Selamat datang di gubug Inspirasi Coffee. Blog ini dikelola oleh penulis sejak September 2008. Sampai sekarang, api semangat untuk menulis masih tetap menyala, menarikan pena melukiskan prasasti-prasasti kehidupan. Hak cipta dilindungi oleh Allah Azza wa Jalla.
Selamat Membaca ^_^

Saturday, October 12, 2019

0 Jalan-jalan ke Bogor si Kota Hujan

Bogor, seumur hidup seingat saya baru sekali saja berkunjung ke kota ini. Saya ingat, saat itu baru saja lulus kuliah dan harus pergi ke Jakarta karena ada panggilan wawancara pekerjaan. Kesempatan itu saya gunakan juga untuk pergi ke Bogor, mengunjungi salah satu sahabat disana. Dan kemarin, saya kembali bisa berkunjung ke kota ini lagi. Maka, inilah kunjungan kedua kalinya bagi saya ke Bogor. Kota seribu angkot.

"Setiap perjalanan itu selalu unik dan membawa ceritanya sendiri. Alangkah sayang jika cerita itu tidak diabadikan. Suatu saat, entah kapan itu, kita akan bisa menikmatinya kembali. Lembar kenangan yang tak hilang.".
--inspirasi coffee

Workshop Internasional Battery Lithium, inilah acara yang akan saya kunjungi. Lokasinya berada di daerah Sentul, tepatnya di Hotel Aston, Sentul, Bogor. Kali ini saya tidak sendiri, ada sahabat saya Luqman Khoirul Huda (nama bekennya Elkaha) yang sama-sama menghadiri acara ini. Workshop ini bisa dibilang kelanjutan dari acara seminar dan pameran Indonesia Electric Motor Show yang digelar pada bulan September kemarin di Balai Kartini, Jakarta. Terkait acara itu, saya juga sudah menulisnya di postingan Mobil Listrik, Mobil Masa Depan.

Nah seperti apa cerita keseruan kami menghadiri acara itu? yuk terus simak tulisan ini.


Naik KRL Jakarta - Bogor

Untuk bisa ke kota Bogor dari kota asal kami di Madiun, maka kita harus pergi ke Jakarta terlebih dahulu. Dari Jakarta kemudian kita bisa naik KRL atau pesan Grab/Go-Car menuju ke Bogor. Kalau pakai Grab/Go-car langsung dari Jakarta ke Bogor sepertinya akan mahal sekali. Maka pilihan paling efisien yang bisa diambil adalah dengan naik KRL. Selain murah, KRL juga lebih cepat dibandingkan naik mobil. Dari stasiun Tebet Jakarta menuju ke Stasiun Bogor dengan KRL dapat ditempuh hanya dalam waktu 1,5 jam saja.

KRL Jakarta Bogor
KRL Jakarta - Bogor

Untuk bisa naik KRL, saya memanfaatkan e-money sebagai metode pembayaran. Jika tidak memiliki e-money, anda bisa membeli kartu THB atau tiket harian berjangka yang berlaku 1 hari di mesin-mesin yang sudah disediakan di stasiun. Namun agar tidak ribet dengan pembelian THB ini setiap kali menggunakan KRL, lebih baik kalau kita memiliki e-money. Apalagi sekarang e-money sudah sangat mudah didapatkan di minimarket. Selain KRL, kita bisa menggunakan e-money untuk pembayaran busway, tol dan keperluan yang lainnya.

Stasiun Bogor
Tiba di Stasiun Bogor

Akhirnya setelah sekitar 1,5 jam perjalanan, kami sampai juga di kota Bogor. Sesampainya di stasiun bogor, kami segera keluar lokasi stasiun dan memesan Grab untuk pergi ke hotel Aston Sentul (tempat workshop diadakan).


