Selamat datang di gubug Inspirasi Coffee. Blog ini dikelola oleh penulis sejak September 2008. Sampai sekarang, api semangat untuk menulis masih tetap menyala, menarikan pena melukiskan prasasti-prasasti kehidupan. Hak cipta dilindungi oleh Allah Azza wa Jalla.
Selamat Membaca ^_^

Saturday, January 5, 2019

2 Desaku yang Kucinta

Biasanya satu minggu sekali aku menyempatkan diri untuk mengunjungi rumah ibuku yang letaknya sekitar 8 kilometer dari tempat tinggalku yang sekarang ini. Nah, satu hal yang paling aku sukai ketika berkunjung ke rumah ibuku adalah saat aku melewati beberapa hamparan sawah yang begitu indah. Ia layaknya hamparan permadani berwarna hijau yang menyejukkan mata.

Enaknya hidup di desa ya seperti ini. Seringkali menjumpai pemandangan sawah seperti itu. Meski seringkali melihat, namun aku tetap tak pernah bosan memandanginya. Seringkali aku menghentikan sepeda motorku untuk sejenak menikmati pemandangan itu.

pemandangan sawah di desa
Hamparan Permadani Hijau di Ujung Senja

Tak selalu, ketika padi masih berwarna hijau. Namun saat sawah masih musim tanam pun, tetap menjadi hiasan yang memanjakan mata. Ini adalah salah satu angerah dari Allah Azza wa Jalla yang jarang kita syukuri. Dulu saat aku masih kecil, sering menghabiskan waktu bersama kawan-kawan untuk mencari belut di sawah. Terkadang, kenangan itu terlintas di pikiran begitu saja saat melewati sawah yang masih belum ditanami padi seperti berikut ini.

bermain belut di sawah
Sawah Saat Musim Tanam

Waktu boleh saja berlalu, tetapi kenangan akan tetap ada dengan ceritanya masing-masing. Entah itu kenangan baik atau itu buruk. Kitalah yang memilih untuk meresponnya seperti apa. Akan tetap larut dengan kesedihan, atau belajar dari kenangan itu untuk kemudian melangkah jauh ke depan berbekal dari pengalaman yang ada. Itulah inspirasi yang bisa kita ambil dari pemandangan sawah. Sederhana memang, namun bisa jadi bermakna.

Ah, jadi teringat dengan lagu anak-anak yang sampai kini masih terdengar indah di telinga. Judulnya, Desaku yang Kucinta. Liriknya bagus dan mengundang anak-anak untuk bernyanyi dengan ceria.
Desaku yang kucinta, pujaan hatiku
Tempat ayah dan bunda, dan handai taulanku
Tak mudah kulupakan, Tak mudah bercerai
Selalu ku rindukan, desaku yang permai


Lagu itu benar-benar menggambarkan bahwa hidup di desa itu menyenangkan. Meski banyak orang pergi dari desa untuk mencari pekerjaan di kota, mereka akan tetap merindukan suasana desa. Mereka akan tetap mencintai desanya, sampai kapanpun.

Desaku, keindahanmu tak akan pernah pudar. meski wajah-wajah datang dan pergi silih berganti, namun pesonamu abadi.

