Selamat datang di gubug Inspirasi Coffee. Blog ini dikelola oleh penulis sejak September 2008. Sampai sekarang, api semangat menulis masih menyala terang, menarikan pena melukiskan cerita kehidupan. Hak cipta dilindungi oleh Allah Azza wa Jalla.
Selamat Membaca ^_^

Sunday, June 7, 2020

0 Pengalaman, Cara Memperbaiki Mesin Cuci Panasonic 2 Tabung, Air Mengalir Terus

Cara Memperbaiki Mesin Cuci Panasonic Dua Tabung

Gejala Kerusakan

Beberapa waktu yang lalu mesin cuci di rumah sedang rusak. Gejalanya begini, meski tidak dalam kondisi drain, air yang dimasukkan ke dalam tabung mesin cuci tidak bertahan di tabung, tapi langsung mengalir saja ke bagian pembuangan. Dengan kondisi tersebut tentu mesin cuci itu tidak bisa digunakan. Merk mesin cucinya yaitu Panasonic dua tabung dengan ukuran 6kg. Saya menulis pengalaman disini karena siapa tahu ada diantara pembaca blog inspirasicoffee.com menemukan permasalahan seperti yang saya alami.

Jika mesin cuci rusak, jelas sekali istri paling rewel soal ini. Bagaimana tidak, masing-masing dari anggota keluarga kami hampir selalu memproduksi baju kotor setiap hari. Dan baju-baju kotor tersebut harus segera dicuci agar tidak menumpuk apalagi menggunung. Maka, aktifitas cuci mencuci baju hampir selalu dilakukan setiap hari. Menjadi wajar apabila mesin cuci mengalami titik jenuh hingga butuh untuk rehat sejenak.

Ilustrasi mencuci pakaian

Jika pakaian yang kotor itu dicuci secara manual pakai tangan, hal tersebut akan sangat melelahkan dan tentu saja menyita waktu. Padahal kata orang, waktu adalah emas, begitu berharganya.

Istri pernah berseloroh begini, dan menurut saya, pendapatnya sangat masuk akal.
"Bisa saja kita mencuci pakai tangan sendiri, itu tidak masalah. Toh orang-orang dulu juga melakukannya, sebelum akhirnya datang era modernisasi dengan munculnya teknologi mesin cuci.
Tapi apakah kita tidak merasa rugi dengan tersitanya waktu? padahal waktu yang berharga tersebut bisa dipakai untuk hal-hal yang lebih produktif, seperti memasak, membaca buku, ataupun quality time bersama anak-anak".

Memasak itu ada know-how nya. Setiap kali kita memasak, maka akan semakin bertambah pula pengalaman dan pengetahuan dalam memadu-madankan bumbu-bumbu hingga tercipta masakan yang lezat serta bisa dinikmati oleh keluarga tercinta.

Pun juga dengan aktifitas membaca buku, wawasan akan semakin luas dan akan mematangkan cara berpikir kita. Belum kalau kita bicara tentang waktu berharga bersama anak-anak.

Maka solusi atas permasalahan mesin cuci ini berubah status hukumnya, dari yang awalnya sunah menjadi wajib, Terserah solusinya nanti seperti apa, apakah dengan mendatangkan tukang mesin cuci, atau diperbaiki sendiri. Yang pasti, mesin cuci harus segera diperbaiki.

Tantangan sebagai Hokage

Mendengar kerewelan istri, jiwa ke-hokage-an saya tiba-tiba mencuat. Saya harus segera mencari solusi, agar shinobi di dalam keluarga saya bisa melaksanakan misi (mencuci) dengan baik.

Namun, mencari tukang mesin cuci di tengah pandemi Corona seperti ini rasanya kok agak riskan ya?

Eh tiba-tiba kepikiran saja, kenapa tidak diperbaiki sendiri? yaitu dengan melakukan DIY (do it your self). Dilihat dahulu kerusakannya seperti apa, syukur-syukur kalau rusaknya tidak parah dan bisa diperbaiki sendiri. Bila kerusakannya parah, baru nanti didatangkan tukang service ke rumah.

Di sisi lain, ada kekhawatiran jika DIY tersebut malah mengakibatkan mesin cuci tambah rusak. Track record saya dalam oprek mengoprek selama ini memang cenderung kurang baik, kalau tidak mau dikatakan parah. Kebanyakan semua hasil oprekan saya malah bikin barangnya tambah rusak. Entah itu ketika memperbaiki laptop, sepeda, dan terakhir kemarin ketika memperbaiki mainan kereta anak saya. Namun, misi ini harus tetap dilakukan.

Solusi Perbaikan

Jika dilihat berbagai referensi di internet dan youtube, kerusakan mesin cuci seperti yang saya alami lebih banyak dikarenakan karena terdapat kotoran yang menyumbat saluran air di dalam mesin cuci. Maka langkah pertama yang harus dilakukan adalah mengecek saluran tersebut. Pastikan tidak ada kotoran di dalamnya.

Mengecek Saluran Air di dalam Mesin Cuci

Untuk mengecek saluran air di dalam mesin cuci silahkan lakukan langkah-langkah berikut ini:
1. Buka bagian belakang dari mesin cuci

Bagian belakang mesin cuci

2. Kenali bagian-bagian dasar dari saluran airnya

Memperbaiki Mesin Cuci dua tabung

3. Bersihkan bila terdapat kotoran di dalamnya.

Membersihkan Kotoran di dalam Katub Pembuangan

Setelah melihat saluran airnya, langkah berikutnya adalah membersihkan katub dari berbagai kotoran yang menyumbat. Dalam kasus saya, kotoran di dalam katub ini cukup banyak hingga sedikit menyumbat saluran airnya.

