengan tetap mempertahankan bentuk rumahnya, bagian depan dan halaman rumah itu sudah direnovasi dan disulap sedemikian rupa hingga menjadi tempat ngopi kekinian yang bagus banget. Keren ya?

Ngopi di Kopi Kakak
Kopi Kakak saat kondisi ramai

Review Kopi Kakak Madiun
Lokasi berada di depan bangunan bersejarah

Suasana ngopi di depan bangunan tua terlihat elegan ditambah dengan sinar lampu warna jingga. Terlihat menawan. Lokasi warung kopinya berada di dekat pohon besar yang berada di tengah-tengah taman. Untuk memesan kopi, pengunjung bisa datang ke warung tersebut kemudian dicatat nama dan pesanannya oleh pelayan. Bila kopi sudah siap, akan dipanggil dengan pengeras suara. Pengunjung diminta mengambil sendiri kopi tersebut untuk dibawa ke meja.

"Hidup ini seperti secangkir kopi, dimana pahit dan manis bertemu dalam kehangatan".

Menu

Kopi Kakak menyajikan berbagai varian kopi yang bisa kamu pilih. Ada kopi original hingga kopi dengan campuran rasa-rasa seperti susu, caramel dan Oreo. Jika kamu tidak terlalu suka kopi, kamu juga masih bisa menikmati acara ngopimu bersama teman dengan memesan Ice Tea atau Freshmilk. Semua menu minuman tadi dibandrol dengan harga mulai dari 5K hingga 20K.

Menu di Kopi Kakak
Varian Menu Kopi Kakak

Kamu tidak akan menemukan menu makanan berat di Kedai Kopi Kakak. Hanya ada beberapa varian snack sebagai teman ngopi kamu.  Ini menjadi sedikit dilema bagi kami yang ingin ngopi selepas pulang kerja. Pada jam-jam itu, jelas kami berada di kondisi perut kosong.

Ceritaku

Malam itu aku dan kedua sahabatku, mas Roy dan Elkaha datang ke kedai Kopi Kakak selepas pulang kerja. Mengetahui bahwa di kedai Kopi Kakak tidak menyediakan makanan berat, maka kami punya ide untuk beli dulu makanan berat dari luar untuk dibawa ke tempat ngopi. Eh boleh ndak sih? Ah itu urusan nanti.

Dan makanan berat yang kami pilih adalah nasi padang. Waaaaa... gokil! ngopi ditemani nasi padang. 

Sesampainya ke lokasi, pertama-tama aku agak bingung dengan lokasi parkirnya. Setelah beberapa menit melihat-lihat lokasi, akhirnya baru tahu lokasi parkir kendaraan berada di sebelah barat kedai Kopi Kakak. Area parkir yang disediakan rupanya cukup luas. Selepas memarkir motor, aku masuk ke area kedai Kopi. Rupanya mas Roy sudah datang duluan, aku dan Elkaha dengan seonggok nasi padang segera menghampirnya. Kamipun segera memesan minuman.

Mas Roy memilih Kopi Kakak Original, sedangkan aku dan Elkaha memilih Tante Oreo (Kopi Susu + Oreo Crumble + Vanilla). Selain kopi, kami juga memesan Lemon Tea Ice (sebagai penawar). Sebenarnya aku ingin memesan air mineral, tetapi sepertinya tidak tersedia di kedai ini.
kopi kakak madiun
Pesananku, Tante Oreo

Setelah pesanan kopi dan lemon tea datang, tidak peduli dengan tatapan aneh pengunjung lainnya, kamipun langsung menyantap nasi padang yang tadi dibawa. Meski begitu, kami juga tak ingin pengunjung lainnya berpikir mereka bisa memesan nasi padang di kedai kopi ini.

Trio kopiers bersama nasi padang

Bersama kopi, pembicaraan memang seperti tak akan berakhir. Sambil menikmati kopi, kami membincang segala hal yang menarik. Tak terasa, waktu terus berputar, sudah sekitar 1,5 jam kita berada di kedai kopi ini. Semakin malam, jumlah pengunjung rupanya semakin banyak. Jumlah kursi yang disediakan tak lagi bisa menampung jumlah pengunjung yang hadir. Melihat jumlah pengunjung yang semakin banyak, akhirnya kami menyudahi moment ngopi Trio kopiers kali ini.

Selalu nantikan ya! cerita-cerita seru kami yang lainnya. Tentunya dalam seri 'Singgah Warkop' di blog ini. See u...  