If you truly love nature, you’ll find beauty everywhere.
-Van Gogh

***
Membersamai Secangkir Kopi
Di Sebuah Desa Kecil,
Pinggiran Kabupaten Magetan.



Tuesday, January 1, 2019

0 Cara Mengecek Broken Link pada Blog atau Website

Beberapa waktu yang lalu saya membaca sebuah postingan yang cukup menarik di Facebook dengan akun 'Dian Umbara'. Mungkin sudah pada tahu dong siapa itu mas Dian Umbara? Nah bagi yang belum tahu, dia adalah salah satu blogger yang cukup terkenal dan sukses di Indonesia. Bahkan di akun Facebooknya, dia pernah memperlihatkan hasil jerih payahnya sebagai blogger berupa tumpukan uang yang begitu banyak di meja. Ia mengaku tumpukan uang itu berasal dari Google Adsense. Itu belum dari hasil yang lain semisal Affiliate Marketing atau yang lainnya. Satu pesan spesial yang saya ambil dari postingannya kemarin adalah tentang cara merawat blog atau website. Mari sejenak kita simak pernyataannya berikut ini :
"Ciri blog yang sehat adalah tidak ada broken link-nya. Analoginya adalah saat kita sedang berada di jalan, kemudian ada petunjuk jalan menuju taman bunga. Setelah kita ikuti petunjuk tersebut, ternyata malah jalan buntu. Tentu kita akan kecewa bukan? Begitu juga dengan aktivitas blogging. Saat Google menemukan banyak link yang rusak pada sebuah blog atau website, maka hal tersebut akan sangat berpengaruh terhadap posisi SERP. Google pun tak segan-segan menilai blog kita tidak bermutu. Maka, rawatlah blogmu seperti engkau merawat makhluk hidup atau benda mati yang lainnya".
Cara merawat blog dengan mengecek broken link pada blog
Mari Rawat Blog Sepenuh Hati

Cara Mengecek Broken Link

Trus bagaimana caranya mengecek blog yang mengandung link atau tautan yang rusak (atau broken link)? Setelah berselancar di Google, akhirnya saya menemukan beberapa cara yang bisa dicoba dan akan saya share pada postingan kali ini. Dan berikut ini adalah beberapa cara yang bisa kita lakukan untuk mengecek broken link pada sebuah blog atau website.
  • Cara Manual, Cek Satu per Satu
  • Cara paling tradisional adalah dengan mengecek satu per satu semua link yang ada di seluruh postingan di blog kita. Silahkan cari link yang mengarah ke halaman error alias link rusak. Jika sudah ketemu, maka silahkan dihapus atau ganti link tersebut dengan link yang benar. Tentu menggunakan cara ini sangatlah tidak praktis. Butuh waktu yang lama untuk melakukannya. Waktu kita akan habis untuk sebuah proses yang tidak efektif. Maka, jelas cara ini tidak akan saya rekomendasikan.

  • Memanfaatkan Situs : brokenlinkcheck [dot] com
  • Dengan bantuan situs brokenlinkcheck [dot] com, kita dengan mudah bisa mengetahui link / tautan yang rusak. Caranya sangat mudah. Pertama-tama kunjungi dulu situs brokenlinkcheck[dot]com, kemudian masukkan alamat blog yang akan kita cek. Silahkan lihat contoh di bawah ini.

    Cara mengecek broken link dengan brokenlinkcheck dot com
    Langkah Pertama di brokenlinkcheck[dot]com

    Setelah memasukkan alamat blog kita, maka langkah berikutnya adalah tekan tombol find broken links. Maka beberapa detik kemudian kita akan dibawa ke halaman berikutnya untuk memasukkan security code seperti gambar di bawah ini.

    cara mengecek broken link
    Langkah kedua di brokenlinkcheck[dot]com

    Setelah memasukkan security code, maka langkah berikutnya silahkan klik bagian "find broken link now!", maka proses mencari link yang rusak pun dimulai. Silahkan tunggu beberapa menit, sistem akan mulai melakukan scanning terhadap semua link yang ada di dalam blog yang tadi dimasukkan. Jika sudah menemukan link yang rusak, maka akan segera muncul daftar link yang rusak. Kita bisa melakukan klik kanan pada bagian 'url' untuk mengetahui lokasi link yang rusak. Berikut adalah contoh dari daftar link yang rusak.

    cek link mati dengan brokenlinkcheck
    Klik pada 'url' untuk tahu lokasi link rusak

    Meski cara ini tergolong sangat efektif dan sangat efisien, namun ada kelemahan dari cara ini. Kelemahannya adalah terbatasnya jumlah tautan yang discan. Jumlah page / halaman blog yang discan dengan cara ini hanya 3000 halaman saja. Artinya, jika blog kita memiliki lebih dari 3000 halaman, maka kita tidak bisa mencari link yang rusak secara keseluruhan. Dan tentu, sepertinya kita harus mencari cara yang lain. Nah, cara yang lain itu adalah Google Analytics. Pembahasannya, ada di poin berikutnya di bawah ini.