Cara memperbaiki mesin cuci dua tabung
Kotoran di valve harus dibersihkan

Adanya kotoran yang menyumbat di bagian katub itu yang menyebabkan air terus mengalir ke bagian pembuangan. Maka, dengan membersihkan kotoran itu insyaAllah masalah jadi beres. Air sudah tak lagi mengalir ke pembuangan. Ya kalaupun masih ada, debitnya kecil.

Masalah Lain, Tali Drain Putus

Ada sedikit cerita menarik ketika proses perbaikan ini. Waktu itu, saat saya sedang mencoba melepas baut pengunci dari tutup katub/valve-nya, secara tidak sengaja saya malah memutus tali yang menghubungkan switch drain dengan katub itu. Alhasil, mekanisme buka tutup katub menjadi tidak berfungsi. Makin panik 😔.

Tali drain mesin cuci panasonic 2 tabung
Tali tarik untuk drain tiba-tiba putus

Inilah yang tadi di paragraf awal sempat saya khawatirkan, track record saya memang kurang baik dalam hal oprek mengoprek. Entah mungkin karena saya terlalu kuat dalam menarik talinya, atau posisinya yang memang sedang tidak pas, tali drain pun akhirnya putus. 

Mau tak mau, saya harus membeli terlebih dahulu tali tersebut. Beruntung di online marketplace cukup banyak ditemukan toko yang menjual tali seperti itu.

Beberapa hari kemudian tali drain pun datang setelah sebelumnya dipesan via online. Setelah memperbaiki talinya, permasalahan mesin cuci pun akhirnya beres. Alhamdulillah. 

Kesimpulan

Theodore Roosevelt, Presiden Amerika Serikat ke-26 pernah mengatakan,

"Orang yang tidak pernah berbuat kesalahan adalah orang yang tidak pernah melakukan sesuatu".

Maka, mencoba itu lebih baik daripada tidak sama sekali. Tentu ini tak selalu berlaku untuk semua hal ya. Pastikan itu dalam hal-hal yang mengarah pada kebaikan atau setidaknya mubah, bukan hal yang syubhat apalagi jelas-jelas mengarah pada perbuatan dosa.

Demikian sedikit tips sederhana tentang bagaimana cara memperbaiki mesin cuci Panasonic dua tabung dengan masalah yang sudah dibahas diatas. Semoga postingan ini bermanfaat. Silahkan komen dibawah jika ada tips lain atau pertanyaan.

Monday, June 1, 2020

0 Mbolang ke Aarberg dan Biel / Bienne Switzerland - Bagian 2

Tulisan ini merupakan kelanjutan dari cerita sebelumnya yaitu Mbolang ke Aarberg dan Biel/Bienne Bagian 1

Mbolang ke Aarberg dan Biel-Bienne Switzerland Bagian 2


Aarberg


Artistik Sang Kota Tua


Sesaat keluar dari Articulated Bus berwarna merah itu, kami clinguk-an mencari petunjuk arah ke Kota Tua. Berdasar informasi dari Google Maps, sebenarnya lokasinya sudah cukup dekat. Namun, tetap saja kami masih kebingungan karena kurang menguasai arah mata angin. Alih-alih membuka aplikasi kompas di handphone, beberapa diantara kami sedikit tak sabar dan memilih bertanya langsung kepada orang setempat yang berseliweran. Beruntung sekali orang Swiss itu ramah-ramah. Kami diberitahu ancer-ancer lokasi Kota Tua. Dan sesuai dengan dugaan, lokasinya memang sudah dekat. Kamipun kembali melangkahkan kaki, tak sabar ingin segera melihat seperti apa kota tua itu.

Setelah beberapa menit berjalan, akhirnya sampai juga kami di kota tua itu. Beberapa bangunan dengan arsitektur klasik mulai menghias mata. Jika diperhatikan dengan seksama, lokasi ini malah terlihat seperti komplek ruko / pertokoan dimana pada bagian lantai dasar lebih banyak digunakan sebagai toko roti, mainan dan lain-lainnya. Meskipun begitu, hal itu sama sekali tak mengurangi eksotisme tempat ini.

Tak mau sekedar melihat-lihat saja, kami mengabadikan momen langka itu dengan berfoto-foto dengan latar bangunan artistik itu. Beberapa orang lokal Swiss terlihat memandangi kami. Ah, siapa pula peduli. Kami terus menyusuri jalanan di area kota tua itu sambil sesekali berfoto ria bila menemukan sesuatu yang menarik.

Kota Tua Aarberg, Switzerland
Kota Tua di Aarberg

Setelah merasa puas melihat-lihat area kota tua, kami terus menyusuri jalan di komplek itu hingga menemukan ujungnya. Info dari Schwab, di penghujung kota tua terdapat sebuah jembatan kayu yang klasik. Dan setelah keluar dari jembatan itu, kita akan disuguhi dengan pemandangan yang sangat menarik.

Langit siang itu agak mendung, berhias gumpalan awan gelap. Sepertinya sebentar lagi akan memuntahkan ribuan ton air hujan. Namun, kami tak khawatir. Jika sewaktu-waktu hujan tiba-tiba mengguyur, kami sudah bersiap dengan payung yang ada di dalam tas masing-masing. Hanya satu saja yang saya khawatirkan, yaitu sepatu. Jika kebasahan, maka sepertinya saya harus ke tempat training di hari senin memakai sandal.

