Selamat datang di gubug Inspirasi Coffee. Blog ini dikelola oleh penulis sejak September 2008. Sampai sekarang, api semangat menulis masih menyala terang, menarikan pena melukiskan cerita kehidupan. Hak cipta dilindungi oleh Allah Azza wa Jalla.
Selamat Membaca ^_^
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Rabu, 21 Maret 2012

6 Kerja Cinta Nadia #1

Hari masih sangat pagi. Mentari yang muncul dari ufuk timur belum juga menampakkan sinar sempurna. Langit terlihat bersemu merah laksana wajah putri malu. Namun kesibukan kampung ini rupanya sudah mulai berdetak sedari subuh hari. Bersiap menyongsong hari mereka masing-masing. Menyambut harapan keberkahan tercurah hari ini. Seperti biasa, para ibu sudah sibuk meneriaki anak-anaknya yang susah sekali bangun. Sebuah kelakuan klise anak-anak yang susah sekali bangun ketika hari masuk sekolah, namun unik sekali mereka bangun paling awal ketika hari libur. Sungguh lucu sekali melihat kelakuan mereka. Di lain sisi, para ayah terlihat sibuk berjalan-jalan di depan rumah sesambil ngobrol dengan tetangga atau membersihkan sampah kotoran yang ada di halaman dengan sapu. Pemandangan khas dari sebuah desa kecil yang berada di kaki gunung itu.

Nadia masih saja duduk terpeku di kamarnya. Mandi di pagi hari setelah sholat subuh masih menyisakan basah di ujung rambut hitamnya. Belum juga ia beranjak dari duduknya untuk segera mengenakan seragam. Hari ini hari senin, ada upacara bendera, dan kali ini dia kebagian menjadi inspektur upacara. Lima menit berjalan, dia masih saja duduk terdiam terpekur di sudut tempat tidur. Rambut panjangnya dibiarkan tergerai menutupi hampir seluruh punggung dan pundaknya. Terlihat sangat manis. Nadia kembali mengelus-elus perutnya yang mulai membesar. Ada secercah senyum yang bersembunyi dari wajahnya. Ada rasa kesyukuran tiada terkira yang dia rasakan. Sebuah penantian yang cukup panjang. Setelah 6 tahun menikah, akhirnya dia diberi amanah oleh Allah hamil ketika umurnya sudah menginjak 32 tahun. Ucapan tasbih dan tahmid seringkali terhias di bibirnya. Hari-hari ini dia masih saja sendiri. Suaminya yang bekerja di luar kota, eh lebih tepatnya di luar pulau, jarang sekali pulang. Membuatnya harus ekstra sabar menghadapinya, innallaha ma'ana.

Semenit kemudian Nadia memandangi tas yang tergeletak rapi di atas meja kerjanya. Segala sesuatu yang musti dibawa di pagi hari memang sudah biasa ia persiapkan malam harinya sebelum tidur. Namun tiba-tiba serasa ada yang mengingatkan, terhenyak dia berdiri dan kemudian buru-buru mendekati lemari pakaian untuk berganti pakaian seragam. Hari ini tidak boleh terlambat sedikitpun. Jam bundar dengan warna gabungan coklat tua dan biru muda di dinding sudah menunjukkan pukul 05.50 WIB. Masih ada banyak waktu untuk berberes.

Tapi tiba-tiba saja,

"Mbak Nadia!... mbak!!", Muhammad Al Fatih, adik kandung dan saudara satu-satunya berteriak dari luar kamar.

"Ada apa dik?.


Bersambung ...