  • Dengan Google Analytics
  • Google Analytic adalah salah satu tool atau alat yang disediakan Google yang wajib dimiliki oleh blogger yang serius dengan blognya. Salah satu ciri blogger yang serius dengan blognya adalah bagaimana cara dia mengelola dan merawat blognya. Google Analytic adalah senjata utama bagi para blogger yang serius dalam merawat dan mengelola blog. Berikut ini adalah tampilan dari Google Analytic :

    Mengecek broken link dengan Google Ananytic
    Tampilan Home Page dari Google Analytic

    Berikut ini adalah cara mencari broken link dengan menggunakan Google Analytic :

    1. Login ke akun Google Analytic.
    2. Pada menu bagian kiri, silahkan navigasi dan buka ‘Behavior -> Site Content -> All Pages
    3. Di bawah grafik, silahkan cari menu 'Page Title' (seperti yang sudah saya lingkari merah pada gambar berikut ini). Kemudian pada bagian search, silahkan masukkan kata kunci : '404.html', sebagai penanda link yang rusak.

    4. cara mengecek broken link dengan Google Analytic
      Di bawah grafik, klik 'Page Title'

      Jika ada broken link di dalam blog kita, maka akan segera muncul daftar link yang rusak setelah kita menekan tombol search dengan kata kunci '404.html'.

Baiklah teman-teman, demikian beberapa cara yang bisa dilakukan untuk bisa mendeteksi adanya link yang rusak di dalam blog kita. Jika ada pertanyaan terkait dengan cara-cara di atas, silahkan tinggalkan komentar di bawah ini. Selamat mencoba dan semoga bermanfaat.





Tuesday, December 25, 2018

0 Sepenggal Kisah Perjalanan ke Kota Shenzhen China : Bagian 4

Kisah sebelumnya di Perjalanan ke Shenzhen Bagian 3.

Selesai menyantap makan siang, kami kembali ke hotel. Berdasarkan rencana agenda yang sudah kami buat sebelumnya, sebenarnya siang ini kami harus langsung berdiskusi secara teknis dengan Rainbow dan Mr. Liu. Namun karena kondisi tubuh kami yang sudah terasa sangat capek, akhirnya kami mengubah waktunya. Kami geser agenda rapat itu ke waktu sore atau mungkin malam harinya. Siang ini, kami ingin istirahat terlebih dahulu di hotel. Melepaskan penat dan menghilangkan jet lag setelah melewati perjalanan yang cukup panjang. Tanpa protes sedikitpun, Rainbow dan Mr. Liu setuju dengan ide dari kami. Sepertinya mereka paham betul dengan kondisi kami. Yah, kami memang merasakan lelah dan butuh rehat sejenak.

Berkunjung ke Kantor Rainbow

Kami memanfaatkan waktu rehat ini dengan sangat baik. Mandi, ngopi-ngopi, dan bersantai-santai sambil menonton TV sepertinya menjadi pilihan yang tepat untuk menyegarkan pikiran. Namun sepertinya kita tidak bisa menikmati tayangan TV ini dengan baik. Tayangan TV di semua channel berbahasa mandarin dan hampir semuanya tanpa subtitle. Kita tak mengerti sedikitpun apa yang mereka bicarakan. Hanya bisa mengira-ngira dari aksi atau gerak tubuh mereka saja. Di tengah acara santai-santai itu, sekitar pukul 4 sore Rainbow tiba-tiba mengirim pesan lewat aplikasi Wechat. Ia menanyakan apakah kita sudah siap untuk dijemput?