Jembatan kayu yang bersejarah


Sungai yang Jernih

Dari atas  jembatan, kami dibuat takjub dengan pemandangan alam yang tak biasa. Seumur hidup jarang sekali saya menemukan pemandangan seperti ini. Di depan saya terpampang sungai yang berkelok-kelok membelah kota Aargberg. Indah sekali sungai ini. Nyaris tak kami temukan sampah sedikitpun di sepanjang sungai ini. Di beberapa bagian malah tampak seperti danau-danau kecil yang indah.

Airnya juga begitu jernih membiru. Saking jernihnya, bahkan kami bisa melihat bagian dasar sungainya. Namun sayangnya, kami tak menemukan ikan di dalamnya meskipun tak ada niatan sedikitpun untuk mancing.

Sungai Aarberg, Switzerland

Kami mulai berjalan turun dari jembatan, menyusuri jalan setapak di pinggiran sungai. Jalannya sedikit becek karena terkena air hujan. Saya berpikir, jika bukan musim dingin, pasti banyak orang Swiss yang berpiknik di sungai ini, layaknya Hanami di Jepang. Jika Hanami di Jepang dilakukan sambil menikmati keindahan bunga sakura, di Aarberg sini 'Hanami' dilakukan untuk menikmati keindahan sungai sambil bakar ikan hasil tangkapan. 

Biel / Bienne


Perjalanan ke Biel-Bienne


Setelah puas menikmati pemandangan sungai, kami pun berjalan kembali menuju stasiun Aarberg. Masih ada satu agenda lagi di hari itu yaitu ke kota Biel-Bienne. Katanya sih disana terdapat sebuah danau.

Untuk menuju ke kota Biel / Bienne, kali ini kami menggunakan moda transportasi kereta api. Sesampainya di stasiun Aarberg, kami segera mencari tempat penjualan tiket kereta. Ada dua cara untuk membeli tiket kereta di Swiss, yang pertama dengan membeli langsung ke loket reservasi, seperti yang kami lakukan ketika membeli tiket dari stasiun Zurich Flughafen ke Lyss, atau dengan melalui mesin tiket ( ticket machine ). Kami belum pernah membeli dengan cara ini sebelumnya.

Stasiun Aarberg

Awalnya kami ingin membeli tiket di loket reservasi stasiun, namun sayangnya saat weekend loketnya baru buka agak siang. Seingat saya, buka nya mulai pukul 11.30. Kamipun berbalik arah, bergegas menuju ke arah mesin tiket yang lokasinya berada tak jauh dari loket reservasi. Berikut ini adalah penampakannya mesin tiketnya,

Cara naik kereta di Swiss
Mesin tiket untuk naik kereta

Ketika pertama kali mencoba mesin tiket itu kami agak kebingungan. Beruntung di dalam petunjuk mesin ini terdapat mode versi English. Kamipun berusaha menyesuaikan diri, mencoba memahami alur pembelian tiket di mesin ini. Sesekali berdebat kecil. Seru.

Sebenarnya caranya cukup mudah dipahami bagi orang yang baru pertama kali menggunakannya. Sangat user friendly. Jika merasa ada yang salah dalam prosesnya, langsung kami klik cancel, diulangi dari awal lagi. Beberapa menit mencoba-coba, setelah mengalami trial and error, akhirnya empat tiket kereta dengan tujuan Biel / Bienne pun berhasil tercetak. Alhamdulillah.

Tiket kereta Aarberg
Tiket ke Biel / Bienne

Kami membuka aplikasi SBB Mobile di handphone untuk melihat jadwal kereta terdekat menuju Biel / Bienne. Rupanya masih ada sekitar 10 menit-an lagi sebelum kereta dengan jadwal terdekat datang. Daripada terus berdiri, kami memilih menunggu di ruang tunggu yang ada di stasiun.

Salah seorang dari kami memanfaatkan momen ini dengan menyalakan sebatang rokok setelah sebelumnya clingak-clinguk mencari apakah ada petunjuk larangan merokok di stasiun ini. Beruntung sekali bagi dia, beberapa detik kemudian ada orang lokal Swiss yang melakukan hal yang sama. Akhirnya berbekal sebatang rokok yang mulai mengebul, perbincangan kecil dengan orang Swiss itu dimulai. Suasara hangat dan akrab mulai terlihat, chemistry mulai terjalin. Perbincangan basa-basi yang akhirnya dapat mengusir keheningan sebelum kereta tiba. 

Saya dan dua orang kawan lainnya memilih untuk masuk ke dalam ruang tunggu stasiun. Menghangatkan diri sambil memakan roti sisa sarapan tadi pagi. Di ruang tunggu itu memang cukup nyaman, terdapat mesin heater pemanas ruangan.

Danau yang Sepi

Sesaat kemudian, kereta yang akan mengantar kami ke Biel / Bienne pun akhirnya tiba. Kami langsung masuk dan mencari tempat duduk yang kosong untuk ber-empat. Jarak antara Aarberg ke Biel Bienne kali ini lumayan. Sekitar 30 menit perjalanan dengan menggunakan kereta.

Jalur kota Aarberg menuju Biel / Bienne

Setelah perjalanan singkat 30 menit-an, kami sampai di Stasiun Biel / Bienne. Stasiun ini lebih besar jika dibandingkan dengan stasiun Aarberg atau pun Lyss. Alasannya mungkin karena stasiun Biel / Bienne adalah gerbang utama menuju ke wisata danau Biel. Tentu banyak wisatawan yang ingin berkunjung ke daerah ini, termasuk kami.

