Selamat datang di gubug Inspirasi Coffee. Blog ini dikelola oleh penulis sejak September 2008. Sampai sekarang, api semangat menulis masih menyala terang, menarikan pena melukiskan cerita kehidupan. Hak cipta dilindungi oleh Allah Azza wa Jalla.
Selamat Membaca ^_^
Tampilkan postingan dengan label pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pendidikan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 03 November 2012

11 Pentingnya Mempersiapkan Pendidikan Anak

Memasuki babak baru kehidupan saya, perlu sebuah pemikiran yang matang dan komprehensif untuk menyongsongnya. Sebagai orang tua, anak adalah investasi yang luar biasa. Tak hanya di dunia, tapi juga di akherat kelak. Sebagai investasi, maka perlu persiapan yang sempurna untuk membentuk kepribadian rabbani kepada anak kita. Pendidikan seperti apa yang ingin kita berikan kepada anak kita, tergantung dari kemauan kita sebagai orang tua. Ingin cenderung ke duniawi saja, akherat saja, atau seimbang antara keduanya.

Beberapa waktu yang lalu sempat berdiskusi dalam sebuah forum di FB, bagaimana gilanya sistem pendidikan yang disematkan kepada anak-anak didik kita sekarang ini. Mereka dijejali begitu banyak les tambahan dan kesemuanya ditekankan pada sisi intelektualitas saja. Cerdas secara akalnya saja. Sedangkan secara ruhiyah, mereka minim. Maka kita bisa lihat, mereka menjadi mudah galau dan kosong. Ketika kosong, maka akan mudah dijejali dengan hal-hal yang negatif. Pendidikan iman dan Islam kurang merasuk, karena memang hanya diberikan 2 jam pelajaran saja dalam seminggu. Itu mungkin salah satu sebab kenapa pelajar saat ini mudah sekali terprovokasi untuk tawuran. Salah satunya karena pondasi iman yang kurang tertancap di dalam hati.

pendidikan anak islami


Saya adalah produk dari sekolah yang hanya serius menanamkan sisi intelektualitas saja. Sangat sulit untuk menghafalkan Al Quran jika pondasi iman kita tidak mantab. Memegang Al Quran beberapa menit saja, terasa berat karena tidak dilatih sejak dini. Berbeda dengan mereka yang sudah terlatik sejak kecil dengan lingkungan yang mendukung. Lingkungan tempat kita bernaung sangat mempengaruhi kebiasaan kita. Sebenarnya bukan masalah bersekolah di sekolah umum atau khusus, tetapi lebih kepada lingkungan seperti apa yang ingin dibentuk. Kita mungkin bisa menerka, kenapa lingkungan kampus teknik (LDK) ada yang lebih 'islami' dari lingkungan kampus universitas Islam. Lingkunganlah yang membentuk mereka, bukan hanya label nama saja.

Beberapa waktu yang lalu, saya melihat melihat profil sekolah yang didirikan oleh Ust Budi Ashari dan Ust Muhaimin Iqbal (gerai dinar) di situs youtube. Bisa dilihat profilnya disini : Kuttab Al Fatih. Ah, ingin sekali menyekolahkan putri saya Hanan di tipe sekolah seperti ini. Pendidikan yang serius menancapkan pondasi iman yang kuat sejak dini. Pendidikan yang melahirkan generasi rabbani, insyaAllah. Bismillah.


powered by :
Toko Buku Hanan

Senin, 01 Oktober 2012

12 Cinta Buku, Ingin Punya Perpustakaan Pribadi

Hari kemarin saya sempat blog walking ke beberapa sahabat blogger. Salah satu postingan yang menarik diantaranya adalah postingan dari mbak puchsukahujan. Tema tulisannya adalah tentang perpustakaan pribadi. Postingan tersebut akhirnya menginspirasi saya untuk menuliskan tema yang sama di pagi yang cerah ini. Sebuah tema yang menarik untuk ditelaah, tentunya akan saya ambil dari sudut pandang yang sedikit berbeda dibanding tulisannya mbak Puch.

perpustakaan pribadi
st292484.sitekno.com

Beberapa waktu yang lalu, saya bersama istri sempat berkunjung ke seorang kawan yang sedang memiliki hajat syukuran rumah barunya. Ada satu yang menarik perhatian saya dari kondisi rumah yang sekilas tertangkap oleh mata ini. Yaitu sebuah lemari kaca besar gagah berdiri di sisi ruangan. Tertumpuk disitu puluhan buku beraneka ragam mulai dari buku-buku tebal, sampai buku-buku yang memiliki ukuran mini. Semua tertata rapi sehingga membuat saya tak jemu-jemu untuk memandangnya. Sebenarnya saya penasaran juga dengan koleksi buku yang dimiliki oleh teman saya itu.

"Kamu suka baca buku bang?, itu koleksi bukunya banyak banget", tanya saya saat diajaknya berjalan menuju ke masjid untuk melaksanakan sholat.

"Oh, itu buku-buku istri, saya tidak terlalu suka baca", jawabnya singkat. Terus terang saya cukup kagum dengan banyaknya koleksi buku yang ada di rumah teman saya itu.

