Selamat datang di gubug Inspirasi Coffee. Blog ini dikelola oleh penulis sejak September 2008. Sampai sekarang, api semangat menulis masih menyala terang, menarikan pena melukiskan cerita kehidupan. Hak cipta dilindungi oleh Allah Azza wa Jalla.
Selamat Membaca ^_^

Sunday, January 12, 2020

0 Perjalanan ke Negeri Switzerland

Saya ingat sekali, awal tahun lalu (akhir bulan Januari) saya ditugaskan untuk melakukan perjalanan dinas luar negeri yaitu ke Negeri Sakura. Cerita perjalanan itu sudah saya abadikan dalam tulisan Jalan-jalan ke Jepang di musim dingin. Judulnya aja yang 'jalan-jalan', padahal sebenarnya isinya adalah tugas dinas kantor namun juga sembari jalan-jalan.

Salju di Pegunungan Swiss
Pegunungan di Switzerland

Tahun belum berganti, masih di tahun 2019 saya kembali ditugaskan melakukan perjalanan dinas ke luar negeri pada awal Desember kemarin. Kali ini saya harus pergi ke Switzerland (Swiss), sebuah negara maju yang terletak di Eropa barat berbatasan dengan Jerman (di sebelah utara) dan Perancis (pada bagian selatan). Perjalanan tersebut untuk keperluan training penguasaan sebuah software. Jujur pada dasarnya saya tidak terlalu suka melakukan perjalanan jauh, apalagi harus ke Eropa yang berbeda benua. Namun disisi lain hati saya, ada juga rasa penasaran ingin sekali melihat dan merasakan bagaimana megahnya peradaban Eropa. Ditambah lagi jika kita melihat di berbagai referensi, negara Switzerland terkenal dengan keindahan panorama alamnya. Maka di dalam hati, saya berusaha bersikap dan mengkondisikan diri supaya perjalanan tersebut terasa menyenangkan dan diniatkan untuk jalan-jalan.

Saya tidak sendiri, ada 3 kawan yang akan membersamai dalam perjalanan jauh ini. Mereka adalah Rizqi, Agri dan Nala. Ketiga-tiganya juga belum berpengalaman pergi ke Eropa. Maka inilah cerita perjalanan kami. Cerita perjalanan perdana ke sebuah negeri indah bernama Switzerland.

Keberangkatan

Meskipun bukan pertama kali berangkat ke luar negeri, persiapan selalu saja menguras tenaga dan pikiran. Terlebih jika terpikir bagaimana dengan anak dan istri yang akan saya tinggal selama 2 minggu. Dulu ketika masih tinggal bersama dengan orang tua, anak-anak bisa dikondisikan dengan mudah karena ada banyak yang membantu. Kini ketika berada di rumah sendiri, maka beban itu akhirnya menumpuk ke satu orang saja, yaitu istri saya. Bismillah, saya hanya berdoa semoga dimudahkan dan dilancarkan semuanya.

Pernak-pernik kebutuhan di Swiss juga harus disiapkan. Hal-hal kecil tapi penting dan perlu dipikirkan. Berapa baju yang dibawa, bagaimana dengan jaket tebal & baju penghangat (long john) untuk menghadapi musim dingin, tidak lupa bagaimana dengan makanan dan obat-obatan pribadi. Itu juga belum termasuk dengan Visa, pemesanan hotel dan tiket pesawat. Saya tidak akan menceritakan detil hal-hal tersebut. Anggap semua persiapan tadi sudah selesai dan kini waktunya untuk keberangkatan. Yeayy.

Hari itu Jum'at, 6 Desember 2019 sore hari (selepas ashar), hujan deras sedang mengguyur kota Madiun dan sekitarnya. Posisi saya masih berada di kantor, sedang bersiap untuk pulang ke rumah karena nanti malamnya sudah harus berangkat ke Jakarta. Jadwal pesawat kami ke Swiss yaitu pada hari Minggu 8 Desember 2019 pukul 00.15 WIB (dini hari). Saya mulai gelisah, jam di tangan sudah menunjukkan pukul 16.30 WIB. Jadwal kereta ke Jakarta pukul 19.40. "Ya Allah, semoga hujan ini segera reda", doa saya ketika itu.

Ketika Hujan Bercerita
Saat menuju lokasi parkiran, masih hujan deras

Singkat cerita akhirnya hujan mulai agak reda dan saya nekat pulang ke rumah dalam kondisi masih hujan meski tidak terlalu deras. Istri sudah menunggu di rumah dengan was-was. Dengan agak terburu-buru saya bergegas mandi dan setelah itu bersiap menyantap makanan yang sudah disiapkan. Istri pasti sudah menyiapkan makanan ini dengan sepenuh hati. Makanan terakhir sebelum kita berpisah puluhan ribu kilometer. Saya tidak boleh menyia-nyiakannya.