Stasiun Biel Bienne
Sesaat keluar dari stasiun Biel Bienne

Jarak stasiun Biel / Bienne ke danau rupanya tak terlalu dekat. Kami butuh melangkahkan kaki sekian lamanya sebelum akhirnya menemukan danau. Sebenarnya hal ini sama sekali tak menjadi masalah buat kami. Kami suka berjalan kaki, apalagi di daerah yang baru seperti kota Biel. Pemandangan jalanan kota Biel / Bienne menjadi keasyikan tersendiri bagi kami. Bahkan, beberapa kali kami harus tersesat karena tak sesuai dengan petunjuk arah di Google Maps. Menjadi sebuah keseruan berbalut gelak tawa saling menyalahkan.

Mencari Danau Biel

Mendung masih saja gelap. Sepertinya kondisi ini akan terus berlarut sepanjang hari hingga sore nanti. Tidak segera hujan, disisi lain mentari enggan pula menampakkan diri. Beruntung sekali kami jalan-jalan di hari itu.

Berbekal arahan Google Maps, danau pun akhirnya berhasil ditemukan. Danau Biel namanya. Sangat indah, berlatar perbukitan dan deretan pepohonan dengan daun yang meranggas. Lokasinya pun juga bersih. Beberapa kapal tak berpenghuni terlihat tengah bersandar.

Tak ada petugas, tak ada pemeriksaan tiket masuk, kami pun langsung leluasa menikmati keindahan danau. Berikut ini beberapa view yang sempat kami abadikan.

Danau Biel

Danau Biel Bienne
Danau Biel

Dermaga Danau Biel

Sebenarnya ada satu hal yang menjadi keheranan kami. Kenapa danau Biel ini begitu sepi? Nyaris tak ada orang lain selain kami di lokasi ini. Padahal lokasi ini bisa menjadi objek wisata yang sangat menarik. Apa karena sekarang lagi musim dingin, hingga orang-orang malas keluar? Atau karena sedang akhir pekan? Padahal di Indonesia, orang cenderung memanfaatkan akhir pekan untuk berwisata. 

Sejenak duduk-duduk menikmati indahnya danau Biel

Beberapa dari kami iseng mengecek kapal-kapal yang tengah bersandar. Melihat interiornya. Kalau kami intai dari balik kaca jendela, di dalamnya terlihat tempat duduk  yang saling berhadap-hadapan dan terdapat meja di tengahnya. Di ujung terdapat bar yang difungsikan bagi pelanggan yang ingin memesan makanan atau sekedar minum.

Jelas ini bukan kapal nelayan. Ini adalah kapal untuk para wisatawan di danau Biel. Mungkin keramaian di danau Biel akan terlihat saat musim panas. Namun, musim dingin begini bukan berarti danau harus dianggurkan. Ah, saya jadi terbayang pasti nikmat sekali menyantap mie rebus di dalam kapal itu sambil menikmati keindahan danau.

Di ujung dermaga tempat saya duduk terdapat sebuah shelter bus atau halte. Rupanya ada bus yang berhenti di lokasi ini. Jika ada kesempatan lain (ha ha, mimpi boleh kan), sepertinya akan mudah jika naik bus saja daripada harus jalan kaki. Kita bisa naik bus dari stasiun Biel / Bienne. Di Swiss, stasiun dan terminal hampir selalu berdekatan. 

Nampang dulu di kolong jembatan sebelum menuju stasiun

Waktu terus berjalan, semakin lama kami berada di dermaga rasanya semakin dingin saja. Setelah dirasa cukup, kami pun bersepakat untuk kembali ke stasiun Biel / Bienne. Tak tertarik untuk naik bus, kami memilih berjalan kaki. Lumayan lah, bisa menghangatkan badan yang serasa sudah membeku.

Episode Jalan-jalan Berakhir, Saatnya Kembali ke Lyss

Sesampainya di stasiun Biel / Bienne, kami langsung mencari lokasi pembelian tiket. Berbekal pengalaman dengan mesin tiket di stasiun Aarberg, kami jadi lebih pede untuk membeli tiket menggunakan ticket machine. Tak seperti di Aarberg, kami lebih lancar menekan tombol-tombol di mesin tiket tersebut. Tiket pun berhasil didapat, kami segera menuju ke peron keberangkatan. 

Stasiun Biel / Bienne ini besar sekali. Setidaknya ada lebih dari enam jalur kereta di stasiun ini. 

Kereta Stadler di Stasiun Biel Bienne
View dari dalam ruang tunggu stasiun,
terlihat kereta pabrikan Stadler

Salah seorang di antara kami ada yang ingin pergi ke mini market untuk belanja sesuatu. Lokasinya masih berada di dalam stasiun. Kami memilih jadwal kereta yang berangkat agak lama lagi, biar belanjanya bisa jenak. Saya sendiri memilih menunggu di ruang tunggu stasiun yang ada penghangatnya. Lebih nyaman.

Perjalanan ke Lyss bersama Tolak Angin

Sesekali kami melihat aplikasi SBB mobile (aplikasi ini di Jepang namanya Hyperdia), untuk memastikan jadwal keberangkatan kereta menuju Lyss. Beberapa menit kemudian, kereta yang kami tunggu-tunggupun tiba. Setelah mendapat tempat duduk yang nyaman, saya memandang ke arah jendela, mengamati orang-orang lalu lalang.

Sambil mencicip tolak angin, terbayang agenda esok hari. Kira-kira mau kemana ya? Interlaken? Grinderwald?