Sore ini memang rencananya kita akan berkunjung ke kantor Rainbow untuk berdiskusi teknis tentang permasalahan yang kita hadapi di tanah air. Perlu diketahui bahwa perusahaan tempat Rainbow bekerja ini adalah perusahaan yang mensuplai komponen ke perusahaan kita di Indonesia. Saat ini ada kendala teknis terhadap komponen tersebut sehingga tidak dapat beroperasi normal. Karena itulah kita perlu menanyakan dan berdiskusi langsung dengan engineer mereka. Normalnya memang engineer mereka yang semestinya berkunjung ke Indonesia, namun karena terkendala pembuatan Passport dan Visa, akhirnya kami yang terpaksa harus datang ke Shenzhen ini.

Dengan menggunakan mobil, kami berempat mulai bergerak ke daerah Shajing, lokasi dimana kantor Rainbow berada. Sekitar 20 menit perjalanan akhirnya kami sampai juga di lokasi kantor Rainbow. Kantornya berada di komplek pertokoan. Menempati lantai 2 di gedung yang sepertinya ditempati oleh beberapa perusahaan yang berbeda. Setelah masuk ke dalam kantor, kami langsung disambut oleh beberapa karyawan yang bertugas sebagai resepsionis. Bisa dibilang perusahaan ini masih tergolong perusahaan startup. Jumlah karyawannya sedikit, mungkin hanya puluhan orang saja. Jumlah engineernya hanya sekitar 4 orang saja. Tetapi yang saya salut adalah keberanian mereka dalam mengembangkan sebuah teknologi dan memasarkan bahkan hingga ke manca negara. Meskipun pada akhirnya terdapat beberapa kendala teknis dari produk mereka, tentu itu sudah menjadi hal yang biasa serta menjadi pelajaran yang baik bagi mereka.

Kami merasa senang karena mereka menyambut kami dengan sangat ramah. Kami diperkenalkan dengan beberapa engineer mereka dan kemudian terlibat diskusi teknis yang sangat menarik. Saking menariknya, tak terasa diskusi berlangsung cukup panjang hingga larut malam. Sekitar pukul 10.00 malam, diskusi akhirnya dihentikan. Kami kemudian diantar kembali menuju hotel untuk beristirahat. Diskusi memang masih jauh dari kata selesai. Setidaknya kami masih ada 2 hari untuk melanjutkan diskusi dengan mereka.

Demikian cerita hari pertama kami di Shenzhen. Alhamdulillah semua kegiatan berjalan dengan lancar sesuai dengan rencana awal. Kamipun bisa tidur dengan pulas.

kisah perjalanan ke shenzhen China
Santai dulu sebelum tidur

Aktivitas Pagi Hari di Hotel

Hari kedua di Shenzhen tidak banyak peristiwa menarik yang bisa diceritakan. Malam hingga pagi hari kebanyakan aktivitas berada di hotel. Dimana pagi hari kami menikmati sarapan, kemudian siangnya kami pergi ke daerah Shajing untuk bertemu dan berdiskusi dengan Rainbow, Mr. Liu dan engineernya. Dan ketika malam hari (selepas Magrib), kami kembali ke hotel untuk kemudian bersantai atau nonton TV hingga waktu tidur tiba.

Meski begitu, ada beberapa hal-hal menarik yang bisa saya ceritakan disini.
  • Sarapan
  • Di hotel tempat kami menginap memang sudah disediakan fasilitas sarapan. Tetapi ini di China gaes! tetap saja tidak ada yang menjamin bahwa makanan yang dihidangkan itu halal. Maka untuk menghindari masuknya makanan-makanan yang tidak halal ke dalam tubuh, saya lebih memilih untuk makan bubur instan setiap pagi. Sebelum berangkat ke China, memang sudah dipersiapkan beberapa makanan instan untuk antisipasi ketika susah menemukan makanan halal di China. Dan alhamdulillah, bermanfaat sekali dalam kondisi-kondisi seperti ini.

