Selamat datang di gubug Inspirasi Coffee. Blog ini dikelola oleh penulis sejak September 2008. Sampai sekarang, api semangat menulis masih menyala terang, menarikan pena melukiskan cerita kehidupan. Hak cipta dilindungi oleh Allah Azza wa Jalla.
Selamat Membaca ^_^

Sabtu, 16 Desember 2017

1 Madinah - Bagian 5

Kisah sebelumnya ada di : Madinah - Bagian 4

Siang, 6 Maret 2017

Pagi itu suasana kota Madinah begitu tenang. Aku baru saja selesai menyantap sarapan di lantai 2. Pagi itu aku memilih untuk menghabiskan waktu berada di kamar beristirahat sambil menunggu waktu dhuhur tiba. Lantunan ayat-ayat suci Al-Qur'an dari layar TV LCD 32 inch yang megah terpajang di dinding kamar membuat suasana khusyuk senantiasa terjaga. Suara murotalnya benar-benar memberikan rasa damai di hati. Kamar hotel ini dilengkapi dengan lemari besar untuk menyimpan pakaian. Di bagian sisi lemari terdapat rak yang cukup besar untuk menaruh beberapa barang. Kulihat di bagian rak lemari tersebut sudah tersedia teko pemanas air dan beberapa sachet kopi dan teh instan. Sayangnya aku tak tergoda untuk menyeduhnya. Kurasakan tubuhku penat sekali. Tak lagi tertarik untuk minum kopi. Lagian aku sudah minum kopi sambil sarapan tadi. Aku ingin istirahat. Sambil merebahkan tubuhku ke kasur, aku termenung. Sungguh semua ini seperti mimpi. Kemarin pagi aku masih berada di tanah Jawa, dan pagi ini jasadku sudah berada di kota tempat baginda Nabi memulai membangun peradaban Islam. Sambil termenung, kulihat Nugraha rekan satu kamarku, sesekali mengajak berbincang santai. Kami kadang tertawa mencandai sesuatu. Candaan khas anak muda.

Selain Nugraha, sebenarnya masih ada 2 orang lagi yang sekamar denganku. Yang paling senior adalah pak Kasmiko. Namun dia lebih suka keluar hangout bersama dengan rekan-rekan se-divisinya. Yang satu lagi adalah mas Fajar, dia juga seniorku di kantor. Mas Fajar lebih suka menghabiskan waktu di kamar hotel seharian. Sama sepertiku. Bertiga, kami sering berdiskusi ringan sampai hal berat di kamar. Membahas isu-isu teraktual di tanah air juga tentang Madinah, kota yang sama-sama saat ini kita tinggali.

Tak terasa waktu dhuhur sudah mendekat. Kami segera bersiap-siap ke masjid. Sholat wajib di masjid 5 waktu dalam sehari adalah misi utama kami selama disini. Kami tak boleh melewatkan kesempatan langka ini. Masjid Nabawi tidak pernah sepi, apalagi di waktu sholat. Agar kami bisa masuk ke dalam masjid dan menempati shaf yang diinginkan, kami harus datang minimal 30 menit sebelum adzan.


Ada yang menarik di masjid Nabawi setiap kali sebelum dan sesudah sholat wajib. Kami melihat pemandangan yang sungguh menyejukkan. Pengajian menjamur di beberapa titik ruangan masjid. Semakin berilmu sang Syeikh, biasanya yang ikut mendengarkan pengajian tersebut juga akan banyak. Kita juga akan melihat pemandangan menarik yang lainnya, seperti anak-anak yang dengan semangatnya menyetor hafalan Al-Qur'an mereka kepada sang syaikh. Di sisi lain, Mushaf Al-Quran juga tertata rapi disetiap titik di ruangan, memudahkan jamaah untuk bertilawah setiap saat. Subhanllah, ingin rasanya setiap hariku seperti ini.

Untuk pengajian, adapula yang diisi oleh Ustadz yang berasal dari Indonesia. Hal ini mengingat banyaknya pengunjung masjid ini yang berasal dari Indonesia.

Karpet Hijau Raudhoh

Ada satu bagian di masjid Nabawi yang menjadi favorit jamaah. Tempat itu bernama Raudhoh. Raudhoh merupakan area antara rumah dengan mimbar Nabi shalallahu alaihi wassalam.

Sebuah hadist shahih yang diriwayatkan oleh Bukhari “maa baina baitii wa minbarii raudhoh min riyaadhil jannah, wa minbari ‘alaa haudhii” (antara rumahku dan mimbarku adalah raudhoh (yaitu) taman dari surga).

