Selamat datang di gubug Inspirasi Coffee. Blog ini dikelola oleh penulis sejak September 2008. Sampai sekarang, semangat untuk menulis masih meletup-letup dan terasa kian meletup menarikan pena melukiskan prasasti demi prasasti kehidupan. Hak cipta dilindungi oleh Allah Azza wa Jalla.
Selamat Membaca ^_^

Thursday, April 26, 2012

2 Sedikit Belajar dari 'Monyet'

***
Lord Nobunaga hanya memberiku waktu tiga hari untuk menyelesaikan tugas itu, tapi aku menghabiskan hari pertama hanya dengan dua agenda. Memberikan pengarahan tentang pekerjaan apa yang akan mereka lakukan, dan mengadakan pesta untuk para pekerja.
***

Beberapa hari ini saya menikmati sajian cerita menakjubkan dari kisah seorang Toyotomi Hideyoshi sang samurai tanpa pedang dalam buku The Swordless Samurai. Seseorang yang dibesarkan dalam keluarga yang sangat miskin, tapi diakhir hidupnya berada pada posisi tertinggi dalam kepemimpinan Jepang. Memang jelas sekali seorang kaisar lah yang mustinya berada dalam struktur tertinggi, tapi pengaruh Hideyoshi mampu melebihi pengaruh kaisar yang hanya menjadi simbol saja. Kepemimpinan negara Jepang berada di tangan Hideyoshi yang seorang wakil kaisar. Di era modern seperti sekarang ini, mungkin Hideyoshi statusnya mirip dengan perdana menteri.

Bedah buku the swordless samurai akan saya bahas tuntas setelah saya selesai membacanya nanti. Saat ini saya baru selesai membaca pada page 116 dari 254. Masih setengahnya yang saya baca, tapi rasanya sudah tidak sabar ingin menulis tentangnya. Sebuah bukti tak terbantahkan kalau memang buku ini cukup menginspirasi, setidaknya untukku :). Saat ini, saya hanya ingin mencuplik salah satu kisah menarik dari si monyet. Kisah yang mungkin bisa memberikan inspirasi bagi kita semua. Eh.. monyet? yah.. orang-orang di sekitar Hideyoshi memanggilnya begitu, karena mungkin dari perawakannya yang jauh dari sosok samurai sejati. Badan yang kurus dan kecil, serta dengan wajah yang jelek sekali mirip seekor monyet. Setidaknya begitulah perawakan fisik yang digambarkan di dalam buku itu.


Kisah ini pernah diceritakan atasan saya di kantor dalam sebuah meeting, yang pada akhirnya mengantarkan ketertarikan saya pada buku ini. Suatu ketika Lord Nobunaga (atasan Hideyoshi) ingin membangun benteng Kiyoshu yang sudah porak-poranda diterjang angin topan. Naasnya pada saat yang sama, inteligen memberikan informasi bahwa Klan sebelah (Klan Imagawa) yang menguasai propinsi lain, ingin menyerang daerah kekuasaan Nobunaga. Memang saat itu, Jepang dilanda perang antar Klan yang menguasai propinsi masing-masing. Penguasaan propinsi ini tak pernah mau tunduk kepada kekuasaan pusat yang dipimpin kaisar. Maka pada waktu itu Kaisar hanyalah simbol belaka, tak memiliki kewenangan apapun. Saat itu, Hideyoshi hanya seorang pelayan rendahan yang mengurusi bagian kayu bakar.

Pekerjaan membangun benteng yang menjadi markas besar klan Nobunaga tidak berjalan dengan sempurna. Para pekerja sangat malas sehingga sang mandor sibuk berteriak kepada pekerja yang malas. Alhasil, pekerja semakin malas karena kelakukan sang mandor. Hideyoshi memberikan saran kepada Lord Nobunaga bahwa dia bisa menyelesaikan benteng itu dalam waktu tiga hari saja. Lord Nobunaga cukup tertarik dengan ide Hideyoshi, namun tetap dengan syarat. Syaratnya adalah jika gagal, maka hukuman paling ringan adalah pukulan tongkat mandor itu. Sedangkan sudah bisa ditebak apa hukuman paling berat? yah.. kepala Hideyoshi bisa saja terlepas dari lehernya.

Cara hideyoshi mendekati para pekerja terbilang cukup unik dan diluar kewajaran saat itu. Dia menghabiskan sehari dari tiga hari yang dijanjikannya dengan berpesta bersama pekerja. Meyakinkan para pekerja dengan hadiah uang tembaga jika mereka berhasil membangun benteng dengan baik dan cepat. Tidak berlaku sebagai mandor yang hanya bisa teriak-teriak saja, tapi dia mendekati pekerja seperti teman. Akhirnya dia berhasil menjalin hubungan yang dekat dengan para pekerja. Dan akhirnya, bersama-sama mereka berhasil membangun benteng tangguh Kiyoshu dalam waktu tiga hari (termasuk sehari yang digunakannya untuk berpesta). Sebuah seni kepemimpinan sang monyet yang bisa kita contoh.

Related Post



2 comments:

  1. ini seperti yang saya baca di buku Taiko-nya Eiji Yoshikawa, sebuah epos Jepang

    apakah buku ini sama dengan The Swordless Samurai?

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah saya belum punya bukunya Taiko, berceritanya tentang apakah?

      Delete

Terima kasih atas komentarnya ya sobat blogger. Terima kasih juga sudah menggunakan kalimat yang sopan serta tidak mengandung unsur SARA dan pornografi. Komentar yang tidak sesuai, mohon maaf akan dihapus tanpa pemberitahuan sebelumnya.

Btw, tunggu kunjungan saya di blog anda yah.. salam blogger :)

Total Pengunjung

Statistik Alexa

 

Inspirasi Coffee Copyright © 2011 - |- Template created by O Pregador - |- Powered by Blogger Templates