Hari Pertama di Sentul, Bogor

Teknis acara workshop tidak akan saya bahas dalam tulisan ini, karena saya lebih suka menulis hal yang berhubungan dengan pengalaman baru dan hal-hal unik lainnya yang sifatnya bukan teknis pekerjaan. Seperti botol unik yang disajikan dalam acara workshop tersebut.

botol minum dari kaca eco-green
Botol Tempat Minum Unik dari Kaca 

Acara workshop di hotel Aston, Sentul berlangsung selama 2 hari. Artinya, kami harus menginap 1 malam. Sayangnya, meski acaranya berada di hotel Aston, tetapi akomodasi penginapan belum termasuk ketika kami membayar biaya workshopnya, sehingga kami harus mencari penginapan sendiri. Setelah mencari-cari hotel yang cocok dengan budget kami, akhirnya kami memilih hotel Grand Mulya Bogor dengan alasan lokasinya tidak terlalu jauh dari lokasi workshop.

Hari pertama workshop berjalan dengan cukup lancar. Sore hari sekitar jam 5, acara workshop di hari pertama selesai. Kami harus menuju hotel untuk menginap dan istirahat. Beruntungnya ada rekan kami yang kebetulan juga berkunjung di hotel Aston dan menawarkan tumpangan mobil menuju hotel. Alhamdulillah, apalagi kondisi sedang hujan deras sore itu.
Hujan Deras di Kota Bogor
Hujan Deras Mengguyur Bogor

Namun, Ada kejadian unik dan ngeselin saat menuju hotel tersebut.

Menginap di Hotel Grand Mulya Bogor

Ceritanya kami sudah memesan tiket hotel melalui Traveloka, sehingga praktis kami tinggal pergi menuju hotel tersebut dan menunjukkan bukti pembayaran ke resepsionis hotel.

Waktu itu langit sudah gelap, jarum di jam tangan menunjukkan sudah mendekati waktu Isya. Mobil kami terus bergerak menuju hotel Grand Mulya berdasar titik lokasi sesuai alamat yang tertera di bukti pembayaran Traveloka. Hujan deras masih saja mengguyur kota Bogor. Mobil kami terus menerobos lebatnya hujan.

Ketika mobil kami sudah dekat dengan lokasi hotel, naas sekali kami tersesat. Alamat yang ditunjukkan sama sekali tidak menuju ke arah hotel. Mobil kami malah menuju ke jalan yang ujungnya makin menyempit, makin gelap dan kurang meyakinkan sebagai jalan masuk menuju Hotel. Usut punya usut, ternyata terdapat ketidakcocokan antara alamat yang tertera di Traveloka dengan Google Maps. Dan ketika kami menanyakan alamat hotel tersebut ke warga setempat, ternyata mereka juga tidak tahu. Whatt...!

Setelah beberapa kali salah jalan, akhirnya kami berhasil menemukan lokasi hotelnya. Alhamdulillah. Ternyata hotelnya megah gaes!. Saya heran kenapa hotel semewah ini alamatnya susah dicari ya.

Hotel Grand Mulya Bogor
Hotel Grand Mulya Bogor
Hotel Grand Mulya Bogor
Hotel Grand Mulya Bogor

Hari Kedua, Good Bye Sentul, Bogor

Setelah menginap di Grand Mulya yang cukup mengesankan, akhirnya kami kembali ke Hotel Aston untuk melanjutkan workshop di hari kedua. Tidak seperti di hari pertama, di hari kedua ini selain acara inti, semua peserta berkesempatan untuk diajak jalan-jalan ke beberapa lokasi menarik di Bogor antara lain Istana Kepresidenan dan Bogor Botanical Garden.

Sebenarnya kami tidak terlalu tertarik dengan kunjungan itu, yang menarik bagi kami adalah lokasi Bogor Botanical Garden itu berada tidak jauh dengan Stasiun Bogor. Artinya, kita akan mendapat tumpangan gratis dari hotel Aston ke Stasiun Bogor. Nah, kita tidak perlu memesan Grab dari Hotel Aston, asyik kan? bolehlah kalian bilang kami sedikit oportunis.

Dari Bogor Botanical Garden, kami harus berjalan kaki sekitar 700 meter menuju Stasiun Bogor. Melewati jalan Kapten Muslihat, kami harus sedikit mempercepat langkah karena langit sudah mulai gelap, mendung. Langit siap memuntahkan air hujan.

