Selamat datang di gubug Inspirasi Coffee. Blog ini dikelola oleh penulis sejak September 2008. Sampai sekarang, semangat untuk menulis masih meletup-letup dan terasa kian meletup menarikan pena melukiskan prasasti demi prasasti kehidupan. Hak cipta dilindungi oleh Allah Azza wa Jalla.
Selamat Membaca ^_^

Sunday, May 21, 2017

0 Kisah Perjalanan Umroh : Episode Madinah Bagian 2

Kisah Perjalanan Umroh pada tulisan kali ini adalah lanjutan dari kisah yang kutulis pada Kisah Perjalanan Umroh bagian 1.

Perjalanan selalu mengajarkan pada kita kerinduan pada rumah, pada orang-orang yang menunggu dengan doa-doa.

Tanggal 7 maret 2017

Saat itu sudah tengah malam. Satu titik kecil melayang-layang di tengah samudera yang luas. Titik kecil yang ikut menjadi cerita dalam kisah ini. Aku berada di dalam titik itu. Tertidur pulas.


Mayoritas penumpang pesawat terlelap dan mungkin sibuk dengan mimpinya masing-masing. Aku terbangun saat awak pesawat sudah mulai memberikan peringatan bahwa pesawat akan segera landing. Rupanya Dubai sudah dekat. Aku menengok ke arah jendela, dari atas terlihat kerlip-kerlip cahaya yang indah sekali. Seperti kumpulan kunang-kunang yang banyak sekali. Menunjukkan betapa gemerlapnya kota Dubai dengan segala kesibukannya. Dari layar monitor tepat di kursi depanku, juga bisa dilihat bagaimana ketinggian pesawat yang mulai turun perlahan. Pramugari dengan sigap mulai mengkondisikan seluruh penumpang pesawat agar segera kembali ke tempat duduk masing-masing, memastikan posisi kursi penumpang sudah tegap dan dengan sopan mencegah penumpang yang ingin pergi ke toilet. Alhamdulillah, akhirnya proses pendaratan pesawat berlangsung dengan mulus. Pesawat Emirates yang membawa ratusan penumpang itu akhirnya mendarat di Bandara Internasional Dubai setelah hampir 9 jam perjalanan mengarungi samudera yang luas.

Pramugari pesawat Emirates berdiri di pintu keluar pesawat, melepas senyuman hangat sambil mengatakan 'Thanks for your flight with us'. Selepas keluar dari garbarata, kami mulai masuk ke dalam ruang kedatangan penumpang. Oleh biro dan petugas bandara, kami diarahkan untuk melakukan serangkaian proses transit (karena memang tujuan akhir kami bukan Dubai, melainkan Madinah). Proses transit kali ini hanya diberikan waktu 1 jam, maka kami diharuskan melakukannya dengan cepat. Pihak biro dan panitia dengan sigap mengkondisikan peserta agar proses transit ini berjalan cepat dan lancar. Ditambah lagi, sebagian dari kami memang belum melaksanakan sholat isya'.

Perjalanan belum usai kawan, dari Dubai kami melanjutkan penerbangan ke kota Madinah. Waktu perjalanan dari Dubai ke Madinah sekitar 2 jam dengan menggunakan pesawat udara. Cukup singkat bila dibandingkan dengan perjalanan sebelumnya. Dalam penerbangan kali ini masih menggunakan maskapai penerbangan Emirates, namun menggunakan pesawat yang berbeda.


Setelah dua jam perjalanan, kami sampai juga di bandara Prince Mohammed bin Abdul Aziz di kota Madinah. Sebelum mendarat, kami sempat melihat dari atas bagaimana kondisi bandara internasional di Madinah ini. Tidak seperti di bandara Dubai yang begitu gemerlap dengan kilau cahaya-cahaya, bandara di Madinah ini bisa dibilang cukup gelap. Padahal kalau dipikir-pikir, orang yang datang dan berkunjung ke Madinah pastinya tidak sedikit kan? namun kondisi bandara ini bisa dibilang cukup sederhana. Aku tidak mengatakan bahwa bandara ini tidak luas. Bandara ini luas, namun gemerlapnya kalah jauh dengan bandara di Dubai.

Setelah pesawat berhenti sempurna, kami keluar pesawat dan bergegas menuju ruang kedatangan penumpang. Kami langsung melakukan antrian saat melakukan proses imigrasi. Perlu diketahui bahwa proses imigrasi di bandara Madinah ini dibedakan antara pengunjung yang ingin melaksanakan ibadah Umroh dengan pengunjung biasa. Kami diarahkan menuju antrian bagian pengunjung Umroh. Mengingat pengunjung yang datang ke negara ini untuk melakukan ibadah umroh begitu banyak, terpaksa proses antrian memakan waktu yang cukup lama. Sambil menunggu antrian, aku menyapu pandangan ke seluruh sudut ruangan ini. Orang-orang berwajah Indonesia dan melayu mendominasi antrian, disusul dengan orang-orang dari Turki dan Bangladesh serta India. Beberapa di antaranya berbincang-bincang sambil tertawa dengan bahasa yang tak kumengerti.

Hal yang sangat penting harus dijaga ketika berada di negara lain adalah dokumen passport. Jaga passport kita jangan sampai hilang. Bisa dibilang, jika anda berada di negara lain, hal yang terpenting setelah nyawa kita adalah passport. Dokumen Passport ketika berkunjung ke negara lain ibarat KTP atau identitas pengenal. Kalau kita tidak bisa menunjukkan passport, maka kita akan dianggap illegal dan bisa dimasukkan ke dalam penjara karena melanggar peraturan atau undang-undang dari negara tempat kita berkunjung. So, jaga selalu passport anda kawan!