Senin, 11 April 2011

9 Jangan Panggil Mbak

Assalaamu'alaykum warahmatullahi wabarakaatuh,

Hari itu hari yang cukup berbeda di sekolah kami. Karena ada kunjungan dari alumni sekolah yang saat itu sedang menempuh atau mungkin baru lulus dari kuliah kedokteran gigi (sayangnya saya lupa mereka dari universitas mana). Dasar anak SMA ketika tahu bahwa akan ada 2 jam pelajaran kosong di akhir jam pelajaran sekolah yang sengaja ditumbalkan karena adanya kunjungan ini, sontak membuat semua siswa tiba-tiba langsung merasa gembira. Rona gembira tampak nyata di wajah-wajah mereka. Tak bisa dipungkiri jam kosong identik dengan otak yang berhenti sejenak dari rutinitas belajar yang kadang kali terasa membosankan. Setelah melalui serangkaian aktifitas belajar dari pagi hingga menjelang siang ini, akhirnya waktu yang ditunggu-tunggupun tiba juga. Ketua kelas mulai mengumumkan bahwa kedatangan para dokter gigi akan segera tiba. Kalau boleh jujur, mungkin hanya segelintir dari kami saat itu yang cukup antusias dengan kedatangan dokter-dokter gigi itu. Yang ada di kepala mayoritas diantara kami sebenarnya hanyalah apapun kegiatannya yang penting bukan proses belajar mengajar. Dokter-dokter gigi yang terbilang masih muda itu mulai memasuki ruangan kelas.


"Selamat siang teman teman, kali ini kami diundang oleh sekolah untuk memeriksa gigi teman teman semua. Yah dalam rangka ikut memberikan kontribusi berupa konsultasi kesehatan gigi kepada almamater kami dulu", kira-kira begitulah paparan awal salah satu dokter. 

"eh dokter yang itu tampan juga ya..hik hik" , tiba-tiba celetuk salah seorang temen perempuan yang tak perlu memakai speaker untuk bisa mendengarnya.

dasar cewek!!, gumamku kemudian.

Beberapa saat kemudian mulainya dokter-dokter gigi itu memanggil satu persatu siswa untuk di periksa giginya. Dan tiba tiba...

"Berikutnya adalah mbak fifin...., silahkan mbak fifin kedepan!", suara dokter yang biasa itu terasa sangat aneh terdengar di telingaku. Dan sontakpun tanpa dikomando temen-teman pada tertawa diatas penderitaan saya.

***********************************************************************

Yah.. mungkin cerita diatas satu dari sekian banyak cerita yang tidak mungkin saya ceritakan satu persatu tentang banyaknya orang yang sering salah memanggil nama saya dengan sebutan 'mbak'. Nama itu mengandung sebuah doa dari orang tua akan menjadi apa anaknya kelak. Pernah suatu ketika saya bertanya kepada ibu saya mengapa saya diberi nama fifin nugroho. Beliau mengatakan bahwa nugroho itu memiliki arti anugrah dari Allah atas rejeki anak kepada orang tua saya. Disamping itu beliau juga terinspirasi dengan menteri pendidikan RI ketika saya lahir yang bernama 'Nugroho Notosusanto'. Beliau bilang diberi nama 'nugroho' diharapkan supaya kelak saya menjadi anak yang cerdas dan berguna bagi bangsa dan negara. Sedangkan ketika saya bertanya mengenai asal nama 'fifin', beliau hanya menjawab bahwa kata 'fifin' itu bagus, dan jarang ada yang menyamai. Memang ketika itu sangat tren memberi nama anak yang harus berbeda dengan kebanyakan nama yang sudah beredar seperti Agus, Joko, Andi, Sugeng dll. Jadi begitulah kira-kira sejarah pemberian nama 'fifin nugroho' kepada saya. Tapi perlu dicatat bahwa yang paling penting saya memang suka nama ini, Alhamdulillah saya diberi nama yang cukup berbeda dan unik.

Yang jelas, ketika saya menginjak dewasa, saya baru menyadari bahwa nama fifin ini identik dengan nama perempuan. Tak jarang ada teman sekolah saya yang bernama 'pipin' atau 'fifin'. Dan sejauh ini kenyataannya memang tak jarang banyak orang yang baru kenal dengan saya pertama kali (tanpa tatap muka) lalu menyebut dengan sapaan 'mbak'. Awalnya agak risih memang dengan hal-hal semacam ini, tetapi dengan seiring berjalan waktu, sayapun harus tetap siap siaga untuk melakukan klarifikasi :

"Maaf saya laki-laki, jangan panggil mbak".

Wassalaamu'alaykum warahmatullahi wabarakaatuh,

Jumat, 03 Desember 2010

13 ana uhibbuki fillah ya ummi


"Bi kapan nih kita jalan jalan..?" tanya perempuan itu dengan nada berharap.

"hemm kapan ya mi?" jawab seorang lelaki paruh baya itu kemudian.