Beberapa saat kemudian Bapak sama Ibu datang. Memang sebelumnya saya meminta tolong kepada mereka untuk ikut mengantar ke stasiun. Alasannya sederhana, saya akan melakukan perjalanan yang sangat jauh dan saya ingin dilepas oleh mereka hingga saat terakhir meninggalkan Madiun.

Sesampainya di Stasiun Madiun saya segera menurunkan koper dan mencari tempat duduk. Sambil ngobrol, saya tolah-toleh (clingak-clinguk) mencari rekan seperjalanan. Sepertinya saya yang datang paling duluan. Saya mengecek HP, ada beberapa WA masuk, rupanya mas Agri juga sudah datang. Dalam pesan WA-nya, dia izin mencetak tiket dan boarding duluan. Saya mencetak tiket sisanya sambil duduk kembali menanti rekan-rekan yang lain. Masih ada sekitar 15 menit sebelum keberangkatan kereta.

Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya semua sudah berkumpul. Dengan membesarkan hati, saya mulai berpamitan dengan keluarga tercinta. Kini saatnya meninggalkan mereka, menuju ke sebuah negeri yang jauh. Dalam hati, 'Doakan saya'.

Perjalanan Jakarta-Swiss

Setelah perjalanan selama 10 jam di kereta kami akhirnya sampai di Jakarta. Hari itu Sabtu 7 Desember 2019. Masih ada waktu seharian sebelum jadwal keberangkatan pesawat kami. Kami memilih menghabiskan waktu seharian di Mess. Melihat-lihat kembali isi koper, apabila masih ada yang belum ada, maka masih ada kesempatan untuk menyiapkannya.

Pesawat yang akan kami naiki adalah Emirates. Itupun setelah melihat beberapa opsi yang ada. Adapun 3 kriteria yang kami gunakan adalah yang track record-nya bagus, paling murah, dan jadwalnya sesuai. Ada pilihan lain yaitu Qatar Airways, namun jadwalnya tidak enak. Ada juga Turkish Airline, namun harganya sudah mahal. Pilihan lainnya ada juga Thai Airways, namun lokasi transitnya adalah Thailand, maka bisa dibayangkan perjalanan panjang dari Thailand langsung ke Switzerland yang memakan waktu 12 jam. Saya tidak terlalu nyaman berada di pesawat selama itu. Akhirnya dengan berbagai pertimbangan, kami mantab memilih Emirates dengan lokasi transit di Dubai, Uni Emirat Arab.

Emirates

Waktu yang dinantipun datang juga. Sekitar pukul 19.00 WIB selepas Isya', kami berangkat dari Mess menuju Bandara Internasional Soekarno Hatta dengan menggunakan Grab. Untuk penerbangan internasional, usahakan datang di bandara 3 jam sebelum take-off. Mottonya adalah 'lebih baik menunggu agak lama di bandara daripada ketinggalan pesawat'.

Penerbangan pertama Jakarta-Dubai
Ini sedikit kepingan memori saat naik Emirates Jakarta Dubai.

Screen entertainment on-board Emirates

Jakarta-Dubai berjarak 4182 miles yang akan ditempuh dalam waktu sekitar 8 jam. Untung waktunya di malam hari, jadi saya akan menghabiskan waktu di pesawat dengan tidur. he he.

Menu makanan di Emirates, lezaat dan halal

Sesaat setelah take-off dan mencapai ketinggilan 35.000 feet, kru kabin mulai bersiap untuk membagikan makanan. Saya baca di brosur makanan yang dibagikan, menunya sangat menggugah selera. Meski sudah ngantuk, saya usahakan untuk tetap terjaga hingga makanan dibagikan.

Salah satu kenyamanan di pesawat Airline Timur Tengah adalah menu makanannya yang halal. Jadi kita tidak perlu ragu-ragu untuk menyantap makanan apapun di pesawat ini.

To be continued ...




Related Post



0 comments:

Post a Comment

Terima kasih atas komentarnya ya sobat blogger. Terima kasih juga sudah menggunakan kalimat yang sopan serta tidak mengandung unsur SARA dan pornografi. Komentar yang tidak sesuai, mohon maaf akan dihapus tanpa pemberitahuan sebelumnya.

Btw, tunggu kunjungan saya di blog anda yah.. salam blogger

Total Pengunjung

 

Inspirasi Coffee Copyright © 2011 - |- Template created by O Pregador - |- Powered by Blogger Templates