Para jamaah yang berkunjung di masjid Nabawi berlomba-lomba untuk bisa sholat dan berdoa di Raudhoh. Saking banyaknya, kita harus antri untuk bisa memasuki Raudhoh. Diyakini bahwa berdoa di Raudhoh sangat mustajab. Area Raudhoh dibedakan dengan warna karpet yang berwarna hijau. Sedangkan lokasi yang lain berwarna merah. Di samping Raudhoh merupakan rumah baginda Nabi. Ditempat itu Rasulullah dimakamkan. Di tempat itu juga terdapat makam dua sahabat penting Rasulullah yaitu Abu Bakar As-Shidiq (Khalifah pertama) dan Umar bin Khattab (Khalifah kedua).

Selesai sholat dhuhur, kami berkumpul dan diberikan wawasan dan nasihat oleh ustadz dari biro tentang keutamaan masjid Nabawi secara umum dan Raudhoh pada khususnya. Ustadz juga memberikan tips dan trik bagaimana bisa memasuki Raudhoh tanpa antrian yang panjang. Tips dari beliau yaitu hendaknya sholat di Raudhoh dilakukan pada malam hari.

Berbekal tips dari sang ustadz, kami merencanakan memasuki Raudhoh pada malam hari. Yakni sekitar pukul 10 malam waktu setempat. Jelas sekali ketika siang hari, antrian di area Raudhoh sungguh luar biasa. Jika kita nekat mengantri, bisa-bisa kita akan lelah berdiri, belum lagi dengan desak-desakannya.

Namun, rencana tinggalah rencana. Dan apa yang terjadi di waktu malam ternyata jauh dari harapan. Suasana ternyata tak jauh berbeda dengan antrian ketika di siang hari. Antrian memasuki Raudhoh benar-benar tidak pernah sepi. Subhanallah.

Kebab Asli Arab

Selain menjelajah masjid, kami juga beberapa kali berjalan-jalan di sekitar hotel. Di dekat hotel tempat kami menginap, rupanya terdapat warung makanan Kebab. Setiap kami berjalan melewati warung itu, semakin lama semakin aku ingin mencoba rasanya. Seperti apa ya kira-kira rasanya. Aku menelan ludah, terbayang akan kelezatannya.

kebab asli arab
Mudah sekali memesan makanan di Madinah sini, khususnya di dekat Masjid Nabawi. Orang-orang Arab sudah terbiasa berinteraksi dengan orang-orang dari Asia khususnya Indonesia. Aku pun memesan, ...

To be Continued...



Senin, 04 Desember 2017

0 Madinah - Bagian 4

Kisah sebelumnya ada di Madinah - Bagian 3

Pagi - 6 Maret 2017

Suasana Madinah pagi itu begitu nyaman. Mentari bersinar hangat, seolah sedang memberikan senyuman kepada separuh penduduk bumi. Aku masih saja enggan untuk meninggalkan komplek masjid Nabawi. Bersama dengan Nugraha dan mas Roy lebih memilih berjalan-jalan menikmati suasana pelataran masjid yang tak pernah sepi ini. Beberapa orang terlihat hilir mudik keluar atau masuk ke dalam masjid. Ada juga beberapa diantaranya yang terlihat ber-selfie atau mengambil gambar kemegahan komplek masjid. Yah, sama seperti yang tengah kami lakukan saat itu. Di tengah kami menikmati keindahan masjid ini, tiba-tiba saja beberapa mobil pembersih lantai masjid terlihat bergerak mendekati kami. Baru kali ini aku melihat mobil pembersih seperti ini. Mobil pembersih lantai ini terbilang cukup canggih. Hanya dikendarai oleh seorang sopir, mobil ini bergerak gesit membersihkan lantai pelataran masjid. Tak heran jika lantai di pelataran masjid Nabawi tak pernah terlihat kotor. Selalu bersih dan wangi. Kamipun terpukau melihatnya. Bahkan terlintas dalam pikiran kami,
'enak ya jadi supir mobil ini, tiap hari membersihkan masjid suci ini, nyaman dan aman. Selesai membersihkan, mereka bisa bisa beribadah di masjid ini.'.

Cerita kisah di Madinah episode 4

Ini hari pertama kami di kota Madinah. Tidak banyak agenda kegiatan yang harus kami lakukan. Dari panitia hanya menyarankan untuk lebih banyak melakukan kegiatan ibadah di masjid Nabawi atau istirahat di hotel untuk memulihkan stamina karena sudah melakukan perjalanan yang sangat jauh.

Di tengah kami menikmati suasana pagi itu, kami mendapat informasi dari group whatsapp bahwa sarapan di hotel sudah siap. Segera kami merespon informasi itu dengan menghentikan kegiatan kami. Kamipun bergegas berjalan menuju hotel. Kami tak ingin ketinggalan menikmati sarapan pertama di kota ini. Perut kami juga sudah mulai keroncongan. Ini bakal menjadi sarapan pertamaku di luar negeri. Sesuatu yang sepertinya akan menjadi sarapan istimewa. Apalagi ini di kota Madinah.

