Selamat datang di gubug Inspirasi Coffee. Blog ini dikelola oleh penulis sejak September 2008. Sampai sekarang, api semangat menulis masih menyala terang, menarikan pena melukiskan cerita kehidupan. Hak cipta dilindungi oleh Allah Azza wa Jalla.
Selamat Membaca ^_^
Tampilkan postingan dengan label dunia teh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dunia teh. Tampilkan semua postingan

Minggu, 01 Juli 2012

25 Cerita Secangkir Teh Cigasong

Jujur dulu sebenarnya saya tidak terlalu suka mengkonsumsi teh. Saya cenderung lebih senang minum kopi. Yah.. seperti layaknya judul blog ini : coffee break. Namun seiring berjalannya waktu, pandangan bisa saja berubah. Entahlah, saya tak tahu kapan mulainya, tapi yang jelas saat ini saya mulai sering mengkonsumsi teh. Terutama waktu-waktu dimana tenggorokan butuh sedikit sentuhan hangat. Saat-saat sehabis sholat subuh misalnya. Menikmati secangkir teh panas di pagi hari ditemani istri dan membincang tentang banyak hal, telah menjadi kenikmatan tersendiri bagi saya. Merasai sensasi hangatnya teh di tengah dinginnya pagi.

Tentu teman-teman juga tahu, terdapat berbagai macam teh yang beredar di pasaran. Ada teh celup, teh tubruk, teh daun, teh bubuk instan, dan ada juga teh serbuk seduh. Bagi saya sendiri, saya lebih suka teh tubruk. Pernah juga saya bahas dalam tulisan disini, bahwa ada sensasi tersendiri ketika saya lebih memilih mengkonsumsi teh tubruk daripada teh celup. Merasai remah-remah daun teh seakan melayangkan pikiran saya jauh menembus ruang dan waktu mengingat tatkala dulu kakek (almarhum) sering membuatkan teh tubruk untuk saya. Menikmati pemandangan senyum khas sang kakek dengan gigi ompongnya. Ah.. sungguh saya merindukan saat-saat itu.

Selain dari sensasi, saya juga mengamati bagaimana efek mengkonsumsi teh bagi kesehatan. Sejauh pemahaman saya, mengkonsumi teh sama sekali tidak membahayakan kesehatan kita. Hanya ada tapinya. Faktor mengkonsumsi teh menjadi berbahaya adalah cara kita meminumnya dan kuantitas jumlah yang kita minum. Baiklah saya akan cerita sedikit, suatu ketika saya sedang menyeduh teh celup ke dalam segelas air panas. Pikir saya, semakin lama direndam, maka semakin baik kualitas teh yang dihasilkan. Namun tiba-tiba saja istri nyeletuk dari belakang mengingatkan kalau menyeduh teh celup itu jika lebih dari 3 menit akan berbahaya. Ah masak sih? (sayapun sedikit ngeyel). Maka saya iseng mencari referensi di internet mengenai bahaya teh celup. Wuih.. benar banget kawan, teh celup itu berbahaya.

Jadi penjelasannya begini, di dalam kemasan teh celup itu kan ada pembungkusnya. Nah perlu diketahui bahwa kertas pembungkus itu mengandung zat klorin yang bisa membahayakan tubuh kita. Maka bagi kita yang cukup menggemari minum teh, apalagi teh celup, sebaiknya diusahakan jangan membiarkan teh celup terseduh terlalu lama. Takut jika zat berbahaya yang ada di dalam kertas itu akan ikut larut ke dalam air yang kita konsumsi. Kalau saya sih, lebih aman minum teh tubruk saja :). Sekali lagi ini hanya masalah selera saja lho.

Tahukah kawan, menikmati secangkir teh panas itu bisa menjadi sebuah aktifitas yang sangat menyenangkan jika kita sedikit melibatkan hati. Yah, dengan melibatkan hati maka rasa teh yang kita konsumsi itu akan meresonansi otak dan pikiran untuk lebih rilek. Otak sebagai pengontrol kerja tubuh, akan memerintahkan badan untuk santai sejenak. Kalau tidak melibatkan hati, maka rasa teh itu akan biasa saja dan terkesan hambar. Jadi teh itu hanya faktor eksternal saja, sumber tetap dari hati.

Berbicara mengenai kebiasaan minum teh, saya jadi ingat dengan sebuah film Korea berjudul Dong Yie. Suatu ketika ada peristiwa yang membahagiakan bagi Dong Yie dan keluarganya. Sehingga untuk merayakannya, dia menyuruh pelayannya untuk mempersiapkan jamuan teh untuk menikmati malam yang panjang. Minum teh sangat bisa mempengaruhi psikologi jiwa seseorang menjadi lebih rilek dan bahagia. Yah.. apalagi kalau bukan karena efek kafein di dalamnya :).

Oh iya, kemarin istri membeli sebungkus teh tubruk bermerek Cigasong. Kalau di lihat dari bungkusnya sih, ini produk dari home industri. Tapi jangan salah lho, rasanya tidak kalah dengan produk yang sudah terkenal. Menurut saya pribadi, produk rumahan itu malah lebih aman. Karena kebanyakan mereka tidak perlu usaha untuk mencapur dengan bahan-bahan tertentu supaya rasa teh lebih enak. Produk rumahan menjaga cita rasa teh tetap alami. Ini pendapat/insting saya pribadi lho :)

Selasa, 17 April 2012

10 Teh Tubruk Versus Teh Celup

Kalau kita berbicara mengenai teh, maka kita akan ingat dengan kebiasaan di negeri tirai bambu. Di negeri itu, kebiasaan minum teh sangat membudaya. Ada begitu banyak jenis teh yang bisa dikonsumsi. Mulai dari teh hijau, teh melati, teh lemon dan masih banyak lagi jenis yang lainnya. Cara meminumnya pun juga beragam. Di Indonesia orang lebih menyukai teh celup daripada teh tubruk. Padahal kalau kita melihat kebudayaan minum teh di China, mereka lebih menyukai teh tubruk daripada teh celup. Ada nuansa tersendiri yang mereka dapati. Bedanya setelah teh tubruk dicampur dengan air panas, mereka akan menyaring ampas tehnya sehingga didapati teh murni dengan aroma khas.



Orang di Indonesia sepertinya tidak mau ribet. Mereka lebih banyak menyukai teh celup daripada teh tubruk. Semua pengen serba instan, tidak perlu repot dengan proses penyaringan ampas teh yang ribet. Tapi di China atau Jepang, disinilah letak eksotisnya. Bagaimana denganmu kawan, lebih suka teh celup atau teh tubruk?
 

Inspirasi Coffee Copyright © 2011 - |- Template created by O Pregador - |- Powered by Blogger Templates