    Bubur Instan Halal

    Beruntung juga pagi hari itu juga saya bisa makan salad. Jadi ceritanya kemarin malam saat menyantap makanan di KFC, saya masih sempat untuk membawa pulang salad yang tidak habis saya makan. Alhamdulillah bisa saya jadikan tambahan menu sarapan pagi.

    Sarapan dengan mengkonsumsi Salad
    Sarapan Salad

    Meski saya sudah sarapan bubur sekitar pukul 07.00 pagi, biasanya mas Anang masih mengajak saya untuk menikmati sarapan di hotel pada pukul 09.00. Kami masih bisa memilih menu yang aman untuk dikonsumsi seperti berikut ini.

    sarapan halal di hotel China
    Ambil menu buah saja
    cara mencari sarapan halal di china
    Atau menu telur, ubi dan jagung

    Nah, lezat kan? tidak harus makan makanan yang haram atau syubhat untuk menikmati makanan.

  • Ngopi
  • Konon, ada satu pepatah lama yang sangat terkenal bagi para penikmat kopi,
    "Jangan sampai kerjamu mengganggu ngopimu"

    Untuk tetap bisa menikmati kopi di luar negeri, saya sudah mempersiapkan beberapa kopi instan yang saya bawa dari Indonesia. Di hotel juga sudah disediakan sebuah teko yang bisa dipakai untuk memanaskan air. Maka, untuk membuat sebuah kopi yang enak, tinggal beberapa menit diracik, secangkir kopi panas sudah siap untuk dinikmati (disruput).

    Ngopi di China
    Jangan lupa untuk ngopi

    Jadilah seperti kopi, yang tetap dicintai meski tanpa harus menyembunyikan pahitnya diri.


  • Tayangan TV
  • Bisa dibilang menonton TV menjadi aktivitas paling banyak dilakukan ketika kita sedang berada di kamar hotel. Namun sayangnya hampir semua channel yang kami pilih, jarang sekali ada subtitle berbahasa Inggris-nya. Maka, ketika ada satu channel yang tersedia subtitle berbahasa Inggris seperti foto di bawah ini, menjadi sebuah kesenangan tersendiri. Saat nonton, saya pun bisa larut di dalam ceritanya.
    nonton film drama China tanpa subtitle
    Nonton film pendekar

Demikian beberapa aktivitas saya di hotel selama dua hari di China. Nah, memasuki hari ke-3 kami punya agenda yang spesial. Agenda apa itu?

To Be Continued...




Saturday, December 15, 2018

0 Sepenggal Kisah Perjalanan ke Kota Shenzhen China : Bagian 3

Kisah Sebelumnya di : Bagian 2.

Kapal Ferry terus bergerak, perlahan namun pasti semakin menjauh dari pelabuhan Hongkong. Saya pun masih asyik menatap keluar. Dari balik jendela yang sedikit buram ini, sejenak menikmati pemandangan sejuknya air laut. Sederhana memang, tapi saya menikmatinya. Langit terlihat sedikit mendung, sepertinya sebentar lagi akan memuntahkan jutaan rintik hujan. Ini akan menjadi hujan pertama saya di luar negeri. Syahdu.

Beberapa saat lagi, kami akan tiba di pelabuhan Fuyong. Pelabuhan Fuyong adalah satu diantara beberapa pelabuhan yang berada di wilayah Shenzhen. Kami memilih tujuan pelabuhan Fuyong karena pelabuhan inilah yang paling dekat dengan bandara international Bao'an. Dari bandara, pada awalnya kami akan naik Metro menuju stasiun Tangwei, di wilayah Shajing. Karena di stasiun itulah, rencananya kami akan dijemput oleh rekan kami dari China. Namun lewat aplikasi WeChat, rekan kami dari China tersebut mengabarkan bahwa mereka akan menjemput kami di pelabuhan Fuyong. Alhamdulillah, tentu ini menjadi kabar baik. Setidaknya kami tidak perlu capek-capek harus naik Metro sambil membawa koper.