"Untuk hati yang patah, segeralah merekah. Untuk jiwa yang sepi, segeralah minum kopi".   

Saturday, October 12, 2019

0 Jalan-jalan ke Bogor si Kota Hujan

Bogor, seumur hidup seingat saya baru sekali saja berkunjung ke kota ini. Saya ingat, saat itu baru saja lulus kuliah dan harus pergi ke Jakarta karena ada panggilan wawancara pekerjaan. Kesempatan itu saya gunakan juga untuk pergi ke Bogor, mengunjungi salah satu sahabat disana. Dan kemarin, saya kembali bisa berkunjung ke kota ini lagi. Maka, inilah kunjungan kedua kalinya bagi saya ke Bogor. Kota seribu angkot.

"Setiap perjalanan itu selalu unik dan membawa ceritanya sendiri. Alangkah sayang jika cerita itu tidak diabadikan. Suatu saat, entah kapan itu, kita akan bisa menikmatinya kembali. Lembar kenangan yang tak hilang.".
--inspirasi coffee

Workshop Internasional Battery Lithium, inilah acara yang akan saya kunjungi. Lokasinya berada di daerah Sentul, tepatnya di Hotel Aston, Sentul, Bogor. Kali ini saya tidak sendiri, ada sahabat saya Luqman Khoirul Huda (nama bekennya Elkaha) yang sama-sama menghadiri acara ini. Workshop ini bisa dibilang kelanjutan dari acara seminar dan pameran Indonesia Electric Motor Show yang digelar pada bulan September kemarin di Balai Kartini, Jakarta. Terkait acara itu, saya juga sudah menulisnya di postingan Mobil Listrik, Mobil Masa Depan.

Nah seperti apa cerita keseruan kami menghadiri acara itu? yuk terus simak tulisan ini.


Naik KRL Jakarta - Bogor

Untuk bisa ke kota Bogor dari kota asal kami di Madiun, maka kita harus pergi ke Jakarta terlebih dahulu. Dari Jakarta kemudian kita bisa naik KRL atau pesan Grab/Go-Car menuju ke Bogor. Kalau pakai Grab/Go-car langsung dari Jakarta ke Bogor sepertinya akan mahal sekali. Maka pilihan paling efisien yang bisa diambil adalah dengan naik KRL. Selain murah, KRL juga lebih cepat dibandingkan naik mobil. Dari stasiun Tebet Jakarta menuju ke Stasiun Bogor dengan KRL dapat ditempuh hanya dalam waktu 1,5 jam saja.

KRL Jakarta Bogor
KRL Jakarta - Bogor

Untuk bisa naik KRL, saya memanfaatkan e-money sebagai metode pembayaran. Jika tidak memiliki e-money, anda bisa membeli kartu THB atau tiket harian berjangka yang berlaku 1 hari di mesin-mesin yang sudah disediakan di stasiun. Namun agar tidak ribet dengan pembelian THB ini setiap kali menggunakan KRL, lebih baik kalau kita memiliki e-money. Apalagi sekarang e-money sudah sangat mudah didapatkan di minimarket. Selain KRL, kita bisa menggunakan e-money untuk pembayaran busway, tol dan keperluan yang lainnya.

Stasiun Bogor
Tiba di Stasiun Bogor

Akhirnya setelah sekitar 1,5 jam perjalanan, kami sampai juga di kota Bogor. Sesampainya di stasiun bogor, kami segera keluar lokasi stasiun dan memesan Grab untuk pergi ke hotel Aston Sentul (tempat workshop diadakan).


Hari Pertama di Sentul, Bogor

Teknis acara workshop tidak akan saya bahas dalam tulisan ini, karena saya lebih suka menulis hal yang berhubungan dengan pengalaman baru dan hal-hal unik lainnya yang sifatnya bukan teknis pekerjaan. Seperti botol unik yang disajikan dalam acara workshop tersebut.

botol minum dari kaca eco-green
Botol Tempat Minum Unik dari Kaca 

Acara workshop di hotel Aston, Sentul berlangsung selama 2 hari. Artinya, kami harus menginap 1 malam. Sayangnya, meski acaranya berada di hotel Aston, tetapi akomodasi penginapan belum termasuk ketika kami membayar biaya workshopnya, sehingga kami harus mencari penginapan sendiri. Setelah mencari-cari hotel yang cocok dengan budget kami, akhirnya kami memilih hotel Grand Mulya Bogor dengan alasan lokasinya tidak terlalu jauh dari lokasi workshop.