Thursday, May 21, 2020

0 Mbolang ke Aarberg dan Biel / Bienne, Switzerland

Beberapa minggu sebelum keberangkatan ke Swiss, saya sering bercanda dengan kawan seperjalanan tentang kemungkinan untuk mengisi akhir pekan kami di Swiss dengan jalan-jalan. Biar lebih seru saya ganti istilahnya dengan mbolang. Rugi banget kan sudah pergi jauh-jauh melintas benua jika hanya sekedar melaksanakan training saja tanpa disertai jalan-jalan untuk melihat keindahan negerinya.

Banyak orang mengatakan Swiss itu seperti negeri dongeng. Mereka sering memakai klausa, 'Tuhan menciptakan negeri ini ketika sedang tersenyum'. Orang sih bebas berpendapat ya, meski saya sendiri tidak sepakat dengan itu.

Entah siapa yang memulai ide mbolang tersebut, waktu itu saya mengusulkan untuk pergi ke Interlaken, sebuah pedesaan yang indah, lokasinya tepat di antara dua buah danau besar yaitu Thun dan Brienz. Ide ini muncul karena terinspirasi dari sebuah tayangan di Youtube yang diliput oleh NetMediatama. Judulnya 'Keindahan Interlaken, Swiss yang Memanjakan Mata'.

Seorang kawan menyeruak dalam obrolan, ingin pula mengajukan idenya. Dengan menggebu-nggebu, ia menawarkan untuk pergi ke Grinderwald. Sebuah pedesaan yang berada di dekat gunung Eiger. Kalau baca-baca di blog, Grindelwald menyajikan pemadangan pedesaan yang istimewa. Pegunungan Eiger dengan puncaknya yang selalu berhias salju menjadikannya view yang eksotik. Selain itu, kita bisa melihat dan berinteraksi secara langsung dengan sapi-sapi khas Switzerland yang dibiarkan saja lepas di alam. Tentu ini semua akan menjadi sebuah pengalaman yang tak akan terlupakan.

Kawan saya yang lain pun juga tak ingin kalah, idenya malah lebih gila lagi. Dia mengusulkan untuk pergi jalan-jalan ke Paris, Perancis. Tujuannya ingin melihat Menara Eiffle. "Kapan lagi kita bisa ke Paris!", begitu selorohnya.

Saya pun menimpalinya dengan ide ke negeri asal Lukas Podolski, Der Panzer, Jerman. Sederhana saja, saya penggemar berat timnas Jerman di piala dunia 2018 yang lalu. Tim yang secara naas tak lolos fase group, meski empat tahun sebelumnya sempat menggondol trofi juara. 

Jika keinginan ini terwujud, sepertinya saya bersiap untuk menulis cerita yang agak panjang meniru mbak Hanum Rais dalam novelnya yang best seller, 99 Cahaya di Langit Eropa.

Tanpa kami menyadarinya, gurauan-guraun yang terdengar absurb itu pun lama-lama menjadi sebuah keseriusan. Bermula saat kami secara iseng membuat rencana perjalanan ( itinerary ) yang didalamnya juga termaktub RAB (rincian anggaran biaya). Jika dihitung-hitung sih, sepertinya sangu kami masih cukup, walaupun cenderung tak bersisa.

Akankah ide-ide itu terwujud?

Jalan-Jalan ke Aarberg dan Biel / Bienne


Keinginan Keliling Eropa yang Kandas


Sebenarnya ide pergi jalan-jalan keliling Eropa bukanlah ide khayalan. Kami berangkat ke Swiss dengan Visa Schengen yang mengizinkan kami untuk pergi ke 26 negara-negara lain di Eropa yang masuk dalam wilayah Schengen. Negara Jerman dan Perancis termasuk di dalamnya.

Namun setelah ditelaah lebih lanjut, sepertinya pergi ke Perancis atau Jerman menjadi hal yang agak berat bagi kami. Kami hanya memiliki waktu senggang di saat weekend, yaitu di hari sabtu dan minggu. Sedangkan perjalanan lintas negara dari Swiss ke Perancis dengan menggunakan moda kereta membutuhkan waktu sekitar delapan jam.

Bisa dibayangkan, semisal kami berangkat dari Swiss pukul delapan di pagi hari, maka jadwal tiba di Paris yaitu pukul empat sore. Dari Stasiun Paris kita membutuhkan armada lain -entah itu menggunakan Taksi, Bus atau Tram- menuju ke Menara Eiffle.

Okelah, kami punya ide membeli tiket Europass Rail yang mengizinkan kami menggunakan kereta lintas negara dengan harga miring. Namun, tetap saja kami harus keluar biaya lagi ketika menuju menara Eiffle-nya. Itu belum termasuk biaya hotel di Paris jika kami terpaksa harus menginap karena kecapekan. So, biaya secara keseluruhan pasti akan sangat membengkak. Akhirnya dengan berat hati, kami memutuskan untuk mengkandaskan ide ini. Jalan-jalan ke wilayah yang dekat di dalam negeri Swiss adalah pilihan tersisa.

Bagaimana dengan Interlaken dan Grinderwald?


Saya lupa-lupa ingat mengapa ide pergi ke Interlaken dan Grinderwald juga ikutan ambyar. Begini, seingat saya itu ada sedikit ceritanya.

Jumat, 13 Desember 2019

Waktu itu Jumat, satu hari menjelang akhir pekan, hari ke-5 dari agenda jadwal kami selama 8 hari training di Swiss. Jadwal training tersebut tidak termasuk hari libur di saat weekend.