Pelabuhan sudah semakin dekat. Kapal mulai merapat perlahan ke sisi Dermaga Fuyong. Kami pun bersiap-siap turun dari kapal. Dermaga Fuyong terlihat cukup sepi. Hanya beberapa petugas dermaga yang sibuk mengikatkan tali ke beberapa sisi bagian kapal. Juga beberapa petugas lainnya yang terlihat sibuk menurunkan koper-koper penumpang kapal yang sebelumnya diambil langsung dari pesawat.

Tiba di Pelabuhan Fuyong, Shenzhen

Setelah kapal berhenti, saya bergegas turun dari kapal. Sambil berjalan, saya membaca petunjuk di papan informasi yang terpasang di beberapa sisi dermaga yang mudah terlihat. Saya langsung paham bahwa saya harus menuju ke bagian pengambilan koper. Dengan menunjukkan tiket kapal Ferry, kami diizinkan mengambil koper. Karena petugasnya juga tidak bisa berbahasa Inggris, kamipun juga nyaris tidak menggunakan komunikasi dengan kata-kata. Selama kita memiliki dan menyimpan tiket kapal Ferry, maka prosedur pengambilan koper ini bisa dilakukan dengan mudah dan sederhana.

Setelah mengambil koper, kami langsung menuju ke bagian imigrasi China. Bagian imigrasi memang sering menjadi momok bagi sebagian orang. Karena bagian ini menjadi bagian paling vital menentukan apakah kita diizinkan masuk ke negara tersebut atau tidak. Dengan kata lain, bagian imigrasi ini juga yang menentukan apakah kita bakal dideportasi atau tidak. Wah, serem ya?

Proses imigrasi berlangsung dengan lancar. Dalam proses imigrasi, seperti biasa kami disuruh memberikan sidik jari dan dilakukan pengambilan foto untuk dicocokkan dengan dokumen Passport dan Visa. Alhamdulillah, akhirnya kami secara resmi memasuki wilayah kedaulatan Republik Rakyat Tiongkok tanpa hambatan apapun. Sesaat langkah kami keluar dari pintu keluar imigrasi, dua orang dengan perawakan khas China menghampiri kami.

"Hello, are you Mr. Anang and Mr. Fifin?" tanya mereka dengan ramah.

"Yes, we are". Sambut kami bahagia.

Dari perawakannya, kami langsung mengenali salah satu dari mereka. Karena sebelumnya kami juga sudah melihat fotonya dari aplikasi Wechat. Mereka adalah orang-orang yang memang ingin kami temui. Ada keperluan bisnis dan teknis antara perusahaan kami dengan perusahaan mereka. Dari pelabuhan Fuyong, kami kemudian naik mobil menuju hotel. Setelah perjalanan yang sangat panjang, kami butuh segera beristirahat.

Masuk ke dalam mobil, kesan mewah langsung terasa. Kami menebak bahwa orang yang menjemput kami ini mungkin adalah orang top di perusahaannya. Dan benar saja. mereka ternyata adalah jajaran petinggi di perusahaan mereka. Beberapa kali kami terlibat percakapan kecil dengan mereka. Sayangnya hanya satu orang saja yang bisa berbahasa Inggris, sehingga hanya dengan dia satu-satunya kami bisa berkomunikasi. Bahkan hingga beberapa hari kedepan, dia menjadi translator berjalan kami. Namanya Rainbow. Sedangkan yang menyetir mobil namanya Mr. Liu. Beberapa saat kemudian kami menyadari bahwa Mr. Liu adalah sang pimpinan perusahaan, bos-nya Rainbow.

Hari Pertama di Shenzhen

Langit agak mendung, suasana teduh seakan menjadi keramahan kota ini menyambut kami. Mobil bergerak dengan kecepatan sedang menyusuri jalanan China. Di sepanjang perjalanan kami sering terpukau dengan kondisi jalanan di Shenzhen. Cukup rapi dan kesannya agak berbeda saja dengan kondisi di tanah air. Gedung-gedung besar yang berjajar rapi menjadi pemandangan menarik di sepanjang perjalanan. Rintik hujan makin membesar, saya semakin menikmati perjalanan. Alhamdulillah, semua berjalan dengan lancar.