Aku melirik ke arah pergelangan tangan kiri, sudah hampir jam 4 pagi waktu setempat. Mungkin kita nanti akan melaksanakan sholat subuh di Bandara. Dalam proses imigrasi ini, kita disuruh untuk menyerahkan passport, visa, dan juga pengambilan foto. Passport dan visa ini hanya untuk pengecekan dan diberikan stempel saja. Setelah distempel, dokumen tersebut dikembalikan lagi ke kita.

Selesai proses imigrasi, kami melangkah ke ruangan besar berikutnya untuk melakukan proses pengambilan koper yang tadinya ditempatkan di bagasi pesawat. Ruangan ini seperti aula, dipenuhi dengan gemerlap cahaya dan beberapa display raksasa Raja Salman yang sedang mengucapkan salam selamat datang. Dalam hati aku bersyukur bisa sampai juga di tempat ini.

Setelah selesai mengambil koper dan memastikan jumlah koper sudah sesuai dengan jumlah jamaah, kami pun segera keluar dari Bandara. Udara segar langsung terhirup menyejukkan. Suasana kota yang sangat berbeda dengan pemandangan di tanah air. Pohon kurma menjulang rapi berjejer menghias sisi jalan kota. Suasana damai langsung terasa. Mobil mewah tampak terparkir rapi di jalan-jalan. Kita bisa membayangkan sendiri betapa kaya negara ini.

Foto bersama jamaah berlatar bangunan bandara

Kami tak membuang momen berharga ini. Beberapa kali kami mengambil foto dengan latar belakang bangunan bandara dan juga masjid yang tak jauh dari bandara ini. Waktu sudah menunjukkan pukul 04.30 waktu setempat. Kalau di Indonesia, mungkin sudah waktunya subuh. Namun di Madinah ternyata waktu subuhnya pukul 05.30. Jadi kami masih punya waktu 1 jam untuk perjalanan menuju hotel. Dengan menggunakan armada bus kami melanjutkan perjalanan menuju hotel. Armada bus ini dilengkapi dengan pengeras suara yang dimanfaatkan oleh biro untuk memberikan sedikit kata sambutan dan tausiyah ringan. Jalanan di kota Madinah sangat sepi. Tidak seperti di Indonesia dimana rumah-rumah tersebar merata di kanan dan kiri jalan. Belum lagi kalau ada warung-warung di pinggir jalan yang menggurita dimana-mana. Kalau di Madinah dan juga nanti di Mekkah, rumah penduduk terkumpul menjadi satu pemukiman warga (daerah pedestrian). Sehingga jalan utama hanya dipenuhi dengan gurun pasir, tanah kosong, dan beberapa toko-toko atau bangunan kantor. Sambil menikmati perjalanan, kami terus bertasbih dalam hati, betapa nikmat ini begitu luar biasa hingga kaki ini bisa menginjakkan di bumi para Nabi.

Melihat Masjid Nabawi

Hotel tempat kami menginap tidak terlalu jauh dari masjid Nabawi. Mungkin hanya sekitar 25 meter saja. Kami tiba di Hotel Al-Safwa pukul 05.30 waktu setempat. Sayangnya waktu kami tiba mepet sekali dengan waktu sholat subuh, adzan subuh sudah berkumandang. Kami harus segera bergegas ke hotel untuk check-in dan berwudhu untuk segera menuju masjid Nabawi untuk menunaikan ibadah sholat subuh.


Sesaat kami masuk ke dalam hotel, dan pada saat yang sama dari dalam hotel sudah banyak orang-orang yang keluar menuju ke arah masjid. Kami semakin mempercepat proses check-in. Dari pihak biro dengan sigap mengumumkan pembagian kamar dan juga anggota se-kamarnya. Satu kamar ditempati oleh 4 orang. Dan alhamdulillah aku sekamar dengan 3 orang teman yang cukup menyenangkan. Setelah rekan sekamar diumumkan, kami bergerak menuju lift, segera menuju kamar untuk menaruh barang-barang dan berwudhu.

Kamar kami (kalau tidak salah) berada di lantai 9. Suasana nyaman langsung terasa ketika memasuki kamar hotel. Interior yang cukup mewah dengan tempat tidur 4 buah lurus berjejer. Sebelah tempat tidur terdapat lemari yang cukup besar. Di seberangnya terdapat cermin, kursi dan meja untuk menaruh barang-barang. Kamar ini juga dilengkapi LCD TV berlayar lebar yang memanjakan mata. Posisi TV dikondisikan agar penghuni kamar bisa menonton TV sambil tiduran di tempat tidur. Namun kemewahan kamar hotel tersebut tak terlalu menjadi perhatian karena fokus kami saat itu adalah menaruh barang dan mengambil wudhu.

Selesai mengambil air wudhu, kami keluar hotel, namun dari arah masjid Nabawi ...
to be continued...





Related Post



0 comments:

Post a Comment

Terima kasih atas komentarnya ya sobat blogger. Terima kasih juga sudah menggunakan kalimat yang sopan serta tidak mengandung unsur SARA dan pornografi. Komentar yang tidak sesuai, mohon maaf akan dihapus tanpa pemberitahuan sebelumnya.

Btw, tunggu kunjungan saya di blog anda yah.. salam blogger :)

Total Pengunjung

Statistik Alexa

 

Inspirasi Coffee Copyright © 2011 - |- Template created by O Pregador - |- Powered by Blogger Templates