Selamat datang di gubug Inspirasi Coffee. Blog ini dikelola oleh penulis sejak September 2008. Sampai sekarang, api semangat menulis masih menyala terang, menarikan pena melukiskan cerita kehidupan. Hak cipta dilindungi oleh Allah Azza wa Jalla.
Selamat Membaca ^_^
Tampilkan postingan dengan label kebangsaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kebangsaan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 20 Mei 2012

8 Hari Kebangkitan Nasional

Banyak terjadi perbedaan pendapat mengapa tanggal 20 Mei diperingati sebagai hari kebangkitan nasional. Karena pada dasarnya semangat kebangkitan nasional untuk menggapai kemerdekaan, sebenarnya sudah tercium 3 tahun lebih awal dari berdirinya organisasi Budi Utomo. Adalah organisasi Sarekat Dagang Islam yang telah memelopori semangat kebangkitan nasional ini. Namun, hari kelahiran organisasi Budi Utomo-lah yang dipilih untuk dijadikan hari kebangkitan nasional. Okelah aku tak ingin berpolemik lebih lanjut mengenai penentuan hari peringatan Kebangkitan Nasional, toh kita akhirnya hanya bisa berwacana saja bukan?.

Pada setiap hari yang ditetapkan oleh pemerintah untuk diperingati sebagai hari besar nasional, pasti ada pesan moral yang ingin disampaikan kepada seluruh masyarakat Indonesia. Entahlah, akhir-akhir ini aku merasa rasa kebangsaan rakyat Indonesia semakin kurang terasa. Apakah ini hanya perasaanku saja, atau memang seperti begitulah adanya.

Kadang aku sering berpikir, kenapa banyak stasiun televisi nasional Indonesia lebih suka memberitakan berita heboh ketimbang berita yang memberikan semangat kebangsaan di republik ini. Lebih suka memberikan kabar pertikaian anak bangsa dimana-mana ketimbang berita tentang prestasi anak bangsa. Lebih suka memberitakan kabar tawuran daripada kabar pendidikan anak-anak jalanan oleh lembaga sosial yang inspiratif. Padahal kita sangat paham bahwa media adalah virus peradaban. Yuk.. jadikan media blog ini sebagai alat pemersatu bangsa. ciee..

Terus terang aku sendiri awalnya tak menyadari hari ini adalah hari kebangkitan nasional. Namun sebuah kain yang berkibar gagah di depan rumah ketika baru saja pulang dari acara di luar rumah langsung menstimulus memory di otakku.



Yah hari ini.. adalah hari kebangkitan nasional. Merdekaa !!

Kamis, 19 April 2012

2 Peradaban

Kalau kita menilik ke banyak sejarawan islami, kebanyakan diantara mereka mengatakan bahwa puncak peradaban islam terjadi pada masa dinasti Abbasiyyah, Andalusia atau mungkin dinasti Bani Umaiyyah. Pada jaman itu, islam ditengarai mengalami puncak kejayaan baik secara ekonomi, politik, maupun militer. Namun banyak juga kalangan yang berpendapat bahwa sebuah peradaban tinggi bukanlah ditengarai dari faktor fisik saja, namun lebih pada faktor bagaimana kualitas sumber daya manusia. Maka generasi terbaik semasa Rosulullah hiduplah, peradaban tinggi sejatinya telah dimulai. Pada zaman itu, para sahabat berlomba-lomba dalam menuntut ilmu. Masyarakat yang haus akan ilmu, sebuah ciri science society (masyarakat ilmiah).

Bisa juga kita temukan fakta bahwa ketika Konstitusi negara Madinah dibentuk, ini disebut-sebut sebagai 'konstitusi negara pertama yang pernah ditulis'. Padahal sebelum itu, belum pernah sebuah negara terdapat konstitusi yang tertulis resmi. Ini menandakan sebuah peradaban tinggi sudah dimulai.


Source Picture


Kita bisa temui dulu Pangeran Diponegoro yang hidup pada masa abad 17, sering menggunakan baju jubah dan sorban. Beliau begitu bangga menggunakannya. Begitu juga dengan Wali Songo yang terkenal dengan ilmunya yang banyak menarik perhatian raja-raja Jawa. Bahkan ada diantara raja-raja tersebut yang menikahkan putrinya dengan salah satu wali. Meskipun tetap saja raja tersebut tidak memeluk islam. Beginilah cara islam menyebarkan agama. Dengan tradisi ilmu. Pada masa itu banyak ulama yang bangga dengan baju khas peradaban islam di timur tengah. Mungkin pada masa itu, peradaban dunia masih dikuasai oleh Kekhalifahan Turki Utsmani.