Dari pintu keluar di pelataran masjid, kami disambut dengan pemandangan yang menarik. Di sebelah kanan dan kiri jalan menuju hotel, banyak sekali terdapat toko-toko yang menawarkan dagangan. Kebanyakan dari mereka adalah toko penjual souvenir dan pakaian. Sekilas aku melihat, banyak juga orang dengan perawakan Asia sedang menawar harga di toko-toko itu. Di lain sisi, beberapa pedagang itu juga supel menyapa kami. Rupanya mereka tahu kalau kami ini orang Indonesia.
"Assalamualaikum, hai indonesi, ayo belanja-belanja!", sapa mereka dengan logat Arab yang kental.

Kami tersenyum, menolak secara halus tawaran mereka. Fokus berjalan menuju hotel, sudah terbayang makanan lezat menanti kami.

Episode Madinah bagian 4


Fasilitas makan di hotel disediakan 3 kali setiap harinya. Tentunya jadwal ini sudah disesuaikan dengan kebiasaan makan orang Indonesia. Orang Indonesia makan 3 kali sehari. Hal ini berbeda dengan Jamaah dari Turki atau yang lainnya. Mereka hanya makan 2 kali sehari, pagi dan malam saja. Tetapi sekali makan, porsinya luar biasa. Istilah kita, itu porsi kuli. Tapi bagi mereka itu hal yang biasa.

Awalnya aku tak menyadarinya. Hal itu baru kusadari beberapa hari setelahnya. Setiap kali makan siang tiba, di lokasi tempat kami makan, hanya orang Indonesia saja yang aku temui. Seorang kawan memberitahuku, bahwa hanya orang Indonesia saja yang makannya 3 kali dalam sehari. Subhanallah. Orang Indonesia memang beda ya ^_^.

Memasuki hotel, kami bergegas ke lantai 2, lokasi tempat makan berada. Yang khas dari makanan Arab adalah bumbu rempah-rempahnya yang menusuk. Keluar dari lift, aku mendapati beberapa kawan sudah mulai menyantap makanan. Menu nan lezat sudah terhidang di meja prasmanan. Terlihat ada tiga group meja yang terpampang makanan. Yang satu cukup familiar, sepertinya ini makanan untuk kami orang Indonesia. Satu lagi menyediakan aneka macam roti dan olahannya, sepertiya ini makanan untuk orang-orang dari Turki. Sedangkan yang satunya lagi menunya agak aneh, banyak rempah-rempah dan roti pipih seperti di film India. Sepertinya itu makanan untuk orang-orang dari Bangladesh.

Tak perlu dipersilahkan apalagi disuruh, aku langsung mengambil menu terlezat bagi lidahku. Selesai menyantap makanan Indonesia, mata ini tertarik untuk mencoba roti dari jatah makanan orang Turki. Awalnya aku ragu untuk mengambilnya, tetapi ternyata banyak kawan-kawan Indonesia yang melakukannya. Para pelayan juga tidak melarangnya. Tanpa ragu lagi, akupun mengambilnya. Ternyata rasanya enak juga ya. Serasa jadi orang Eropa.

Karpet Hijau Raudhah

Sambil menyantap makanan, kami berbincang berbagai hal tentang Madinah. Tentang makanannya, tentang masjid suci Nabawi dan tentang agenda apa yang akan kami lakukan nanti seusai sarapan. Beberapa teman lebih memilih istirahat di hotel sampai menanti waktu Dhuhur tiba. Sedangkan yang lain memilih jalan-jalan di sekitar hotel. Aku memilih istirahat di kamar.

Kamar hotel Al Safwa memanjakan penghuninya setiap kali masuk ke dalamnya. Lantunan ayat-ayat suci Al-Quran langsung terdengar ketika pintu dibuka dan TV secara otomatis menyala. Hati langsung merasa nyaman dan tentram.

Kami hanya punya waktu 3 hari saja di Madinah. Dan ini sudah hari pertama. Dari pihak panitia/biro menawarkan untuk bisa sholat bareng di Raudhoh. Dan panitia akan memberikan penjelasan teknisnya, apa dan bagaimana keutamaan sholat di Raudhoh. Penjelasan ini akan mereka paparkan ketika selesai sholat Dhuhur nanti.

antara rumahku dan mimbarku adalah taman (raudhah) dari taman-taman surga

HR. At Tirmidzi.

To be continued...




 

Inspirasi Coffee Copyright © 2011 - |- Template created by O Pregador - |- Powered by Blogger Templates