Selamat datang di gubug Inspirasi Coffee. Blog ini dikelola oleh penulis sejak September 2008. Sampai sekarang, semangat untuk menulis masih meletup-letup dan terasa kian meletup menarikan pena melukiskan prasasti demi prasasti kehidupan. Hak cipta dilindungi oleh Allah Azza wa Jalla.
Selamat Membaca ^_^

Wednesday, February 15, 2012

10 Karakter : Api vs Api

Pernahkah kawan bertemu dengan orang yang setiap perkataannya selalu menyakiti hati kita. Setiap apa yang keluar dari mulutnya selalu membuat kuping kita panas. Ingin rasanya kita membalas cemoohan mereka dengan cemoohan yang lebih menyakitkan lagi. Namun kita akan berpikir lagi, "trus apa bedanya kita dengan mereka?". Pernahkan bertemu dengan orang-orang seperti itu kawan?. Orang yang setiap apa yang keluar dari mulutnya terasa menusuk-nusuk hati dan seringkali merendahkan.

Saya pribadi pernah atau kadang bertemu dengan tipe orang seperti ini. Entahlah, mungkin betul juga apa yang sering dikatakan orang jawa bahwa "geni ojo dilawan karo geni" yang artinya api jangan dilawan dengan api. Karakter yang senantiasa berlawanan, tidak pernah bisa klop. Setiap yang dikatakan orang itu sering kali membuat saya sakit hati dan terkadang malah emosi. Namun selama ini saya lebih sering memilih menghindar dari tipe orang seperti itu. Yah.. menghindar, hanya itu yang bisa saya lakukan. Sebisa mungkin saya akan menghindar dari berbincang-bincang dan berinteraksi dengannya walaupun secara fisik dia mungkin dekat.

Tiga hari ini saya pulang ke kampung halaman di Magetan untuk bertemu dengan keluarga tercinta (menjadi alasan juga kenapa blog saya terbengkalai selama 3 hari ini) . Iseng-iseng saya memilah-milah buku yang ada di lemari tempat istri menyimpan koleksi buku-bukunya yang berjubel. Saya kemudian menemukan buku berjudul "Laa Tahzan" karya Dr. 'Aidh bin Abdullah Al-Qarni. Kalimat yang ada di halaman 53 buku itu sangat menggambarkan dengan tema yang saya tulis ini.

Sesungguhnya anda tidak akan mampu membungkam mulut mereka dan tidak pula mampu mengekang lisan mereka untuk diam. Akan tetapi, anda mempunyai kemampuan untuk mengubur kritikan mereka, membalas sikap mereka dengan menjauh dari mereka, tidak memperhatikan sepak terjang mereka, dan tidak mengindahkan ocehan mereka.





-fifin-
15 Februari 2012
Bandung

Related Post



10 comments:

  1. yang bisa kita lakukan mungkin mencoba memberinya pandangan yang realistis, supaya dia sendiri memikirkan apa yang sebenernya dia mau dan apa yang bisa kita tawarkan untuk membantunya. tapi kalo gak perlu juga gak perlu diladeni sih, selama orang itu bukan dalam rangka komplain atas layanan dan barang yang kita tawarkan/jual.

    ReplyDelete
    Replies
    1. nah disini kadang juga dibutuhkan kemampuan untuk menjelaskan ketidaksukaan kita. Tapi disini saya sangat lemah. Sungkan juga mengatakan bahwa kata-kata anda sangat menyakiti saya. Alhasil saya lebih memilih menghindar saja.

      Delete
  2. Saya pernah berpikiran untuk membalas hal yang buruk ke saya dengan hal yang sama, tapi jadi berfikir, kalau saya membalas dengan hal yang sama, bukanlah berarti saya sama saja dengan dia, sama menyebalkan, sama gak baiknya, sama rendahnya dalam memperlakukan sesama..jadi sadar, dan mending diam.

    ReplyDelete
    Replies
    1. dalam kondisi ini, diam adalah emas.

      Delete
  3. menyiapkan segala kemungkinan ketemu dengan berbagai orang , termasuk yang paling tidak menyenangkan ! :D .

    ReplyDelete
    Replies
    1. bener banget ed, kalau saya lebih baik menghindar. Tapi paling apes jika ternyata kita bergantung pada orang yang tidak kita sukai itu huk huk...

      Delete
  4. pernah Fin ..... nyakitin sekali, biasanya kuhindari ketemu org spt ini, krn nggak bakalan ngerti dia kalau ucapannya menyakiti perasaan org lain

    ReplyDelete
    Replies
    1. yah seperti itulah yang sering saya alami juga mbak, dia ndak bakal ngerti bahwa apa yang dia katakan itu seringkali menyakitkan. Hemm mungkin ini masalah karakter, makanya orang seperti ini saya hindari untuk berinteraksi.

      Delete
  5. wah, bener banget tuh pak
    saya juga pernah punya mbak kos yg mirip seperti itu, bikin emosi (selalu)
    akhirnya cuman kucuekin aja, entah dia ngomong apa gak pernah kutanggapi
    lama-lama dia diem juga dan....
    saya bisa hidup nyaman & damai :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. ha ha... memang harus dibuat seperti itu mbak, biar dia ngerasa sendiri bahwa apa yang dia sering katakan itu membuat kita tidak nyaman. Kalau dia ndak paham juga berarti, memang karakternya tak cocok dengan kita. Musti dihindari.

      Delete

Terima kasih atas komentarnya ya sobat blogger. Terima kasih juga sudah menggunakan kalimat yang sopan serta tidak mengandung unsur SARA dan pornografi. Komentar yang tidak sesuai, mohon maaf akan dihapus tanpa pemberitahuan sebelumnya.

Btw, tunggu kunjungan saya di blog anda yah.. salam blogger :)

Total Pengunjung

Statistik Alexa

 

Inspirasi Coffee Copyright © 2011 - |- Template created by O Pregador - |- Powered by Blogger Templates