Sekitar 30 menit perjalanan akhirnya kami sampai di hotel yang berlokasi di daerah Shajing. Kami masuk ke area parkir, muter-muter sejenak mencari tempat parkir. Setelah menemukan tempat parkir yang kira-kira cocok, mobil pun berhenti, Rainbow dengan cekatan menawarkan payung kepada kami. Di luar rupanya masih hujan.

Hotel tempat kami menginap berada tepat menghadap jalur Subway. Mereka memilih hotel ini juga karena alasan tersebut, agar mudah bagi kami untuk pergi kemana saja. Hotel ini juga dekat dengan stasiun Subway (stasiun Tangwei). Tinggal berjalan sekitar 200 meter.

Berlatar rintik hujan, kami bergegas menuju Hotel. Saya sendiri agak sedikit kesulitan berjalan cepat, karena harus membawa koper yang lumayan besar. Setelah berjalan beberapa meter, kami sampai di Hotel. Seorang resepsionis dengan ramah menyapa kami. Rainbow mendekat ke meja resepsionis, langsung berbincang menggunakan bahasa China. Saya yang sebelumnya masih berdiri, memilih segera duduk di lobi. Tidak mengerti perbincangan mereka. Sambil menunggu, saya mengamati interior hotel ini. Lumayan bagus, pikir saya.

Hotel I Love City

Setelah agak lama berbincang, Rainbow terlihat memanggil kami. Meminta kami untuk memberikan dokumen Passport sebagai bukti identitas untuk didaftarkan sebagai syarat boleh menginap di hotel. Resepsionis dengan cekatan menerima Passport kami dan mencatatnya di komputer. Kamipun juga disuruh berdiri di depan kamera yang sudah disedikan, untuk diambil fotonya.

Setelah memenuhi persyaratan dari resepsionis, kamipun mendapatkan kartu akses kamar hotel. Rainbow mengatakan bahwa kamar kami berada di lantai 11. Kami bergegas menuju lift, bersimpangan dengan beberapa petugas kebersihan hotel yang dengan ramah menyapa kami menggunakan bahasa China. Dan lagi-lagi kami tidak mengerti bahasa mereka. Hanya bisa membalasnya dengan senyuman. Sejenak kemudian mereka pun sadar, kami orang asing.

Sesaat memasuki ruangan kamar hotel, Alhamdulillah ruangannya besar, bersih, rapi dan terkesan nyaman. Ada satu hal yang biasa saya cek ketika akan menginap di hotel, yaitu kondisi toiletnya. Setelah saya buka pintu toilet, alhamdulillah, toiletnya ternyata juga sangat bersih. Tidak kalah dengan hotel-hotel bagus lainnya.

Setelah meletakkan jaket, tas kecil dan koper, saya mendekati jendela. Di seberang hotel, terlihat jalur subway membentang lurus searah dengan jalan. Perbedaannya dengan jalur kereta api yang biasa, jalur subway ini dibangun elevated. Subway ini memiliki jalurnya sendiri, tidak digunakan bersama-sama dengan kereta pada umumnya. Relnya dibangun agak ke atas dengan ditopang oleh beberapa tiang beton penyangga.

Tepat jika kita memandang keluar jendela, ada jalur Subway

Waktu sudah semakin siang, Rainbow menawarkan untuk makan siang dulu sebelum membiarkan kami istirahat di hotel setelah melewati perjalanan panjang. Kami setuju. Perut sudah keroncongan. Namun sebelum berangkat, saya menjelaskan kepada Rainbow tentang persyaratan makanan halal yang bisa kami makan. Kami seorang muslim, maka hanya makanan yang halal yang bisa kami konsumsi.

To Be Continued...



Total Pengunjung

 

Inspirasi Coffee Copyright © 2011 - |- Template created by O Pregador - |- Powered by Blogger Templates