Jalan Kapten Muslihat
Jalan Kapten Muslihat

Dan benar saja. Sekitar 200 meter dari stasiun Bogor, rintik hujan mulai terasa menyentuh kulit. Semakin lama semakin terasa tebal. Tidak ada pilihan lain, kami harus berlari. Tak bermaksud lebay, kecepatan lari kami rupanya berhasil mengalahkan kecepatan hujan jatuh dari langit. Kami berhasil sampai di jembatan penyebrangan sesaat sebelum ribuan rintik hujan menghantam bumi. Di stasiun Bogor ini, cerita ini kami akhiri. Selamat tinggal Bogor, si Kota Hujan. Dua hari disini, selalu diguyur hujan. Semoga suatu saat bisa berkunjung lagi, tentunya dengan pengalaman-pengalaman baru yang menyenangkan dan mengesankan. Bye.


Saturday, October 5, 2019

0 Mobil Listrik, Mobil Masa Depan

Tampilnya mungkin hanya 10 menit, namun semangatnya, pesan-pesan yang disampaikan, benar-benar meradiasi ke seluruh peserta yang hadir dalam seminar itu. Dari beberapa narasumber yang ditampilkan, dia terlihat menonjol dan paling bersemangat. Dia mendorong peserta yang hadir, khususnya anak-anak muda untuk senantiasa terus belajar dan meningkatkan kompetensi. Kreasi dan potensi anak-anak muda tentunya sangat dibutuhkan dalam membangun Indonesia terlebih lagi jika kita berbicara tentang mobil masa depan yaitu mobil listrik.

Berbicara tentang penelitian atau research mobil listrik, ini bukan hanya pekerjaannya BPPT, ini bukan hanya pekerjaannya universitas-universitas saja yang terlibat. Tapi lihatlah di luar sana, ada banyak sekali anak-anak muda dari berbagai pelosok nusantara yang peduli, mereka ingin sekali berkontribusi dan berkreasi. Ada sepotong kalimat pendek darinya yang menarik, disampaikan dengan nada datar namun tetap terkesan serius menggugah kesadaran kita semua.

'Apakah kita (generasi muda), hanya akan menjadi generasi unboxing?.'

Beliau adalah Ricky Elson, seorang pegiat mobil listrik Indonesia. Dia menggagas mobil listrik yang diberi nama Tucuxi dan Selo. Mobil listrik pertamanya yaitu Tucuxi pernah kecelakaan ketika diuji coba di turunan Sarangan, Magetan bersama dengan bapak Dahlan Iskan waktu itu. Namun, kecelakaan itu sama sekali tidak meruntuhkan semangatnya dalam mengembangkan mobil listrik. Sehari setelahnya, dia sudah sibuk mempersiapkan project baru dalam mengembangkan mobil listrik generasi berikutnya yaitu mobil Selo.

Seminar Ricky Elson tentang Mobil Listrik
Ricky Elson sedang memberikan Pemaparan Terkait Pengembangan Mobil Listrik

Pada tanggal 5 September 2019, dia hadir sebagai pembicara dalam seminar Indonesia Electric Motor Show 2019 yang digelar di Balai Kartini, Jakarta. Seminar ini digelar oleh BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi) dan mengundang semua stage holder untuk memberikan pemaparan. Diantara narasumber yang hadir, selain BPPT, ada Pertamina, PLN, Swasta, Universitas, dan semua pihak yang tidak bisa disebutkan satu persatu. Kesemuanya menyampaikan bagaimana persiapan mereka dalam menyongsong era mobil listrik.

Selain seminar, sebenarnya ada juga pameran mobil listrik dalam acara tersebut. Berikut ini adalah beberapa foto yang sempat aku abadikan,

Mobil Listrik Toyota Prius Phev
Mobil Toyota Prius PHEV


Toyota Prius sedang charging
Mobil Listrik Saat dilakukan Proses Charging


mobil
Mobil Listrik BYD yang dipakai oleh Taksi Blue Bird


Mobil Listrik Wuling E200
Mobil Wuling E-200


mobil listrik mitsubishi Outlander Phev
Mitsubishi Outlander PHEV


Motor Listrik Viar
Motor Listrik VIAR


Nah, dari mobil-mobil listrik diatas, mana mobil favoritmu?