"masalahnya kita itu jarang punya waktu luang ya..!, kalaupun sedikit punya waktu luang, ya mungkin karena memang ada acara keluarga bukan pure waktu buat kita berdua", lelaki itu menambahkan, (terlihat kesedihan tampak diwajahnya)



"umi pengen ke malang sama abi neh!!" tambah perempuan itu.


"iya yah..kapan kita punya waktu seminggu saja buat jalan jalan, menikmati keindahan alam coba rondo, coban talun, ayam goreng lalapan di deket universitas brawijaya...hemm. terakhir abi kesana 7 tahun lalu mi, kangen rasanya pengen kesana lagi" gumam lelaki itu, terlihat padangannya menerawang ke depan.

"iyaaaa,,,itu lalapan ayam goreng di malang memang enak banget bi ^_^.." teriak perempuan itu mencoba menghangatkan suasana.

"Kalau ke surabaya aja gimana mi?, bisa menikmati 'tahu tek' malam malam... ditambah telor dadar..wih nikmat.." tanya lelaki itu sambil memegang tangan perempuan tadi.

"yahhh ke surabaya...kan kita dah sering kesana, kuliah 2 tahun juga disana, abi malahan dah 4 tahun disana.. ya kaann!!", jawab perempuan itu terlihat tidak setuju klo jalan2nya ke surabaya.

"apalagi surabaya puanasss....", pungkas si perempuan.

"karena abi dah 4 tahun di surabaya jadi kangen dengan 'tahu tek'nya mi....", lelaki itu mencoba tetap bertahan dengan niatnya itu.

"oke dech...tapi abis ke malang aja ya!!!" jawab si perempuan

"okeeeeee..." pungkas si lelaki sambil mengacungkan 2 jempol ke depan.

Begitulah beberapa percakapan antara 2 orang suami istri yang sementara ini terpisah jarak dikarenakan amanah pekerjaan. Si suami bekerja di perusahaan swasta
di jakarta, sedangkan si perempuan menjadi guru SMP negeri di sebuah kota kecil di banyuwangi... Alhasil si istri hanya bisa bertemu dengan suaminya sangat jarang,,, Komunikasi hanya bisa dilakukan lewat telefon, kalaupun bertemu bisa jadi sebulan hanya sekali ataupun 2 kali. Itupun hanya sabtu dan minggu. Si suami hari sabtu pulang, besoknya dah harus balik lagi ke jakarta. Begitulah kehidupan yang dialami oleh sepasang insan tersebut.

Ingin menyalahkan keadaan??? astagfirullah...Allah yang mengatur ini semua. Allah yang lebih tahu yang terbaik buat hambanya. Yang perlu dilakukan adalah banyak banyak bersyukur atas segala nikmat yang sudah diterima. Berapa banyak orang yang secara kondisi lebih jauh dari kebahagian?!..

Lebih dari itu diawal pernikahan-pun si suami sudah tahu resiko yang diambil jika tetap menikahi perempuan yang sekarang menjadi istrinya itu.. Yup...bakal terpisah jarak. Tapi si suami sudah memikirnya masak masak, tiada perempuan yang ia cintai selain perempuan ini, tiada yang lebih cocok selain perempuan yang satu ini, tiada yang lebih ia ingin lindungi selain perempuan ini, dan selain itu di matanya hanya perempuan ini yang ia yakin mampu menjadi istri yang sholehah dan ibu yang baik bagi anak-anaknya kelak..., sedangkan perempuan yang lain??? sekali lagi dia menjawab tidaklah yakin..

meski keaadaan seperti ini si suami selalu menyatakan sesuatu kepada si istri yang sampai detik inipun..selalu membuat si istri tetap bisa menegakkan dahinya...mengepalkan tangannya dengan kuat..serta tegar dan sabar menjalani cobaan ini,

dan ucapan si suami itu adalah..
"ya ummi,.. ana uhibbuki fillah..."

--
ditemani hujan rintik-rintik di kantor
Bandung, 3 Desember 2010
sebuah tulisan kecil yang terinspirasi dari sebuah kisah nyata

 

Inspirasi Coffee Copyright © 2011 - |- Template created by O Pregador - |- Powered by Blogger Templates