Suasana di luar gedung tempat kami training sudah mulai agak gelap. Senja di Lyss terlihat indah sekali. Mentari yang tak pernah terik itupun mulai menurunkan kadar sinarnya, menyapu dengan lembut, dan bersiap untuk sembunyi. Pemandangan bukit yang berada di belakang gedung juga sangat apik. Terlihat pohon-pohon yang berdiri kokoh meski harus merelakan daun-daunnya meranggas, rontok melawan musim dingin.

Ruang tempat diskusi rencana akhir pekan
(credit: foto by Nala)

Udara di luar semakin dingin, namun kami terlibat pembicaraan yang cukup hangat dengan Mr. Schwab, salah satu kolega kami disana. Dia sangat baik hati, bisa dibilang dia yang paling akrab dengan kami. Mungkin karena usia kami yang tak terlalu terpaut jauh dengannya. Selain itu, dia yang paling sering menawari saya kopi dan susu hangat sebagai penyegaran di sela-sela training.


Agenda training di hari itu sudah usai, kami meminta saran kepada Schwab tentang rencana akhir pekan kami. Dari sisi kami, inginnya sih bisa jalan-jalan ke beberapa tempat menarik di Swiss dengan bujet yang murah. Ha ha.. benar-benar tipikal orang Indonesia banget ya. Mintanya yang bagus tapi dengan harga semurah mungkin.

Pembicaraan itupun berujung dengan sebuah saran agar berkunjung ke kota Aarberg dan Biel/Bienne. Rasa penasaran menghinggap di kepala, seperti apa rupa kedua kota itu?  

Aarberg dan Kota Tua yang Magis


Pindah Hotel


Pulang dari lokasi training hari sudah gelap. Dengan memakai jaket tebal masing-masing, kami berjalan kaki menuju hotel, melawan dingin malam. Itulah behavior kami disana, lebih memilih berjalan kaki dari dan ke lokasi training. Baik saat berangkat maupun pulangnya. Jarak hotel dengan lokasi training sekitar 1,6 km.

Sebenarnya malam itu jadwal kami pindah hotel. Lha kenapa? Ya karena ketika kami pesan hotel yang pertama yaitu Weisses Kreuz (saya lupa via Traveloka atau Booking.com), jadwal di tanggal 14 Desember 2019-nya ternyata sudah penuh. Terpaksa kami harus mencari hotel yang lain. Kolega kami disana menyarankan pindah ke hotel Sepats. Sebuah hotel yang secara lokasi bisa dibilang cukup dekat, berada tak jauh dari stasiun Lyss. Hanya satu malam saja kami pindah dan menginap di Hotel Sepats. Sedangkan esoknya, kami bisa kembali lagi ke Weisses Kreuz.

Dengan alasan berat membawa koper dan barang-barang lainnya dari Weisses Kreuz, beberapa dari kami menitipkan koper-koper tersebut di hotel Weisses Kreuz saja. Hanya barang-barang seperlunya saja yang dibawa ke hotel Sepats. Toh cuma pindah satu hari saja kan? Namun, saya sendiri memilih menenteng koper besar itu. Berat sih, tapi rasanya kok nyaman dan aman dibawa saja.

Sabtu, 14 Desember 2019

Haripun berganti. Inilah saat-saat yang kami tunggu-tunggu. Weekend pertama dan satu-satunya selama kami berada di Swiss. Kami harus benar-benar memanfaatkannya dengan pergi jalan-jalan. Setelah berdiskusi dengan mbak dan mas-mas yang lain di malam sebelumnya, kami bersepakat tujuan pertama adalah ke kota Aarberg, selanjutnya baru Biel / Bienne. Berdasarkan informasi yang kami dapat dari Schwab, di Aarberg terdapat sebuah kota tua.

Sebelum berangkat, terlebih dulu kami menikmati sarapan di hotel Sepats. Saat itu saya hanya berharap, akan mendapatkan menu sarapan yang berbeda, setelah di hari-hari sebelumnya kita terbiasa memulai hari dengan makan roti. Syukur-syukur dikasih omelet atau omurice.

Ternyata, harapan tinggal lah harapan. Hidangan yang disajikan masih roti-rotian, Croissant dan sejenis 'Baguette'. Sedikit syok saat mengetahui menunya hanya yang sudah tersedia di meja saja. Tak bisa nambah. Alasan dari pihak hotel, sang koki sedang liburan. Tapi sebenarnya, menu di meja itu sudah masuk kategori banyak, buktinya kami tetap kenyang. Alhamdulillah.

Croissant and Coffee
Menu sarapan yaitu croissant dan
coffee dengan creamer

Setelah menyelesaikan agenda sarapan (baca juga makanan selama di Swiss), kami bersiap untuk pergi. Sebelum berangkat, saya kembali mengecek beberapa perlengkapan yang harus dibawa. Jaket, sarung tangan, payung, kupluk, botol air minum dan makanan kecil. Untuk makanan kecil, cocok sekali dengan membawa roti Croissant sisa sarapan tadi.  

Pintu masuk hotel Sepats


Naik Bus 


Jarak Lyss ke Aarberg sebenarnya cukup dekat, tak lebih dari 6 km. Ada dua pilihan untuk menuju ke Aarberg, yaitu naik kereta atau bus. Kami memilih naik bus saja. Alasannya sederhana, kami ingin menjajal jenis moda transportasi yang lain di sini. Agar lebih banyak mencicip pengalaman.

Lokasi Aarberg Switzerland
Jarak Lyss ke Aarberg

Setelah berjalan beberapa menit, kami sampai di terminal bus. Lokasinya tepat di samping Stasiun Lyss. Suasananya sepi, tak ada satupun calo yang berteriak-teriak mencari 'korban' menawarkan bus seperti di tanah air. Benar-benar terminal yang aman dan nyaman .