Wednesday, October 2, 2019

2 Jalan Jalan ke Jepang Musim Dingin di Bulan Januari

Saya pernah menulis di blog ini sekitar dua tahun yang lalu, bahwasannya ada 2 negara di dunia ini yang berharap bisa saya kunjungi, yaitu Arab Saudi dan Jepang. Mengapa Arab Saudi? ya karena di negara tersebut terdapat dua kota istimewa nan suci yaitu kota Mekkah Al Mukaromah dan Madinah Al Munawaroh. Terkait keinginan berkunjung ke negara Arab Saudi, tentu jangan diniatkan untuk sekedar jalan-jalan saja, namun harus ada misi ruhiyah yang melatarinya yaitu menunaikan ibadah Umroh atau Haji.

Keindahan Negara Jepang
Keindahan Negara Matahari Terbit

Sedangkan keinginan pergi ke Jepang sendiri karena sejak lama saya sudah suka sekali segala hal tentang negara ini. Di beberapa dorama atau anime yang sering saya tonton, disitu sering diperlihatkan bagaimana keindahan budaya jepang, keelokan alamnya, kebersihan dan ketertiban kotanya, juga bagaimana keunikan makanan dan bahasanya. Bahkan ada yang menyebut bahwa negara Jepang dikatakan lebih islami lho bila dibandingkan dengan negara-negara mayoritas muslim yang lain. Oke, orang boleh berpendapat dong dan kita tentu harus menghargai pendapat tersebut.

Yang menarik lagi, kita sebagai muslim juga tidak terlalu kesulitan untuk mendapatkan makanan halal di Jepang. Kita bisa membandingkannya dengan negara Tiongkok yang sudah pernah saya bahas pada tulisan ini. Di Tiongkok, kita lebih susah mendapatkan makanan halal.

Berbagai hal tentang Jepang diatas, satu hal dengan hal yang lainnya saling mendukung dan melengkapi hingga menjadikan Jepang menjadi salah satu destinasi wisata terbaik di dunia. Itu pendapatku. Maka ketika ada kesempatan untuk berkunjung ke negara Jepang ini, saya pun menyambutnya dengan gembira.

keindahan alam dan budaya di Jepang
Jepang, salah satu destinasi wisata terbaik dunia

Mengenal 4 Musim di Jepang

Tidak seperti Indonesia yang hanya mengenal 2 musim saja yaitu musim Kemarau dan Penghujan, di Jepang terdapat 4 musim yang bergantian selama setahun yaitu musim dingin, musim semi, musim panas dan musim gugur. Adapun pembagiannya adalah sebagai berikut :
  • Musim Dingin
  • Musim dingin di Jepang biasanya dimulai pada bulan Desember hingga bulan Maret. Suhu udara bahkan bisa mencapai dibawah 0 derajat celcius. Meski suhunya terbilang ekstrim, namun para wisatawan pun ternyata cukup banyak yang ingin berkunjung ke negara ini dikarenakan mereka bisa menikmati keindahan salju yang turun di sebagian wilayah di negara ini.

  • Musim Semi
  • Musim Semi biasanya dimulai pada bulan Maret hingga bulan Juni. Suhu udara berkisar antara 5-18 derajat celcius. Karena kondisi suhu udara yang lebih bersahabat, biasanya banyak wisatawan yang memanfaatkan liburan ke Jepang pada musim semi. Di musim ini juga kita bisa menikmati indahnya bunga sakura yang selama ini menjadi ikon wisata Jepang.

  • Musim Panas
  • Musim panas diawali sekitar bulan Juni hingga bulan September. Suhu udara pada musim ini berkisar 26-34 derajat celcius. Untuk menarik wisatawan tetap tertarik berkunjung ke Jepang, biasanya terdapat berbagai festival kembang api yang memanjakan mata.

  • Musim Gugur
  • Musim gugur dimulai sekitar bulan September hingga bulan Desember. Ciri khas musim gugur adalah perubahan warna daun yang awalnya berwarna hijau berubah menjadi warna merah atau orange. Dan di akhir musim gugur pun, daun-daun itu akan mulai rontok dan berjatuhan ke tanah. Inilah penanda akan dimulainya musim dingin.