Maka benarlah kata ibnu khaldun, bahwa bangsa yang kalah cenderung meniru bangsa yang menang, baik dari cara berpakaian, kendaraan, dan juga senjata. Maka untuk zaman sekarang ini, ketika dunia dikuasai oleh peradaban barat, mudah sekali ditebak kenapa kita berlomba belajar bahasa Inggris :). Disuruh belajar bahasa Arab secara gratispun, belum tentu kita mau :).


***
Tulisan ini dikembangkan dari celoteh twitter saya beberapa waktu yang lalu dengan hastag #peradaban.

Sabtu, 04 Februari 2012

12 Jangan Melupakan Sejarah


Dulu ketika masih berada di tingkat SMU, saya merasa paling bosan dengan pelajaran sejarah. Menurut pandangan saya ketika itu, pelajaran sejarah itu sama sekali tidak menarik dan tidak penting. Berbeda dengan ilmu eksakta seperti Fisika, Matematika atau Kimia yang terlihat lebih dibutuhkan di masa mendatang. Saya sering menguap kebosanan jika sedang mendapat pelajaran tentang sejarah. Entahlah, bisa jadi karena gurunya yang tak lihai meracik mata pelajaran ini menjadi menarik atau memang dari pangkalnya sendiri (materi-nya) sudah tak membuatku tertarik.

Namun belakangan saya mulai sedikit mengubah paradigma berpikir saya. Saya mulai tertarik dengan hal-hal yang berbau sejarah. Entahlah, perasaan suka itu muncul setelah membaca novel menarik berjudul Pengikat Surga karya mbak Hisani Bent Soe. Ketika membaca buku itu, (ditambah genrenya yang berupa novel) membuat saya seperti melihat dengan jelas kondisi perjuangan Rosulullah di masa lampau. Berjuang bersama sahabat-sahabat mulia yang beriman dan teguh. Saya seperti berada di tengah-tengah mereka.

Sejarah menjadi sangat menarik bagi saya. Bukan karena perubahan paradigma, namun lebih karena ternyata sejarah memang benar-benar menarik. Maka tak heran beberapa ratus abad yang lalu, Ibnu Khaldun (seorang sejarawan muslim dari Tunisia) yang bernama lengkap Abu Zayd 'Abd al-Rahman ibn Muhammad ibn Khaldun al-Hadrami yang terkenal dengan karya fenomenalnya Muqaddimah pernah mendefinisikan tentang sejarah.
"Sejarah adalah ilmu sangat berharga, sangat bermanfaat dan sangat mulia dalam tujuannya. Ia menjelaskan kepada kita tentang perilaku-perilaku umat terdahulu, jalan hidup nabi-nabi serta cara raja-raja mengatur negara-negara mereka. Dengan itu kita dapat meneladani mereka dalam urusan agama dan dunia. Sejarah, membutuhkan banyak sudut pandang dan beragam pengetahuan serta kemampuan analisa untuk sampai pada kebenaran dan terbebas dari kesalahan".

Dan benar saja. Dengan membaca sejarah kita bisa mengambil banyak hikmah dari kejadian-kejadian luar biasa di masa lampau. Seperti halnya Rosulullah, ketika beliau sedang sedih atau merasa berat, Allah menghiburkan dengan kisah nabi-nabi terdahulu (kisah nabi-nabi ini banyak dikisahkan di dalam Al Quran). Ini seperti pesan suci dari Allah kepada Rosul bahwa beliau tidak sendiri dalam perjuangan. Ada nabi-nabi terdahulu yang sudah memulai.

Dan kini, rasanya saya ingin sekali membaca ulang sejarah lengkap pahlawan pergerakan islam di Indonesia. Juga buku-buku pemikir hebat islam pada masa lalu seperti Moh. Natsir (pendiri DDII) , Buya Hamka, Sayyid Qutb, Hasan Al Banna dll. Namun bukan sekedar sejarah, tapi sejarah yang benar dan aktual. Bukan sejarah yang dibengkokkan oleh kepentingan politis belaka. Kita ambil contoh sejarah perang Padri (1803-1821) pimpinan Tuanku Imam Bonjol di Sumatera Barat. Dulu waktu sekolah dasar, sering kita membaca riwayat perang Padri sebagai akibat perebutan tanah dengan kaum adat (semoga ingatan saya tidak salah). Tidak pernah dibahas bahwa faktor utama peperangan tersebut akibat Tuanku Imam Bonjol yang seorang ulama ingin menerapkan syariat islam kepada rakyatnya. Namun kemudian ditentang oleh kaum adat sehingga terjadi pergolakan. Dan bahkan penjajah belanda akhirnya membantu kaum adat untuk mengalahkan kaum padri / kaum ulama, namun gagal dan berujung pada perjanjian damai (sumber).