Papan informasi Terminal Lyss

Di bagian Halte nya terdapat papan informasi digital jadwal keberangkatan bus. Kita bisa tahu kapan bus akan datang dan pergi, juga arah mau kemana. Jadwalnya sudah pasti, tak harus menunggu penumpang penuh.

Lokasi terminal bus di Lyss

Sambil menunggu bus datang kami duduk-duduk di Halte, ada pula yang foto-foto. Sepi sekali pagi itu. Selain kami, ada seorang gadis muda berperawakan tinggi berdiri di dekat kami. Sekelebat ide tiba-tiba muncul. Ide minta tolong untuk memfoto kami ber-empat. Sopan nggak sih? ha ha.

Kami membujuk Nala, satu-satunya perempuan dalam rombongan kami agar sedikit berbasa-basi ke mbak-nya sebelum minta tolong. Dari obrolan, rupanya gadis itu pernah berkunjung dan tinggal di Indonesia. Meski tak lama, dia pernah ke Sulawesi dan beberapa lamanya tinggal disana. Selesai berbasa-basi, jurus terakhirpun dikeluarkan, minta difoto. 

Dan inilah hasil jepretan si gadis Swiss tadi.

Mengabadikan momen saat di terminal Lyss

Tak lama berselang, bus yang kita nanti-nantikan akhirnya datang juga. Sebuah articulated bus berwarna merah berhenti tepat di samping Halte. Kami dibuat excited dengan kondisi bus yang sangat bersih. Sebelum mencari tempat duduk, kami terlebih dahulu mondar-mandir melihat-lihat interior bus. Maklum, baru pertama kali naik bus, jadi agak cengengesan disana-sini. Tidak sadar, gerak-gerik kami dipantau oleh orang tak dikenal.

Bus di Terminal Lyss
Suasana Terminal Lyss

Normalnya kami harus membeli tiket terlebih dahulu sebelum naik ke dalam bus. Namun, karena baru pertama kali naik bus di negara ini, kami pun kebingungan, tak tahu bagaimana caranya naik bus. Sayangnya, kami juga tidak mencari referensi sebelumnya tentang bagaimana cara naik bus. Pikir kami, tiketnya bisa dibeli langsung di dalam bus atau bisa pakai uang cash.

Usaha kami adalah melobi pak supir, agar dapat menggunakan uang cash. Dan alhamdulillah, lobipun berhasil setelah sebelumnya kena omelan karena dianggap kami bertingkah kurang sopan. Padahal ya biasa ae lho pak..pak! Gerutu kami dengan nada kesal.

Articulated Bus sedang parkir di terminal Lyss

Beberapa menit duduk terdiam dan introspeksi diri didalam bus, jadwal keberangkatan pun tiba. Bus mulai bergerak dengan akselerasi sedang. Menyusuri jalan-jalan yang biasa kita lalui dengan jalan kaki. Beberapa menit bergerak, kamipun melintasi area persawahan yang menandakan kami sudah keluar dari desa Lyss.

Menuju Aarberg, Artistik Sang Kota Tua


Jarak antara Lyss dan Aarberg memang dekat. Tak lebih dari perjalanan 10 menit, kamipun sudah tiba di kota Aarberg. Mirip dengan Lyss, lokasi terminal di kota Aarberg juga bersebelahan dengan Stasiun Aarberg.

Ah, saya jadi paham mengapa di halte ataupun di dalam bus tidak kami temukan mesin tiket? Itu karena lokasi pembelian tiketnya sudah disediakan di area stasiun. Sedangkan halte bus dan stasiun kereta berada di lokasi yang berdekatan. Saat kita membeli tiket harian (single ticket), itu bisa dipakai untuk naik bus dan kereta selama masih berada dalam satu zona. Cukup memudahkan, satu tiket untuk semua.

Keluar dari bus, kami seperti orang hilang, clingak-clinguk bingung mencari lokasi sang Kota Tua.

Bersambung ...



Sunday, May 10, 2020

0 Takjil Buka Puasa

Bulan Ramadhan di tahun ini terasa sangat berbeda. Masjid dan Mushola yang biasanya penuh dengan para jamaah, kini sepi dan bahkan dilarang untuk digunakan. Untuk alasan kesehatan, sholat tarawih dan tadarus kali ini harus dilakukan di rumah masing-masing. Bersama dengan keluarga. #DiRumahAja, begitulah slogan yang kini marak digaungkan.

Meskipun begitu, rupanya masih sering terdengar ada suara orang mengaji di Mushola dan Masjid. Seperti pak Mahfud, tetangga saya. Meski tidak sholat tarawih di Mushola, beliau ternyata aktif setiap hari mengaji sendirian dengan pengeras suara di Mushola. Di tengah pandemi, Mushola di perumahan kami memang sudah lama tidak digunakan untuk sholat berjamaah. Tentu aman bagi pak Mahfudz ber-tadarus sendirian. Mendengar suara ngaji beliau, rasanya hati jadi adem dan ayem. Ramadhan kareem.


Ilustasi Ramadhan
(foto: Pixabay)


Di sisi lain, ada banyak dari kita yang ingin sekali mengadakan acara iftar atau buka puasa bareng (bukber) bersama dengan teman, sahabat atau kolega di kantor. Namun, Ramadhan tahun ini kembali berbeda, kita disarankan untuk berbuka puasa di rumah masing-masing. Selain karena banyak rumah makan dan restoran ditutup sementara atau hanya melayani pembelian yang dibawa pulang (take away order). Semua berusaha menjaga kesehatan diri masing-masing.