Dengan koleksi buku yang sedemikian banyaknya, saya mengira bahwa istri teman saya itu pastilah kutu buku dan suka menulis. Dan benar saja perkiraan saya. Teman saya itupun akhirnya menjelaskan, bahwa istrinya pernah menjadi penulis di sebuah majalah lokal. Subhanallah, langsung mupeng nih ^_^.

"Pupuk iman adalah ilmu, dan gudang ilmu adalah buku", begitulah apa yang saya yakini. Maka dengan melahap buku-buku yang berkualitas, saya berharap ilmu saya bertambah dan pada akhirnya keimanan sayapun ikut bertambah. Kalau saya membaca beberapa sejarah ulama, bagaimana mereka adalah orang-orang yang gila baca dan gila ilmu.

Dengan rujukan utama Al Quran dan Sunnah Nabi, mereka menjadikan baca dan tulis sebagai hobi. Maka tersebutlah sekian banyak nama yang dicatat dalam sejarah Islam dengan tinta emas seperti Ibn ‘Abbas ra, Ath-Thabari, Ibn Katsir, ar-Razi dan seterusnya.

Di jaman modern ini, kita pun mengenal Syaikh Rasyid Ridha, Sayyid Quthb. Di Indonesia pun kita mengenal Buya Hamka. Mereka menjadikan ilmu sebagai tradisi. Saya ingat salah satu dialog dalam film 'Sang Murabbi' ketika itu Ust Rahmat Abdullah sedang membaca buku di teras rumah, kemudian istri beliau dari dalam rumah membawa segelas teh panas.

Kemudian Ust Rahmat mengatakan kepada istrinya "Buku itu gudang ilmu, .. Nay".

Kata-kata beliau ini entah kenapa, masih saya ingat sampai sekarang, meskipun itu hanya dari sebuah film. Entah itu benar asli kata-kata dari beliau atau hanya tambahan skenario film saja. Apapun itu, kata-kata itu telah menjadi sesuatu banget di pikiran saya. Yah, buku adalah gudang ilmu. Siapa yang ingin berilmu, ya salah satu caranya dengan bergumul dengan buku.

Ingin sekali saya memiliki perpustakaan pribadi. Menyimpan semua koleksi buku saya yang terus bertambah. Mengajarkan kepada anak-anak tentang keutamaan membaca dan menulis. Ingin sekali saya membangun sebuah ruangan khusus untuk perpustakaan. Tak harus luas, yang penting nyaman untuk aktifitas baca. Mengundang tetangga dan anak-anaknya untuk datang ke perpustakaan kami, juga gratis untuk meminjamkannya. Muhammad bin Muzahim berkata : 'Awal mula dari keberkahan ilmu adalah dengan meminjamkan buku' ( Kitab Adabul Imlak). Saya ingin memiliki perpustakaan pribadi yang terbuka untuk umum. Mungkin konsepnya seperti 'Rumah Baca Asma Nadia'.

Rumah Baca Asma Nadia

Bismillah, semoga keinginan ini terwujud suatu saat nanti.


Kontrakan Sukaraja, Bandung. 1 Oktober 2012. Semangat membaca, semangat menulis, semangat mengais ilmu.

Kamis, 26 November 2009

1 Guru , sosok pahlawan terlupakan


# 25 november 2009, sebuah karya renungan malam hari sehabis pulang kerja
Pagi harinya di salah satu laman stasiun swasta, ada sebuah iklan yang cukup menarik perhatianku. Sebuah iklan bertemakan kepahlawan dan jasa seorang guru. Baru  saya sadari bahwa memang hari ini adalah tanggal 25 November. Hari guru. Nah, teman-teman banyak yang lupa juga kan?. Saya sendiri juga lupa kalau tidak melihat iklan tersebut di TV. Dan ketika itu langsung tersirat di pikiranku mencoba mengulang kembali semua kejadian (lebih tepat dikatakan 'kenangan-kenangan') di masa lalu yang tentu saja erat kaitannya dengan sosok Guru. Sosok yang memberikan begitu banyak kontribusi akan apa yang telah kita dapatkan/nikmati di masa kini. Dialah guru-guru kita.
Guru
Saya mencoba membuka kembali lembar-lembar sejarah di masa duduk di sekolah dasar, SMP dan SMA. Ada begitu banyak kenangan bersama mereka. Ada begitu banyak tipe guru yang saya temui. Ada yang galak, cuek, lemah lembut, suka menampar, suka menghukum. 

Bagi saya pribadi, perbedaan karakter guru ini malah memberikan sensasi yang menyenangkan. Bayangkan jika semua guru yang kita temui itu baik semua. Pasti tidak ada tantangannya dan terkesan membosankan. Atau bayangkan juga jika semua guru yang mengajar kita itu galak semua. Pasti tentunya proses belajar mengajar jadi ajang uji nyali dan penuh dengan rasa ketakutan. Ini juga tidak baik, karena ilmu tidak akan terserap dengan baik).