Juga mengenai sejarah periode peralihan rezim Tokugawa ke era Meiji di Jepang. Saya pernah membahasnya singkat dalam postingan Himura Kenshin dan Arya Kamandanu. Sejarah memang menarik untuk disimak kawan. Seperti kata Ibnu Khaldun, dengan mempelajari sejarah, kita bisa meneladani mereka dalam urusan agama dan dunia. Jadi ingat petuah bijak mbah-mbah di kampungku kalau sedang ngobrol ngalor-ngidul di warung kopi, "Ojo lali karo sejarah" (yang artinya jangan lupakan sejarah).



-fifin-
Kontrakan Bandung, 4 Februari 2012.
Sambil menikmati keripik tempe bawaan istri dan juga secangkir teh Walini lemon .

Minggu, 23 Agustus 2009

2 Euforia Kemerdekaan

Bulan ini tepatnya tanggal 17 Agustus 2009. Bangsa Indonesia tengah memperingati hari kemerdekaan yang ke 64. “Dengan Semangat Proklamasi 17 Agustus 1945 Kita Tingkatkan Kedewasaan Kehidupan Berpolitik dan Berdemokrasi serta Percepatan Pemulihan Ekonomi Nasional Menuju Indonesia yang Bersatu, Aman, Adil, Demokratis, dan Sejahtera” demikianlah tema kemerdekaan tahun ini. Kira-kira dibuat seperti itu karena pesta demokrasi baru saja digelar di negeri ini. Juga karena pemerintah sedang bekerja keras untuk menstabilkan perekonomian nasional. Diluar bahasan tema tersebut masyarakat tetap antusias memeriahkan kemerdekaan. Rumah-rumah dan instansi-instansi berbenah dan berhias dengan warna merah putih. Tak ketinggalan pendar lampu hias membuat kian meriah. Tentu saja pemandangan tersebut tak hanya terlihat di kota-kota, pelosok desa pun juga tampil cantik dengan kesederhanaannya.

Kemarin saat berkesempatan pulang kampung saya menyaksikan dan turut larut dalam pesta perayaannya. Wah segala bentuk ide ditampilkan untuk menyemarakkan hari besar bangsa ini, mulai dari segala bentuk lomba antar RT, antar desa, antar instansi sampai antar kecamatan. Satu hal yang menarik adalah lomba gerak jalan umum (antar desa, instansi, dan LSM) di kecamatan. Pesertanya mulai bapak-bapak, ibu-ibu, baik yang usianya masih muda maupun sudah setengah baya. Walaupun pelaksanaannya mulai jam 2 siang sampai sore saat panas matahari masih menyengat dan jarak yang ditempuh tidak bisa dibilang dekat, namun semangat mereka luar biasa. Seragam dan gaya mereka pun unik. Ada yang mengenakan seragam seperti orang yang akan berangkat ronda, berselempang sarung, berpeci hitam, juga berkacamata hitam. Gayanya ketika formasi barisan pun membuat penonton di tepi jalan tertawa.
gerak jalan di kampung
Tidak hanya itu semangat kemerdekaan di desa juga tampak dalam acara jalan sehat keliling desa, dengan doorprize ala kadarnya. Sehari itu mulai pagi hingga siang masyarakat rela meninggalkan sawahnya, mengabaikan cangkul dan bajaknya, menghentikan proses bercocok tanam untuk ikut larut dalam pesta rakyat, pesta kemerdekaan, kemerdekaan yang didapatkan dengan segala perjuangan para pahlawan.

jalan sehat di kampung
Malam tanggal 17 ada kegiatan lagi, yang juga sudah menjadi rutinitas yaitu tasyakuran satu RT. Acaranya adalah doa bersama di halaman terbuka salah satu warga, beralas tikar beratap langit berbintang. Diikuti oleh seluruh warga satu RT, laki-laki, perempuan, juga anak-anak. Doa bersama yang dipimpin oleh Pak RT itu ditujukan untuk para pejuang dan keselamatan warga desa khususnya dan bangsa pada umumnya. Setelah doa bersama yaitu makan bersama. Dengan menu khas tasyakuran (orang desa menyebutnya cambah pelas) lengkap dengan ayam panggang sumbangan dari beberapa warga. Dalam kesedehanaan itu terasa sekali kebersamaan, rasa syukur atas anugrah yang diberikan oleh Allah. Tak ketinggalan pemberian doorprise dari kas RT. Hadiah-hadiah yang cukup sederhana itu, menambah kemeriahan dan binar kebahagian.

Acara syukuran di desa
Demikianlah Euforia Kemerdekaan khas kampung yang cukup sederhana, sebagai apresiasi penghargaan terhadap jasa para pejuang, rasa syukur atas kebesaran nikmat yang telah diberikan oleh Allah, juga dimuati oleh sejuta harapan yang sederhana untuk bangsa ini, menjadi bangsa yang adil makmur, gemah ripah loh jinawi . . . amin.
 

Inspirasi Coffee Copyright © 2011 - |- Template created by O Pregador - |- Powered by Blogger Templates