Hari pertama workshop berjalan dengan cukup lancar. Sore hari sekitar jam 5, acara workshop di hari pertama selesai. Kami harus menuju hotel untuk menginap dan istirahat. Beruntungnya ada rekan kami yang kebetulan juga berkunjung di hotel Aston dan menawarkan tumpangan mobil menuju hotel. Alhamdulillah, apalagi kondisi sedang hujan deras sore itu.
Hujan Deras di Kota Bogor
Hujan Deras Mengguyur Bogor

Namun, Ada kejadian unik dan ngeselin saat menuju hotel tersebut.

Menginap di Hotel Grand Mulya Bogor

Ceritanya kami sudah memesan tiket hotel melalui Traveloka, sehingga praktis kami tinggal pergi menuju hotel tersebut dan menunjukkan bukti pembayaran ke resepsionis hotel.

Waktu itu langit sudah gelap, jarum di jam tangan menunjukkan sudah mendekati waktu Isya. Mobil kami terus bergerak menuju hotel Grand Mulya berdasar titik lokasi sesuai alamat yang tertera di bukti pembayaran Traveloka. Hujan deras masih saja mengguyur kota Bogor. Mobil kami terus menerobos lebatnya hujan.

Ketika mobil kami sudah dekat dengan lokasi hotel, naas sekali kami tersesat. Alamat yang ditunjukkan sama sekali tidak menuju ke arah hotel. Mobil kami malah menuju ke jalan yang ujungnya makin menyempit, makin gelap dan kurang meyakinkan sebagai jalan masuk menuju Hotel. Usut punya usut, ternyata terdapat ketidakcocokan antara alamat yang tertera di Traveloka dengan Google Maps. Dan ketika kami menanyakan alamat hotel tersebut ke warga setempat, ternyata mereka juga tidak tahu. Whatt...!

Setelah beberapa kali salah jalan, akhirnya kami berhasil menemukan lokasi hotelnya. Alhamdulillah. Ternyata hotelnya megah gaes!. Saya heran kenapa hotel semewah ini alamatnya susah dicari ya.

Hotel Grand Mulya Bogor
Hotel Grand Mulya Bogor
Hotel Grand Mulya Bogor
Hotel Grand Mulya Bogor

Hari Kedua, Good Bye Sentul, Bogor

Setelah menginap di Grand Mulya yang cukup mengesankan, akhirnya kami kembali ke Hotel Aston untuk melanjutkan workshop di hari kedua. Tidak seperti di hari pertama, di hari kedua ini selain acara inti, semua peserta berkesempatan untuk diajak jalan-jalan ke beberapa lokasi menarik di Bogor antara lain Istana Kepresidenan dan Bogor Botanical Garden.

Sebenarnya kami tidak terlalu tertarik dengan kunjungan itu, yang menarik bagi kami adalah lokasi Bogor Botanical Garden itu berada tidak jauh dengan Stasiun Bogor. Artinya, kita akan mendapat tumpangan gratis dari hotel Aston ke Stasiun Bogor. Nah, kita tidak perlu memesan Grab dari Hotel Aston, asyik kan? bolehlah kalian bilang kami sedikit oportunis.

Dari Bogor Botanical Garden, kami harus berjalan kaki sekitar 700 meter menuju Stasiun Bogor. Melewati jalan Kapten Muslihat, kami harus sedikit mempercepat langkah karena langit sudah mulai gelap, mendung. Langit siap memuntahkan air hujan.

Jalan Kapten Muslihat
Jalan Kapten Muslihat

Dan benar saja. Sekitar 200 meter dari stasiun Bogor, rintik hujan mulai terasa menyentuh kulit. Semakin lama semakin terasa tebal. Tidak ada pilihan lain, kami harus berlari. Tak bermaksud lebay, kecepatan lari kami rupanya berhasil mengalahkan kecepatan hujan jatuh dari langit. Kami berhasil sampai di jembatan penyebrangan sesaat sebelum ribuan rintik hujan menghantam bumi. Di stasiun Bogor ini, cerita ini kami akhiri. Selamat tinggal Bogor, si Kota Hujan. Dua hari disini, selalu diguyur hujan. Semoga suatu saat bisa berkunjung lagi, tentunya dengan pengalaman-pengalaman baru yang menyenangkan dan mengesankan. Bye.


Total Pengunjung

 

Inspirasi Coffee Copyright © 2011 - |- Template created by O Pregador - |- Powered by Blogger Templates