Bagi saya, sungguh apa yang sudah diberikan oleh guru-guru kita tersebut sangatlah banyak. Begitu banyak pengetahuan yang kita dapatkan. Begitu banyak hal-hal yang baik yang diajarkan kepada kita. Sungguh kita sangat berhutang budi kepada guru-guru kita itu. Pertanyaannya sekarang adalah : sudahkah kita membayar semua utang budi tsb? atau yang ada di pikiran kita bahwa apa yang diberikan guru itu sudah terlunaskan dengan pembayaran SPP?

MasyaAllah, sungguh bukan itu tujuan utama seorang guru mengajar muridnya. Sungguh sangat naif sekali jika kita menyamakan sosok guru dengan pengajar les privat. Sama-sama mengajar, tapi sungguh beda dalam hal tujuan. Mari kita sama-sama renungkan hal ini.

Pernah suatu ketika, waktu itu masih jaman SMU, ada demo dari siswa-siswa baik kelas 2 dan kelas 3. Hal ini karena disebabkan oleh kenaikan SPP. Kalau dipikir-pikir memang agak mencurigakan juga dengan kenaikan SPP yang begitu besar. Ketika itu kenaikannya cukup signifikan sehingga membuat banyak orang tua murid begitu kaget dan sangat berkeberatan dengan kenaikan itu. Sehingga membuat anak-anak mereka dengan terpaksa melakukan aksi protes/demo di sekolah. Aksi ini sontak membuat kegaduhan dan sangat menggangu proses belajar mengajar. Kemudian pihak sekolah dan OSIS melakukan pertemuan untuk membahas kemungkinan diadakannya diskusi terbuka antara pihak sekolah dengan pihak pendemo. Dalam pertemuan tersebut, OSIS berlaku sebagai moderator.

Diskusi terbuka pun dilakukan untuk mencari jalan keluar terbaik yang disepakati bersama. Dalam hal demo, saya yakini itu hal yang lumrah dilakukan karena ketidakpuasan akan suatu hal yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Tapi kemudian ada satu kejadian yang cukup disayangkan. Bahwa ketika mengutarakan pendapatnya, salah seorang pendemo (entah siswa atau orang tua siswa) mengatakan bahwa

"tidak perlu SPP dinaikkan karena toh gaji guru juga sudah dibayar negara!!."
Sontak perkataan itu membuat pilu sebagian guru. Bahkan ada diantaranya tak kuasa menahan air mata yang mulai mengalir. Beberapa guru perempuan akhirnya meninggalkan ruangan rapat terbuka tersebut. Jelas ada kesalahpahaman disini. Bahwa kenaikan SPP ini bukan sama sekali untuk menaikkan gaji guru PNS. Jelas sekali PNS adalah abdi negara. Tapi sejatinya kenaikan SPP ini bertujuan untuk kesejahteraan guru honorer yang dibayar oleh sekolah.

Bagaimana kita bisa protes terhadap jasa guru yang per bulannya mendapatkan gaji yang sangat minim. Bisa dikatakan tidak cukup untuk bisa memenuhi kebutuhan sehari hari. Seharusnya yang kita kritik adalah tentang kenaikan kenaikan yang lain. Bukan pada bagian kesejahteraan guru honorer!

Jadi disini jelas bahwa tujuan utama guru itu bukanlah mencari uang. Iya benar bahwa tidak bisa dipungkiri mereka membutuhkan uang dari hasil kerja mereka untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Namun sebenarnya ada suatu tujuan mulia dibalik itu semua. Ingin melihat murid-murid mereka pintar, mendidik mereka menjadi manusia yang berguna, membekali mereka dengan ilmu yang bermanfaat yang menjadi amal jariyah bagi mereka. 

Semua itu tersurat dan tersirat bagaimana rona kebahagiaan ketika melihat semua murid yang dia ajar naik kelas dan mempunyai nilai yang bagus-bagus. Rona kekecewaan ketika nilai murid-muridnya jelek-jelek. Semua ini tergambar jelas dari raut muka seorang guru. Pernahkah kita melihat rona muka guru-guru kita ketika itu? atau kita malah sibuk mencari perhatian cewek/cowok yang kita sukai? atau sibuk membuat membuat kegaduhan didalam kelas supaya diperhatikan? atau sibuk belajar? nah, mungkin alasan terakhir ini cukup bisa diterima.

Sungguhpun aku berasal dari desa. Punya banyak pengalaman bagaimana kehidupan bersekolah di desa. Berjalan becek ketika akan menuju ke sekolah bukanlah hal yang jarang ketemui ketika itu. Ibu saya seorang guru SD dan istri juga seorang guru SD. Jadi sungguh sangat dekat sekali kehidupan saya dengan sosok yang bernama guru itu sendiri. 

Dalam istilah bahasa jawa : guru --> "digugu lan ditiru" yang artinya dipatuhi dan dijadikan tauladan)..

Jadi..akankah guru bisa tetap menjadi pahlawan tanpa tanda jasa?? atau hanya sekedar pahlawan yang terlupakan??
 

Inspirasi Coffee Copyright © 2011 - |- Template created by O Pregador - |- Powered by Blogger Templates