Berangkat ke Jepang pada Musim Dingin

Akhir bulan Januari 2019 kemarin saya berkesempatan untuk berkunjung ke Jepang. Bukan dalam rangka jalan-jalan sih, melainkan mendapat tugas kantor untuk bertemu dan berdiskusi dengan beberapa rekanan perusahaan di negeri sakura tersebut. Tentu saja di tulisan ini saya tidak akan membahas hal-hal yang berkaitan dengan urusan kantor, tetapi lebih ke berbagi pengalaman tentang pertama kalinya saya ke Jepang. Yeaayy... ^_^

Nah, hal yang harus saya waspadai ketika berkunjung ke Jepang di musim dingin adalah perbedaan suhu yang cukup ekstrim. Bayangkan saja, di Indonesia rata-rata kita terbiasa dengan suhu hangat sepanjang tahun, berkisar 22-32 derajat celcius. Sedangkan di musim dingin Jepang, rata-rata suhu berada di kisaran 0-5 derajat celcius. Sedingin-dinginnya udara di pegunungan, kan juga tidak bisa mencapai 3 derajat celcius kan? Paling masih belasan derajat celcius. Maka dari itu, hal yang menjadi kekhawatiran saya saat itu adalah apakah tubuh saya cukup kuat dengan perubahan suhu yang drastis ini?

Pada tanggal 28 Januari 2019, saya berangkat ke Jepang dengan salah satu rekan di kantor. Kami berangkat memakai maskapai kebanggaan kita bersama, Garuda Indonesia.

Tampilan Display Entertainment Garuda Indonesia
Tampilan Display Entertainment Garuda Indonesia

Kami berangkat melalui Bandara International Soekarno Hatta pada pukul 23.40 WIB. Perjalanan Jakarta-Jepang memakan waktu sekitar 7 jam. Kami mendarat di Haneda International Airport sekitar pukul 8 waktu setempat. Perbedaan waktu antara Indonesia dan Jepang selisih 2 jam. Waktu di Jepang 2 jam lebih cepat bila dibandingkan waktu di Indonesia. Jadi bila saat ini kita berada di Indonesia pukul 10.00 WIB, maka di Jepang akan menujukkan pukul 12.00 waktu setempat.

Peta perjalanan Jakarta Jepang
Peta Perjalanan Jakarta-Jepang

Sesaat sebelum mendarat di Bandara International Haneda, sang Pilot memberikan informasi yang intinya sebentar lagi pesawat akan mendarat di bandara Haneda. Sang pilot menambahkan, bila suhu di permukaan bumi saat itu cukup dingin yakni sekitar 4 derajat celcius. Penumpang yang akan turun di bandara Heneda diharapkan bisa segera mempersiapkan diri untuk menyambut perbedaan suhu tersebut.

Sesaat kemudian, pesawat Garuda Indonesia landing dengan sangat mulus dan jadilah ini pertama kalinya saya menginjakkan kaki di Jepang. Rasanya benar-benar luar biasa. Suhu udara yang dingin, suasana yang cukup berbeda menjadikan kesan yang sangat mendalam. Momen yang selama ini saya idam-idamkan dan akan menjadi kenangan manis selama hidup saya.

Tiba Di Jepang

Pada tanggal 29 Januari 2019 pagi hari sekitar pukul 08.30 waktu setempat akhirnya kami mendaratkan kaki di bandara Internasional Haneda. Lokasi bandara Haneda sendiri berada cukup dekat dengan pusat kota Tokyo. Sesampainya di bandara kami terlebih dahulu melakukan proses imigrasi. Setelah proses imigrasi berjalan lancar, kami segera menuju ke tempat penukaran uang. Uang yang kami bawa masih berupa Dollar USD, kami perlu menukarkan ke uang Yen. Untuk kebutuhan sekitar 4 hari di Jepang, saya menukar uang 200 Dollar ke dalam uang Yen.

Selesai menukar uang, kami bergerak menuju stasiun kereta yang juga berada di kawasan bandara ini. Ada 2 jenis kereta yang menuju ke daerah Tokyo dari bandara Haneda, yaitu KRL dan Monorail. Kami memilih naik Monorail menuju Ueno Station di Tokyo.

