Selamat datang di gubug Inspirasi Coffee. Blog ini dikelola oleh penulis sejak September 2008. Sampai sekarang, semangat untuk menulis masih meletup-letup dan terasa kian meletup menarikan pena melukiskan prasasti demi prasasti kehidupan. Hak cipta dilindungi oleh Allah Azza wa Jalla.
Selamat Membaca ^_^

Friday, June 7, 2013

9 Kehidupan Desa : Waktu Berjalan Melambat

Kesederhanaan ini yang membuatku selalu rindu dengan kampung halaman.
Ada satu momen yang masih tertinggal di memori ketika aku pulang ke kampung halaman. Segelas kopi hitam, disruput dengan aroma kesederhaan khas kehidupan kampung, benar-benar nuasa yang selalu membuatku rindu . Inilah kehidupan pedesaan, jauh dari hiruk pikuk perkotaan yang selalu sok sibuk. Orang di kota merasa dipacu dengan waktu, tapi lihatlah disini kawan! ditempat ini, aura ketenangan menjalar di sudut-sudut kampung. Jadi teringat dengan salah satu artikel dari pak Muhaimin Iqbal yang mengistilahkan kehidupan di kampung dengan kehidupan dengan waktu yang berjalan lambat.

kopi pedesaan, kehidupan desa dengan waktu yang melambat

Kehidupan di desa itu terlihat ayem tentrem karto raharjo. Aku merasakan waktu juga ikut melambat. Namun itu tak boleh melambatkan pikiran kita. Pikiran kita harus melaju cepat jauh meninggalkan waktu yang melambat. Lingkungan tak boleh membatasi gerak kita. Dalam batas, kita tetap bisa menarikan karya. Pastikan kita menari di atas batas. Inilah jalan kita.

Terkadang aku berpikir, kenapa banyak orang rela mencari pekerjaan di kota-kota besar. Termasuk aku sendiri yang akhirnya terdampar di salah satu kota besar negeri ini. Kadang aku berpikir, bisakah pemuda-pemuda pandai negeri ini membangun desanya? tak hanya oleh satu dua orang saja, tetapi di fasilitasi oleh pemerintah. Bisakah pemerintah menerbitkan sebuah program 'Ayo Kembali ke Desa!".

Banyak orang rela menghabiskan hidup di kota besar untuk meraih mimpinya, kemudian menghabiskan masa pensiun di desa dengan damai bersama hasil jerih payahnya selama ini. Tapi disinilah letak permasalahannya. Kota terlalu menggiurkan untuk tempat meraih kesuksesan. Di desa, tak banyak yang bisa diharapkan. Pusat teknologi berada di kota. Pusat peradaban ada di kota. Kota ibarat bunga-bunga mekar nan cantik bagi lebah-lebah pencari kesuksesan. Sedangkan desa masih sebatas lirikan mata. Yah mungkin karena itu tadi, waktu yang masih berjalan lambat. 

 ***
 7 Juni 2013
Salah satu kampung di pinggiran Magetan
Salam Inspirasi Coffee
Follow me @fifinng

Related Post



9 comments:

  1. Nyaman memang Fin hidup di desa, bikin hati damai dan tenteram :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mbak. Apalagi desa di Jerman ^_^

      Delete
  2. Di kampung atau desa memang sangat nyaman dan damai, tenteram.. tapi itulah, daya pikat kota selalu lebih besar dan kuat, semua tergantung pribadi masing2... btw sy setuju dengan usulan program pemerintah "Ayo kembali ke desanya..."

    ReplyDelete
    Replies
    1. Memang bang ancis, daya pikat kota selalu lebih besar dan kuat.

      Delete
    2. Ketenangan hidup itu ada di desa..

      Delete
    3. Yup betul sekali mas Kunto

      Delete
  3. Hidup di desa itu enak udaranya, bebas polusi

    ReplyDelete
  4. kalau kita cerdas,dan mengerti bahwa idup ini adalah pilihan,maka tinggal di desa bukan berarti kita tidak bisa sukses. sebenarnya di desa itu, banyak sekali peluang, contohnya ber cocok tanam.marketnya adalah orang kota...
    tapi masalhnya saya mau tinggal di desa, tapi istri saya tidak mengizinkan.alasannya "masa sarjana tinggal di kakmpung.?" padahal dia berasal dari kampung...😞

    ReplyDelete

Terima kasih atas komentarnya ya sobat blogger. Terima kasih juga sudah menggunakan kalimat yang sopan serta tidak mengandung unsur SARA dan pornografi. Komentar yang tidak sesuai, mohon maaf akan dihapus tanpa pemberitahuan sebelumnya.

Btw, tunggu kunjungan saya di blog anda yah.. salam blogger :)

Total Pengunjung

Statistik Alexa

 

Inspirasi Coffee Copyright © 2011 - |- Template created by O Pregador - |- Powered by Blogger Templates