Kalau dipikir-pikir, terasa sedih memang. Tapi insyaAllah kondisi ini akan berjalan sementara. Badai apapun pasti akan berlalu. Bukankah Allah sudah berfirman, "Sesungguhnya, sesudah kesulitan itu ada kemudahan." (QS.
Al-Insyirah: 6).


Bila Ramadhan kali ini banyak hal yang tampak berbeda, namun rupanya ada satu hal yang rasanya akan tetep sama, yaitu Takjil saat buka puasa ^_^.
Saat bedug maghrib sudah ditabuh dan suara adzan berkumandang saling bersahut, perut tak langsung dihajar dengan makanan besar. Ada hidangan ringan yang disantap terlebih dulu. Namanya Takjil. Meskipun istilah ini tidak sepenuhnya benar.

Takjil biasanya dibuat dari bahan-bahan makanan yang manis dan lembut. Dengan tekstur yang demikian, diharapkan perut akan terasa lebih nyaman setelah selama lebih dari dua belas jam dalam keadaan kosong.

Takjil Buka Puasa
Gorengan, menu favorit untuk takjil
(foto: Pixabay)


Takjil Buka Puasa

Istilah takjil di masyarakat sebenarnya sudah bergeser dari makna yang benar. Takjil berasal dari kata 'ajila yang berarti menyegerakan (berbuka). Tetapi kita sudah terlanjur mengartikannya sebagai makanan atau hidangan untuk berbuka puasa. Di masyarakat umum makna ini juga sudah diterima sebagai sebuah kewajaran. Ah, hanya istilah saja, siapa peduli.


Kali ini saya akan merangkum hidangan-hidangan takjil favorit saya, dan bisa jadi favorit kamu juga. 

Makanan

Kurma

Kurma menjadi hidangan takjil paling umum, termasuk di Indonesia. Hal ini sesuai tuntunan baginda Nabi shalallahu alaihi wassalam dimana dianjurkan untuk berbuka dengan kurma sebelum makanan lainnya. Makan satu biji atau tiga biji (ganjil) buah kurma cukup sebagai awalan untuk menyantap hidangan lainnya. Kurma mampu mengembalikan energi yang hilang saat kita berpuasa.

Kurma memiliki kandungan serat yang dibutuhkan oleh tubuh. Ada beberapa jenis kurma yang pernah saya makan. Yang paling enak menurut saya adalah Kurma Ajwa (biasa disebut kurma Nabi). Harganya mahal.

Kurma Ajwa
Kurma Ajwa
(foto: google)


Kurma Kering
Kurma kering
(foto: Pixabay)

Aneka Gorengan

Meski dikatakan tidak sehat, gorengan tetap menjadi makanan favorit saya untuk takjil. Setidaknya itu adalah menu juara bagi saya selama Ramadhan. Foto dibawah ini adalah bukti bahwa gorengan menjadi menu utama takjil di rumah. Tahun lalu biasanya saya selalu beli di luar, namun di Ramadhan kali ini istri memasaknya sendiri.

Saat adzan maghrib sudah berkumandang, berdoa sebentar, kemudian minum teh, makan kurma, lanjut dengan makan gorengan ditambah dengan sambal petis. Maknyus ^_^.

Gorengan buka Puasa
Tempe Goreng dan Bakwan atau Bala-bala

Getuk Ketela
Tempe gorengan + Getuk ketela dengan isi cokelat

Sambal Petis

Tidak lengkap rasanya jika menikmati gorengan tanpa adanya sambal petis. Sambal ini juga home made. Beli petis di tukang sayur, kemudian diracik istri saya menjadi sambal petis yang wee..nak.

Sambal Petis
Sambal petis sebagai pelengkap gorengan

Minuman

Sedangkan untuk minuman, sepertinya hegemoni sirup makin tak terbendung. Biasanya dulu bersaing sengit dengan kolak, namun membuat kolak itu tak mudah dan butuh waktu. Hal tersebut yang menjadikan minuman sirup paling diminati sebagai pendamping hidangan takjil.

Saya beberapa kali berselisih pendapat dengan istri mengenai istilah sirup ini. Saya menyebutnya Orson. Dia bilang, "Abi kayak orang dulu. Sirup dibilang Orson!". Iya memang, saya adalah generasi Jiban dan winspector. Hanya yang paham yang ketawa ^_^

Sirup / Orson

Sirup + Kurma + gorengan

Es Sirup
(sumber: google)

Kolak

Nah, ini dia pesaingnya sirup. Jenis minuman yang ramai dibuat saat Ramadhan. Ah, jadi ingat kolak Nangka buat bapak. Rasanya ingin sekali menikmati kolak lagi buatan beliau. Semoga selesai pandemi ini, saya berkesempatan untuk menikmati lagi kolak Nangka terlezat itu.

Ilustrasi kolak nangka
(sumber : google)

Es Dawet

Saya suka sekali dengan es Dawet ini. Rasanya sangat enak dan gurih. Setiap kali pergi ke warung atau tempat makan yang ada es Dawetnya, saya seringkali memesannya. Es ini aslinya dari Banjarnegara. Orang Bandung mengatakan ini es Cendol. Entahlah, sama atau tidak. Tapi yang jelas keduanya sama-sama enak. 

Es Dawet pak Tho

Es Dawet untuk Buka Puasa
Es Dawet Buka Puasa
Es Dawet
(sumber : google)


Kalau menu Takjil buka puasa favoritmu apa?



Total Pengunjung

 

Inspirasi Coffee Copyright © 2011 - |- Template created by O Pregador - |- Powered by Blogger Templates