Tiba di bandara Internasional Haneda Jepang
Selepas Mendarat, Melihat-lihat Pesawat Stabling

Oh iya, untuk bisa naik kereta di Jepang, kita harus memiliki kartu/card yaitu Suica atau Pasmo. Baik Suica atau Pasmo Card bisa kita dapatkan di beberapa titik mesin yang tersedia di dekat stasiun kereta bandara. Kita perlu memasukkan uang Yen di mesin untuk kemudian ditukar dengan kartu Suica dengan nilai saldo yang sesuai dengan nilai yang kita inputkan. Kali ini saya memilih kartu Suica, alasannya sederhana karena rekan saya sudah memiliki kartu Suica dan dipinjamkan ke saya. Saya hanya perlu input saldo saja.

Kartu Suica untuk Naik Kereta di Jepang
Kartu Suica

Setelah mengisi saldo kartu Suica, kami segera menuju stasiun kereta Monorail yang berada di kawasan bandara ini juga. Tujuan kami adalah stasiun Ueno yang berada di daerah Tokyo.

Japan Monorail
Menanti Kereta Monorail


Yang menarik dari perkeretaapian di Jepang adalah jadwalnya yang selalu on-time. Jadi jadwal keberangkatan kereta itu bisa dipastikan. Sebagai penumpang, kita dapat memanfaatkan situs www.hyperdia.com untuk mengetahui jadwal keberangkatan tiap-tiap kereta dari seluruh lokasi di Jepang.

Situs Hyperdia untuk Jadwal Kereta Jepang
Hyperdia untuk Melihat Jadwal Kereta

Hyperdia for Japan Train Schedule
Salah Satu Tampilan Hasil Search Jadwal Kereta

Menuju Hotel

Sambil menunggu kereta Monorail datang, saya memilih duduk-duduk sambil melihat-lihat suasana sekitar. Beberapa orang perawakan Jepang juga terlihat sedang menunggu kereta. Jarak antara Haneda dengan Ueno tidak terlalu jauh. Dengan menggunakan monorail mungkin hanya membutuhkan waktu sekitar 30 menit.

Setelah beberapa lama menunggu, akhirnya kereta Monorail yang kita tunggu-tunggu datang juga. Yei.. saatnya menuju hotel.

Tokyo Monorail di Bandara Haneda


Eh ngomong-ngomong, ini pertama kalinya saya naik Monorail lho! Sebenarnya kalau sudah naik ke dalam kereta sih, rasanya ya sama saja. Entah itu Monorail, KRL, LRT, ataupun kereta penumpang biasa. Namun sensasi naik kereta di Jepang inilah yang membuatnya berbeda. Dilihat dari interiornya berbeda, banner/iklannya berbeda, orang-orang di dalamnya pun juga berbeda.

sensasi naik kereta monorail di Jepang
Kondisi orang-orang di dalam kereta Monorail


Monorail melaju dengan kecepatan sedang. Pandanganku aku lempar ke luar jendela, melihat kondisi jalanan di jepang. Tidak banyak mobil yang terlihat di jalanan, karena orang-orang Jepang lebih suka berjalan kaki atau naik kendaraan umum. Berbeda dengan di Indonesia dimana orang-orang lebih suka menggunakan kendaraan pribadi. Maka tak heran kita bisa melihat kemacetan yang luar biasa di kota-kota besar di Indonesia, khususnya di ibu kota Jakarta.

Stasiun Ueno Tokyo Japan
Stasiun Ueno, Tokyo

Setelah sekitar 30 menit perjalanan, akhirnya kami sampai di stasiun Ueno, daerah pusat kota Tokyo. Cerita di negeri Sakura inipun dimulai.

To be continued ...




Saturday, August 31, 2019

0 Catatan Kecil, Perjalananku ke Ngrombo

Sore itu aku tengah berbaring santai di kamar, menikmati hari libur karena sedang cuti. Namun, momen-momen santai itu tiba-tiba membuyar. Bunyi dering handphone yang cukup keras benar-benar mengagetkanku. Satu nama atasan dengan jabatan cukup tinggi di kantor terpampang di layar handphone, sedang memanggil.
"Ada apa?", pikirku.

Kalau tidak ada hal yang penting, jarang sekali beliau menelfonku.

Sesaat kemudian terjadilah pembicaraan kecil yang dimulai dengan sedikit basa-basi hingga ke pembicaraan inti. Pada kesimpulannya, aku harus pergi ke Ngrombo untuk bertemu dengan kepala Balai Perawatan Kementerian Perhubungan. Ada kepentingan kantor yang sifatnya mendesak dan harus segera diselesaikan.

Tapi tunggu sebentar, "Ngrombo?? dimana ya daerah itu?"

Mulailah aku mencari lokasi tersebut di google maps. Dan ternyata, lokasinya tidak jauh-jauh amat lho dari Madiun. Hanya sekitar 2-3 jam saja perjalanan menggunakan kendaraan mobil.

Balai Perawatan Kereta Api Ngrombo
Lokasi Ngrombo di Peta Google

Sebenarnya jika yang berangkat minimal 3 orang, maka aku bisa saja memakai fasilitas mobil kantor. Tapi karena dari Madiun aku berangkat sendiri, maka opsi kendaraan yang mungkin adalah dengan menggunakan kereta. Ada sih alternatif lain yaitu naik bus dari Solo ke arah Purwodadi, namun terus terang aku tidak terlalu nyaman naik bus. Membayangkannya saja sudah ribet. Jadi naik kereta adalah pilihan tersisa yang ada di kepala.

Ke Ngrombo Naik Kereta

Ketika aku memilih menggunakan kereta, maka akan ada dua opsi jalur yang bisa aku pilih. Opsi pertama adalah transit Semarang, sedangkan opsi kedua dengan transit di Surabaya. Berikut ini penjelasannya.

  • Madiun - Semarang Tawang - Ngrombo
  • Jika memakai rute ini, maka dari Madiun aku bisa naik KA. Bangunkarta (18.44 WIB), kemudian turun di Semarang (22.28 WIB). Dari Semarang aku kemudian naik KA. Gumarang (22.50 WIB) menuju tujuan akhir stasiun Ngrombo (23.40 WIB).

    Namun, ada yang riskan dari opsi ini. Jarak waktu antara KA. Bangunkarta yang tiba di Semarang dengan KA. Gumarang yang akan berangkat dari Semarang ternyata hanya selisih 30 menit. Bayangkan saja, jika KA. Bangunkarta terlambat 30 menit saja, maka aku harus bermalam di Semarang.

    Dan kalaupun tidak terlambat, kelemahan opsi ini adalah tetap aku butuh penginapan di Ngrombo. Karena ketika KA. Gumarang tiba di lokasi, waktunya masih tengah malam.

  • Madiun - Surabaya Gubeng - Surabaya Pasar Turi - Ngrombo
  • Dari Madiun aku bisa naik KA. Bangunkarta (berangkat 01.04 WIB dini hari) dengan arah Surabaya kemudian turun di Stasiun Gubeng (tiba 03.30 WIB). Dari stasiun Gubeng, aku harus berpindah ke Stasiun Pasar Turi dengan waktu perjalanan sekitar 30 menit dengan menggunakan taksi. Di stasiun Pasar Turi, aku bisa naik KA. Maharani (berangkat 06.00 WIB) menuju Ngrombo (tiba 09.33 WIB). Di opsi ini, aku tidak memerlukan hotel karena sampai Ngrombo masih pagi hari.

Setelah dipikir-pikir lagi, akhirnya aku memilih opsi yang kedua, karena skema itu lebih aman. Jarak antara jadwal kereta yang pertama dengan kereta yang kedua masih agak lama. Jadi kemungkinan untuk ketinggalan kereta itu sangat kecil. Selain itu, aku juga tidak membutuhkan hotel karena sampai di lokasi masih pukul 09.30 pagi. Setelah tiba, aku bisa langsung melaksanakan agenda rapat bersama pak Kepala Balai.

Cerita Perjalanan ke Ngrombo

Tengah malam aku bangun untuk bersiap-siap berangkat ke stasiun Madiun. Jadwal kereta Bangunkarta yaitu pukul 01.04 WIB dini hari. Tidak boleh ada kata terlambat, karena jika terlambat maka agenda rapat besok ke Ngrombo akan buyar. Dan tentu saja efeknya bisa panjang.

Terus terang aku masih mengantuk. Tidur hanya beberapa jam saja membuat tubuhku masih lelah. Maka perjalanan Madiun-Surabaya ini aku jadikan momen berharga untuk tidur lagi. Lamayan lah, tubuhku masih butuh banyak istirahat saat ini. Jadwal esok hari akan lebih berat lagi. Selesai acara di Ngrombo, aku harus melanjutkan perjalanan ke Jakarta. Ada acara penting juga yang harus aku hadiri. Benar-benar akan menjadi perjalanan yang melelahkan. Wah, aku kok jadi sok sibuk begini ya? ha ha.

Tiket kereta Maharani Surabaya Ngrombo
Tiket KA. Maharani Surabaya-Ngrombo

Sampai di stasiun Surabaya Gubeng masih pukul 4 pagi. Jadwal KA. Maharani dari stasiun Pasar Turi masih 2 jam lagi. Aku segera mencari mushola untuk melaksanakan sholat subuh.

Jarak antara stasiun Gubeng dengan stasiun Pasar Turi tidak begitu jauh. Jika menggunakan taksi hanya sekitar 30 menit. Selesai sholat subuh, aku bergegas ke stasiun Pasar Turi. Ada spare waktu 1,5 jam. Sepertinya masih ada waktu juga untuk mencari sarapan disana.

KA. Maharani Surabaya Ngrombo
Tampilan KA. Maharani

Tepat pukul 06.00 WIB kereta Maharani jurusan Surabaya-Semarang diberangkatkan. Sepertinya kereta ini juga menjadi favorit bagi penumpang yang bekerja di daerah Lamongan, karena bisa digunakan untuk perjalanan pulang-pergi (PP) dalam satu hari dengan rute Surabaya-Lamongan.

Satu yang perlu dicatat adalah aku dari dulu suka perjalanan kereta pada pagi hari. Kereta di pagi hari selalu memberikan rasa nyaman dan ketenangan. Kita bisa menikmati indahnya permadani persawahan yang hijau. Rasanya di hati begitu tenang dan damai. Suasana yang tak bisa kita dapatkan di perjalanan kereta malam.

KA. Maharani adalah kereta api kelas ekonomi. Meski kelas ekonomi, namun sudah cukup nyaman karena sudah dilengkapi dengan AC. Selain itu, sudah tidak ada lagi tiket kereta penumpang berdiri. Jadi semua penumpang hanya akan menempati kursinya masing-masing.

Tiba di Stasiun Ngrombo

Setelah 3.5 jam perjalanan yang menyenangkan, akhirnya aku tiba juga di stasiun Ngrombo. Kesan 'Woow', pertama kali muncul saat pertama kali menginjakkan kaki di stasiun Ngrombo.

penampakan stasiun Ngrombo Grobokan Jawa Tengah

penampakan stasiun Ngrombo
Stasiun Ngrombo

Suasana stasiun Ngrombo memang cukup sepi, namun sangat rapi dan bersih. Kalian akan kesulitan menemukan sampah di area stasiun ini. Bersih sekali. Bahkan jika kamu pergi ke toilet, kondisinya pun juga sangat bersih. Di beberapa sudut stasiun juga terdapat beberapa hiasan tanaman. Bangunan mushola juga terlihat bagus dan bersih.

Yang unik dari stasiun ini adalah adanya ruang lantai 2 yang bisa digunakan oleh calon penumpang untuk melihat kereta. Ruangan ini dapat diakses dari luar, sehingga penumpang yang belum membeli tiketpun bisa masuk. Dari ruangan ini pula, aku bisa melihat sebuah bangunan biru yang cukup besar. Bangunan tersebut adalah workshop Balai Perawatan Kereta Api milik Kementerian Perhubungan.

Balai Perawatan Kereta Api Ngrombo
Balai Perawatan Kereta Api

Di bangunan berwarna biru itulah, cerita kecil ini berakhir.


Total Pengunjung

 

Inspirasi Coffee Copyright © 2011 - |- Template created by O Pregador - |- Powered by Blogger Templates